Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
116. Curahan Hati Adrian



Setelah Adrian meninggalkan Kyai Ilham tanpa pamit. Ilham pun langsung berbicara dengan Andika.


"Maafkan saya yang sudah teledor dalam menjaga Adrian. Saya mengira Adrian yang sudah besar, sudah bisa bergaul bersama teman-temannya yang lain. Oleh karena itu, saya sudah menempatkan Adrian di asrama putra bersama teman-teman yang lain. Itu juga permintaan Adrian dan Fathu!" ucap Kiai Ilham mencoba menjelaskan kepada Andika.


"Tdak apa-apa Pak Kyai! Mungkin Adrian hanya sedang merindukan kami saja. Namanya anak kecil. Makli saja, Pak Kiai. Besok kami akan menjemput Adrian untuk kembali ke Dubai. Biarlah! Anggap saja itu sebagai sebuah liburan. Siapa tahu, nanti setelah pikirannya tenang. Adrian akan merindukan teman-temannya dan akan kembali lagi ke pondok!" ucap Andika bijaksana. Sehingga membuat lega perasaan Kiai Ilham.


"Baiklah, kami akan menunggu kedatangan kalian!" ucap Kiai Ilham, kemudian menutup telepon tersebut. Kiai Ilham kemudian termenung sendiri. Memikirkan apa yang dikatakan oleh Adrian di telpon tadi terhadap kedua orang tuanya.


Ustadzah Qonita yang mendengarkan pembicaraan antara Adrian dan juga orang tuanya, merasa hatinya tercubit juga.


Padahal dulu, Adrian yang telah menjodohkan dirinya bersama Kyai Ilham. Tapi sekarang, Kiai Ilham malah mengabaikan Adrian demi menyenangkan dirinya. Sehingga membuat bocah tampan yang selalu ceria dan energik tersebut merasa kesepian dan tidak betah untuk tinggal di pondok lagi.


Setelah panggilan telepon berakhir, Qonita mendekati suaminya dan berbicara perihal permasalahan Adrian tadi.


"Aby, ayo kita temui Adrian. Sudah sejak lama, memang kita tidak pernah berbicara dengan Adrian dan Fathu lagi." ucap Qonita.


"Kan, karena sekarang pendidikan Adrian sudah diserahkan kepada dewan asatid. Oleh karena itu, Aby tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan Adrian secara langsung. Bukan maksudnya Aby untuk mengabaikan Adrian dan Fathu?" ucapnya menerawang.


"Adrian pasti merasa kehilanganmu. Bukankah, selama beberapa tahun ke belakang, Adrian selalu bersamamu. Adrian selalu menemanimu. Tiba-tiba saja sekarang kalian jauh, pasti Adrian merasa sangat merindukanmu. Oleh karena itu, dia merasa sedih dan ingin kembali kepada kedua orang tuanya!" ucap Qonita.


"Ya, selama ini kan banyak sekali kesibukan di pondok. Yang menyita banyak perhatian Aby. Sehingga jujur saja, membuat Aby jadi lupa dengan Adrian maupun Fathu. Apa jangan- jangan Fathu juga memiliki perasaan yang sama seperti Adrian? Merasa di abaikan oleh Aby?" tanya Kiai Ilham tersentak.


"Pantas saja, kedua bocah yang biasanya ceria dan penuh keusilan dan selalu jahil. Sekarang keduanya tampak begitu murung. Pasti karena dia merasa kehilangan Abi!" ucap Qonita.


"Ya, sudah! Aby akan menemui Adrian dan Fathu dulu!" kemudian Kiai Ilham pun pergi ke kamarnya Adrian. Tetapi Adrian dan Fathu tidak ada di sana.


"Di mana sekarang Adrian dan Fathu?" tanyanya merasa khawatir.


"Adrian tadi tampak sedang membereskan barang-barangnya, Pak Kiai dan dibantu oleh Fathu!" jawab salah seorang santri yang ada di asrama tersebut.


Kyai Ilham kemudian meninggalkan asrama tersebut, dan mencari Adrian di tempat yang dimaksud oleh santri tadi.


"Apa Adrian serius akan kembali ke Dubai dan tidak mau mondok lagi? Ini semua gara-gara aku yang sudah lalai mengurusnya!" Kiai Ilham menyalahkan dirinya sendiri.


Kemudian Kyai Ilham melihat Adrian yang sedang berbicara dengan Fathu. Dia berdiri di balik pintu, ingin mengetahui curahan hati seorang Adrian.


"Om Ilham sudah nggak sayang lagi sama aku. Aku mau pulang aja ke Dubai. Fathu, apakah kamu ikut denganku? Nanti kita bisa sekolah sama-sama!" ajak Adrian.


Tetapi Fathu menggeleng, menolak ajakan Adrian tersebut. Karena dia ingin tetap menimba ilmu di pondok pesantren tersebut. Sesuai amanah dari kedua orang tuanya yang ada di Jakarta.


"Maafkan aku, Adrian! Tapi aku nggak bisa. Aby sama Umi sudah mengamanahkanku untuk menjadi belajar ilmu agama dan agar menjadi Hafiz di sini!" ucap Fathu.


" Apa kau tidak akan kembali lagi ke sini Adrian?" tanya Fathu.


"Aku tidak akan kembali lagi ke sini. Sekarang saja Om Ilham sudah melupakanku. Apalagi nanti, kalau Om Ilham sudah punya anak pasti Om Ilham sama sekali tidak peduli padaku lagi!" ucap Adrian dengan sedih.


