
Pov Agnes
Aku merasa heran dengan keributan yang saat ini sedang terjadi antara kedua orang tuaku. Aku sebenarnya benar-benar kecewa dengan apa yang baru saja aku ketahui tentang fakta dari kedua orang tuaku.
' Jadi selama ini mamaku telah melakukan sesuatu hal yang tercela hanya untuk bisa bersama dengan ayahku? Lalu apa artinya kehadiranku dan Martin dalam kehidupan mereka? Keluarga kami yang selalu harmonis di luar ternyata begitu rapuh di dalam karena tidak ada kejujuran di antara penghuninya.' aku lebih memilih untuk meninggalkan kedua orang tuaku yang saat ini masih berdebat entah memperebutkan apa.
Tiba-tiba Aku mengingat tentang Agus sepupuku yang saat ini sedang amnesia dan berada di rumah sakit tanpa ada yang merawatnya.
' Sebaiknya aku pergi menengok Agus saja. Kasihan sekali sepupuku itu. Dia pasti belum mengetahui kalau putranya saat ini sudah meninggal gara-gara kecelakaan yang diakibatkan olehnya! Sungguh malang nasibmu Agus. Bahkan kau tidak mengetahui tentang keadaan putramu dan istrimu saat ini. Dan ibuku dengan teganya ingin menipumu hanya karena ingin menguasai perusahaan Bagaskoro sejahtera untuk menjadi miliknya. Setelah melihat dengan mata kepala sendiri, Ibuku yang merencanakan penipuan terhadap Agus. Aku sangat percaya dengan apa yang diceritakan oleh perempuan itu, tentang ibuku yang sudah menipu Ayahku hanya agar bisa menikahinya! Entah aku harus senang ataukah marah setelah mengetahui semua kenyataan tentang ibu kandungku sendiri yang ternyata tidak seanggun itu!' aku terus berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ruangan Agus yang ada di ujung lorong rumah sakit. Terpencil dan rahasia.
Aku tahu Ibuku memilih ruangan itu pasti agar tidak dicurigai oleh ayahku maupun keluarga Agus Ibuku benar-benar menyembunyikan Agus dari siapapun demi kepentingannya sendiri.
Aku langsung membuka pintu ruangan tersebut dan melihat Agus yang saat ini sedang membaca buku.
" Bagaimana kabarmu? Apakah baik-baik saja hari ini?" tanya aku sambil menatap kepada Agus yang seperti bingung dengan pertanyaanku.
" Kenapa?" tanyanya.
" Tidak apa-apa! Kau sudah siap untuk pulang kan dari rumah sakit?" Tanyaku sambil duduk di sebelah Agus yang sekarang sudah mulai menutup buku yang ada di tangannya dan fokus untuk berbicara denganku.
Aku melihat Agus yang tampak ingin bertanya sesuatu namun dia urungkan niatnya untuk melakukannya.
" Katakan saja kalau kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Tidak usah ditahan-tahan begitu. Kita ini bukan orang asing!" ucapku sambil tersenyum kepada Agus yang hanya bisa meringis kepadaku.
Agus tampak membetulkan duduknya yang tadi terlihat seperti tidak nyaman.
" Apakah benar yang dikatakan oleh ibumu bahwa kau adalah istriku?" tanya Agus sambil menatap manik mataku dengan sangat tajam.
" Jangan dengarkan ibuku. Aku bukan istrimu. Istrimu bernama Ayana Sugandi. Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik dan juga baik hati kau sangat mencintainya bahkan kalian mempunyai seorang Putra yang sangat tampan bernama Axel. Aku tidak tahu lengkap ya nanti bisa kau bertanya kepada istrimu." ucapku berkata jujur kepada Agus Karena bagaimanapun Aku tidak ingin menipu sepupuku sendiri hanya untuk kepentingan ibuku yang sangat tamak dengan harta dan kekayaan duniawi.
Agus tampak menatapku dengan sangat tajam seperti sedang mencerna apa yang aku katakan kepadanya.
" Lalu di mana sekarang wanita bernama Ayana itu yang sebenarnya adalah istriku?" tanya Agus dengan penuh rasa penasaran.
Aku menarik nafasku dengan dalam. Walau bagaimanapun buruknya Ibuku, dia tetaplah Ibu kandungku yang telah membesarkan dan merawatku. Apakah aku sanggup untuk menghianatinya dalam menceritakan semua kebenaran kepada Agus?
" Saat ini Ayana juga berada di rumah sakit ini. Kondisinya pun sama dengan kamu. Setelah kalian berdua mengalami kecelakaan fatal yang telah mengakibatkan putra kalian meninggal dunia dalam kecelakaan itu." aku melihat Agus tampak terbelalak mendengarkan ceritaku.
" Putraku meninggal karena kecelakaan itu? Ceritakan padaku bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?" tanya Agus.
Agus tampak begitu penasaran dengan kejadian yang sesungguhnya yang telah terjadi kepada dirinya. Sehingga membuatnya sekarang menjadi Amnesia dan merupakan semua hal yang terjadi di dalam hidupnya.
" Untuk kejadian kecelakaan itu secara detail, aku pun tidak terlalu mengetahuinya. Nanti kalau kau bertemu dengan istrimu, kau bisa bertanya secara langsung kepadanya!" ucapku mengatakan sejujurnya kepada Agus.
Agus tampak terdiam tampak matanya berkaca-kaca seakan mengingat sesuatu yang menyakitkan hatinya.
" Apakah benar kalau Putraku meninggal karena kecelakaan itu?" tanyanya dengan suara gemetar.
" Yang aku dengar tadi, bahwa itu adalah benar. Aku juga baru mengetahuinya hari ini, tentang putramu yang sudah meninggal karena kecelakaan itu!" ucapku.
