
Sudah hampir 4 jam mereka menunggu kedatangan Amanda tetapi Manda belum juga mengantarkan Putri kecilnya Kesya yang saat ini sedang gelisah di kamarnya benar-benar sangat kecewa dengan Amanda yang tidak amanah dengan kepercayaannya.
"Sabarlah, Kesya! Ayo duduk dulu!" bujuk mertuanya, ibunya Andika. Tapi Kesya malah keluar dari ruangan itu, mencari suaminya yang sudah pergi keluar lebih dari 1 jam. Saat Kesya sampai ke lobby, dilihatnya, Manda kini sedang berdiri di hadapan Andika dengan takut-takut Geisha langsung berlari memeluk Amanda dengan air mata yang berderai, hatinya lega luar biasa.
Dengan mata merah, Kesyakemudian menatap Manda. Manda yang baru pertama kali ini melihat hal demikian terhadap Keisha dia sudah merasa ketakutan.
"Aku sangat kecewa denganmu, Manda! Bukankah perjanjian yang kita sepakati adalah 2 jam? Kenapa baru kau antarkan Putri kecilku, setelah 4 jam? Apa kau tahu kegilaan apa yang sudah kau buat terhadap kami? Kau sungguh benar-benar mengecewakan sekali!" Mata Kesya menatap tajam ke arah Manda yang masih takut-takut.
"Amanda adalah putriku! Bukan Putri kecilmu! Harus kau ingat itu baik-baik, Kesya! Aku berhak untuk bersama dengannya. Kenapa kau membuat keributan sebesar ini hanya karena kami terlambat membawanya kembali selama 2 jam saja?" Manda yang tadi ketakutan dengan Andika yang langsung menamparnya, begitu dia masuk ke lobby hotel ini, suami Manda sampai terkejut.
"Sejak Kau menyerahkan tanda tangan surat perjanjian itu, sejak itu pula hakmu sebagai ibu dari Amanda sudah hilang! Kau dengar itu? Sekarang Amanda adalah putri kecilku, yang sudah kau jual kepada kami! Harus kau ingat itu baik-baik wahai Nyonya Manda!" seketika tubuh Manda melorot, hatinya bergetar, jiwanya merana semua yang dikatakan oleh Keisha benar-benar telah melukai hatinya.
"Apa perlu kau mengatakan semua kata-kata jahat itu Kesya? Aku tidak menyangka kalau kau, ternyata wanita yang berpikiran picik semacam itu!" Manda menuding hidung Keisha dengan amarah yang tidak kalah besarnya.
Saat ini semua rombongan yang tadi mengikuti Andika dan Kesya telah berkumpul pula di lobby hotel tersebut. Semuanya menatap heran kepada Kesya yang tiba-tiba mengamuk pada hari ini. Padahal mereka kenal, biasanya Kesya adalah seorang wanita yang lemah lembut, seorang wanita yang selalu menjaga ucapannya. Tetapi hari ini Keisha benar-benar di luar kebiasaan dirinya.
"Tenanglah Kesya, tenang! Jangan kau mengikuti hawa nafsu yang akhirnya nantinya akan kau sesali!" suara Ilham berusaha menenangkan Kesya yang masih menggeram menahan marah.
"Wanita tidak tahu diri itu, harus beritahukan tempatnya berada dimana!! Perjanjian adalah dia harus melupakan Amanda untuk selamanya! Kami sudah berbaik hati mengantarkan Amanda untuk bertemu dengannya, jauh-jauh dari Dubai! Tapi lihat? Apa yang dia lakukan terhadap kita? Membuat kita di sini menunggu selama 2 jam dalam ketakutan dan ketidakjelasan! Perempuan itu betul-betul layak untuk mendapatkan hukuman! Saya tidak akan pernah memaafkan dia!" Kesya lalu mendekati Amanda yang tampak ketakutan melihat dirinya mengamuk.
"Sayang! Apa kau baik-baik saja? Kau tidak apa-apa kan?" Kesya memeriksa tubuh Amanda, ketika Kesya mendapatkan memar di tangan kanan Amanda, Kesya langsung berbalik melihat Manda dengan matanya yang berkilat, penuh dengan amarah.
"Lihatlah, Mas! Ada memar ditangan Putri Kita!" ucap Kesya sambil mendekati Andika yang tampak frustasi melihat Kesya mengamuk tak terkendali.
Mata Andika nyalang ketika melihat tanganm kanan Amanda yang memar dan tampak Air Mata Di mata putri kecilnya. Hati Andika terasa mencelos. Entah apa yang sudah dilakukan oleh Manda terhadap putrinya yang berharga. Dengan bergegas Andika mendekati Manda beserta suaminya yang kini sedang ketakutan.
"Katakan padaku! Apa yang sudah kalian lakukan terhadap putriku? Kenapa sampai ada beberapa memar di badannya? Cepat jujur! Katakan! Atau aku akan membawa hal ini ke ranah hukum, dan akan kupastikan kalian tidak akan lepas dari penjara!" mendengar kata penjara, Manda sudah gemetar dia langsung berlutut di hadapan Andika.
