
Alhamdulillah novel ini telah sampai di angka bab 133. Semoga Author diberikan inspirasi dan kesehatan untuk terus bisa update dan mulai mengambil bulan ke dua untuk Jumkat 60.000 kata perbulan di novel ini. Mohon dukungan kalian semua ya readerku tersayang, dengan like, favorite, vote, gift semampu kalian dan komen agar menjadi semangat untuk Author update novel ini setiap harinya. Terimakasih semuanya, tanpa kalian semua, Author bukan apa-apa dan tidak akan sampai ke mana-mana.
Yuk kita langsung dengan novel kita, yang makin seru saja, alur serta konflik yang ada di dalamnya.
Happy reading for All.
Begitu sampai di sekolahnya, Rasya langsung masuk ke kelas dan melihat ke sekeliling di mana teman-temannya tengah menatapnya dengan heran.
"Rasya! Apakah benar, kalau ayah dan ibu makan segera bercerai? Lalu kau akan ikut dengan siapa?" tanya Andi kepada Rasya.
"Benar Rasya, apakah mereka sudah resmi berbicara atau belum Bagaimana Apakah kau akan mengingat ayahmu atau ibumu?" tanya teman Rasya yang lain.
Teman-temannya terus melontarkan pertanyaan yang senada kepada Rasya, yaitu tentang perceraian Ibunya dan ayahnya.
"Bukan urusan kalian! Kenapa kalian bertanya terus kepadaku? Kalian urus saja hidup kalian sendiri! Aku juga tidak pernah usil mengurusi hidup kalian!" ucap Rasya dengan nada tinggi lalu kemudian meninggalkan kelasnya menuju toilet.
Dalam perjalanannya menuju toilet, tiba-tiba saja Rasya menabrak seorang perempuan.
"Maafkan aku, aku tadi tidak sengaja menabrakmu. Apakah ada yang sakit atau mungkin ada barang-barangmu yang pecah?" tanya gadis berwajah imut itu kepada Rasya.
Gadis kecil yang dia kenal dengan nama Melati yang berada satu kelas dengannya.
"Aku tidak apa-apa! Kau bisa melanjutkan perjalananmu!" ucap Rasya dengan ketus. Rasya kemudian langsung lari, meninggalkan Melati yang tampak bengong dengan sikap Rasya yang tidak ramah kepada dirinya.
"Dia sangat aneh. Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Padahal kan aku menabraknya tidak sengaja!" ucap melati kepada dirinya sendiri.
Sementara itu, Rasya yang kini sudah berada di kamar mandi. Dia membasuh mukanya dan kemudian menatap wajahnya di cermin.
"Kenapa mereka semua terlalu usil dengan hidupku? Padahal aku saja tidak pernah usil dengan mereka. Kenapa mereka harus menekanku dengan seperti ini?" tanta Rasya kepada dirinya sendiri.
"Aku akan minta kepada Ibuku untuk memindahkanku dari sekolahan ini. Aku sudah tidak nyaman lagi berada di antara mereka, yang selalu saja mengulik kehidupan pribadiku!" ucap Rasya.
Rasya akhirnya memutuskan untuk keluar dari sekolah itu dan mencari sekolahan baru untuk kehidupan yang baru.
Padahal tanggung sekali, hanya tinggal satu tahun lagi, maka dia bisa lulus dari sekolah. Tetapi perasaan Rasya saat ini benar-benar sangat kacau balau. Dia sudah tidak nyaman dan tidak bisa berdamai dengan semua teman-temannya yang selalu usil dengan kehidupannya.
Sebenarnya kalau hati Rasya sedang damai dan tidak memiliki masalah. Perhatian teman-temannya itu sangat dia sukai. Ketika mereka bertanya, itu artinya mereka peduli. Hanya saja saat ini, Rasya sedang tidak enak perasaannya. Makanya dia merasa tidak nyaman dan merasa tidak suka.
Setelah pikirannya lebih tenang, Rasya pun memutuskan untuk keluar dari toilet dan masuk kembali ke kelasnya.
"Aku kan tadi sudah bilang, kalau aku tidak apa-apa kenapa kau masih menggangguku juga?" ucap Rasya dengan melotot karena dia sangat tidak suka ketika dia ingin sendiri tetapi ada orang yang mengganggunya.
