Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
112. Keputusan Firman



"Tidak Mah! Saya tidak mengizinkan Laila untuk kembali bersama kalian. Laila sekarang adalah istriku. Apalagi dia sekarang sedang mengandung anakku. Aku tidak akan membiarkan Laila melangkahkan kakinya barang satu langkah pun dari pintu rumah ini. Kalau Papa dan Mama ingin pergi dari rumah ini, silakan! Saya tidak akan menghalanginya tapi jangan pernah coba-coba untuk membawa Laila bersama kalian!" ucap Firman dengan tegas.


Syafa dan juga kedua orang tua Firman tampak syok mendengarkan apa yang dikatakan oleh Firman saat ini. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata Firman akan melakukan hal segila itu.


"Jadi kamu sudah memutuskan Mas? Siapa perempuan yang kamu pilih untuk menjadi istri kamu?" tanya Syafa dengan berderai air mata.


"Aku tidak pernah memilih siapapun untuk menjadi istriku. Bukankah kamu yang meminta untuk di ceraikan olehku? Aku akan mengabulkan segala apapun permintaanmu. Bersiap-siaplah! Besok siang, aku pasti akan mengirimkan surat gugatan ke pengadilan. Apakah kau meminta talak juga hari ini? Aku akan memberikannya kalau kau memintanya!" ucap Firman dengan matanya menatap Syafa yang kini menangis tersedu, karena akhirnya Firman membuat keputusan dan memilih untuk melepaskan dirinya.


"Jangan menangis! Bukankah ini adalah permintaanmu? Aku hanya mengabulkannya saja. Lalu apanya yang salah dengan keputusanku ini? Kau ini betul-betul aneh sekali Syafa!" ucap Firman seperti orang yang kehilangan akal. Tampak sekali kalau Firman saat ini sedang frustasi menghadapi permasalahan keluarganya begitu pelik.


" Firman sebaiknya Kau pergilah istirahat. Besok kita bicarakan lagi hal ini. Tidak baik membicarakan hal seperti ini dalam keadaan emosional seperti ini. Syafa, ayo kita kembali ke rumahmu. Biarkan Firman beristirahat dulu dan tampaknya mertuanya Firman juga baru saja sampai dari perjalanan jauh berikan mereka waktu untuk beristirahat!" ucap ayahnya Firman yang mau tidak mau Akhirnya dipatuhi oleh mereka semua.


Setelah kepergian kedua orang tuanya. Firman kemudian duduk lesu di atas sofa kedua orang tuanya Laila hanya bisa menatap Firman yang tampak frustasi itu.


"Firman Istirahatlah! Kau tampaknya sangat lelah. Besok lagi bisa kau pikirkan lagi masalah tentang ini. Sebaiknya kau istirahat. Jagalah kesehatanmu Jangan sampai nanti kau sakit gara-gara memikirkan hal ini!" ucap ayahnya Laila merasa prihatin dengan menantunya itu.


"Pah! Apakah salah kalau saya mencintai Laila? Apakah salah kalau saya ingin mempertahankan pernikahan kami? Kenapa semua orang selalu menentang keinginanku?" tanya Firman dengan mata Sayu. Firman meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Tampak begitu sangat pusing memikirkan permasalahan keluarganya saat ini. Kedua orang tua Laila hanya bisa menatap Firman yang sedang gundah gulana.


"Tidak ada yang salah dengan cintamu terhadap Laila. Hanya saja caramu yang salah. Seandainya, dulu ketika kau menikah dengan Laila kau meminta izin kepada istrimu mungkin permasalahan seperti ini tidak akan terjadi!" ucap ayahnya Laila sambil menatap mata Firman yang kini tampak berderai air mata.


"Sudahlah Firman! Pergilah istirahat besok lagi kau pikirkan tentang ini. Papa dan Mama juga ingin istirahat. Karena sangat lelah sekali setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang seharian!" ucap ibunya Laila yang akhirnya disetujui oleh Firman.


Firman langsung naik ke arah lantai atas dan membuka pintu kamarnya. Di sana Laila tanpa menangis di lantai, begitu melihat Firman yang membukakan pintu Laila langsung menghambur ke pelukan Firman.


