Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
156. Membuka Lembaran Baru



Syafa yang kemarin mengalami luka bakar gara-gara Arman yang menumpahkan kopi ke tubuhnya sudah mulai membaik keadaannya.


"Bagaimana keadaan Mama Apakah sudah lebih baik?" tanya Rasya sambil mendekati ibunya yang sedang berusaha untuk memberikan obat ke luka-luka bakarnya.


"Rasya akan menolong mamah!" Rasya menawarkan diri untuk membantu ibunya mengoleskan salep ke luka bakar yang ada di tubuhnya.


"Tidak apa-apa Rasya. Ini hanya luka kecil besok atau lusa pasti sudah sembuh. Sudah sebaiknya kau istirahat saja. Besok kan kamu harus sekolah!" ucap Syafa menyuruh Rasya untuk beristirahat karena waktu memang sudah menunjukkan untuk tidur siang bagi Rasya.


"Baiklah Mah Rasya istirahat dulu. Mama jangan lupa istirahat juga ya? Mama tidak boleh kelelahan juga!" Rasya kemudian mencium Pipi ibunya memberikan ucapan selamat siang kepada ibu yang dia sayangi.


Rasya sangat bahagia sekali karena sudah lama tidak melihat ibunya meminum alkohol lagi Ibunya sekarang sudah mulai hidup dengan sehat.


"Semoga Mama akan terus bahagia seperti ini dan tidak pernah menyentuh alkohol lagi!" doa Rasya sebelum Dia memutuskan untuk pergi tidur siang agar lebih fresh setelah lelah sekolah seharian tadi.


Sementara itu Syafa yang masih di luar kamar, dia mulai berpikir tentang pemuda yang kemarin bertemu dengannya dan membuat dia sekarang harus menanggung luka bakar yang lumayan serius di tubuhnya.


"Apakah aku perlu menghubungi dia karena besok aku harus ke rumah sakit lagi untuk check up luka-luka ini?" Syafa terus bermonolog untuk menghubungi Arman atau tidak. Akhirnya siapa memutuskan untuk menghubungi Arman.


"Halo besok aku akan ke rumah sakit untuk check up luka-luka bakarku. Apakah kau akan ikut denganku?" tanya Syafa hati-hati karena dia takut kalau akan menyinggung perasaan dari Arman.


"Maafkan aku aku sepertinya tidak bisa ikut denganmu karena ibuku baru saja meninggal aku harus menyiapkan acara tahlilan untuk beliau dan di rumahku aku sangat sibuk sekali!" ucap Arman dengan suara lesu.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun! Maafkan aku atas kehilanganmu Aku tidak tahu kalau ibumu telah meninggal!" ucap Syafa menyesali dirinya karena telah mengganggu Arman. Padahal saat ini pemuda itu sedang berduka karena ibunya baru saja meninggal.


"Tidak apa-apa. Aku kan memang bersalah padamu dan aku mempunyai kewajiban untuk bertanggung jawab. Hanya saja saat ini memang keadaanku tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Tolong kau untuk bisa memaafkan aku. Aku akan mentransfer biayanya kepadamu! Kirimkan saja nomor rekeningmu ke nomor teleponku dan aku akan segera mentransfernya!" ucap Arman dengan suara lesu karena dia memang masih merasakan kesedihan setelah ibunya meninggal.


"Tidak usah! Kau tidak usah mentransfer apapun padaku. Aku hanya sekedar bertanya saja karena kan kemarin kamu bilang kalau aku harus menghubungimu kalau aku mau pergi ke rumah sakit lagi!" ucap Syafa menolak tawaran Arman mengenai biaya rumah sakit.


"Baiklah kalau begitu aku akan menutup telepon ini karena aku harus segera menyiapkan acara untuk nanti malam!" Ucap Arman. Setelah berpamitan Arman langsung menutup panggilan tersebut dan segera bersiap untuk acara tahlilan untuk ibunya.


"Ya ampun! Betapa memalukannya aku menghubungi dia! Tapi kasihan juga dia, Ibunya baru saja meninggal pasti dia sangat sedih!" ucap Syafa terus bermonolog kepada dirinya sendiri.


"Aku sebaiknya tidur!" ucap Syafa.


