Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
91. Ilham dan Qonita Pulang Honey moon



Kita tinggalkan dulu Rasya dan Syafa di Amerika, yang sedang mempersiapkan kepulangan mereka ke Indonesia. Yuk, sekarang kita tengok apa yang terjadi kepada Ilham dan Qonita setelah pulang honeymoon dari Maldives.


"Assalamualaikum, Ustadz ku!" Ucap Umynya Ilham, ketika sampai di pondok pesantren kembali. Ilham bahagia sekali karena sudah sampai ke Indonesia setelah satu minggu lamanya melakukan honeymoon di Maldives bersama istri barunya.


"Pak Kiai, sekarang Umy!" ucap para santri yang menimpali panggilan Uminya Ilham. Ilham hanya tersenyum mendengarkan para santrinya yang serempak mengatakan hal itu.


"Bagi Umy, Kiai kalian ini masih seorang ustadz! Selamanya dia akan menjadi ustadz di jati Umy! Karena Kiai di hari Umy adalah Abahnya Kiai kalian ini!" ucap Uminya Ilham sambil mengelus kepalanya Ilham dengan penuh kasih sayang. Yah begitulah seorang ibu. Sebesar apapun anaknya, dan setinggi apapun jabatan anaknya, di mata mereka, anaknya tetaplah seorang anak kecil yang masih harus disayang dan dimanjakannya.


"Apapun panggilan Umy untuk Ilham, Ilham tidak keberatan yang penting! Umy tetap sayang sama Ilham!" Ucap Ilham.


"Bagaimana kabarnya menantu Umy? Apakah senang bulan madu di sana? Umy harap, semoga akan segera ada kabar baik untuk kita semua. Pondok pesantren ini, sudah terlalu lama sepi, tanpa adanya tangisan seorang bayi!" harapan yang disampaikan oleh ibu mertuanya tersebut, menjadi pemicu dan penyemangat bagi Qonita untuk menjadi seorang istri yang baik bagi suaminya.


"Doakan kami ya Umy! Semoga kami bisa segera di anugrahi dan di pasrahi oleh Allah untuk mempunyai seorang anak!" ucap Qonita sambil melirik sang suami yang kini tersipu malu. Yah, begitulah Ilham! Walaupun bukan pertama kalinya Dia mempunyai seorang istri, tetapi dia tetap saja merasa malu, apabila membicarakan masalah anak secara terbuka seperti itu.


"Umy jangan memaksakan seperti itu! Nantinya malah jadi beban untuk Qonita, yang penting kita ngalir aja. Apabila, Kami memang dipercayai oleh Allah untuk mengasuh seorang anak. Semoga itu terjadi adalah dalam kesiapan kami secara mental dan psikologis. Agar kami siap dan mampu untuk mengasuh dan merawatnya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.


"Om Ilham! Tidak usah khawatir! Nanti, Adrian dan Fathu yang akan mengasuh adik bayi. Om Ilham bisa fokus mengajar anak-anak santri. Jangan khawatir, pasti Adrian dan Fathu akan menjadi kakak yang baik buat adik bayi!" ucap Adrian dengan riang gembira.


"Betul Pak Kyai! Kami pasti akan mengasuh adik bayi dengan baik! Kami berdua pasti akan menyayanginya seperti adik kami sendiri. Kan kami di sini tidak mempunyai adik. Betul tidak ada Adrian?" ucap Fathu tidak kalah heboh dengan Adrian. Adrian hanya tersenyum ke arah Fathu, sahabat sejatinya yang tidak pernah mati.


"Kalian memang anak-anak yang baik! Pasti Om Ilham, akan senang kalau adik bayi diurus oleh kalian. Diasuh dan bermain dengan kalian!" Ilham kemudian mencium kedua bocah tampan itu.


"Pak Kyai! Kapankah adek bayinya keluar? Rasanya aku tidak sabar ingin main dengan adik bayi!" tanya Fathu dengan polosnya. Seketika semua orang tertawa. Ilham yang mendengar pertanyaan itu, merona wajahnya.


"Ih, Fathu! Kau tuh, persis seperti orang bodoh! Tentu saja Om Ilham sama Tante Qonita, harus bikin adek bayi dulu! Baru nanti adek bayinya baru keluar! Dan kita bisa main dengan adik bayi!" ucap Adrian langtang.


