Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
100. Pengasuh Cakra Keterlaluan



Alhamdulillahirobbilalamin! Author ucapkan terima kasih banyak kepada para pembaca novel "Assalamualaikum Ustad ku" yang telah mendukung Author sampai bab 100 ini.bTerima kasih banyak kepada kalian semua, tanpa kalian semuanya, Author, tidak akan sampai sejauh ini. Dukungan kalian semua, menjadi penyemangat bagi Author untuk terus berkarya. Untuk terus update setiap hari. Terima kasih banyak. Semoga kalian selalu berada dalam kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan doakan juga kesehatan bagi Author agar bisa update setiap hari dan memuaskan pembaca setia dari novel "Assalamualaikum Ustadz ku" .


Happy reading all reader...


Kesya dan Andika pergi ke ruang makan, untuk bersiap sarapan bersama. Dii sana, Cakra sudah menunggu kehadiran kedua orang tuanya. Bocah gembul tersebut tampak tertawa melihat kehadiran Ayah dan Ibunya.


"Oh! Anak Mama tambah tampan setiap hari!" ucap Kesya sambil mengelus pipi Cakra yang kini sedang tersenyum kepada dirinya. Andika Kemudian mencium pipi Cakra, setelah sarapan bersama, mereka berempat kemudian berangkat bersama ke rumah sakit untuk menghadiri acara di sana.


"Pah! Tampaknya Cakra agak kurang sehat apa ya? Lihatlah perutnya, tampak membuncit. Apa nanti sebaiknya kita sekalian saja memeriksakan kesehatan Cakra? Sudah agak lama juga kita tidak cek kontrol kesehatannya!" ucap Kesya. Memperhatikan putranya.


"Mungkin karena habis makan, Mah! Kekenyangan, nggak usah terlalu dipikirkan. Bukankah selama ini Cakra, selalu sehat, selalu cerah dan ceria? Dia juga tampaknya sangat aktif!" ucap Andika. Kesya melirik sekilas ke arah pengasuh yang biasa menjaga Cakra kalau dirinya bekerja di luar, dia tampak gelisah.


Tiba-tiba saja hati Kesya merasa tidak tenang. Entah kenapa, pikirannya terus tertuju kepada Cakra yang tampak seperti gelisah juga. Entahlah, pokoknya pikiran Kesya rasanya ingin memeriksakan kesehatan Cakra saat itu. "Ya udah, Pah! Mungkin apa yang dikatakan oleh Papah benar. Ya, sudah! Kita lupakan saja. Oh, ya Pah! Apakah Nanti kira-kira papa akan lama berada di acara tersebut?" tanya Kesya sambil terus memperhatikan pengasuh Cakra, yang kini tampak menarik nafas lega, setelah Kesya mengatakan akan melupakan masalah cek kesehatan Cakra.


Saat ini mereka sudah mendekati rumah sakit yang dituju oleh mereka. Tiba-tiba saja, Kesya meminta sopir untuk berhenti sebentar. "Pak, tolong berhenti sebentar! Saya ada perlu dulu!" ucap Kesya. Setelah mobil berhenti, Kesya meminta pengasuhnya Cakra untuk membelikan beberapa kebutuhannya. Lalu menyuruh pengasuh itu untuk langsung pulang saja, mengatur barang pesannya tadi.


"Mbak, nanti langsung aja ya diatur barang-barangnya di rumah, ya? Ingat jangan sampai ada yang terlewat! Harus dibeli sesuai dengan yang apa yang saya katakan tadi. Karena saya sangat membutuhkannya. Udah Mbak, sana keluar! Nih uangnya!" setelah Kesya memberikan beberapa lembar uang kepada pengasuhnya Cakra. Mereka pun kemudian meninggalkan pengasuh tersebut di sebuah di depan mall yang cukup terkenal di Dubai.


Begitu sampai di rumah sakit, Kesya langsung membawa Cakra ke poli anak. Kesya memeriksakan keadaan Cakra saat ini. Andika tadinya protes , kenapa harus melakukan hal tersebut. Padahal tadi di mobil sudah sepakat untuk tidak melakukan hal itu.


Begitu Dokter memeriksa dan membuka semua pakaian Cakra. Betapa terkejutnya mereka semua yang ada di sana. Mendapatkan beberapa luka lebam di tubuh Cakra. Andika dan Kesya seketika merasa kesal dan marah. Bertanya-tanya apa yang sudah terjadi kepada Putra mereka, selama mereka tidak ada di rumah.


