
Arman terus menatap Syafa yang saat ini sedang melayaninya untuk makan malam.
" Kau juga makanlah sayang. Aku bisa kok mengambil makananku sendiri!" ucap Arman sambil tersenyum kepada Syafa.
Sementara itu Rasya yang baru pulang dari sekolahnya tampak tersenyum melihat mereka berdua tampak akur di meja makan.
" Selamat malam Mah pah!" ucap Syafa sambil mencium telapak tangan Arman dan Shafa.
Arman merasa senang melihat Rasya yang begitu menghormatinya sebagai ayah sambungnya.
" Kau mandilah dulu dan ganti pakaianmu. Setelah itu kita makan malam bersama!" ucap syafah sambil mengulas senyum kepada putranya yang tampak kelelahan setelah seharian beraktivitas di luar rumah.
Rasya sekarang sudah kelas 2 SMA dan kadang di saat waktu luangnya Rasya pergi ke perusahaan kakeknya yang sudah diwariskan kepadanya.
Rasya kemudian langsung naik lantai dua menuju kamarnya. Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Rasya langsung pergi turun dan menemui Syafa di meja makan.
" Kata papa Firman, Papa Arman akan segera berangkat ke Amsterdam dalam minggu ini. Apakah itu benar?" tanya Rasya sambil menyendokkan makanannya ke mulut.
Arman tiba-tiba tersedak mendengarkan pertanyaan dari Rasya.
" Kapan kau bertemu dengan ayahmu?" tanya Arman sambil menatap tajam kepada Rasya.
" Tadi tidak sengaja bertemu dengan papa Waktu mau pulang dari sekolah. Tampaknya papa habis berkunjung ke rumah ini!" ucap Rasya sambil menatap ibunya.
Arman melirik kepada Syafa yang masih fokus dengan makanannya.
" Apakah benar kalau tadi Kak Firman datang kemari?" tanya Arman dengan hati-hati.
Syafa hanya menganggukkan kepalanya dan dia tetap fokus dengan makanan yang ada di hadapannya.
Arman meletakkan sendok di piringnya kemudian dia menatap istrinya.
" Apa saja yang kalian bicarakan? Kenapa kau tidak menghubungiku sayang? Ketika Kak Firman datang kemari?" tanya Arman dengan wajah memerah.
Syafa yang sudah menyelesaikan makannya dia pun kemudian meletakkan sendok dan juga piringnya ke wastafel yang ada di dapur.
Arman terus memperhatikan semua gerak-gerik Syafa.
" Jawablah apa yang kalian bicarakan?" tanya Arman dengan penasaran.
Syafa menatap Rasya yang masih begitu fokus untuk menghabiskan makanannya.
Rasya tampaknya begitu lapar setelah berada di luar seharian. Syafa senang sekali melihat putranya makan dengan lahap.
" Setelah makan jangan lupa untuk salat ya? Setelah itu kau tidur. Oh ya sayang. Jangan lupa kau kerjakan PR kamu! Mama dan Papa ke kamar dulu ya karena ada hal yang penting yang harus kami bicarakan berdua!" ucap syafah sambil menatap serius wajah Arman yang tampak gugup.
Syafa melangkahkan kakinya menuju kamar mereka berdua yang ada di lantai 3.
Arman yang benar-benar merasa penasaran dia pun langsung mengikuti istrinya tanpa banyak bersuara.
" Duduklah Mas. Mari kita bicara di sini dengan serius!" ucap Syafa sambil duduk di hadapan Arman yang masih tidak mengerti dengan apa yang akan terjadi diantara mereka berdua.
Arman yang saat ini jantungnya sedang berdebar kencang berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja di hadapan Syafa.
" Apa yang kalian bicarakan?" ulang Arman sambil menatap kepada Syafa.
Terlihat Syafa yang menatap suaminya dengan lekat.
Mendengarkan pertanyaan tersebut dari Syafa benar-benar membuat Arman menjadi salah tingkah.
" Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Apakah kau meragukan cintaku untukmu?" tanya Arman dengan suara bergetar.
siapa tersenyum melihat suaminya yang tampak begitu gugup di hadapannya Tidak seperti biasanya.
