Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
222. Mungkinkah?



Arman merasa senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rasya kepadanya yang mengatakan bahwa Syafa ternyata memiliki rasa ketarikan kepadanya.


" Ayo kita masuk ke dalam restoran Mama sudah sangat lapar Rasya!" ucap Syafa yang masuk ke dalam restoran duluan dan meninggalkan mereka berdua yang masih asik berbisik-bisik di hadapan dia.


' Ya ampun apa yang mereka bicarakan sampai harus berbisik-bisik di hadapanku? Dan apa itu? Arman menatapku terus seperti itu dan benar membuatku tidak nyaman!' batin syafah sambil terus melangkah ke dalam restoran Mencari kursi yang kosong untuk bisa ditempati oleh mereka bertiga.


Setelah mendapatkan tempat siapapun kemudian duduk di tempat itu dan memesan makanan untuk mereka bertiga.


" Apa ya kesukaannya Arman? Aku tidak tahu. Tetapi biarlah disamakan saja mereka lama sekali sedang ngobrol apa sih di luar?" ucap syafah sambil menengok sekali-kali ke arah pintu luar berharap Rasya dan Arman akan masuk ke dalam.


" Apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan? Kenapa betah sekali? Apakah mereka tidak lapar?" begitu banyak pertanyaan di dalam hati Syafa saat ini.


" Tolong nanti dipersiapkan saja di sini ya? Kalau pesanan saya sudah selesai. Karena saya akan memanggil Putraku dulu di luar!" ucap syafah berpesan kepada pelayan yang saat ini sedang melayaninya dan mencatat Semua pesanan yang dia inginkan.


" Baik nyonya!" ucap pelayan itu sambil tersenyum kepada Syafa kemudian meninggalkannya.


" Sebaiknya aku menyusul mereka berdua karena ini benar-benar tidak wajar. Kenapa lama sekali bicara di luar?" katanya Syafa kepada dirinya sendiri dan mulai khawatir dengan kondisi dan keadaan Rasya bersama dengan Arman.


Begitu Syafa melihat Rasya dan Arman sedang bercakap-cakap begitu serius dia pun berniat untuk menguping pembicaraan mereka berdua. Karena dia sangat penasaran sejak tadi mereka selalu main rahasia darinya.


" Apa sebetulnya yang dibicarakan oleh dua laki-laki tampan beda generasi itu? Mereka terlihat benar-benar sangat serius!" ucap Syafa bergumam lirih agar tidak terdengar oleh mereka berdua.


" Rasya kau harus berjanji kepada Om kalau kau harus membantu Om untuk bisa mendapatkan ibumu menjadi istri Om!" ucap Arman sambil menatap serius kepada Rasya yang ada di hadapannya.


" Asalkan Om bisa membuat bahagia Ibuku aku pasti akan mendukungmu!" ucap Rasya dengan senyum bahagia.


" Ibuku sudah lama menderita karena kelakuan Ayah kandungku Om! Jadi aku tidak akan membiarkan kalau ada seorang laki-laki lain yang menyakiti hati ibuku!" ucap Rasya dengan suara gemetar. Karena dia kembali mengingat tentang rasa sakit hati yang dialami olehnya dan juga ibunya ketika ayahnya lebih memilih Laila dan juga anak yang dikandung oleh Laila.


" Tenanglah Rasya Om pasti tidak akan pernah menyakiti ibumu karena Om sangat Mencintainya!" ucap Arman dengan penuh keyakinan sambil memeluk Rasya yang saat ini sedang menangis.


Sementara itu Syafa yang saat ini sedang mendengarkan mereka berdua dan bicara di tempat parkir. Jantungnya merasa berdebar sangat kencang. Ketika mendapatkan pengakuan dari Arman yang mengatakan bahwa dia mencintainya.


" Mungkinkah? Kalau kami berdua bisa bersatu?" tanya Syafa dengan mata berkaca-kaca merasa terharu dengan pengakuan seorang Arman yang baru dia kenal selama beberapa bulan belakangan.


Syafa memang mengakui bahwa sosok Arman begitu sangat mempengaruhi kehidupannya belakangan ini.


" Kalian berdua sedang melakukan apa sih? Ayo cepat masuk dari tadi aku menunggu kalian!" ucap siapa memanggil Rasya dan Arman yang terkejut mendapatkannya berada di tempat parkir.


" Iya Mah Rasya masuk! Ayo Om!" ucap Rasya menggamit tangan Arman untuk masuk ke dalam restoran bersamanya.


" Kenapa kalian lama sekali? Apa kalian tahu aku sangat bosan menunggu kalian berdua!" protes Syafa dengan memasang wajah jutek di hadapan Arman.


