
Keesokan paginya, Firman benar-benar berangkat ke pengadilan dan menggugat cerai Syafa. Sesuai dengan janjinya tadi malam di hadapan semua orang. Firman membawa Laila bersamanya, untuk membuktikan bahwa dia benar-benar serius dengan apa yang dia janjikan terhadap wanita yang dia cinta itu.
"Kamu yakin Mas? Kalau kamu akan bercerai dengan istri pertama mu? Aku takut nanti kamu menyesali keputusan kamu yang sembrono ini di masa depan. Pikirkan lagi anakmu. Dia pasti akan sangat terluka kalau kalian berpisah!" ucap Laila sambil menggenggam tangan perempuan yang seakan tidak ingin melepaskannya.
"Kamu sudah melihat sendiri bukan? Bagaimana sifatnya Rasya. Bagaimana kelakuan dia terhadap Mas. Mas sudah tidak memiliki harapan lagi terhadap anak itu. Sifatnya keras dan tegas. Dan saya tahu yang kalau Syafa sudah betul-betul mencuci pikirannya. Percuma kalau saya ingin melakukan banyak hal pun, tidak akan ada gunanya!" ucap Firman sambil tetap fokus menyetir. Hati Laila merasa tergiris mendengarkan pernyataan suaminya tersebut dia merasa sedih karena telah menjadi alasan seseorang untuk bercerai.
"Sebetulnya Mas, permasalahan itu sangat sederhana sekali. Cukup Mas meninggalkan aku dan kembali kepada mereka. Maka semua masalah sudah beres. Mas mendapatkan kembali keluargamu dan juga Mas mendapatkan akan mendapatkan hak warismu terhadap kedua orang tuamu." ucap Laila dengan sedih. Firman tampaknya tidak peduli dengan hal itu sehingga dia tidak menanggapi pernyataan Laila sama sekali.
"Mas! Aku bicara serius loh! Kok kamu nggak ada perdulinya sih? Aku tuh peduli dengan kamu dengan masa depan anakmu!" ucap Laila kesal pada akhirnya.
"Kamu memikirkan anak orang lain, tetapi kamu tidak memikirkan anak dalam perutmu sendiri. Anakmu yang ada di dalam perutmu juga pasti akan membutuhkan masa depan. Dan aku tidak akan membiarkan anak dari wanita yang kucintai menderita tanpa seorang ayah." Ucap Firman dengan mantap.
"Jadi, apa kamu akan membiarkan Rasya hidup menderita tanpa kehadiran seorang ayah juga?" tanya Laila dengan perasaan kesal dan jengkel dengan kelakuan suaminya itu yang maunya seenak sendiri saja.
"Rasya sudah menjadi ahli waris dari kedua orang tuaku. Dia tidak akan pernah hidup menderita saat sama sekali. Hidupnya akan sangat bahagia bergelimangan harta. Bahkan tujuh turunan dia tidak bekerja pun dia tidak akan kekurangan apapun!" ucap Firman tanpa menoleh kepada Laila.
Tampaknya Firman sangat marah dengan putusan kedua orang tuanya tersebut. Yang terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan mengenai pernikahannya bersama dengan Syafa maupun Laila.
"Bukankah kau melihatnya sendiri, Laila? Bagaimana sikap Rasya selama ini? Dia sama sekali tidak menghormatiku sebagai ayahnya. Lalu untuk apa aku memperjuangkan masa depan dia? Kehadiranku disamping atau tidak, sama sekali tidak memberikan dampak apapun baginya!" ucap Firman tanpa beban.
Tampaknya Firman sangat kesal dengan kelakuan putranya tersebut. Yang sama beberapa kali frontal melawannya secara langsung tanpa merasa takut sama sekali terhadap ayahnya itu.
"Rasya seperti itu kan, juga karena kamu Mas. Kalau kamu menghormati dia sebagai anaknya, dia juga tidak mungkin lah berperilaku seperti itu. Kamu harus paham juga Mas semua itu tuh, salahnya kamu!" ucap Laila.
"Apakah salah kalau aku ingin hidup bersama wanita yang kucintai? Aku sudah lelah, Laila. Tolonglah hentikan semua omong kosongmu ini jangan menambah beban pikiranku saat ini aku hanya membutuhkanmu memberikan dukungan atas keputusan yang kubuat ini." Firman tampak menarik nafas dalam-dalam.
"Ini tidak mudah, tetapi aku akan siap untuk menjalaninya. Asalkan kamu berada di sampingku!" ucap Firman kembali sambil tetap menggenggam tangan Laila dan menciumnya dengan penuh rasa cinta. Sehingga akhirnya membuat Laila pun tidak sanggup lagi untuk membantah Firman yang tampaknya sudah bulat dengan apa yang sudah menjadi keputusannya.
