Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
239. Kenyamanan



Ayana dapat melihat bahwa keluarga itu sangat harmonis dan dia merasa tidak tega kalau sampai menghancurkan kebahagiaan mereka dengan mengakui dirinya sebagai putri dari Pradipta Handoyo bersama dengan Humairah Sugandi.


" Putramu sangat tampan sekali Ayana. Sungguh, aku sangat terpesona dengannya. Apakah kau bisa sekali-kali bermain kemari biar aku bisa bersama dengan Axel?" ucap Pradipta dengan mata berbinar dan penuh kebahagiaan ketika dia menyuapi makanan bayi kepada Axel.


" Yah Paman! Kalau saya tidak sibuk, saya akan usahakan untuk main kemari. Paman boleh kok main ke rumah kami kalau Paman merindukan Axel!" tiba-tiba saja Agus menghentikan pembicaraannya.


" Sayang sebaiknya kita pulang yuk. Kasihan Axel kalau nanti terlalu malam di jalan dia juga tampaknya sudah mulai mengantuk?!" ucap Agus sambil menyentuh lengan istrinya yang terkejut dengan apa yang dikatakannya.


" Axel tampaknya bahagia kok bermain di sini!" ucap Ayah Nah sambil melirik kepada putranya yang tampak senang bermain dengan Pradipta.


" Kalian menginap saja di sini. Kasihan kalau sampai Axel kemalaman di jalan. Lagi pula kan kamu sudah lama sekali tidak main di sini kami masih ingin banyak berbincang denganmu!" ucap istrinya Pradipta Handoyo kepada mereka berdua.


Ayana sangat nyaman sekali berada di antara mereka keluarga yang harmonis dan juga tampak bahagia.


Ayana bisa melihat bahwa istri Ayah kandungnya adalah seorang wanita yang sangat lembut dan juga sangat baik hatinya sehingga membuat Ayana merasa bersalah karena dirinya sempat berpikir untuk mengakui bahwa dirinya adalah putri dari Pradipta Handoyo.


" Bagaimana Mas? Apa kau setuju kalau kita menginap di sini?" tanya Ayana kepada Agus yang tampak menggelengkan kepalanya.


" Sudah kalian berdua kalau mau pulang, pulang lah! Biarkan Axel bersama dengan kami. Rasanya Kami sangat senang sekali dengan kehadiran seorang bayi. Lihatlah Martin dan Agnes lebih senang berpacaran daripada menikah. Kami sudah setua ini, tetapi masih juga belum mempunyai cucu!" keluh istrinya Pradipta sambil menatap anaknya yang hanya bisa meringis mendengarkan perkataannya.


" Lagi pula mama dan papa kan belum terlalu tua Apakah sudah pantas untuk menjadi seorang nenek dan kakek?" tanya Martin sambil menatap tajam kepada ibunya yang langsung mengerucutkan bibirnya.


" Setidaknya kalau di rumah ini ada anak kecil, mama jadi tidak terlalu kesepian di rumah ini. Hari-hari Kalian bertiga selalu sibuk di luar. Sementara mama hanya diam di rumah mengurusi keluarga ini tanpa ada teman!" ucap ibunya yang langsung di sambut senang oleh suaminya.


" Benar! Papa juga ingin segara punya cucu. Papa pasti akan lebih bersemangat kerja hanya untuk cepat pulang untuk bermain dan bertemu dengan cucuku!" ucap Pradipta mendukung apa yang dikatakan oleh istrinya.


" Ya sudah Mah! Nanti Martin akan mencoba untuk bicarakan dengan pacar Marti. Apakah dia mau menjadi istriku atau tidak!" Ucap Martin pada akhirnya menyerah kepada ibunya yang sepertinya sangat mengharapkan untuk segera mempunyai menantu dan juga cucu.


" Kalau Agnes tidak ya Mah? Agnes kan masih kuliah dan belum lulus. Nanti kalau menikah dan punya anak. Pasti akan sangat merepotkan loh. Nanti ujung-ujungnya pasti Mama yang kesusahan!" ucap Agnes sambil meringis kepada ibunya.


" Ah memang dasar saja kau yang lebih senang berpacaran daripada mempunyai komitmen untuk menjadi seorang istri!" ucap ibunya sambil menatap kepada suaminya yang terlihat begitu bahagia bermain dengan Axel.