" Maafkan kami tadi kami sibuk berbicara antar laki-laki!" ucap Arman sambil tersenyum kepada Rasya.


Sungguh Rasya benar-benar merasa ada kecocokan dirinya dengan Arman yang begitu friendly dan juga humble terhadap mereka.


" Rasya nanti kalau Om menikah dengan ibumu kita akan pergi berbulan madu ke Australia!" ucap Arman sambil menatap kepada Rasya.


" Ah paling kalian berdua pergi tanpa mengajakku!" protes Rasya merasa kesal.


" Bagaimana mungkin Om akan meninggalkan jagoan sepertimu? Om pasti akan mengajakmu untuk ikut berbulan madu ke Australia bersama dengan Ibumu dan juga aku!" ucap Arman dengan penuh keyakinan sambil melirik ke arah Syafa yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


" Kalian ini sedang membicarakan apa sih? Sudah makan saja!" tegur siapa merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Arman dan Rasya di hadapannya.


" Kami berdua sedang merencanakan bulan madu mama dan juga Om Arman!" ucap Rasya dengan tersenyum ke arah ibunya.


" Ya ampun Rasya kau ini sedang berbicara apa kami ini tidak memiliki hubungan apapun Bagaimana mungkin kamu bisa memikirkan tentang hal seperti itu?" tanya Syafa memerah wajahnya karena menahan rasa malu kepada Arman yang sedang menatapnya dengan intens.


" Ayolah Syafa kalau kau menerimaku maka semua yang kami bicarakan pasti akan menjadi kenyataan!" ucap Arman sambil tersenyum kepada Syafa.


" Aku ini seorang janda yang ditinggal bercerai oleh suamiku dan memiliki seorang anak yang sudah hampir remaja. Sementara kau adalah seorang laki-laki lajang yang single dan tidak pernah menikah. Apakah mungkin kedua orang tuamu akan menerima pernikahan kita?" tanya Syafa merasa minder dengan statusnya sebagai seorang janda beranak satu yang diceraikan oleh suaminya karena lebih memilih istri mudanya daripada dia. Istri pertama dari seorang Firman.


" Ayolah Syafa! Aku adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki ayah dan ibu. Hidupku hanya sebatang kara di atas dunia ini tidak akan ada yang protes kalaupun Aku menikah dengan nenek-nenek sekalipun!" ucap Arman dengan wajah serius menatap Syafa yang terlihat ragu-ragu.


" Kalau kau setuju denganku hari ini juga aku akan melamarmu!" ucap Arman sambil menatap Syafa dan Rasya bersamaan.


" Tenanglah Om pasti Rasya akan membujuk Mama untuk menerima lamaran Om!" ucap Rasya dengan penuh percaya diri.


" Sudahlah Rasya cepat kau habiskan makananmu. Setelah itu kita pulang! Mama sudah sangat lelah dan ingin istirahat!" ucap Syafa menegur putranya yang sejak tadi terus mendukung Arman untuk melamarnya.


Bagaimanapun saat ini perasaan Syafa masih kalang kabut dan belum percaya diri untuk memulai hubungan baru. Apalagi dengan Arman yang seorang lajang yang tidak pernah menikahi perempuan manapun.


" Percayalah padaku Syafa! Aku pasti akan berusaha untuk membahagiakanmu dan juga Rasya!" ucap Arman sambil menatap serius kepada Syafa yang masih fokus dengan makanannya.


" Habiskanlah makananmu Arman. Bukankah kau pun harus kembali ke rumahmu?" tanya Syafa tidak berani menatap Arman.


Sejujurnya saat ini hati Syafa benar-benar tidak bisa dikondisikan. Hatinya terus marathon dan tidak bisa diajak kompromi.


' Ya Allah tolong jagalah hati hamba agar bisa melalui semua ini dengan baik!' doa Syafa sambil berusaha untuk segera menghabiskan makanannya yang terasa sangat sulit untuk dia telan saat ini.


Saat ini pikiran siapa penuh dengan semua perkataan yang dikatakan oleh Arman kepadanya mengenai masa depan dan juga kebahagiaan yang dijanjikan oleh Arman.


' Mas Firman pun dulu mengungkapkan hal seperti itu tentang kebahagiaan dan juga masa depan yang indah. Akan tetapi pada akhirnya dia lebih memilih masa lalunya daripada hidup bersama dengan masa depan yang telah dia rajut selama lebih dari 12 tahun bersamaku!' batin Syafa sambil berusaha untuk menguatkan hatinya dari tatapan Arman yang seakan menusuk jantungnya.