Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
31. Pulang ke Indonesia



Dengan lesu, Aditya masuk ke kamarnya. Tapi kamarnya kosong, Kesya tidak ada disana. Aditya lalu pergi ke kamar Adrian. Benar saja, di sana Andika melihat Kesya yang ketiduran sambil memeluk Adrian. Wajah teduh Kesya membuat tenang hati Andika. Kesya menggunakan cadar hanya untuk pergi ke luar rumah dan apabila bertemu lelaki asing yang datang ke rumah mereka. Kesya melepaskan cadar dan jilbabnya hanya di hadapan Andika.


Tetapi malam ini berbeda. Kesya menggunakan cadar, jilbab dan pakaian lebarnya saat tertidur dengan Adrian. Kesya melakukan semua hal yang dilakukan saat pertama kali dulu mereka bertemu.


Hati Andika seketika ketakutan. "Apakah Kesya mulai menutup dirinya kembali kepadaku?" monolog Andika. Dipegangnya cadar Kesya, niatnya mau di buka. Tapi Kesya tiba-tiba terbangun saat menyadari Andika mau melepas cadarnya.


"Apa yang Mas lakukan?" Kesya menatap Andika, masih terkejut saat melihat Andika ada di kamar Adrian. Kesya pikir sudah tidur di kamar mereka.


"Mas mencari kamu, sayang!" Andika tadinya mau membopong tubuh Kesya untuk di bawa ke kamarnya. Tapi Kesya langsung bangun dari kasur dan pergi ke kamar mandi.


"Maafkan Kesya, Mas! Mas tidur di kamar kita saja. Adrian seharian kata bibi rewel, Kesya mau menemani dia tidur disini." Andika menatap Kesya dengan intens. Mencoba melihat matanya tapi Kesya selalu menghindari dirinya.


"Tapi Mas kangen sama kamu, sayang. Mau tidur pelukan sama kamu semalaman." Andika mendekati Kesya namun Kesya langsung menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


"Ya udah, Mas tidur di sini saja. Kapan lagi kita sekeluarga tidur sekasur begini?" Andika langsung naik ke kasur, dan memeluk tubuh Kesya dari belakang. Tapi Kesya diam saja, tidak merespon apapun. Andika tetap ngusel di ceruk leher Kesya.


"Besok aku dan Adrian mau pulang ke Indonesia." seketika jantung Andika berdetak sangat cepat. Hatinya sudah tidak karuan.


"Untuk apa pulang ke Indonesia? Kita sudah bahagia tinggal disini." Andika protes, makin mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya.


"Orang yang dulu mencelakai saya, hingga amnesia. Polisi sudah menangkapnya. Penyelidikan sedang di proses. Penyelidik meminta saya dan Mas untuk datang sebagai saksi. Tapi aku lihat Mas sangat sibuk, jadi saya memutuskan akan pulang berdua saja dengan Adrian." Andika menarik wajah istrinya agar menghadap ke arahnya.


"Siapa bilang Mas sibuk? Kita akan pulang ke Indonesia sama-sama. Mas gak akan pernah biarkan kamu berduaan dengan Ilham lagi!" ucap Andika geram. Cemburu rasa hatinya kalau ingat calon suami Kesya itu.


"Mas Ilham adalah orang yang imannya kuat. Berhati kokoh dan berjiwa bersih. Dia bukanlah seseorang yang lemah iman dan mudah tergelincir oleh godaan nafsu sahwat. Kelak nafsu itu yang akan membuat manusia macam itu masuk ke neraka!" ucap Kesya pelan namun menusuk. Andika mencelos hatinya.


"Kamu masih mencintai mantan calon suamimu, sayang?" Andika memegang wajah Kesya. Dia sudah membuang cadar Kesya dari tadi. Risih lihatnya. Maunya dia, Kesya bersikap mesra seperti dulu lagi.


"Aku istri kamu, Mas! Haram bagiku untuk mencintai pria lain, selain suamiku sendiri. Aku tidak mau surga mengharamkan diriku gara-gara hal cinta terlarang." ucap Kesya mantap.


Andika memeluk Kesya dengan erat, mencoba menciuminya, tetapi Kesya memberontak dan berusaha melepaskan dirinya dari Andika.


"Sebelum engkau bertobat dari dosamu, mohon untuk jangan lagi menyentuhku, Mas!" Kesya sudah bersiap untuk pergi dari sana. Tapi Andika sudah menarik tubuh Kesya dan menguncinya dalam pelukannya.


