
Firman dan Laila yang saat ini tinggal di Surabaya tengah berbahagia karena Putri mereka lahir dengan selamat.
"Yuke sangat cantik sekali seperti kamu, Sayang!" ucap Firman sambil terus mencium Putri kecilnya yang baru saja lahir.
"Iya dia juga mewarisi ketampananmu!" ucap Laila sambil tersenyum kepada suaminya.
"Kapan kedua orang tuamu datang ke sini? Mungkin mereka akan bahagia melihat cucunya!" Firman sambil menggendong Yuke dengan penuh kebahagiaan.
Sejak dulu Firman memang ingin mempunyai seorang anak perempuan. Tetapi tidak pernah berhasil. Oleh karena itu, begitu Yuke lahir ke dunia, Firman sangat senang sekali.
Rasa cintanya kepada Laila semakin berlipat karena impiannya untuk memiliki anak dari Laila telah terwujud.
Perusahaannya yang dia pindahkan ke Surabaya sekarang sudah mulai berjalan dengan normal dan semuanya berada dalam kendalinya. Firman merasa bahagia karena hidupnya sekarang terasa lebih mudah dan ringan. Setelah dia menyelesaikan urusannya bersama Syafa dan memutuskan untuk pindah ke Surabaya bersama Laila dan Putri kecilnya.
Sekarang tidak ada lagi orang-orang yang memandang rendah kepada Laila ataupun memandang sinis kepadanya. Karena mereka menghormati Laila sebagai istri seorang penguasa sukses Firman Ardiansyah.
Kehidupan Laila pun berjalan dengan lancar dan kesehatan mentalnya terjaga dengan baik selama berada di Surabaya. Karena tetangga-tetangga baru mereka tidak ada yang mengetahui tentang kisah masa lalu mereka yang terbilang kelam.
Setidaknya di tempat baru itu, Laila tidak pernah mendengarkan kata-kata lagi bahwa dia adalah seorang pelakor yang sudah menghancurkan rumah tangga Firman dan Syafa dan juga telah membuat seoarang anak bernama Rasya kehilangan ayahnya.
"Kedua orang tuaku datangnya nanti kalau aqiqahnya Yuke. Biar nanti sekalian katanya. Malas kalau bolak-balik!" ucap Laila memberitahukan tentang kedatangan kedua orang tuanya.
"Kapan rencananya mau aqiqah sayang? Biar Mas nanti mengatur jadwal supaya tidak bentrok dengan kegiatan di kantor!" ucap Firman sambil mengecup bibir Laila.
"Ih malu tahu sayang! Gimana kalau nanti ada yang masuk ke ruangan ini?" protes Laila dengan apa yang dilakukan oleh Firman tadi.
Firman hanya tertawa melihat Laila yang karena dia kecup memang selama ini Laila selalu sanggup membuat dia menemukan kebahagiaan dan ketenangan.
"Terima kasih ya sayang karena kau sudah memberikan hadiah yang begitu indah buatku!" Firman kembali mengecup bibir Laila sehingga membuat Laila jadi tertunduk malu.
"Sudah punya anak pun kau masih suka malu-malu sayang! Apa kau tahu? Kau itu sungguh menggemaskan sayang!" Firman tidak ada habisnya ngegombal receh dengan Laila sang istri yang sangat dia cintai.
"Apakah kau tahu sayang? Kalau orang-orang di kantor mengatakan kalau wajah Mas itu selalu bahagia?" ucap Firman sambil memeluk Laila.
Kadang kebahagiaan itu tidak harus dengan kemewahan. Dengan melakukan hal yang sederhana bersama. Itu akan memberikan Efek yang baik untuk kesehatan mental dalam membangun hubungan antara suami dan istri menjadi lebih baik. Lebih saling mengerti dan memberitahukan satu sama lain bahwa mereka dibutuhkan oleh pasangannya.