"Kenapa kau Ketus sekali? Aku kan hanya mencoba untuk menjadi temanmu. Kau selalu saja kelihatan sendirian. Apakah kau tidak bosan hidup seperti itu?" tanya melati sambil menatap ke arah Rasya.
"Aku tidak butuh kamu sebagai temanku. Aku akan lebih menghargaimu, kalau kau pergi dari hadapanku. Dan jangan pernah coba-coba untuk menggangguku lagi!" hardik Rasya dengan emosi yang membuncah di dadanya. Rasya mengusir Melati seketika dari harapannya.
Melati menatap Rasya dengan air mata yang hampir saja jatuh di kelopak matanya. Kalau saja tidak langsung di tepi oleh melati dan menghapusnya dengan terhormat.
"Kau adalah pria yang sangat sombong! Aku yakin kau tidak akan pernah memiliki seorang sahabat dalam hidupmu. Karena kau tidak pernah menghargai orang di sekitarmu. Kau adalah laki-laki paling jahat yang pernah ku tahu selama hidupku!" ucap Melati dengan mata berkaca-kaca kemudian meninggalkan rasa seorang diri di kursinya.
Rasya menatap dingin kepergian Melati sama sekali tidak merasa terganggu dengan ucapannya. Rasya menatap lurus ke depan. kemudian guru mereka masuk dan memulai pelajaran hari itu.
Rasya tetap fokus mendengarkan penjelasan gurunya. Rasya tidak memperdulikan tatapan Melati yang sangat dingin dan penuh dendam kepadanya.
"Bro kamu terlalu kasar terhadap seorang perempuan!" tiba-tiba saja laki-laki yang duduk di samping Rasya, malah berbisik ke telinganya. Rasya mengurutkan keningnya.
"Apa urusanmu dan apa pula maksudmu mengatakan hal seperti itu padaku?" tanya Rasya tidak kalah dingin ketika dia bicara dengan Melati tadi.
"Melati hanya mencoba untuk bersikap baik kepadamu. Apakah perlu kau menjawabnya dengan Ketus dan sedingin itu? Apakah kau pernah memikirkan perasaan orang lain sekali saja dalam hidupmu?" tanya pria bernama Thomas itu kepada Rasya.
"Bukan urusanmu, huh! Semua itu adalah urusanku! Kenapa kau sibuk sekali mengurusi hidupku? Urus saja hidupmu sendiri, karena aku saja tidak peduli dengan hidupmu!" ucap rahasia sambil menatap tajam ke arah Thomas. Sama sekali tidak ada aura persahabatan di wajahnya.
Padahal Thomas dan Rasya sudah duduk sebangku selama lebih dari 2 tahun lamanya.
Sikap dingin Rasya dan perilakunya yang tidak mempedulikan teman-temannya, yang menjadi kendala, beberapa teman-teman yang malas untuk mendekati dan berurusan dengan Rasya. begitu pula dengan Thomas.
Walaupun mereka duduk sebangku, tetapi nyaris mereka tidak memiliki percakapan sama sekali. Mereka sama-sama cuek dan tidak memperdulikan satu sama lain.
Itu adalah kali pertamanya Thomas berbicara dengan Rasya. Itu karena dia sangking merasa tidak tahannya, melihat sikap kasar Rasya kepada melati.
"Ingatlah bro, kita hidup di dunia itu tidak hanya sendirian. Pasti kelak kamu akan membutuhkan teman-temanmu. Kau tidak perlu sombong kalau kau merasa menjadi orang kaya. Karena kekayaanmu, sama sekali tidak ada gunanya, ketika kau hanya hidup kesepian dan sendirian!" ucap Thomas sambil menatap ke arah Rasya.
Siapa yang akan menyangka, tiba-tiba saja Rasya menggebrak mejanya dengan sangat keras. Sangking emosinya dia terhadap Thomas.
"Bu saya mau melaporkan bahwa orang yang berada di samping saya ini, dia mengganggu konsentrasi saya saat belajar. Dan saya memohon agar dia dipindahkan dari samping saya!" ucap Rasya sambil melirik sinis kepada Thomas.