"Kami bicara apa sih, sayang? Mas gak paham!" Andika masih berpura-pura tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kesya.


"Lupakan, Mas! Besok aku pergi pagi-pagi ke bandara. Jadi butuh istirahat. Selamat malam, Mas!" Kesya lalu melepaskan dirinya saat Andika lengah dan mengendurkan Pelukannya.


Kesya pergi ke kamarnya lalu mengunci pintunya. Kesya juga mengunci ganda, jadi kalaupun Andika membuka dengan kunci cadangan tidak akan terbuka. Karena di kunci pakai kunci double.


Setelah lelah mengetuk pintu Andika lalu pergi ke kamar Adrian. Lebih baik tidur dengan anaknya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kesya sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Pesawat berangkat jam 13.00 jadi sebenarnya masih banyak waktu. Kesya hanya ingin menghindari Andika. Makanya dia memilih pergi sebelum suaminya itu bangun.


Kesya sudah mengeluarkan semua kopernya dan Adrian juga. Saat akan memasukan ke mobil, mertuanya datang. Andika juga keluar dari kamar Adrian. Masih ngantuk wajahnya.


"Sayang, kamu ko udah siap aja. Gak nunggu Mas!" Andika protes. Namun Kesya abaikan.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Papahnya Andika, terheran melihat koper besar yang siap dimasukan ke mobil oleh sopirnya Andika.


"Kesya mau pulang ke Indonesia, Mas, Pah!" jawab Kesya sambil duduk di kursi. Kesya sudah mengendong Adrian bersamanya.


"Ko tiba-tiba sayang?" kini mamahnya yang bertanya-tanya, heran soalnya.


"Sebaiknya Keysa tinggal di Indonesia dulu, Mah. Kesya ingin memberi waktu untuk Mas Andika. Biar bis berpikir jernih untuk masa depan keluarga kami." Kesya udah mau pergi, tapi di halangi oleh Andika. Dia memeluk Kesya.


"Anto! Masukan kembali kopernya Nyonya! Cari paspor dan tiket pesawat Nyonya dan Adrian! Saya tidak mengijinkan Nyonya pergi dari rumah ini!" Andika memberikan perintah kepada Anto, sopir pribadinya.


Kesya menatap nyalang kepada sang suami. Mertuanya heran, setahu mereka, rumah tangga anaknya selama ini selalu harmonis dan tidak pernah bertengkar. Kenapa sekarang terjadi hal seperti ini?


"Sayang, duduklah dulu. Jangan terbawa emosi. Kita bicarakan semuanya baik-baik!" mamah Andika berusaha membujuk Kesya.


Kesya mengambil ponselnya, lalu mengotak atik sebentar, lalu menyerahkan ponselnya pada mertuanya. Kesya sudah memindahkan video itu ke laptopnya juga, berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu dengan ponselnya.


Mamahnya Andika menerima ponselnya lalu matanya fokus ke ponsel Kesya. Disana tengah memutar sebuah video Andika dan Elena kemarin siang di kantor Andika. Seketika wajah Mamah Andika merah padam dan langsung menampar wajah Andika dengan bertubi-tubi.


Papah Andika yang terheran akhirnya penasaran juga. Diambilnya ponsel milik Kesya yang tadi diletakkan di meja oleh istrinya. Ketika video berputar kembali, mata beliau juga langsung merah karena menahan marah.


"Dasar anak kurang ajar!" Papah Andika langsung menghajar anaknya sendiri.


Andika yang bingung, kenapa kedua orang tuanya marah setelah melihat ponsel istrinya, akhirnya ikut penasaran juga. Andika melesat meraih ponsel itu lalu memutar video yang tadi di lihat Eh orang tuanya. Seketika mata Andika nyalang, hatinya mencelos. Ponsel Kesya langsung di banting keras oleh Andika. Hingga hancur tak berbentuk. Kesya kaget, tapi hanya sebentar.


" Untung filenya sudah aku salin ke laptop dan beberapa flashdisk, jadi aman bukti tersebut! " monolog Kesya dalam hatinya.


"Kamu sungguh bodoh, Andika! Apa kamu tidak mengingat perjuangan kamu sebelum menikah dengan Kesya?" papah sudah merosot ke lantai. Kakinya seketika lemas seperti tak bertulang.


"Kamu menukar istri Solehah dengan wanita murahan seperti Elena huh?" geram sekali mamahnya Andika. Beliau memeluk Kesya dan meminta maaf berkali-kali.