Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
144. Pemakaman



Siang itu, suasana di pondok pesantren penuh dengan Aura kesedihan karena mereka akan segera mengantarkan Kyai mereka ke tempat peristirahatan yang terakhir.


Banyak para pelayat, yang datang dari berbagai penjuru negeri. Untuk menghormati Kyai Hamid yang sepanjang hidupnya selalu mengabdikan dirinya untuk umat dan agama.


Zahra beberapa kali terus pingsan. Ketika melihat pemakaman Ayahnya yang sangat dia sayangi. Tampak Rasyid terus setia untuk terus mendampingi sang istri yang saat ini sedang sangat lemah dan sedih.


"Zahra! Ayo kita pulang ke rumah saja. Tidak baik Kalau kau seperti ini terus. Zahra, sayang! Kasihan Abi, Sayang. Tolong biarkan Abi pergi dengan tenang!" ucap Rasyid sambil memeluk sang istri yang sangat lemah badannya saat ini.


Hal yang tidak berbeda pun, sama terjadi kepada Qonita. Dia pun sama dengan Zahra. Qonita terus menangis sejak tadi. Kiai Ilham dengan sangat telaten menghibur Qonita.


"Qonita! Jangan bersedih terlalu berlebihan dalam menyikapi hal kematian, sayang! Karena sesungguhnya manusia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada Allah. Kau harus mengingat hal ini Qonita. Bahwa Allah lebih menyayangi Abi daripada kita. Saat ini Abi sudah damai di sisinya dan tidak perlu merasakan kesakitan lagi!" ucap Kyai Ilham memberikan kesadaran kepada istrinya untuk jangan terlalu terlarut dalam kesedihan karena meninggalnya Kyai Hamid.


"Kita boleh bersedih, untuk meninggalnya orang-orang yang kita sayangi. Tetapi bukan dengan meratapi ataupun menyesali kepergian itu. Tetapi, jadikanlah kematian ini sebagai I'tibar atau pelajaran untuk kita semua. Agar kita bisa mengingat bahwa suatu saat, kita pun akan menjadi sama seperti jenazah itu. Meninggal dan terbaring kaku di tanah! Sehingga hal itu akan membuat kita selalu waspada dalam hidup kita dan memperbanyak amal sholeh untuk bekal kita di akhirat nanti!" Kyai Ilham sambil memegang tangan Qonita yang terasa sangat dingin sekali.


"Ayo, sekarang Abi antar kau ke rumah. Tidak baik kau sedang hamil muda, kalau berlama-lama di pemakaman. Harus ingat selalu, untuk berzikir dan berdoa kepada Allah agar selalu dilindungi dari gangguan setan dan jin yang tidak terlihat!" ucap Kiai Ilham.


"Maafkan Qonita, Aby. Yang sangat lemah saat ini dan tidak mengingat semua hakikat kematian. Qonita hanya bersedih, Qonita tidak sempat untuk bertemu dengan Abi sebelum dia menghembuskan nafasnya terakhir!" ucap Qonita dengan berderai air mata.


"Kita harus memaklumi semuanya. Saat itu, Umi dan Kak Rasyid, pasti sangat panik. Dan tidak pernah berpikir bahwa akan terjadi hal seperti ini. Sudahlah, sayang! Jangan dipikirkan lagi hal itu. Ingatlah, kau juga harus menjaga kesehatanmu dan juga anak kita. Tolong jangan bersedih secara berlebihan, sayangku!" Kyai Ilham berusaha untuk menasehati istrinya.


Ahmad kakaknya Zahra yang menjadi perwakilan keluarga untuk menyampaikan pidato sebelum para peziarah meninggalkan makam ayahnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Ahmad. Saya mewakili keluarga Kyai Hamid mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas perhatian dan kerelaan para petakziah semua. Untuk menghadiri acara pemakaman ayah kami tercinta. Kakek kami tercinta. Yang lebih disayangi oleh Allah dan dipanggil ke sisi-nya pada hari ini." Tampak Ahmad berusaha sangat keras untuk tidak menitikkan air matanya. Kini bahkan suaranya parau tersekat di tenggorokan.


