
Keesokan harinya Agus dan Ayana menemui Humairoh dan Pradipta.
" Jadi kalian memutuskan untuk kembali bersama?" tanya Humairoh serius kepada keduanya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
" Benar Mah. Kami memutuskan untuk mencoba kembali merajut rumah tangga kami karena Ayana yakin, Axel juga pasti tidak akan senang kalau melihat kedua orang tuanya tidak akur. Setelah meninggalnya dia!" ucap Ayana dengan suara gemetar.
" Agus! Apakah kau yakin kalau kau bisa membahagiakan Putri paman?" tanya Pradipta kepada keponakannya.
Agus mengangkat kepalanya kemudian menatap langsung manik mata Pradipta.
" Saya yakin kalau saya bisa membahagiakan Ayana! Paman dukunglah kami untuk membina rumah tangga dan memberikan cucu untuk kalian!" ucap Agus dengan penuh keyakinan.
" Ayana yakin kalau kami berdua bisa melewati rintangan yang ada di hadapan nanti dengan bersama bukan dengan perpisahan!" ucap Ayana dengan keyakinan.
Agus yang saat ini sedang menggenggam tangan Ayana meremasnya dengan kuat.
" Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu. Tolong ingatkan aku kalau aku melakukan kesalahan yang membuatmu menderita!" ucap Agus sambil mencium telapak tangan Ayana.
Ayana menganggukkan kepalanya kemudian dia menatap kedua orang tuanya.
" Dukunglah kami agar kami bisa melewati pernikahan ini dengan lebih ringan. Kami berniat untuk mengucapkan kembali ijab kabul. Setelah itu akan melaksanakan resepsi pernikahan kami di Jakarta. Jami akan mengundang semua family dan juga rekan bisnis untuk mengumumkan pernikahan kami ke publik!" ucap Agus dengan kemantapan.
Humairah dan Pradipta sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Agus.
" Ada bagusnya juga kalian melakukan itu karena permasalahan kemarin benar-benar sangat kacau balau. dulu pernikahan kalian dilakukan secara rahasia dan belum sempat melakukan resepsi jadi ada bagusnya juga rencanamu itu Agus. Mama setuju sekali!" ucap Humairoh mendukung semua rencana yang telah disusun oleh Agus untuk masa depan mereka berdua.
Mereka pun Kemudian bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia karena mereka pun hendak menghadiri wisuda Agnes yang akan dilaksanakan satu minggu lagi di Jakarta.
" Akhirnya kita kembali lagi ke tanah air!" ucap Agus ketika mereka melangkahkan kaki menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Jakarta.
Ayana sebenarnya merasa keberatan untuk kembali ke Indonesia karena selama ini terlalu banyak kenangan pahit yang dia rasakan ketika dirinya berada di Indonesia.
Tetapi Ayana pun sadar bahwa dia harus menghadapi semua ketakutan dan juga kenangan pahit itu. Bagaimanapun di Indonesia ada makam Axel yang harus dia pelihara dan kunjungi.
" Kenapa tanganmu begini dingin?" tanya Agus ketika dia memegang telapak tangan istrinya.
Ayana menatap Agus dan dia berusaha untuk menenangkan jiwanya yang saat ini sedang bergejolak.
Jujur Ayana saat ini benar-benar merasakan bahwa dia seakan sedang berkhianat terhadap putranya yang telah meninggal.
' Maafkan Mama Nak. Karena mama telah kembali lagi kepada ayahmu. Seakan-akan Mama telah menutup mata atas kematianmu gara-gara papamu!' batin Ayana ketika dia menatap Agus yang merasa khawatir dengan dirinya.
' Semoga kau memaafkan Mamah Na! Karena bagaimanapun Mama mencintai ayahmu dan dia pun sudah berkali-kali meminta maaf atas kematianmu yang tanpa dia sengaja telah disebabkan oleh ayahmu!' Ayana berusaha untuk menguatkan jiwa raganya untuk kembali menapaki rumah tangganya bersama dengan Agus.
" Katakanlah padaku sayang. Kalau kau memiliki masalah. Aku akan berusaha untuk membantumu!" ucap Agus khawatir.
" Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Ayo kita menapaki kembali rumah tangga kita dan semoga ada kebaikan di dalamnya!" ucap Ayana berusaha untuk mengulas senyum kepada suaminya.
" Are you sure?" tanya Agus mencoba untuk meyakinkan hatinya bahwa istrinya saat ini benar-benar sedang baik-baik saja.
" I am sure Hubby!" jawab Ayana dengan kemantapan dengan senyum di bibirnya.
Agus merasa bahagia karena bisa melihat senyum Ayana yang selama ini selalu dia rindukan.
Humairoh dan Pradipta langsung pergi ke kediaman mereka sementara Agus dan Ayana pulang ke kediaman utama keluarga Agus.
