Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
89. Amarah Kedua Orangtuanya Firman



Setelah sampai ke alamat yang dituju Syafa dan Rasya langsung membunyikan bel, tidak lama kemudian tampak seorang pelayan keluar tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Ya ampun! Nyonya Syafa dan Den Rasya! Apa kabarnya? Sudah lama kita tidak bertemu!" ucap pelayan itu yang sudah mengenal mereka sejak lama.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja, Mbok! Oh ya, apakah Tuan Besar dan Nyonya Besar ada!??" tanya Syafa.


"Ada Nyonya, ada! Ayo masuk, Ayo masuk!" wanita paruh baya itu, kemudian membantu Syafa dan Rasya, untuk membawa koper-koper mereka. Mbok Min minta bantuan kepada security yang menjaga keamanan di rumah itu.


"Mari masuk! Mari! Nanti saya panggilkan dulu, Nyonya Besar sama Tuan Besar! Silakan duduk dulu, Nyonya , Den Rasya!" Mbok Min kemudian masuk ke ruang keluarga, di mana kedua orang tua Firman sedang menonton televisi bersama.


"Maaf Tuan besar, Nyonya Besar! Di depan ada Nyonya Syafa dan Den Rasya!" Mbok Min melaporkan kedatangan Rasya dan Syafa kepada kedua majikannya.


"Apakah itu betul, Mbok? Aduh senangnya, cucuku datang ke sini!" ibunya Firman langsung berlari ke ruang tamu menyambut kedatangan cucunya dan menantunya.


Begitu Rasya melihat neneknya yang berlari ke arahnya, dan langsung memeluk dan menciumnya, seketika Rasya langsung menangis dalam pelukan sang nenek. Otomatis hal itu membuat sang Nenek merasa bingung. Kenapa cucunya tersebut terlihat sangat sedih.


"Ada apa ini, Syafa? Kenapa cucuku menangis seperti ini? Apakah ada masalah di Indonesia?" tanya wanita paruh baya tersebut, merasa khawatir melihat cucunya yang begitu datang langsung menangis tersedu-sedu.


Papanya Firman juga terlihat heran ketika mendapatkan cucunya sedang menangis di pelukan istrinya. "Ada apa ini Syafa? Kenapa cucuku menangis seperti itu? Apa yang sudah kau buat terhadap cucuku?" tampak mata berkilat di wajah ayahnya Firman.


"Opa! Rasya menangis bukan gara-gara Mama! Tapi gara-gara Papa! Papa sudah jahat sama kita! Papa menikah lagi tanpa persetujuan dari Mama!" demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh cucunya, kedua orang tua Firman seketika memerah wajahnya, menahan amarah.


"Apakah itu benar siapa kalau Firman sudah menikah lagi?" tanya Ayahnya Firman.


"Bener, Pah! Mas Firman sudah menikah lagi dengan seorang wanita bernama Laila!" ucap Syafa sambil menundukkan kepalanya.


"Laila? Jadi, yang kamu maksud adalah Laila? Yang sudah menjadi istri mudanya Firman?" tanpa keterkejutan di wajah ibunya Firman.


"Kenapa, Mah? Apakah Mama kenal dengan Laila itu?" tanya Syafa kebingungan.


"Tentu saja kenal, Laila itu adalah mantan kekasihnya Firman. Sewaktu dia masih duduk di bangku SMA. Laila itu yang sudah menghancurkan kehidupan Firman. Sampai sehancur-hancurnya! Karena dia meninggalkan Firman tanpa alasan dan tanpa kabar berita!" tampak mata yang berapi-api di wajah ibunya Firman.


"Berani sekali, perempuan itu datang lagi ke dalam kehidupan Putraku!" ucap ayahnya Firman dengan sengit tampak juga kemarahan dan kebencian di matanya.


"Jadi, Laila itu mantan kekasihnya Mas Firman? Pantas saja, Mas Firman seperti hilang akal dan seperti tidak perduli lagi kepada kami. Tapi, kenapa Mas Firman bisa bersama dengan Laila? Seorang wanita yang sudah menghancurkan dia?" tanya Syafa merasa tidak mengerti dengan keadaan tersebut.


"Firman memang sangat mencintai Laila, jadi Mama kira Mama bisa mengerti, kenapa sekarang Firman berbuat gila semacam itu!" ucap ibunya Firman sambil terduduk lemas di sofa.


"Coba ceritakan sama kami berdua, bagaimana caranya Firman bisa bertemu kembali dengan Laila? Padahal sudah sangat lama mereka berpisah!" ucap ayahnya Firman. Syafa diam sejanak, mengatur apa yang akan dia sampaikan kepada kedua mertuanya.