"Nggak tahu kenapa, tiba-tiba kami semua yang sudah hampir 10 tahun tinggal di Mesir, tiba-tiba, kami sekeluarga ingin pulang ke Indonesia. Tidak tahunya, ini adalah pertemuan terakhir kami dengan Aby kami yang tercinta. Sungguh, kami sangat kaget menerima berita tentang ayah kami ini. Beliau yang ternyata telah berjuang selama 1 tahun lebih untuk melawan penyakit yang mematikan ini. Beliau adalah sosok yang hebat dan luar biasa. Yang tidak pernah ingin melihat keluarganya khawatir atas kesehatannya. Sehingga menyembunyikan penyakitnya dari kami semua! Kami semua baru mengetahuinya hari ini. Ketika beliau dipanggil ke sisi Allah. Sungguh kesedihan kami tidak terkira rasanya. Tetapi kami percaya, bahwa Allah lebih menyayangi Ayah kami tercinta. Selamat jalan Ayah, semoga segala amal dan perbuatanmu. Segala perjuanganmu di jalan Allah akan menjadi syafaatmu kelak di akhirat nanti. Di Hari pembangkitan Nanti!" ucap Ahmad mengakhiri pidatonya kali ini


Rasyid maju ke depan, kini dia menggantikan Ahmad yang tampaknya sudah tidak mampu lagi untuk membendung kesedihan yang ada di hatinya, pernah kepulangan Kyai Hamid ke sisi Allah yang tiba-tiba saja.


"Kami dari pihak keluarga. Memohon maaf apabila selama masa hidup Ayah kami, mertua kami, Kakek kami, mungkin saja beliau memiliki sangkutan hutang maupun piutang kepada kalian. Kalian bisa mendatangi kami, keluarganya yang masih hidup. Jangan sampai orang tua kami mempunyai sangkut paut tanpa kami ketahui. Dan kami mohon maaf, apabila Beliau memiliki kesalahan kepada Kalian. Tolong untuk dimaafkan dan biarkanlah beliau pergi ke sisi Allah, dengan bersih dan tanpa urusan dengan manusia saat hidup di dunia!" ucap Rasyid dengan berlinang air mata.


Setelah semua rangkaian acara pemakaman selesai. Pemakaman pun akhirnya berakhir dengan khidmat. Satu persatu para petakziah mulai meninggalkan area pemakaman.


Para peziarah yang mengikuti prosesi pemakaman Kiai Hamid, sudah banyak yang meninggalkan pemakaman. Begitu juga dengan para Santri. Mereka sudah banyak yang meninggalkan pemakaman.


Sekarang yang tersisa tinggal anggota keluarga inti. Yang sedang mengirimkan doa khusus untuk orang yang tersayang mereka Kyai Hamid.


Kyai Ilham yang memimpin acara itu dan Qonita berada di belakangnya bersama dengan Zahra dan Rasyid.


Meisya, kakak ipar Zahra terus memeluk Ibu mertuanya. Yang tampak berusaha sangat keras, untuk tidak menangis. Tetapi dia gagal, air matanya mengalir deras tanpa mampu dia bendung lagi. Beliau berusaha tetap kuat dan tegar ketika melepaskan kepergian suaminya.


Setelah semua orang selesai berdoa untuk Kiai Hamid. Mereka pun kembali ke pondok pesantren.


Sekarang ini, mereka semua sudah bersiap untuk melaksanakan tahlilan untuk Kyai Hamid. Yang akan dilaksanakan selama satu minggu di pondok pesantren.


Semua orang berusaha yang terbaik untuk acara tahlilan itu. Mereka memberikan hadiah terakhir untuk Kyai Hamid memberikan doa terbaik untuk beliau yang selama ini selalu penuh dengan kasih sayang dan bijaksana terhadap keluarganya.


Kiai Ilham dan Qonita berada di pondok pesantren tersebut sampai 7 hari acara tahlilan untuk Kiai Hamid. Karena mereka tidak bisa meninggalkan pondok pesantren terlalu lama. Di sana pun Kiai Ilham sangat dibutuhkan oleh para santrinya.


"Berhati-hatilah di perjalanan. Jangan lupa untuk ngabarin kami, kalau kalian sudah sampai di Jawa Timur!" pesan ibunya Qonita ketika mereka berpamitan untuk kembali ke Jawa Timur.


"Ya, Umi! Jangan khawatir. Kami pasti akan berhati-hati di jalan nanti kami akan mengadakan 40 hari tahlilan Abi di pondok pesantren kami. Umi harus menjaga kesehatan ya? Umi tidak boleh banyak sedih maupun banyak bekerja. Umi harus berusaha untuk bahagia!" pesan Qonita sambil memeluk istrinya Kyai Hamid.


Mereka semua akhirnya satu persatu mengucapkan kata perpisahan. Sebelum Qonita dan Kyai Ilham kembali ke Jawa Timur


"Kau harus jaga kandunganmu, Qonita. Jangan lupa untuk kabari kami, kalau kau melahirkan Insya Allah kami akan berkunjung ke Jawa Timur untuk selamatan kelahiran anak kalian!" ucap Zahra sebelum Qonita meninggalkan pondok pesantren.


"Iya Kak, pasti! Tolong doakan yang terbaik untuk kami kami permisi ya Kak nanti kami bisa-bisa ketinggalan pesawat kalau terlalu lama di sini!" mereka berduapun akhirnya tersenyum.