
Sejak pembicaraan terakhirnya kali ditelepon bersama dengan Agnes, Agus mulai memantapkan hatinya untuk mengejar Ayana kembali. Dia ingin berusaha untuk mengkonfirmasi tentang perasaan yang sesungguhnya kepada Ayana yang sampai saat ini masih berstatus sebagai istrinya.
Agus ingin sekali mengembalikan ingatan masa lalunya yang sempat hilang karena kecelakaan yang menimpa dirinya bersama Ayana sekitar setengah tahun yang lalu.
Mulai hari itu, Agus selalu mengikuti setiap aktivitas Ayana dalam bentuk penyamarannya yang menggunakan topi, jaket tebal, masker wajah, sal dan juga kacamata hitam yang pasti membuat Ayana akan kesulitan untuk mengenalinya kalau tidak di perhatikan secara dekat dan seksama.
" Ternyata Ayana adalah seorang wanita yang hidupnya benar-benar terorganisir. Apakah dia tidak bosan dengan menjalani aktivitas hidup dia seperti itu terus tanpa adanya suatu perubahan sama sekali?" ucap Agus sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya merasa heran dengan kehidupan ayahnya yang begitu monoton dan terkesan membosankan baginya.
" Ya ampun! Bahkan dia tidak pernah memiliki kencan dengan siapa pun secara pribadi dengan laki-laki manapun juga!" Agus kembali menggelengkan kepalanya ketika dia sibuk memperhatikan skema hidup seorang Ayana yang telah dia catat di dalam sebuah buku yang diikuti selama satu bulan belakangan.
Sangking asyiknya memperhatikan buku catatannya. Agus sampai tidak menyadari bahwa saat ini Ayana sedang menatap tajam ke arahnya dengan penuh tanya.
Ketika Agus mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah balkon kamar Ayana, Agus sangat terkejut ketika dia mendapatkan Ayana yang saat ini sedang menatspnya dengan mata tajam penuh keterkejutan.
Untuk beberapa waktu, tatapan mata Agus dan Ayana bersirobok dengan intens.
" Astaghfirullahaladzim! Kenapa laki-laki itu sangat mirip dengan Agus?" tanya Ayana sambil menatap laki-laki itu yang sekarang sudah mulai masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu, Agus yang sekarang sudah berada di dalam kamarnya mulai merutuki kecerobohan dirinya.
" Ah dasar kau Agus benar-benar ceroboh! Sekarang Ayana pasti akan mencurigaimu. Ah! Apa yang harus kulakukan sekarang? Pasti akan sangat sulit untuk melihat Ayana sekarang karena dia pasti sudah mencurigai tentang diriku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Agus terus mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia sampai terkejut ketika tiba-tiba saja bel apartemennya berbunyi.
Agus merasa bimbang untuk membuka pintu tersebut. Dia sangat takut kalau itu adalah Ayana yang datang untuk mengkonfirmasi identitasnya.
" Hah lihatlah kebodohan Agus!" Agus terus mondar-mandir di dalam apartemennya. Dia tidak berani untuk membuka pintu tersebut.
Akhir Agus membuka pintu kamar mandi dan dia membuka seluruh pakaiannya dan membasuh tubuhnya hingga basah dengan air setelah itu dia pun menggunakan handuk sebatas pinggang dan kemudian membuka pintu apartemennya.
Sebelumnya Agus sudah memastikan siapa orang yang datang ke apartemennya melalui lubang yang terpasang di pintu dan dia sudah memastikan bahwa yang datang adalah Ayana. Jantung Agus saat ini benar-benar berdebar sangat kencang dan dia merasakan kekhawatiran yang luar biasa.
Dengan hati-hati Agus pun kemudian membuka pintu apartemennya. Tampak mata Ayana yang langsung membulat sempurna, ketika dia menatap laki-laki yang saat ini berdiri dihadapannya dengan menggunakan handuk sepinggang dan menampakan badannya yang kokoh dan kekar.
" Agus?" tanya Ayana merasa terkejut sekali melihat sosok Agus yang saat ini sedang berdiri bengong di hadapannya.
" Maaf Nona siap yah? Kenapa Nona bisa mengetahui nama Saya?" tanya Agus dengan wajah polosnya yang membuat Ayana langsung kehilangan kata-kata di buatnya.
' Ternyata benar yang dikatakan oleh mamah, kalau Agus memang mengalami amnesia. Apakah sudah 6 bulan sejak kecelakaan itu terjadi, apakah dia belum mengingat kembali semua masa lalunya?' batin Ayana yang terus saja memperhatikan Agus seperti orang linglung.
" Maafkan saya Nona, Anda mencari siapa ya?" tanya Agus masih menatap Ayana dengan bingung.