" Selamat datang kembali di rumah kita!" ucap Agus ketika mereka melangkahkan kaki di mansion keluarganya.
Ayana menatap ke sekeliling kediaman itu. Masih sama seperti terakhir kali dia meninggalkan tempat itu.
" Ayo kita beristirahat dulu!" Ayana hanya mengikuti semua yang diinstruksikan oleh suaminya Karena dia sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan siapapun.
Hidupnya sudah terlalu banyak menderita dan dia hanya ingin ketenangan saat ini.
Agus bisa melihat bahwa Ayana sekarang terlihat lebih banyak murung dan berwajah sendu daripada bersifat ceria seperti dulu.
' Aku berjanji akan mengembalikanmu lagi seperti dulu menjadi Ayana yang periang dan juga penuh percaya diri. Maafkan aku yang sudah memberikan banyak luka dalam hidupmu sehingga merubahmu menjadi wanita yang murung seperti saat ini!' ucap Agus Waktu mereka menapaki satu demi satu anak tangga yang akan mengantarkan mereka ke kamar utama yang akan mereka tempati selama tinggal di kediaman itu.
' Aku sangat rindu dengan keusilan dan kejahilanmu. Aku juga sangat rindu dengan ke arogananmu seperti dulu. Ayana yang luar biasa yang telah membuatku jatuh cinta berkali-kali! Akulah yang sudah merubahmu menjadi wanita yang seperti sekarang yang jarang tersenyum yang jarang bersosialisasi. Aku adalah suami yang buruk karena telah merubahmu menjadi seorang wanita yang penyendiri dan tertutup! Maafkan Aku Ayana!' Agus merangkul bahu Ayana dengan erat.
Wajah Ayana begitu sendu, ketika mereka masuk ke dalam kamar utama. Di mana ada box bayi yang biasa ditempati oleh Axel ketika dulu masih hidup.
Tiba-tiba saja bulir air mata Ayana mengalirkan tak bisa dia kembalikan karena dia mengingat kembali akan putranya yang sudah meninggal.
" Maafkan Mama Nak yang tidak bisa melindungimu! Maafkan mama!" Ayana menangis di samping box bayi tersebut sehingga membuat Agus menjadi merasa sedih dan merasa bersalah karena sudah ceroboh mengakibatkan kecelakaan tersebut hingga Putra mereka meninggal.
" Maafkan papa sayang! Maafkan Papa!" Agus berusaha untuk memeluk Ayana dan memberikan penghiburan terbaik untuk sang istri tercinta.
Akhirnya kedua suami istri pun menangis dalam diam. Keduanya berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain.
" Ayo sayang. Kita ke kamar mandi dulu dan membersihkan tubuhmu. Setelah itu kau bisa beristirahat!" Agus kemudian membimbing ayahnya untuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuh mereka dari kotoran dan juga keringat yang menempel seharian di tubuh mereka.
" Apakah kau ingin makan malam di bawah ataukah di kamar saja?" tanya Agus ketika dia membantu Ayana untuk mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
" Aku sangat lelah Aku ingin tidur saja!" ucap Ayana yang langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
" Baiklah aku akan mengambil makan malam kita di sini!" Agus pun langsung keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
Agus tahu bahwa saat ini Ayana sedang menangis di dalam kamarnya. Sekuat tenaga Agus pun berusaha untuk menguatkan hatinya untuk tidak menangis lagi.
Sungguh kehilangan seorang anak itu sangat berat apalagi ketika kita menyadari bahwa Kitalah yang menjadi penyebab dari meninggalnya anak kita.
Penderitaan itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Agus. Rasa bersalah dan juga kehilangan yang sangat besar di dalam hatinya. Perasaan itu benar-benar membuat Agus merasa sesak dan kesulitan untuk menghadapi Ayana saat ini.
Agus langsung turun ke bawah dan memerintahkan kepada pembantunya untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
" Tolong nanti kalau sudah siap makanannya dibawa ke atas Karena istriku sedang sakit!" ucap Agus memberikan perintah kepada pembantunya.
" Baik Tuan akan saya laksanakan!" Agus pun kemudian meninggalkan pembantunya dan pergi ke ruang kerjanya yang sudah lama dia tinggalkan karena dia pergi ke Australia untuk mencari Ayana dan juga untuk menjalani pengobatan untuk penyakitnya yang sekarang sudah sembuh karena amnesia itu sudah hilang dari dirinya.
" Tolong segera persiapkan acara pernikahan kami berdua Buatlah semeriah mungkin. Karena aku ingin mengundang semua rekan bisnis kita ke acara resepsi pernikahanku bersama dengan istriku tercinta!" perintah Agus kepada asistennya.
Setelah memberikan perintah tersebut, Agus pun langsung menutup panggilan telepon dan kembali fokus dengan semua pekerjaannya yang telah lama dia tinggalkan.