" Tolong antarkan aku untuk bertemu dengan wanita bernama Ayana yang katamu adalah istriku. Aku ingin bertanya kepadanya. Bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi dan bagaimana anak kami bisa meninggal!" ucap Agus dengan wajah memohon sambil menggenggam kedua tanganku.
" Jangan pernah bermimpi kau akan bertemu dengan perempuan ****** itu! Karena sampai kapanpun Aku tidak akan pernah mengizinkannya! Kau harus menerima kenyataan bahwa sekarang kau adalah suami dari Agnes. Lupakan perempuan itu Agus! Dalam hidup kamu sekarang hanya boleh ada Agnes sebagai istrimu! Wanita bernama Ayana itu, lupakan dia karena dia hanyalah wanita yang membawa kesialan saja untuk keluarga kita!" aku merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ibuku.
Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang mengatakan kata-kata begitu kejam terhadap wanita lainnya yang masih merupakan anggota keluarganya sendiri.
Bukankah Agus adalah keponakan ibuku yang itu artinya Ayana adalah keponakannya juga?
' Apa segitu bencinya Ibuku terhadap Ayana dan ibunya? Sehingga dia begitu tega melakukan hal semacam itu terhadapnya.
" Apa maksudmu? Dengan mengatakan hal seperti itu kepadaku? Aku harus bertemu dengan Istriku yang sesungguhnya. Jangan pernah Kau menipuku! Dengan mengatakan bahwa Agnes adalah istriku!" ucap Agus dengan mata berapi-api menatap ibuku yang tampak terkejut bahwa kebohongannya telah terbongkar oleh Agus.
" Apa yang telah kau lakukan Agnes?" tanya Ibuku sambil menatap sengit ke arahku.
Aku tidak takut sama sekali dengan amarah Ibuku. Karena yang kulakukan adalah kebenaran dan aku tidak mau terlibat di dalam kejahatan yang telah direncanakan oleh ibuku sendiri untuk menipu Agus dalam rangka usahanya untuk bisa menguasai perusahaan Bagaskoro Sejahtera milik Agus.
Aku tahu bahwa Ibuku merasakan dendam yang sangat besar terhadap Pamanku yang tidak memberikan sedikitpun warisan untuknya ketika beliau meninggal.
Sebenarnya aku bisa memahami perasaan Ibuku saat ini yang ingin mengambil haknya di perusahaan yang saat ini dikelola oleh Agus sebagai pewaris dari perusahaan Bagas Sejahtera yang diwariskan oleh pamanku.
Pasti sangat sakit sekali ketika mengetahui bahwa usaha kerasnya selama ini dalam membantu perusahaan Pamanku untuk bisa mengembangkan perusahaannya, hanya dihargai dengan 10 juta perbulan oleh almarhumah pamanku.
Mungkin ibuku yang tidak terlalu bersyukur dengan kebaikan Pamanku yang masih mengingatnya sebagai adiknya.
Entahlah perebutan kekuasaan dan warisan selalu saja menjadi sebuah momok yang menakutkan di dalam sebuah keluarga.
" Agnes akan pulang mah. Agus kalau kau ingin menemui istrimu, kau mintalah kepada Ibuku untuk mengantarkanmu menjenguk istrimu yang berada di rumah sakit ini atau kau bisa mencari kebahagiaan informasi tentang ruangan milik Ayana Sugandi yang merupakan istrimu yang sesungguhnya!" ucapku memilih untuk melarikan diri daripada harus ribut dengan ibuku yang sudah mulai mengepalkan kedua tangannya.
' Aku harus segera melarikan diri dari sini. Kalau tidak, maka Ibuku akan membuatku tinggal nama. Aku tahu betapa barbarnya Ibuku ketika dia marah!' ucapku sambil berusaha untuk pergi dari ruangan perawatan Agus ketika melihat ibuku yang tampak sibuk berdebat dengan sepupuku.
Aku segera melarikan diriku sendiri dari rumah sakit setelah berhasil keluar dari ruangan Agus.
Rasanya lega sekali setelah aku terbebas dari tekanan ibuku yang terus memaksaku untuk pura-pura menjadi istri Agus.
" Sebaiknya aku segera meninggalkan Jakarta dan bersiap untuk kehidupan baruku bersama dengan kekasih yang aku cintai. Aku tidak rela kalau sampai aku harus kehilangan cintaku hanya untuk mendukung kejahatan ibuku dalam rangka usahanya untuk merebut perusahaan Bagaskoro Sejahtera dari tangan Agus yang saat ini sedang amnesia!" aku pun langsung menghubungi kekasihku dan mengajaknya untuk bertemu.
Setelah kami berdua sepakat untuk bertemu di cafe yang biasa kami kunjungi, aku pun langsung mengungkapkan keinginanku untuk mengajaknya pergi dari kota ini dan memulai kehidupan dari kami sebagai suami istri.
" Jangan gila deh Yang! Tidak mungkin aku membawamu untuk kawin lari dari kedua orang tua kamu. Aku akan membawamu ke dalam kehidupanku secara terhormat, tidak dengan cara seperti itu!" ucapnya tegas dan mantap.
Sungguh hal itulah yang telah membuatku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Tetapi entah kenapa melihat dia seperti itu sekarang malah membuatku menjadi kesal sekali.
" Ya udah yang, kita putus saja!" ucapku kesal tanpa mendengarkan panggilannya lagi dan langsung meninggalkan dia seorang diri di cafe itu.
" Biarlah aku kehilangan laki-laki yang tidak mau berjuang untuk memilikiku!" ucapku sambil berlalu dari hadapan laki-laki yang telah tiga tahun menjadi kekasihku.