Sementara itu Ayahnya Arman saat ini sedang berada di kamarnya menatap sebuah foto yang sangat lama dia rindukan.


"Istriku kau sungguh memiliki hati yang luar biasa. Kau mau merawat mereka sehingga aku terbebas dari rasa bersalah karena telah menelantarkan mereka berdua! Tolong maafkan kesalahanku selama ini padamu dan beristirahatlah kau dengan tenang di sana!" ucap ayahnya Arman menatap foto istrinya yang saat ini sedang menatap kepadanya.


Sementara itu dikediamannya, Arman tengah sibuk mengurusi tahlilan untuk ibunya.


Tampak Arman yang kelelahan. Karena dia harus menyiapkan acara tahlilan itu sendiri saja tidak ada yang membantu dia. Para karyawannya datang setelah acara baru mau dimulai.


Ayahnya memang pernah menawarkan bantuan untuk mengirimkan pembantu yang ada di rumahnya untuk membantu acara tersebut tetapi Arman menolaknya karena tidak ingin merepotkan ayahnya.


"Kamu harus sabar ya Arman tidak boleh sampai lemah! Ibumu sudah tenang di akhirat sana. Doakanlah yang terbaik untuk beliau!" ucap tetangganya Arman yang tidak jauh unitnya dari apartemen Arman.


"Iya Biarkan Ibu istirahat dengan tenang. Jangan sampai kamu menjadi terus bersedih, sehingga membuat ibumu malah menjadi tidak tenang di sana!" ucap yang lainnya yang hanya ditanggapi oleh Arman dengan senyuman.


Setelah acara tahlilan selesai, Arman pun membereskan semuanya dengan dibantu oleh para karyawannya untuk membereskan piring-piring dan gelas-gelas yang kotor dan membuang sampah-sampah yang berserakan di apartemen dia.


"Terimakasih atas bantuan kalian semua. Selama 7 hari ini kalau tanpa kalian pasti saya akan kesulitan dalam menyiapkan acara tahlilan untuk ibu saya!" ucap Arman kepada semua karyawan yang hadir pada saat malam ini di acara tahlilan ibunya.


"Arman tidak apa-apa kan memang kewajiban kita untuk mengirimkan doa terbaik bagi orang yang sudah meninggal!" ucap karyawannya Arman sambil berpamitan kepadanya karena memang sudah malam.


Setelah semua beres dan semua orang sudah meninggalkannya. Arman kemudian merenungkan kembali hidupnya. Jalan apa yang akan dia tempuh mulai besok setelah ibunya meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini.


"Aku harus mulai menata hidupku lagi. Aku tidak boleh cengeng semacam ini. Ibu pasti akan sedih kalau melihatku seperti ini!" Arman kemudian membereskan barang-barang ibunya untuk dia sumbangkan ke tempat yang membutuhkan.


Barang-barang milik ibunya Arman masih baru karena belum lama dibelikan oleh Arman untuk ibunya karena mereka belum lama hidup bersama sebagai ibu dan anak.


Arman merasa sedih karena harus berpisah kembali dengan ibunya yang selama ini selalu dia rindukan selama hidupnya.


Arman merenungkan kembali jalan hidupnya selama ini yang terasa begitu menyesakkan begitu banyak onak duri yang selalu menghadangnya.


"Biarlah Aku istirahat dulu. Besok Aku pikirkan lagi semuanya terasa begitu begitu membuat pusing kepala!" ucap Arman kemudian menyerah dan dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kenapa perasaanku saat ini merinding ya? Apa jangan-jangan makhluk yang selalu mengganggu Ibuku masih berada di rumah ini?" Arman bermonolog kepada dirinya sendiri. Kemudian dia langsung mengambil air wudhu dan Alquran lalu membacanya dengan lantang.


Setelah suasana di dalam kamar itu mulai normal, Arman kemudian menghentikan bacaan Alqurannya.


"Besok aku harus menemui Ustad Fahri memintanya untuk mensterilkan Apartemen ini agar aku bisa hidup dengan tenang dan tidak perlu diteror oleh mereka lagi!" akhirnya Arman bisa tidur. Setelah Dia menghabiskan sekitar 1 jam lamanya mengaji di dalam kamarnya.