" Katakan padaku apa yang kau bicarakan dengan Firman kenapa kau dari tadi berbelit-belit sekali?" tanya Arman tidak sabar.
Syafa memperbaiki duduknya dia menatap langit malam yang begitu indah.
" Langit itu indah sekali ya Mas? Begitu luas dan begitu menenangkan! Apakah kau berfikir bahwa Langit Itu merasa kesepian?" tanya Syafa sambil melirik kepada Arman yang masih bingung dengan apa yang dia katakan.
" Kenapa kau berbelit-belit seperti ini?" tanya Arman benar-benar frustasi.
" Mas Firman tidak mengatakan apa-apa kok. Tadi dia hanya mengatakan bahwa aku harus segera bersiap-siap untuk melepasmukan Mas untuk pergi ke Amsterdam dalam minggu ini. Dia katanya khawatir kalau sampai nanti aku kesepian di rumah ketika Mas pergi. Jadi mas Firman datang kemari menawarkan kepadaku. Apakah aku akan ikut denganmu ke Amsterdam atau tidak." ucap Syafa sambil tersenyum kepada Arman.
Arman menarik nafasnya dengan lega mendengar firman tidak mengatakan apapun tentang Amelia kepada istrinya.
" Apakah Kak Firman tidak mengatakan hal yang lain?" tanya Arman lagi.
Terlihat Syafa menggelengkan kepalanya. Arman benar-benar merasa lega karena ternyata Firman tidak mengatakan tentang perselingkuhannya dengan Amelia kepada Syafa, sang istri tercinta.
Syafa mendekati suaminya yang sedang mengelus dadanya karena merasa lega.
" Tapi tadi ada seorang perempuan datang kemari Mas dia mengaku bernama Amelia." ucapan Syafa membuat Arman benar-benar seperti mendapatkan sambaran gledek di siang hari.
" Apa?" tanya Arman kaget.
" Dia datang ke mari dengan mengaku sebagai sekretarismu Mas. Dia datang kemarin mengambil dokumen-dokumen milikmu yang katanya untuk mempersiapkan keberangkatanmu ke Amsterdam. Dia tadi mengambil passport dan juga KTP mu untuk mempersiapkan perjalanan kalian ke Amsterdam!" Arman benar-benar terkejut bahwa data-data penting miliknya sekarang sudah berada di tangan Amelia.
Arman tampak bangkit dari duduknya dia seperti hendak marah tetapi bingung bagaimana harus marah kepada Syafa.
Kalau dia marah, pasti Syafa akan curiga tentang hubungannya dengan Amelia.
Kalau tidak marah, dia saat ini benar-benar sangat emosi. Bagaimana mungkin Syafa begitu bodoh dengan menyerahkan dokumen penting miliknya kepada orang asing yang baru dia temui?
" Kamu jngan khawatir Mas aku tidak memberikannya kok sama dia!" ucap Syafa sambil tersenyum kepada Arman.
" Benarkah?" tanya Arman sambil membalikkan tubuhnya dan menggengam tangan Syafa.
Syafa hanya menganggukkan kepalanya dan membuat Arman benar-benar bahagia dan langsung memeluknya dengan erat.
" Ya ampun Mas cuman masalah begitu aja kau sangat bahagia sekali!" ucap Syafa sambil tersenyum kepada Arman.
Arman kemudian menarik tangan Syafa untuk duduk di kursi yang ada di balkon kamar mereka.
" Dengarkan aku sayang. Kalau sampai data-data itu jatuh ke tangan orang yang memiliki niat jahat kepadaku. Mereka bisa menggunakan data-data itu untuk menjebak aku dan kecelakaan aku!" ucap Arman.
Terlihat Syafa yang menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Arman.
" Baiklah Ayo kita istirahat. Kau pasti sudah sangat lelah setelah bekerja di luar seharian!" ucap Syafa sambil menggandeng tangan suaminya dan menariknya masuk ke dalam kamar agar beristirahat dengan nya.
Mendengarkan perkataan Syafa Arman merasa bahwa dia telah berbuat salah terhadap istrinya dengan berkhianat kepada Syafa karena memiliki hubungan dengan Amelia yang selama ini selalu menjadi pelariannya. Ketika dia merasa suntuk dan Gabut dengan pekerjaan yang super sibuk dan memusingkan kepala.