
Agus yang sekarang sudah menempati ruangan CEO yang sebelumnya ditempati oleh ayahnya tampak sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas yang begitu menumpuk setelah ayahnya dirawat di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu sehingga membuyarkan konsentrasi Agus yang sedang bekerja.
"Silahkan masuk!" ucap Agus memberikan izin untuk masuk.
" Maafkan saya Tuan. Ada Tuan Firman ingin bertemu dengan anda!" ucap sekretaris Agus mengabarkan tentang kedatangan tamu untuknya.
" Siapa itu Firman? Saya tidak mengenalnya!" ucap Agus mengerutkan keningnya karena dia merasa tidak mengenal sosok bernama Firman.
" Ya ampun mentang-mentang sekarang sudah menjadi seorang CEO Kau melupakan teman lamamu!" ucap Firman yang langsung masuk ke dalam ruangan Agus sehingga membuat Agus tersentak karenanya.
" Astagfirullah! Saya kira Firman siapa!Ternyata kamu toh?" ucap Agus segera bangkit dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan Firman yang tanpa diundang ke kantornya.
" Di mana kau tahu kalau aku sudah kembali lagi ke kantor padahal kembalinya aku ke sini masih menjadi rahasia perusahaan!" tanya Agus sambil menyelami sahabat lamanya yang sudah sangat lama tidak dia temui sejak dia kabur dari perusahaan ayahnya.
" Tadinya aku datang ke perusahaan ini ingin bertemu dengan ayahmu. Tapi katanya CEO sekarang sudah diganti. Ya aku berpikir saja, pasti kau yang menggantikannya. Memang siapa lagi yang menggantikan ayahmu,kalau bukan anaknya sendiri?" ucap Firman menyatakan hipotesisnya tentang keberadaan Agus di perusahaan yang dia ketahui.
" Ah sejak dulu kau memang tidak ada lawannya aku salut padamu!" ucap Agus merasa sangat bahagia dengan kedatangan Firman di hari pertamanya bekerja kembali di perusahaan milik ayahnya.
" Aku hanya sementara saja menggantikan Papaku. Sampai dia kembali sehat. Setelah itu aku akan kembali lagi ke habitatku. Bukankah kau tahu sendiri kan, aku paling tidak suka dengan hiruk pikuk kehidupan semacam ini. Aku lebih senang hidup bebas dan merdeka di luar sana. Walaupun dalam keadaan kekurangan dan di hina orang lain!" ucap Agus dengan sendu karena tiba-tiba dia mengingat tentang ayahnya dan keluarganya yang selalu menghina dirinya hanya karena dianggap sebagai orang yang tak punya.
" Filosofi hidupmu sejak dulu tidak pernah berubah. Aku salut sebetulnya padamu Gus. Hanya saja menurutku filosofimu agak salah sebetulnya!" Ucap Firman mencoba untuk menyatakan pendapatnya tentang gaya hidup Agus saat ini.
" Coba jelaskan padaku! Di mana letak kesalahan itu?" tanya Agus tampak penasaran dengan pendapat sahabatnya yang sejak dulu terkenal sangat pintar dan cerdas.
" Kau menyukai kehidupan yang bebas dan merdeka di luar kendali kedua orang tuamu. Tapi maafkan aku Gus! Hanya saja caramu salah!" ucap Firman menjeda ucapannya sehingga mengundang rasa penasaran Agus.
" Di mana letak kesalahan itu? Bisakah kau menjelaskannya?" tanya Agus benar-benar merasa penasaran.
" Seharusnya kau bisa membuktikan kepada kedua orang tuamu. Bahkan tanpa dukungan mereka kau bisa sukses dan menjadi orang hebat. Bukan dengan menjadi sopir taksi dan hidup dihina oleh orang lain sebagai orang miskin. Itu benar-benar kebebasan yang sangat salah kaprah!" ucap Firman to the point karena dia tidak suka berputar-putar dan berbasa-basi.
" Maksudnya seperti yang kau lakukan?" tanya Agus sambil tersenyum kepada Firman.
"Binggo!" ucap Firman sambil menjentikkan jarinya di hadapan Agus.