Fathu juga merasa kehilangan sosok Kiainya, yang sewaktu belum menikah bersama Ustadzah Qonita, merupakan pribadi yang sangat menyenangkan dan dekat dengan mereka berdua. Tapi sekarang, sangat jauh dan hampir dikatakan tidak pernah bertemu dan bermain bersama mereka berdua lagi.


"Aku juga sebenarnya kangen. Kita jalan-jalan ke taman seperti dulu. Kita jalan-jalan ke pasar malam bersama dengan Pak Kyai. Sekarang Pak Kyai hanya peduli dengan istrinya sudah melupakan kita berdua!" ucap Fathu juga merasa sedih.


Kyai Ilham yang mendengarkan pembicaraan dua bocah tersebut, tanpa terasa air matanya mulai berderai. Karena ternyata, di atas kebahagiaannya dirinya bersama sang istri. Dirinya telah menzalimi kedua bocah tersebut yang selama bertahun-tahun ini selalu menemaninya dalam kesendiriannya saat tidak beristri, setelah bercerai dengan Laila.


Padahal dulu, Adrian dan Fathu yang begitu bersemangat untuk menjodohkan dirinya dengan Qonita. Tetapi ternyata dirinya malah melupakan kedua bocah tersebut. Sehingga merasakan kehilangan dirinya. Adrian sungguh benar-benar sedih karena hal tersebut, sehingga minta keluar dari pondok. Ilham kemudian menemui kedua bocah tersebut, yang sedang menangis bersama.


"Om Ilham tidak pernah melupakan Adrian maupun Fathu. Aelama ini Om sibuk dengan urusan pondok. Bukan karena tidak peduli dengan kalian berdua lagi. Om mengira, kalian tengah sibuk juga dengan pendidikan kalian yang sudah diserahkan kepada dewan asatidz. Om, ingin kalian fokus belajar, agar tidak mengecewakan kedua orang tua kalian! Ya sudah menitipkan dan mempercayakan kalian di pondok ini untuk belajar ilmu agama!" ucap Kiai Ilh, sambil duduk di antara kedua bocah tampan tersebut.


"Maafkan Adrian Om, tapi Ardian sudah bulat dengan keputusan Adrian. Adrian ingin kembali ke Dubai dan akan melanjutkan pendidikan Adrian di sana. Adrian rasa, sudah cukup 5 tahun Adrian tinggal bersama Om Ilham. kini saatnya Adrian untuk tinggal bersama kedua orang tua Adrian!" ucap Adrian dengan suara parau.


"Baiklah tidak apa-apa. Om bisa terima keputusan Adrian yang ingin kembali ke Dubai. Hanya saja, sebelum kembali ke Dubai. Bisakah Adrian memaafkan Om Ilham? Yang mungkin, secara tidak disadari sudah mengabaikan Adrian dan Fathu selama ini! Maafkan Pak Kiai, ya, Fathu!" ucap Ilham sambil mengelus kepala kedua bocah tersebut. Dengan penuh kasih sayang seperti dahulu dirinya selalu memanjakan keduanya.


Tiba-tiba hati Ilham merasakan kerinduan yang sama. Di saat dulu, mereka bertiga selalu berjalan-jalan dan bermain bersama. Untuk menghabiskan waktu ketika dirinya hidup seorang diri, tanpa seorang istri setelah bercerai dengan Laila.


Kedua bocah inilah, yang selalu membuat hatinya bahagia dan selalu menghiburnya dari rasa kesepian. Kiai Ilham kembali mengingat dulu dirinya lah yang meminta Adrian dari kedua orang tuanya untuk dirawat dan dia Didik di pondok pesantren tersebut.


"Maafkan Om Ilham, Adrian dan Fathu! Om yang sudah mengabaikan Adrian selama beberapa bulan terakhir ini. Semoga Adrian bisa memaafkan Om ya?" ucap Kiai Ilham dengan mata berkaca-kaca.


Ketiganya pun saling berpelukan dan menangis bersama. Qonita yang menyaksikan adegan tersebut pun tanpa terasa ikut menangis juga. Merasakan kesedihan perpisahan ketiga orang tersebut. Yang dahulu begitu dekat, dan kini harus berpisah gara-gara suaminya yang lebih mementingkan dirinya daripada mereka berdua.


"Nanti, kalau Om Ilham punya anak perempuan, apakah Adrian bersedia, kalau Om jodohkan dengan dia?" tanya Kiai Ilham sambil menatap Adrian.


"Kita akan lihat nanti Om, kita kan tidak bisa melihat masa depan kita. Jodoh maut dan rezeki itu adalah rahasia Allah!" ucap Adrian sudah mulai tenang.


"Iya tapi Om ingin sekali kalau nanti punya anak perempuan, anak Om menikah dengan Adrian. Semoga harapan Om ini bisa terwujud ya?" ucap Kiai Ilham dengan senyuman manisnya.


"Kenapa bukan dengan Fathu?" tanya Adrian.


"Kalau Fathu, Om tidak terlalu dekat dengan kedua orang tuanya. Kalau kedua orang tua Adrian adalah sahabat lama dari Om Ilham!" ucap Kiai Ilham. Adrian tampak mengangguk.


NB: mengenai Perjodohan Adrian dan Putri Kiai Ilham, bisa Reader baca di novel author yang berjudul "Terpaksa Menikah Dengan Anak Kyai versi 2"