"Kenapa kamu bodoh sekali? Aku kan sudah bilang, kalau aku mau kau lepaskan. Tidak usah kau cari perkara dengan kedua orang tuamu dan juga istrimu. Aku tidak apa-apa kok, kalau kamu tinggalkan. Aku bisa mengurus anak ini bersama dengan kedua orang tuaku. Kau tidak usah pusing memikirkannya yang penting selamatkanlah keluargamu!" ucap Laila.


"Bukankah memang itu yang kau harapkan dari dulu? Kau kan memang tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan Laila. Jadi jangan coba-coba mengelabuiku dengan kau mengatakan hal-hal seperti itu. Aku tidak akan pernah tertarik!" ucap Firman dengan sinis lalu memberikan tubuhnya di kasur. Sontak Laila pun hanya bisa menggelengkan kepalanya merasa heran dengan pola pikir suaminya.


"Bukankah memang seperti itu kenyataannya? Kamu tidak akan pernah menikah denganku, kalau seandainya aku tidak menjebakmu waktu itu. Itu adalah kenyataan bukan Laila?" tanya Firman.


Firman tampaknya memang sedang hilang akal. Semua yang dia katakan semuanya membuat orang yang mendengarkannya merasa panas kupingnya.


"Terserah padamu Mas! Kalau kamu tidak mempercayai aku. Yang jelas, aku mencintai kamu. Oleh karena itu, aku mau mengandung anak kamu. Tapi kalau kamu merasa bahwa aku memang tidak mencintaimu. Ya sudah, biar ku gugurkan saja kandungan ini. Untuk apa aku mengandung anak dari laki-laki yang tidak ku cintai!" ucap Laila kesal.


"Tidak! Tidak jangan pernah sekalipun kau mencoba melakukan hal seperti itu. Maafkan aku! Saat ini pikiranku benar-benar sedang kalut. Apa yang kukatakan sungguh benar-benar tidak kusadari. Maafkan aku Laila. Sudahlah Ayo kita istirahat saja tampaknya aku memang harus segera tidur dan mendinginkan otakku saat ini!" ucap Herman lalu memberikan tubuhnya kembali di ranjang Laila menatap suaminya tersebut dengan perasaan Iba.


"Ya sudah tidurlah Mas saya juga mau tidur telat sekali seharian ini begitu panjang rasanya!" ucap Laila.


" Oh ya bagaimana dengan kedua orang tuaku Di mana mereka tidur saat ini?" tanya Laila.


"Orang tuamu tidur di kamar tamu. Kau tenang saja! Aku sudah mengurus mereka. Mereka juga sudah makan malam dan sekarang mereka sedang tidur. Ayo kita tidur Supaya besok bisa berpikir dengan jernih!" ucap Firman sambil memeluk Laila dalam pelukannya.


"Apa kau tahu Laila? Dengan memelukmu rasanya aku seperti memeluk seluruh dunia beserta isinya. Jangan pernah berpikir satu kali pun, untuk meninggalkan aku. Kalau kau meninggalkan aku sama saja kau dengan membunuhku!" ucap Firman sambil mencium kening Laila. Laila tampak mengalir air matanya merasa terharu dengan cinta Firman yang begitu besar untuknya.


" Apakah kau begitu mencintaiku Mas? s


Sehingga Kau rela kehilangan segalanya demi aku?" tanya Laila dengan terisak karena merasa sedih dengan nasib Firman sekarang yang sudah dihapus dari ahli waris kedua orang tuanya.


"Aku rela kehilangan apapun demi bersama denganmu Laila. Kau harus percaya itu dan besok aku akan buktikan dengan caramu menceraikan Syafa. Dan akan menjadikanmu sebagai satu-satunya istri dalam hidupku!" ucap Firman dengan Mantap.


Syafa sampai menangis terharu dalam pelukan Firman, saat mendengarkan janji yang dikatakan oleh Firman saat ini. Tidak disangka, bahwa ternyata Firman begitu mencintainya. Sampai rela kehilangan segalanya demi bersama dengan dirinya