Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
49. Season Dua Resepsi Pernikahan Ilham



Setelah Ilham resmi menikah, tidak lama setelah itu, Kiai Maulana meninggal dalam damai. Ilham sangat sedih dengan kepergian Abahnya. Rasyid dan keluarga Kiai Hamid datang juga bertakziah mengantarkan sahabatnya untuk terakhir kali.


Kesya yang di berikan kabar oleh Rasyid juga langsung terbang dari Dubai bersama seluruh keluarga suaminya. Menggunakan Jet pribadi keluarga Abimana. Sebelum di makamkan, Kesya dan keluarganya sudah sampai di sana. Sebelumnya jet pribadi milik keluarga Abimana, transit di bandara Soekarno-Hatta, mengambil keluarga Kesya dan kemudian bertolak ke Jawa timur bersama-sama.


"Semoga Arwah beliau di terima di sisi Allah. Di kuatkan keluarga yang ditinggalkan." Ucap Mamahnya Kesya, yang kini tengah memeluk Adrian. Kehamilan Kesya sudah mau masuk tujuh bulan. Merry dan Alvian juga sudah menikah. Merry tidak jadi kuliah di Paris. Dia memutuskan akan ikut suaminya ke Pontianak. Mengelola perkebunan dan perusahaan warisan sang Kakek.


Nanti selepas dari Jawa timur, jet pribadi itu akan transit di Pontianak, mengantar Merry dan Alvian. Mereka sudah mantap akan menetap di sana.


Sebagai seorang ayah, Pak Farhan hanya bisa mendukung apapun keputusan anak-anaknya, tidak ingin memaksakan kehendak. Selama itu baik bagi mereka.


"Kabarnya, Gus Ilham sudah menikah ya?" tanya Zahra sambil memeluk Jasmine, Putri keduanya.


"Ya, dua hari yang lalu. Resepsi pernikahan jadinya di undur. Menunggu masa berkabung selesai." ucap Umy nya Rasyid.


"Alhamdulillah apabila Mas Ilham sudah menikah, semoga pernikahan mereka bahagia til Jannah, Amien!" doa Kesya sambil mengelus perutnya yang dari tadi gak mau diam.


"Kenapa, sayang?" tanya Andika melihat Kesya yang tampak meringis terus.


"Gak tahu, ini anak kita dari tadi agresif sekali. Gak mau diam!" Andika lalu mengelus perut kesya dengan lembut. Anak kedua mereka di prediksi laki-laki lagi. Maka dari itu. Pak Farhan begitu excited dengan kehamilan kedua Kesya.


"Cucu Opa, jangan nyusahin Mamah! Kasihan Mamah, sayang!" Pak Farhan mengelus perut menantunya berusaha menenangkan calon cucunya. Seketika bayi dalam perut Kesya menjadi anteng lagi. Kesya tersenyum.


"Dede bayi kangen sama oppa kayanya!" canda Kesya yang di sambut tawa oleh semuanya.


"Deds bayinya tahu, kalau Oppa sama Omanya sudah gak sabar mau bertemu!" Adrian kini di pelukan Andika.


Saat mereka sampai di bandara Jawa timur, mobil perusahaan Abimana Group sudah menunggu mereka dan mengantar ke pondok pesantren Kiai Maulana. Untung kedatangan Kesya tidak terlambat. Masih bisa melihat jenazah Pak Kiai untuk yang terakhir kalinya.


"Terima kasih, sudah repot jauh-jauh untuk kami!" Umynya Ilham memeluk Kesya dengan haru.


"Umy, yang kuat, ya! Semoga Abah Kiai di ampuni dosanya sama Allah, amal ibadahnya di terima di sisi Allah, Amien!" Amira lalu mengalami Ilham yang duduk lesu di dekat jenazah Abah Yai.


Kesya kalau di luar selalu menggunakan cadar. Jadi tidak banyak yang mengenal Kesya. Hanya orang-orang tertentu yang ingat dengan Kesya.


"Terima kasih atas kedatangan Kalian, jauh-jauh dari Dubai, demi Abah saya!" ucap Ilham ketika menyalami tangan Andika. Masih sendu mata Ilham, ketika menatap Kesya. Apalagi saat melihat perut Kesya yang kini sudah membesar.


Adrian memeluk Ilham dengan lembut.


"Om, gak boleh nangis, ya? Adrian temani Om disini!" Bocah tampan itu lalu mencium pipi Ilham.


Kesya dan Andika tersenyum melihat Adrian yang langsung akrab dengan Ilham. Ilham tampak tersenyum mendapatkan ciuman dan pelukan dari anaknya Kesya dan Andika.