" Sudah sana, kalau kalian berdua mau pulang, pulang lah! Jangan khawatir dengan anak kalian. Kami pasti akan menjaga Axel dengan baik!" ucap Pradipta sambil menatap Ayana dengan penuh pengharapan.


Keduanya tampak kecewa karena keinginannya untuk bermain lama bersama dengan Axel tidak kesampaian sama sekali.


Agus langsung mendekati Pradipta dan mengambil Axel dari tangannya.


" Maafkan saya Paman. Bukannya saya pelit atau bagaimana. Hanya saja kami harus kembali ke kediaman kami saat ini. Kebetulan di rumah kami ada ibunya Ayana dan juga masih dalam keadaan berduka. Aaya tidak bisa meninggalkan ibu mertua saya di rumah sendirian!" ucap Agus memberikan alasan yang kuat untuk kepulangan mereka dari kediaman Pradipta Handoyo.


" Siapa yang meninggal di kediamanmu? Kenapa kami tidak mendapatkan berita apapun?" Pradipta tambang terkejut mendengarkan perkataan Agus.


" Ayah tiri Ayana meninggal Paman. Belum lama ini, di Australia. Karena sebuah kecelakaan fatal yang mengakibatkan beliau meninggal! saat ini ibu mertuaku masih sedih Oleh karena itu kami meminta beliau untuk tinggal bersama kami setidaknya dia ada hiburan dengan bermain bersama Axel sehingga tidak terlalu larut di dalam kesedihannya.


Tampak Pradipta manggut-manggut, mengerti dengan alasan yang diberikan oleh Agus. Tampak mendekati Axel dan dia pun tersenyum kepada bocah tampan itu.


" Axel sayang. Nanti kapan-kapan kita main lagi ya? Pasti kakek suatu saat akan main ke tempatmu untuk berjumpa lagi denganmu!" ucapkan entah sambil menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Axel yang langsung tersenyum penuh kesenangan.


Tampaknya Axel sudah merasa nyaman bersama dengan Pradipta.


" Baiklah kami permisi dulu. Lain kali kita bisa bermain bersama lagi. Selamat malam! Oh ya, terima kasih atas makan malamnya yang sangat menyenangkan dan juga berkesan!" ucap Agus ketika dia berpamitan kepada keluarga pamannya.


Tampak Pradipta yang menatap mata Ayana yang sedang berkaca-kaca. Karena merasa terharu dengan pertemuan pertamanya bersama sang ayah yang sangat lama sekali tidak pernah dia temui selama ini.


Tiba-tiba saja Ayana langsung memeluk Pradipta dengan sangat erat. Tampak Ayana yang menangis di pelukan ayahnya.


" Sudahlah Ayana! Ayo kita pulang kasihan Mama di rumah pasti sendirian!" ucap Agus sambil menarik tangan istrinya dari pelukan sang ayah. Karena Agus sangat khawatir apabila nanti mereka semua akan curiga dengan perbuatan Ayana yang sangat aneh.


" Maafkan saya paman. Saya hanya merasa bersedih karena ketika saya melihat Paman, seketika mengingatkan saya kepada ayah kandung saya yang lama tidak pernah saya temui!" ucap Ayana dengan suara yang tersekat di tenggorokan.


" Tenanglah Ayana! Kau boleh menganggap Paman sebagai ayahmu. Paman tidak akan keberatan sama sekali!" ucap Pradipta sambil menepuk bahu Ayana yang tidak mau melepaskan pelukannya. Walaupun sejak tadi Agus berusaha untuk menarik tangannya.


" Maafkan saya Paman dan Tante. Karena saya sudah bersikap sentimental seperti ini di hadapan keluarga Paman. Kalian pasti kaget dengan kelakuan saya ini yang sangat cengeng!" ucap Ayana sambil menghapus air mata dari pipinya.


" Sudahlah kau tidak usah bersedih. Kau boleh menganggap Paman sebagai ayahmu. Kau boleh datang kemari kapanpun, kalau kau merindukan ayahmu!" ucap Pradipta kepada Ayah Nah ketika mereka hendak meninggalkan kediaman itu.