Ayana yang gelagapan, dia pun kemudian memperbaiki postur berdirinya dan menghadapi Agus yang masih menunggu jawabannya. Ayana berusaha untuk tenang. Pemandangan di depan matanya benar-benar sudah membuat otaknya traveling dan dia jadi mengingat kembali hari-hari di mana dirinya bersama dengan Agus di masa yang lalu. Ketika mereka masih menjadi suami istri yang bahagia. Sebelum kecelakaan yang akhirnya menghancurkan keluarga mereka dan membuat putra pertama mereka meninggal dalam kecelakaan fatal tersebut.
" Silahkan anda masuk kalau ada keperluan dengan saya, karena saya harus bersiap untuk pergi ke kantor!" ucap Agus sambil mempersilahkan Ayana untuk masuk ke dalam apartemennya.
Ayana yang pada dasarnya memang benar-benar penasaran dengan sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya. Dia kemudian masuk ke dalam apartemen tersebut meneliti setiap detailnya.
" Apakah kau tinggal sendiri di sini?" tanya Ayana sambil melirik kepada Agus yang sedang berjalan ke kamarnya.
" Kalau kau tidak keberatan, tunggulah aku dulu. Aku hendak menggunakan pakaian dulu!" Agus pun kemudian masuk ke dalam kamar tapi suapa yang menyangka kalau ternyata Ayana yang berjalan ceroboh, malah kakinya menyangkut di tikar lantai apartemen Agus. Sehingga mengakibatkan Ayana hampir saja jatuh ke lantai kalau seandainya Agus tidak menangkapnya sehingga terselamatkan.
" Berhati-hatilah hampir saja kepalamu terantuk meja!" ucap Agus sambil berdiri dan menegakkan tubuh Ayana yang tadi hampir saja mencium ujung meja kalau tidak segera ditangkap olehnya.
Ayana benar-benar sangat malu dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Sehingga dia pun gugup dan tanpa sadar saat Ayana hendak bangun dan melepaskan diri dari pelukan Agus, Ayana malah melepaskan handuk yang digunakan oleh agus di pinggang.
Keduanya tampak membeku di tempat. Ayana sontak menutup matanya ketika dia telah menyadari apa yang sedang terjadi. Agus pun langsung mengambil handuk yang jatuh di lantai, siapa yang menyangka kalau ternyata ujung handuk itu terinjak oleh kaki Ayana dan membuat Ayana kehilangan keseimbangan akhirnya jatuh menabrak Agus yang berdiri di hadapannya.
Ayana dan Agus jatuh ke atas sofa dengan tubuh Agus yang telanjang bulat. Wajah Ayana benar-benar memerah seperti kepiting rebus saat itu, karena kejadian yang begitu memalukan tersebut.
Saat Ayana berusaha untuk bangun, Agus malah menahan pinggangnya agar menempel kepadanya. Sejenak tatapan mereka berdua beradu satu sama lain.
Jantung Ayana benar-benar berdebar sangat kencang ketika tiba-tiba saja Agus mencium bibirnya tanpa permisi.
Kerinduan selama setengah tahun lamanya tidak bertemu dengan sang suami telah menumpulkan otak Ayana saat ini. Dia lupa dengan kebenciannya ketika terakhir kali berada di rumah sakit.
Pesona seorang Agus sudah mampu menyihir seorang Ayana dalam buaiannya. Ciuman yang semula lembut dan dalam, kini semakin menuntut dan menggebu. Deru nafas ke duanya semakin memburu satu sama lain.
Walaupun Agus melupakan semu ingatannya bersama dengan Ayana, tetapi insting naluri kelelakiannya menggerakkan tangannya untuk terus menjelajahi setiap lekuk tubuh Ayana yang sudah polos karena Agus sudah meloloskan pakaian Ayana sejak tadi.
Entah kenapa, ketika terjadi pergumulan di antara suami istri yang sudah terpisah selama 6 bulan itu tiba-tiba saja kepala Agus seperti yang berdenyut nyeri. Potongan ingatan ketika dirinya bersama dengan Ayana seakan merasuk ke dalam otaknya, terus berputar layaknya kaset rusak yang membuat Agus akhirnya menjerit kesakitan membuat Ayana menjadi kalang kabut karena khawatir.
Ayana pun kemudian mengambil pakaiannya kembali dan menggunakannya. Ayana menarik selimut yang di sampirkan di sofa lalu menutup tubuh Agus hingga rapat.
" Kau kenapa? Apakah kau sakit?" tanya Ayana yang benar-benar khawatir dengan keadaan Agus yang tampak begitu menderita.