" Bukannya aku tidak mau untuk menjadi orang hebat sepertimu, tanpa bantuan kedua orang tuaku. Hanya saja Aku bosan dengan semua kemewahan ini dan ingin mencicipi sebagai orang yang tidak punya!" ucap Agus sambil tersenyum sumringah kepada Firman yang mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku salut sih dengan prinsip hidupmu Gus! Memang setiap manusia memiliki pandangan dan juga cita-cita sendiri-sendiri. Hanya saja kau sebagai Putra ayahmu. Apalagi kau hanya satu-satunya sebagai pewaris di keluarga ini. Agus, kau memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan perusahaan ayahmu yang susah payah dibangun olehnya. Terus, kau ingatlah pada ratusan ribu bahkan jutaan karyawan yang menggantungkan hidupnya di bawah perusahaan kedua orang tuamu ini! Apa kau pernah membayangkan Bagaimana kehidupan mereka apabila perusahaan ini bangkrut tanpa seorang penerus setelah ayahmu meninggal nanti?" tanya firman kepada Agus sehingga membuat Agus mulai berpikir kembali tentang prinsip hidup yang selama ini dia pegang.
" Kau benar Firman! Aku memang sudah salah dalam menjalani kehidupanku selama ini. Terima kasih kau sudah mengingatkanku!" ucap Agus sambil mengulas senyum kepada Firman sahabat lamanya.
" Sudah seharusnya sebagai sahabat kita harus saling mengingatkan bukan?" tanya Firman sambil tersenyum kepada Agus.
" Yah! Memang benar aku merasa berterima kasih kepadamu. Semoga setelah ini pikiranku akan semakin terbuka dan bisa menerima takdirku sebagai pewaris dari perusahaan ayahku!" ucap Agus sambil tersenyum kepada Firman.
" Ayo silakan nikmati hidangannya semoga tidak mengecewakan lidahmu!" ucap Agus mempersilahkan Firman untuk menikmati camilan yang disediakan oleh sekretarisnya.
" Oh ya aku dengar kau sudah menikah? Kenapa tidak membuat resepsi dan memperkenalkan istrimu kepada publik?" tanya Firman merasa heran kepada Agus yang menyembunyikan tentang pernikahannya.
" Pernikahan kami berdua tidak nyata. Bahkan mungkin sekarang aku sudah menjadi duda!" ucap Agus sambil tersenyum miris ketika dia membicarakan tentang pernikahannya bersama Ayana.
" Apa maksud perkataanmu? Kenapa begitu banyak misteri di dalamnya?" tanya Firman merasa heran kepada Agus yang sedang berteka-teki terhadapnya.
" Dia menikahiku hanya untuk mengambil kembali perusahaan keluarganya yang diambil alih oleh bibinya!" ucap Agus memberikan sedikit clue untuk Firman.
Firman mengerutkan keningnya merasa tidak paham dengan apa yang diceritakan oleh sahabatnya.
" Dia menganggapku sebagai sopir taksi yang miskin dan hina dan dia tidak menerimaku sebagai suaminya. Dia mau menikah denganku hanya karena bibinya memberikan syarat akan menjadikan perusahaan milik keluarganya sebagai mahar pernikahanku!" ucap Agus menceritakan pernikahannya yang bagaikan di negeri novel jaman sekarang.
" Ya ampun Kenapa bodoh sekali perempuan itu meninggalkan Permata sepertimu yang begitu berharga!" ucap Firman keheranan dan menggelengkan kepalanya.
" Aku hanya merasa penasaran kalau istrimu itu tahu, kalau kau adalah seorang pewaris dari perusahaan sebesar ini. Apakah dia masih akan memandang rendah dirimu?" tanya Firman sambil menatap Agus yang kini sedang menundukkan kepalanya karena merasa sedih memikirkan tentang pernikahannya yang hanya seumur jagung.
" Aku mengajaknya untuk pindah ke penthouse yang sudah aku siapkan untuk tempat tinggal kami. Tetapi dia menolak untuk ikut denganku. Mungkin karena dia berpikir bahwa aku akan mengajaknya tinggal di kontrakkan kecil milikku yang sebelumnya pernah dia lihat!" ucap Agus tersenyum miris menceritakan tentang pernikahannya kepada sahabat yang sudah sangat lama tidak dia temui.
Agus dan Firman adalah sahabat ketika mereka sama-sama menimba ilmu di Jakarta.
Agus kembali ke Surabaya sementara Firman mengembangkan sayapnya dengan membuka perusahaan sendiri tanpa bantuan dari kedua orang tuanya yang lebih memilih untuk tinggal di Amerika.