Qonita dan Ilham langsung tertunduk malu, pipi mereka merona, mendengarkan ceplosan Adrian yang masih BoCil itu. "Adrian! Memangnya bagaimana caranya bikin adik bayi? Apakah kita perlu mencetaknya pakai cetakan kue?" tanya Fathu dengan wajah polosnya. Adrian seketika melotot mendengarkan ucapan Fathu yang menurutnya terlalu bodoh.


"Aih! Kau ini benar-benar anak yang bodoh! Masa iya bikin adek bayi pakai cetakan kue? Kau kira mau bikin bolu?" seketika orang-orang yang hadir di ruangan tersebut, tertawa terbahak-bahak. Demi mendengarkan celotehan Adrian dan Fathu, yang selalu menjadi pusat perhatian di pondok pesantren tersebut.


Dul ganteng tersebut selalu menjadi pusat perhatian di manapun mereka berada.


"Hahahaha! Udah, udah, udah! Kalian ini anak kecil, membicarakan apa sih? Itu bukan konteksnya kalian untuk membicarakan hal seperti itu! Udah, sekarang Kalian pada pergi ke kamar kalian masing-masing! Biar Om Ilham atau Kiai kalian bisa beristirahat dan bisa bikin adik bayi! Hahahaha!" Uminya Ilham ikutan geser otaknya, untuk sejenak. Ketularan Adrian dan Fathu yang sejak tadi, terus membicarakan masalah Bikin adek bayi.


"Ih Umy! Ada-ada aja! Bikin malu aja! Udah ah! Ayo Aby! Kita ke kamar aja, daripada dengerin celotehan mereka semua!" dengan tersipu malu, Qonita yang malu sekali, akhirnya meninggalkan mereka semua yang kemudian diikuti oleh Ilham di belakangnya.


" Sayang apakah kamu sudah siap untuk mempunyai seorang anak?" tanya Ilham mendekati Istrinya.


"Sayang, ketika aku memutuskan untuk menjadi seorang istri. Di situ aku sudah menyiapkan mental dan fisikku, untuk menjadi seorang ibu dari anak-anak kita!" ucap Qonita dengan senyum sumringah nya.


"Maafkan ya, tadi! Celotehannya anak-anak serta candaannya Umy! Jangan terlalu diambil hati, ya? Mereka hanya mengungkapkan harapan mereka, agar Pondok ini memiliki penerus. Panji agama tidak boleh terhenti." ucap Ilham sambil memeluk istrinya.


"Ya, sayang! Umy juga paham kok! Umy uga ingin anak-anak kita, kelak akan mengagungkan asma-asma Allah di bumi ini. Anak-anak kita, menjaga ayat-ayat Allah di muka bumi ini. Dan Umi berharap, semoga anak-anak kita bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah!" ucap Qonita sambi mengelus tangan suaminya yang sedang memeluknya dari belakang.


"Amin! Semoga doamu dikabulkan oleh Allah! Dan kita segera dikarunia anak! Ayo, kita istirahat dulu! Bersiaplah untuk mandi. Biar Aby yang membereskan semua pakaian-pakaian kita ke dalam lemari!" ucap Ilham sambil mencium istrinya. Qonita merasa bahagia karena suaminya mulai menunjukkan tanda-tanda mencintai dirinya.


"Sebaiknya Umi saja membereskan pakaian-pakaian ini. Aby pergi mandi saja! Bagaimana?" tanya Qonita.


"Tidak sayang! Kamu sekarang mandi aja! Aku lihat, kamu sangat lelah! Nanti setelah mandi Umy bisa beristirahat. Aby masih kuat kok, kalau hanya sekedar beres-beres pakaian kita aja. Ini kan cuma sedikit doang, selebihnya pakaian kotor yang tinggal Abi taruh aja di keranjang baju kotor. Betul tidak?" tanya Ilham sambil mencubit pipi Qonita yang kemerahan.


"Baiklah Aby, kalau seperti itu! Umy mandi dulu! Biar nanti Umy yang mencuci pakaian kotornya. Habis itu kita bisa istirahat bersama!" ucap Qonita.


"Wah kalau kita tidur bersama, tidak akan jadi istirahat itu, sayang!" ucap Ilham menggoda sang istri.


"Idih! Sejak kapan ini, suamiku berubah menjadi nakal begini?" Qonita langsung memberikan hadiah ciuman untuk sang suami yang sudah menggoda dirinya.