"Dok! Ada apa ini dengan Putra kami? Kenapa di tubuhnya banyak sekali luka-luka lebam semacam ini?" tanya Andika dengan panik. Kesya sedikit banyak bisa memahami apa yang sedang terjadi terhadap putranya. Kesya menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. dengan kasar ada rasa geram di hatinya saat ini tetapi Dirinya belum memiliki bukti-bukti yang kuat untuk bisa menjerat pelaku yang sudah melakukan hal tersebut terhadap putranya.


Karena mengalami masalah tentang putranya, sehingga Andika dan Kesya pun melupakan acara yang seharusnya mereka hadiri di rumah sakit tersebut. Kesya menelepon bawahannya untuk menghandle semua acara tersebut. Karena dia ingin fokus menyelesaikan permasalahan Cakra saat ini.


"Ini pasti ulah pengasuhnya Cakra! Kita harus menuntut dia! Karena dia sudah melakukan hal seperti ini terhadap Putra kita Mah!" lirih Andika dengan geram.


"Jangan sembarangan mengambil keputusan maupun kesimpulan, Pah! Kita perlu mempunyai bukti-bukti yang bisa kita gunakan untuk melaporkan hal ini ke kepolisian. Sekarang, ayo kita mengaktifkan kembali CCTV di kamarnya Cakra. Agar kita bisa memantau kegiatan pengasuhnya Cakra. Apabila kita berada di luar rumah!" ucap Kesya berusaha menenangkan hati Andika yang sedang marah sekali.


"Kalau sampai benar, dia berani melakukan hal seperti ini kepada Putraku. Aku pasti tidak akan pernah melepaskan dia. Lancang sekali dia! Aku sudah memberikan dia gaji yang begitu besar! Berani-beraninya Dia melukai anakku! Berani-beraninya dia sudah berusaha mencelakai anakku!" Andika sangat geram mengetahui fakta-fakta tentang keadaan Cakra.


Perut Cakra yang membuncit, ternyata adalah karena Cakra yang selama ini selalu menahan lapar. Sehingga mengakibatkan busung lapar terhadap bocah kecil yang tampan dan lucu tersebut.


"Halo, segera kau datang ke rumahku. Aktifkan semua CCTV yang ada di rumahku saat ini. Pastikan orang-orang yang ada di rumah tidak mengetahui kegiatan kalian. Ungsikan mereka semua keluar, ketika kalian mengerjakan tugas kalian! Kau paham?" ucapkan Andika memberikan perintah kepada asistennya.


"Baik Tuan! Akan segera saya laksanakan sekarang juga! Oh ya, bagaimana dengan acara yang di Rumah Sakit? Apakah sudah selesai?" tanya Asistennya Andika di sebrang sana. Andika hanya menarik nafas dalam-dalam. Saat ini, perasaannya sedang tidak karuan. Jangankan memikirkan acara di rumah sakit, bahkan untuk sekedar makan Siang pun saat ini dirinya sedang tidak berselera.


"Pah! Ayo kita ke ruangan Mama saja! Kita bicarakan semuanya di sana. Agar tidak menjadi permasalahan yang melebar!" ajak Kesya, yang langsung di setujui oleh Andika.


Saat ini Cakra sedang tertidur lelap dipelukanan Kesya. Ada rasa penyesalan di hatinya. Kenapa dia lebih mempercayai pengasuh, daripada mengasuh putranya sendiri. Kesya merasa sedih sekali. Selama ini dirinya memperhatikan anak orang lain, ternyata anaknya sendiri mengalami penderitaan di dalam rumahnya. Tanpa dia ketahui. Hati Kesya saat ini benar-benar terluka.


"Mama pikir, dengan memberikan gaji besar terhadap pengasuhnya Cakra. Dia akan menyayangi Putra kita. Tetapi ternyata ini yang dia berikan terhadap Cakra. Mama benar-benar kecewa, Pah! Tetapi kita juga tidak bisa asal menuntut. Kita harus mempunyai bukti. Papa ingat!Jangan bertindak ke gabah! Kita harus mengumpulkan bukti dulu, sebelum kita menuntut pengasuhnya Cakra!" Kesya mengingatkan suaminya.


"Iya Mah! Papa mengerti maksudnya Mama. Papa pasti akan mengikuti rencana Mamah. Jangan khawatir. Untuk sementara, mungkin Papa tidak usah bertemu dengan pengasuhnya Cakra. Kalau tidak, Papa tidak akan bisa menahan emosi yang ada di hati Papa saat ini!" ucap Andika. Kesya mengelus tangan suaminya dengan lembut.