Terkadang ketika seseorang merasa tidak dibutuhkan, itu membuat Dia kemudian mencari sesuatu di luar sana, sesuatu yang membutuhkan dia. Sehingga akhirnya terjadilah kasus-kasus perselingkuhan yang mengatasnamakan kebutuhan yang tidak tercukupi ataupun kebutuhan yang terlalu berlebihan. Sesuatu yang tidak pada tempatnya dan tidak pada porsinya akhirnya memberikan kerugian dan rasa penyesalan.
"Ayo siap-siap sebentar lagi kan kamu akan kembali ke rumah. Mas sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Yuke. Dia pasti akan menyukainya!" ucap Firman dengan wajah sumringahnya sangat bahagia memikirkan bahwa putrinya akan menempati kamar yang sudah dia desain secara khusus dengan penuh rasa cinta untuk putrinya.
"Ya ampun Mas! Yuke itu masih bayi dan baru lahir. Dia itu akan tinggal bersama kita di kamar kita. Tidak mungkin dia tinggal di kamarnya sendiri. Nanti kita yang kerepotan kalau dia nangis harus berlari ke kamarnya!" ucap Laila sambil tertawa dan menepuk bahu suaminya yang begitu bersemangat menyambut Putri cantiknya.
Firman hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal karena dia merasa apa yang dikatakan oleh istrinya Memang benar bahwa tidak mungkin seorang bayi akan tidur di kamarnya sendirian Pasti akan sangat merepotkan kalau tiba-tiba dia menangis di tengah malam
"Baiklah nanti box bayinya akan dipindah ke kamar Kita dan kita tidak akan kerepotan lagi kalau dia bangun di tengah malam!" ucap Firman akhirnya menyetujui apa yang diinginkan oleh Laila.
"Ya sudah Mas akan keluar dulu, untuk mengurus administrasinya dulu. Supaya kita bisa langsung pulang. Sayang, kau bereskan dulu aja barang-barangnya semampumu. Jangan memaksakan diri ya?" Firman sebelum meninggalkan Laila di kamarnya.
"Ya Mas! Tenang saja kamu tidak usah khawatir!" ucap Laila sambil mendorong tubuh Firman. Untuk segera menyelesaikan administrasi. Karena dirinya benar-benar sudah ingin pulang sudah rindu dengan kamar di rumahnya.
"Sayang kita akan segera kembali ke rumah. Kamu tidak boleh nakal ya? Jadilah anak yang baik!" ucap Laila sambil mencium putrinya yang begitu cantik dan menggemaskan.
Tidak lama kemudian, Firman pun datang dan dia membawa surat izin untuk keluar dari rumah sakit.
"Ayo kita pulang sayang dan kau akan melihat kamarmu begitu cantik, secantik kamu, putri kesayanganku! Kau pasti akan menyukainya!" ucap Firman sambil menciumi putrinya yang sangat dia sayangi.
Laila sangat bahagia karena melihat aura kebahagiaan yang begitu kuat di wajah Firman, sang suami tercintanya.
Setelah berjuang begitu lama. Setelah menjalani begitu banyak peristiwa dan kejadian. Akhirnya Laila menyadari bahwa dia memang mencintai Firman dan dia sanggup melewati apapun ssal bisa bersama laki-laki itu, termasuk menanggung beban sebagai seorang pelakor di mata masyarakat yang dulu mengenal mereka berdua.
"Sayang, kau sudah bilang sama kedua orang tuamu kan? Kalau kita sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Firman ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Mereka sudah tahu! Tenang saja. Memang kenapa sih?" tanya Laila sambil menatap tajam kepada Firman yang tiba-tiba saja terus bertanya tentang kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa sayang! Mas hanya khawatir kalau tiba-tiba mereka datang ke sini dan datang ke rumah sakit dan ternyata kita tidak ada di sana kan kasihan nantinya!" ucap Firman menerangkan rasa kekhawatiran di dalam dirinya tentang kedua orang tuanya Laila yang kemungkinan datang tiba-tiba ke Surabaya untuk menengok cucu mereka.