"Syafa juga tidak mengerti, bagaimana Mas Firman bisa bertemu dengan Laila. Tapi yang jelas, setelah Mas Firman pulang dari Jawa Timur, kelakuan dia itu aneh, Mah! Sering pulang malam, sering pergi keluar kota, dan sering tidak pulang ke rumah!" ucap Syafa sendu.


"Apa saja yang sudah kau lakukan, sebagai seorang perempuan? Sebagai seorang istri? Bagaimana bisa, Firman Anakku jatuh lagi ke tangan perempuan itu? Perempuan yang sudah sangat tega menyakiti hati anakku!" ada rona kebencian di wajah ibunya Firman saat ini. Rasya yang mendengar ucapan neneknya tersebut, tidak terima mendapatkan pernyataan Omanya, yang menyalahkan Mamanya, atas perbuatan jahat Papanya.


"Mama nggak salah Oma, Opa! Tapi memang Papa yang jelek kelakuannya, tidak setia, menyeleweng, penghianat!" Rasya yang hatinya sudah sangat terluka, saat mengingat perlakuan ayahnya. Kini menetap kedua Nenek dan Kakeknya dengan perasaan sedih dan marah.


"Ya Tuhan, Firman! Apa yang sudah kau lakukan kepada putramu? Kenapa kau memberikan luka seperti ini kepada putramu sendiri?" ucap ibunya Firman sambil mengelus kepala rasa yang saat ini sedang menangis.


Yah perselingkuhan Firman, sudah melukai hati Rasya, secara fisik, mental, maupun psikologis.Jiwa dan badannya yang masih kecil,sudah harus dihadapkan dengan permasalahan kedua orang tuanya, yang begitu pelik. Rasya merasakan rasa sakit itu, dan tanpa dia sadari, telah merasuk ke dalam alam bawah sadarnya, bahwa dia telah membenci ayahnya.


Rasya terus menangis dipelukan Sang Nenek, sehingga membuat kedua orang tua Firman merasakan kesedihan tersebut. Ya, keduanya merasa marah karena Laila kembali memberikan masalah ke dalam kehidupan putranya.


"Pah! Hal ini nggak bisa dibiarkan! Kita berdua harus bertindak, menyelamatkan rumah tangga Putra kita! Ayo! Sebaiknya kita bersiap untuk kembali ke Indonesia dan mengingatkan anak kita, untuk tidak berbuat ceroboh dan gegabah lagi!" ucap.ibunya Firman, tampak kekhawatiran di wajah tuanya saat ini.


"Yah, Mama benar! Kita berdua memang harus kembali ke Indonesia, dan mengingatkan Putra kita, untuk jangan melangkah ke jalan yang salah! Papa juga tidak akan membiarkan Firman merusak masa depan cucu kita! Menghancurkan perasaannya seperti ini! Merusak mental dan psikologis cucu kita!" ucap ayahnya Firman.


Setelah melakukan beberapa perundingan, akhirnya mereka sepakat untuk kembali ke Indonesia dua hari lagi. Karena ayahnya Firman harus bersiap dan mengatur perusahaannya, selama kepergiannya ke Indonesia.


"Kalian berdua, Istirahatlah! Pasti sangat lelah, setelah dalam penerbangan yang cukup jauh!" ucap ibunya Firman.


"Mbok Min! Antarkan mereka ke kamar!" perintahnya.


Mbok Min kemudian mengantarkan Rasya dan Syafa ke kamar mereka masing-masing yang sudah dipersiapkan olehnya sebelumnya.


"Selamat istirahat, Nyonya dan juga Den Rasya!" ucap Mbok Min. Kemudian pergi dari sana.


Rasya dan Syafa yang memang kelelahan setelah melakukan penerbangan yang cukup lama, akhirnya memutuskan untuk mandi dan menyegarkan dirinya. Mereka beristirahat sebentar, kemudian turun untuk makan malam bersama kedua orang tuanya Firman.


Rasya begitu dimanjakan oleh Kakek dan Neneknya, karena memang Rasya adalah cucu satu-satunya di keluarga itu. Cucu kesayangan mereka berdua.


"Sudah Rasya! Kamu nggak boleh sedih lagi! Oma sama Opa, pasti akan membuat Papa kamu kembali dan akan meninggalkan perempuan itu! Oma janji sama kamu, cucu kesayangan Oma!" ibunya Firman kemudian mencium kepala cucunya.


Rasya Hanya bisa diam, merasakan cinta yang begitu besar yang diberikan oleh Neneknya, yang lama tidak pernah dia temui. Karena jarak dan waktu yang telah memisahkan mereka.