"Jagoan Om, tampan sekali! Siapa namanya, sayang?" tanya Ilham mulai tersenyum wajahnya.


"Adrian Abimana! Nama Om siapa?" tanya Adrin cedal. Maklumlah, Adrian masih kecil, usianya belum genap tiga tahun. Lagi gemes-gemesnya.


"Om Ilhamuddin, sayang!" ucap Ilham sambi mencium Ilham lagi. Andika melihat interaksi Ilham dan Adrian. Melihat Ilham yang menangis ada rasa bersalah dalam hatinya. Dirinya telah berbuat dosa kepada pria baik itu.


"Papah jadi merasa bersalah dahulu menculik Kesya demi anak kita. Kasihan Gus Ilham! Papah jadi gak kuat lihatin adegan ini!" ucap Pak Farhan.


"Gus Ilham sangat mencintaimu seperti nya. Lihatlah, caranya mencium Adrian anak kita. Seperti mencium anaknya sendiri." ucap Andika jadi merasa gak enak.


"Berbaik hatilah, Mas! Bagaimanapun keluarga kita itu banyak dosa dengan keluarga ini. Papah, harus jadi donatur buat pondok ini, Merry dengar, sebelum Pak Kiai meninggal, beliau punya cita-cita ingin membangun rumah Tahfiz bagi anak-anak yatim." ucap Merry sendu.


"Ya, nanti perusahaan papah akan back up semua pembangunan rumah Tahfiz tersebut. Alvian, jadilah kuasa hukum bagi pondok pesantren ini, bantu mereka apabila mengalami masalah hukum. Nanti papah yang akan membiayai semuanya!" ucap Pak Farhan lagi.


Setelah jenazah di mandikan dan di sholatkan. Kiai Maulana di makamkan di pemakaman keluarga. Dia areal pondok pesantren.


Keluarga Abimana dan keluarga kesya akan menetap di Jawa timur selama tujuh hari. menghormati alm. Kiai Maulana.


Pak Farhan menyewa dua buah mansion untuk di tempati keluarga Kesya dan keluarganya. Merry dan Alvian memilih tinggal di hotel. Niatnya mau sekalian bulan madu. Mereka banyal melakukan perjalanan keliling kita Jawa timur.


Laila melihat interaksi suaminya dengan keluarga yang katanya datang dari Dubai. Keluarga Laila tampak begitu antusias dengan mereka. Penampilan glamor Merry dan ibu mertua Kesya menjadi pusat perhatian mereka.


"Kalau orang kaya, auranya beda gitu, ya?" ucap Kakaknya Laila yang menikah waktu itu.


"Kamu kenal wanita bercadar itu? Kenapa Mba lihat, suamimu melihat wanita itu begitu sedih ya, lihatlah, anak kecil itu tidak lepas juga dalam gendongan suamimu sejak mereka datang." ucap Kakaknya Laila lagi.


Laila hanya diam, menatap suaminya yang masih lesu dan masih fokus dengan anak laki-laki yang datang dari Dubai tersebut. Laila tampaknya tidak tahu masa lalu Ilham dengan Kesya.


"Mas, ayo makan dulu." ucap Laila mendekati Suaminya. Ilham tampak mendongak dan mengangguk. Lalu bicara kepada Adrian.


"Adrian mau makan bareng Om?" ketika Adrian mengangguk, Ilham menggendong Adrian lalu menyuapi anak kecil yang lucu itu.


Dalam sekejap, Adrian langsung lengket dengan Ilham.Andika membiarkan hal itu. Biarlah, memberikan sedikit penghiburan bagi Ilham yang sedang bersedih di tinggal Abahnya.


"Sayang, ayo kita ke manstion, sudah lelah. Nanti malam kita ke sini lagi." ajak Andika yang langsung di setujui oleh Kesya.


Kesya mendekati Laila yang sejak tadi terus memperhatikan anaknya dan Ilham.


"Perkenalan, saya Kesya. Santri di pondok ini juga. Apakah Mba istrinya Gus Ilham?" tanya Kesya lembut. Laila membalas jabat tangan kesya.


"Ya, saya istrinya Gus Ilham, kami baru menikah dua hari yang lalu. Senang berkenalan dengan Mba!" ucap Laila dengan tersenyum.


"Kesya, biarkan Adrian bersama saya. Kalian bisa pulang untuk istirahat dulu." ucap Ilham, enggan berpisah dengan Adrian.


"Baiklah, kami permisi kalau begitu!" akhirnya Keluarga Abimana dan keluarga Kesya pulang dan menempati manstion yang sudah di sewa Pak Farhan selama mereka tinggal di Jawa timur.