"Maafkan aku! Memang itu adalah kesalahanku! Aku yang sudah menarik tangan Amanda, ketika dia tidak mau untuk diajak kembali ke sini. Amanda bersikeras ingin tinggal bersama kami. Tetapi aku memaksanya. Karena aku tahu bahwa kalian di sini sedang menunggu. Amanda mengatakan bahwa dia ingin tinggal bersama kami, tolong maafkan kami!" ucap Manda dengan derai air mata.
"Sayang, katakan sama Mama! Apakah betul yang dikatakan oleh Mama Manda? Bahwa kamu ingin tinggal bersama mereka? Bahwa kamu lebih memilih untuk bersama mereka?" suara Kesya Sudah bergetar penuh dengan kesedihan. Semua orang yang ada di lobby hotel, menjadi ikut terharu merasakan kepedihan yang kini dirasakan oleh Kesya.
" Maafkan Mama Amanda!" tiba-tiba Manda menubruk tubuh Amanda, menangis tersedu-sedu! Ah, drama yang sungguh menyedihkan! Beberapa orang bahkan merekam insiden yang terjadi di lobby itu. Banyak yang bersimpati, banyak yang mengkritik dan banyak yang menghujat. Yah begitulah pikiran orang-orang yang hanya menjadi penonton, yang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya. Masalah pelik keluarga Abimana.
"Apakah benar, bahwa Amanda ingin tinggal bersama Mama Manda?" suara Kesya sekarang sudah lebih tenang.
"Maafkan Amanda, Mah! Amanda sungguh rindu dengan Mamah Manda! Apa boleh, kalau Amanda tinggal sama Mama Manda? Setidaknya, sampai urusan Papa dan Mama di Indonesia selesai. Setelah itu, Amanda akan minta diantarkan oleh Mama Manda ke pondok pesantren. Tolonglah, Mah! Amanda benar-benar sangat merindukan Mamahku!" tangisan Amanda yang begitu membuat mereka menjadi ikut sedih.
"Sudahlah Kesya! Biarkan saja Amanda untuk sementara tinggal bersama Manda. Ayo kita harus segera ke Indramayu, banyak acara yang menunggu kita di sana. Mobil kita juga sudah terlalu lama menunggu. Kasihan sopirnya dan juga para santri Kiai Hamid yang sudah menunggu kita!" bujuk Pak Farhan, mertua Kesya.
"Tapi Kak Amanda, harus janji ya? Kalau Kakak akan kembali ke pondok pesantren. Soalnya Adrian tidak ingin nanti rindu sama kakak Amanda!" ucap Adrian sambil memegang tangan kakaknya.
"Iya dek, kakak janji! Kakak pasti akan kembali lagi ke pondok pesantren. Kakak hanya ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama, bersama Mama Manda dan adik baruku! Aku janji, aku pasti kembali ke pondok pesantren. Tolong bantu bujuk Mama Kesya sama Papa Andika, ya? Untuk membiarkan Kakak tinggal sementara di Jakarta!" mata Amanda berbinar-binar merasa ada harapan dapat pertolongan dari Adrian.
Amanda sangat tahu bahwa kedua orang tua Adrian selalu mengikuti apapun yang diinginkan oleh Adrian. Adrian kemudian mendekat kepada Mama dan Papanya. Kemudian Adrian berusaha membujuk, agar membiarkan Amanda bersama dengan Mama kandungnya, setidaknya sampai urusan mereka selesai selama tinggal di Indonesia. Seperti yang di janjikan oleh Amanda.
Andika kemudian mendekati suami baru Manda, diajaknya laki-laki itu untuk bicara secara pribadi, di sebuah ruangan. Yang lain semuanya hanya menatap pasrah apa yang terjadi di lobby tersebut.
Fathu mendekati Adrian dan berusaha menghibur Amanda yang masih menangis, "Sudah, jangan menangis, pasti Papah dan Mamah kamu akan memberikan ijin buat kamu!" Fathul memegang tangan Adrian dan Amanda ya tiga sahabat itu berusaha menguatkan satu sama lain.
Setelah 10 menit kemudian, Andika dan suami Manda pun datang, mereka semua menatap ke arah dua laki-laki tampan itu. "Baiklah, Amanda, kamu boleh tinggal bersama Mama kamu. Tapi kamu ingat, kamu harus kembali ke pondok pesantren Kyai Ilham. Apapun caranya! Dan Papa tidak akan mentolerir kalau kamu sampai mangkir dari perjanjian ini! Kamu dengar itu Manda?" Andika menatap tajam wanita yang masih menangis itu, sambil memeluk Amanda. Manda mengangguk-angguk setuju.
"Baiklah, ayo kita bersiap, dari tadi supir sudah menelpon terus, ayo kita semua pergi. Mas, kami titip Amanda, ingat! Kalau kalian macam-macam, kami Keluarga Abimana pasti tidak akan pernah melepaskan kalian begitu saja!" ancam Andika, lalu memeluk Putri kecilnya.
"Terima kasih Papa! Amanda sangat bahagia sekali, Amanda sayang sama Papa!" kemudian semua orang memeluk Amanda dan bersiap pergi meninggalkan Jakarta menuju Indramayu, ke pondok pesantren milik Kiai Hamid. Akan diadakan pesta pernikahan Kiai Ilham dan Ustazah Qonita disana.