Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
188. Ayana Menyerah



"Udah cepat sana tinggalkan kontrakanku sebelum aku berubah pikiran dan Kau pasti akan menyesalinya!" ucap Agus sambil membuka pintu kontrakannya agar Ayana bisa keluar dari sana.


"Tapi aku butuh untuk bicara denganmu!" ucap Ayana dengan suara pelan. Dia sekarang tidak berani lagi untuk bertingkah di hadapan Agus yang ternyata sangat sulit untuk dihadapi olehnya.


"Kalau mau bicara Cepatlah aku sudah sangat terlambat dari tadi karena melayanimu!" WhatsApp Agus sambil memberikan ruang kepada Ayana untuk keluar dari kamarnya.


" Ayo kita berdua bicara di teras aja untuk menghindari fitnah!" ucap Agus sambil melangkahkan kakinya keluar.


Saat mereka berdua keluar dari kontrakan tampak beberapa orang tetangga Agus yang sedang memperhatikan kontrakan mereka.


"Lihatlah mereka pasti berpikir kalau kita sedang berbuat macam-macam karena berlama-lama di dalam kamar!" ucap Agus sambil menatap kepada teman-temannya dengan tersenyum.


"Siapa itu Gus? Wah, dia cantik sekali! Kenapa dia keluar dari kamarmu?" tanya tetangga Agus yang ada di samping rumahnya.


"Saya calon istrinya. Tadi saya cuma menumpang untuk ke kamar mandi. Kami tidak melakukan apapun di dalam sana!" ucap Ayana seakan mengerti tatapan dari penghuni kontrakan yang lain.


" Wih kamu keren Gus calon istrimu bening banget pakai mobil bagus lagi pasti orang kaya ya!?" ucap teman-temannya Agus yang seakan terpesona melihat kecantikan Ayana yang paripurna.


"Ayo kita bicara di tempat lain aja kalau begini caranya sampai sore pun kita tidak akan bisa bicara berdua karena mereka pasti akan selalu menimpali apapun yang kita katakan!" ucap Agus akhirnya menyerah juga untuk pergi bersama dengan Ayana.


"Tapi pergi dengan mobilku ya? Tolong jangan salah paham! Bukan apa-apa, aku tidak biasa menggunakan mobil bekas orang! tolong kau menghargai apa yang aku rasakan saat ini!" ucap Ayana sambil menundukkan kepalanya karena dia takut kalau Agus tiba-tiba marah kepadanya.


' Ya ampun Aku tidak menyangka kalau hari seperti ini akan datang dalam hidupku di mana Aku sangat takut terhadap seorang laki-laki!' batin Ayana sambil melirik sekilas kepada Agus yang masih menatapnya dengan lekat.


Agus berdiri dan kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Ayana.


"Ada apa?" tanya Ayana bingung.


"Mana kunci mobilmu? Katanya kita akan pergi menggunakan mobilmu?" ucap Agus dengan suara perlahan mencoba untuk berkompromi dengan keinginan Ayana.


"Oh bilang dong Aku kira kau minta apa!" ucap Ayana sambil tersenyum simpul.


"Memang kau kira aku minta apa?" tanya Agus seperti terheran.


"Tidak ko! Sudah, lupakan saja. Ayo cepat nanti terlalu malam kita untuk kembali lagi ke sini!" ucap Ayana sambil menyerahkan kunci mobilnya kepada Agus dan dia langsung duduk di kursi penumpang.


"Lu udah pernah mengendarai mobil kayak gini kan?" tanya Ayana merasa khawatir kepada Agus.


"Jangan khawatir! Gue pernah kok kalau sekedar menggunakan mobil seperti ini!" ucap Agus dengan santai kemudian dia langsung memasukkan kunci mobil tersebut ke kontaknya.


Ayana tampak terkejut ketika melihat Agus begitu Mahir dalam mengendarai mobil mewah seperti miliknya. Mobil Ferrari yang harganya selangit itu.


" Wah lu keren bisa menggunakan mobil ini gue kira lu Cuma pintar menggunakan mobil butut itu!" ucap dengan senyum sumringah.


"Satu kali lagi kau memanggil pedro-ku sebagai mobil butut percayalah aku akan turun dari mobilmu dan meninggalkanmu di sini sendirian!" ancam Agus sambil melirik kepada Ayana.


"Ya maaf aku nggak sengaja kok!" ucap Ayana kemudian dia melihat ke luar jendela untuk bisa menentramkan hatinya saat ini yang terus buat jantung gara-gara seorang Agus.


"Dengar ya Pedro itu bukan mobil butut! Dia itu adalah kenanganku. hanya dia yang peduli sama aku. Selama ini hanya dia yang tidak pernah meninggalkan aku!" ucap Agus sambil menerawang kepada masa lalunya.