Tiba-tiba saja Agus menangis terisak membuat Ayana benar-benar bingung untuk menghadapinya.
" Sayang kau maafkanlah Aku! Maafkan semua kesalahanku. Tolong maafkan aku sayang! Tolong jangan pernah kau tinggalkan aku. Karena aku tidak bisa hidup tanpamu!" ucap Agus dengan air mata yang mulai menetes di pipinya sambil menggenggam tangan Ayana yang saat ini sedang bingung dengan keadaannya yang benar-benar sangat mengkhawatirkan.
" Apakah kau baik-baik saja? Apakah kita perlu pergi ke rumah sakit?" tanya Ayana sambil menatap Agus yang masih menangis terisak di sofa.
Agus meringsek masuk ke dalam pelukan Ayana yang telah sangat dia rindukan selama ini. Di dalam alam bawah sadarnya, Agus benar-benar menginginkan untuk bersama dengan Ayana kembali.
Oleh karena itu insiden penyatuan mereka telah membangunkan alam bawah sadar Agus yang tertidur. Hal itu terjadi karena Agus yang mengunci ingatan tersebut karena sangat menyakitkan baginya. Kenangan buruk ketika dirinya dan Ayana bertengkar pada malam itu yang berakhir Ayana minta bercerai dengannya dan mengakibatkan dia akhirnya nekat mengebut sehingga akhirnya mobil mereka pun mengalami kecelakaan.
Pertemuan mereka berdua hari ini, telah membangunkan kembali memori yang dikunci oleh Agus karena trauma dan ketakutannya kehilangan sang istri tercinta. Ingatan Itu akhirnya mau terbangun dan Agus kembali mengingat semua kejadian yang pernah dialaminya selama hidupnya.
Agus tampak menangis di dalam pelukan Ayana dan memeluknya dengan erat. Bibirnya terus merancau membuat Ayana benar-benar sedih dan merasa bersalah karena sudah memberikan trauma begitu besar kepada Agus dengan meminta perceraian kepada laki-laki tampan yang sekarang kondisinya sangat menyedihkan dengan rambut acak-acakan dan wajah yang pucat karena daripada menangis terus.
Agus benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi di dalam hidup mereka berdua yang akhirnya membuat mereka kehilangan Putra mereka.
" Maafkan aku sayang yang sudah membuat Putra kita meninggal karena kecerobohan dan kebodohanku!" ucap Agus diambil terus memeluk Ayana yang kini mulai menangis karena mengingat kembali tentang Exal yang sudah dimakamkan di Indonesia.
" Maafkan papa nak yang sudah membunuh kamu tanpa sengaja! Papa benar-benar tidak sengaja sayang. Kau boleh membenci Papa di alam sana! hiks hiks!" Agus terus menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ayana yang membuat Ayana pun tidak mampu untuk tidak terbawa kesedihan yang sama dengan suami nya.
Ayana kemudian mengangkat tubuh Agus membimbingnya untuk duduk di sofa.
" Tenanglah dulu aku akan mengambilkan minuman untukmu!" Ayana pun kemudian pergi ke dapur dan mengambil segelas air minum untuk Agus yang masih gemetar tubuhnya.
" Tolong sayang! Aku mohon kau jangan pernah meninggalkan aku lagi. Sayang, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu!" ucap Agus begitu Ayana berada di depannya.
Ayana menyodorkan gelas yang ada di tangannya kepada Agus yang kemudian langsung diterima olehnya dan diminum dalam satu kali tenggakan.
" Sekarang kau berbaringlah di kamarmu. Ayo aku akan menuntunmu di sana. Sehingga kau bisa beristirahat di sana!" Ayana pun kemudian membimbing Agus dengan hati-hati untuk masuk ke dalam kamarnya dan memberikan suaminya di atas ranjang.
Tubuh Agus sampai sekarang masih gemetar membuat Ayana jadi tidak tega untuk meninggalkannya sendirian di apartemennya.
" Sebentar aku menelepon Mamahku dulu jalan sampai nanti dia khawatir dan pergi mencariku!" Ayana pub kemudian keluar dari kamar Agus dan menelepon Humairoh bahwa saat ini dirinya sedang berada di apartemen Agus untuk merawat laki-laki itu yang tampaknya traumanya mulai kembali lagi.
" Jadi kau bertemu lagi dengan Agus?" tanya Humairoh di seberang.
" Ya sudah dulu ya Mah. Ayana mau mencoba untuk memasak dulu untuk Agus tampaknya dia belum sarapan. Sampai sekarang tubuhnya gemetar dan terus merancau ga jelas membuat Ayana jadi khawatir untuk meninggalkan dia sendirian!" ucap Ayana menjelaskan segalanya kepada Humairoh.