"Aku hanya merasa takut saja, kalau nanti Rasya jadinya membenciku dan anak kita. Apakah kamu tidak pernah berpikir hal seperti itu Mas?" tanya Laila tampak pusing memikirkan urusan yang seakan tidak pernah ada habisnya itu.
"Sudahlah Laila! Sebaiknya kau tidak usah memikirkan hal itu. Kamu fokus saja dengan kehamilan kamu. Hal itu bukan ranahmu untuk memikirkannya." ucap Firman sambil mengelus perut Laila.
Ketika mereka sampai di pengadilan, Firman pun langsung mengajukan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengajukan surat perceraian untuk istrinya, Syafa.
Laila menatapnya nyalang kepada suaminya tersebut yang seakan sudah tidak bisa diganggu gugat lagi keputusannya oleh apapun. Tampaknya dia sudah bulat 100% dengan keinginannya tersebut.
"Aku hanya berharap kamu tidak akan menyesali apa yang sedang kamu lakukan saat ini, Mas! Kau hanya sedang emosi kau seharusnya memikirkan ini lebih dalam lagi!" ucap Laila.
Ketika mereka sudah kembali di dalam mobil dan bersiap untuk kembali ke kediaman mereka.
"Bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka akan lama tinggal di Jakarta? Ataukah bagaimana?" tanya firman kepada Laila.
"Apakah kau keberatan? Kalau kedua orang tuaku tinggal bersama kita untuk sementara waktu, untuk menemaniku, hanya sambil menunggu proses perceraianmu bersama Shafa selesai?" tanya Laila berhati-hati.
"Aku sih tidak keberatan. Hanya saja, aku pikir mungkin kedua orang tuamu tidak akan nyaman kalau tinggal bersama kita. Kalau mereka berniat untuk tinggal lama di Jakarta, Aku memiliki sebuah rumah yang bisa ditempati oleh mereka berdua sesukanya. Terserah mereka mau menempati rumah itu sampai kapan, aku akan memberikannya untuk mereka!" ucap Firman sambil menggenggam tangan Laila. Laila tampak tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Firman tersebut.
"Apa kau serius akan memberikan rumah itu untuk kedua orang tuaku?" tanya Laila masih terus berusaha untuk mengkonfirmasi apa yang diucapkan oleh Firman tadi.
"Aku selalu serius dengan apa yang aku lakukan Laila. Selama hidupku aku tidak pernah bermain-main dengan apapun. Kau bisa pegang perkataanku!" ucap Firman.
"Tapi, aku takut nanti kedua orang tuamu pasti mengira bahwa aku menikahimu hanya karena menginginkan hartamu saja!" ucap Laila langsung menciut nyalinya, ketika memikirkan tentang kedua orang tuanya Firman yang tampaknya sangat membenci dirinya.
"Rumah itu aku beli sendiri dengan usahaku sendiri sebelum menikah dengan Syafa, tanpa ada campur tangan kedua orang tuaku. Jadi terserah aku mau memberikannya kepada siapa. Mereka tidak mempunyai hak apapun atau berkomentar apapun. Sudahlah, kau tidak usah memikirkan tentang mereka!" ucap Firman tampak tidak senang ketika Laila membicarakan tentang kedua orang tuanya.
"Tapi Mas, tetap saja mereka itu orang tua kamu. Kamu tuh harus menghormati mereka. Bagaimana kamu bisa dihormati oleh anakmu sendiri. Kalau kamu sendiri tidak bisa memberikan contoh untuk anakmu. kamu sendiri membangkang terhadap kedua orang tuamu. Lalu kau menginginkan anakmu untuk menghormatimu. Kau sungguh lucu, Mas!" ucap Laila kesal dengan tabiat suaminya yang egois itu.
"Laila, Mas ini hanya sedang pusing dengan semua masalah ini. Apa kau tahu? Bahkan saat di kanto, Mas tidak bisa memikirkan tentang pekerjaan. Mas hanya ingin untuk secepatnya menyelesaikan segala masalah ini. Agar tidak menjadi penyakit di dalam hati Mas dan mengganjal masa depan Mas dan juga anak kita!" ucal Firman mantap dan tanpa beban sama sekali.
"Apakah kau tidak pernah mencintai ibunya Rasya? Bukankah kalian sudah menikah lebih dari 10 tahun? Masa iya, kau tidak memiliki rasa apapun terhadap perempuan itu?" tanya Laila merasa penasaran dengan perasaan Firman yang sesungguhnya terhadap Syafa, istri pertama Firman.