"Serah lu lah ngomong apapun sama lu salah terus!" ucap Agus menyerah pada akhirnya.


"Kita mau pergi ke mana? Dari tadi kau tidak mengatakannya!" tanya Agus kepada Ayana.


"Ke mana saja terserah kau yang penting aku ingin bicara denganmu!" ucap Ayana.


Tampak Agus menggelengkan kepalanya merasa heran dengan ayahnya yang berperilaku Sangat aneh sekali menurutnya.


"Kau bicara saja di sini. Kau benar-benar membuang waktuku seharian ini. Apa kau tahu? Aku seharian tidak bekerja, dan aku hanya menemanimu!" ucap Agus sambil merlirik kepada Ayana.


"Apa kau tidak senang kalau bertemu denganku?" tanya Ayana dengan suara pelan.


"Coba katakan padaku! Apa yang menjadi alasanku untuk senang bertemu denganmu? Kau hanya pintar untuk selalu menghina dan merendahkanku. Emangnya apa yang harus aku sukai dari kamu?" ucap Agus sambil melirik sinis ke arah Ayana yang sekarang kembali menundukkan kepalanya.


"Apakah sebegitu buruknya aku di matamu? Sehingga hanya untuk bertemu denganmu aku harus mengemis seperti ini!" ucap Ayana dengan suara yang sendu.


Saat ini Ayahnya sedang merasa sangat sedih karena melihat Agus yang tampak sangat malas untuk bicara dengannya maupun berdekatan dengannya.


"Apa kau tahu orang yang sangat ingin ku hindari di dunia ini adalah kamu. Karena aku baru melihat ada seorang perempuan yang begitu lancang menghina aku!" ucap Agus.


Ayana menatap Agus dengan lekat banyak pikiran yang saat ini ada di dalam hatinya.


"Baiklah aku akan menerima pernikahan itu tetapi dengan satu kondisi!" ucap Ayah Nah memberikan syarat kepada Agus.


"Kondisi apa?" tanya Agus dengan penuh rasa penasaran.


"Aku tidak mau kalau kau menyentuhku. Dan setelah menikah, kita akan tinggal berpisah di dalam kamar yang terpisah!" ucap Ayana sambil menatap serius kepada Agus yang saat ini masih fokus untuk menyetir.


"Aku tidak masalah dengan itu. Toh aku juga tidak mencintaimu. Tentu aku juga tidak ingin memberikan keperjakaanku pada wanita yang tidak kucintai!" ucap Agus nyaris tanpa beban sama sekali.


"Baguslah kalau kita berdua tidak saling mencintai. Sehingga pernikahan kita akan berlalu dengan bahagia tanpa harus mencampuri urusan masing-masing!" ucap Ayana dengan mantap.


"Aku juga tidak tertarik sama sekali untuk mencampuri urusanmu. Kita bisa hidup masing-masing setelah pernikahan. Anggap saja bahwa pernikahan kita sebagai suatu kesepakatan atau sebuah training seperti yang diinginkan oleh bibimu!" ucap Agus menyetujui apa yang diinginkan oleh Ayana.


"Berarti kita sudah sepakat ya? Untuk menjalani pernikahan ini hanya untuk memenuhi keinginan bibi dan aku hanya untuk bisa mengambil kembali perusahaan milik keluarga aku dari tangan bibiku!" ucap ayah nama rasa sangat bahagia karena akhirnya urusannya bersama dengan Agus selesai dengan begitu mudah.


"Aku merasa bersyukur karena kau gampang untuk diajak bicara dengan baik-baik. Sehingga aku tidak perlu melakukan banyak drama untuk menghasilkan kesepakatan ini!" ucap Ayana sambil mengulas senyum bahagia kepada Agus.


"Lagian apa untungku tidur denganmu? Aku juga tidak mencintaimu!" ucap Agus sambil fokus dengan menyetir.


'Sebenarnya siapa Agus ini? Kenapa dia bisa mengendarai mobil ini? Aku sangat tahu, kalau mobil ini sangat sulit untuk dikendarai dan pembawaannya juga bukan seperti orang biasa. Dia begitu sombong dan begitu arogan tidak seperti para laki-laki yang pernah ku temui! Sifat Agus lebih seperti Tuan Muda yang selalu ingin dihargai oleh siapapun yang bertemu dengannya!' batin Ayana sambil melirik kepada Agus.


"Kenapa sejak tadi kau tulus melihatku Apakah ada yang salah di wajahku?" tanya Agus.


Ayana gelagapan ketika mendapatkan Agus yang tercatat mengetahui kalau sejak tadi dia mengawasinya dan melihat ke arahnya.