
Ayahnya Arman seketika langsung menangis. Ketika dia mendengarkan Arman memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Terima kasih karena kau telah memanggilku Ayah. Ealaupun aku tahu aku tidak layak menerima itu!" ucap ayahnya Arman kemudian dia mengusap air matanya dan bicara kepada sopirnya.
"Ikuti mobilnya!" supir tua itu kemudian langsung mengikuti Arman.
Begitu sampai di basement apartemen milik Arman. Suasana di sana sudah lumayan ramai. karyawan dan juga relasi bisnis Arman sudah banyak yang berdatangan untuk takziah dan mendoakan ibunya Arman untuk yang terakhir kalinya.
Ayahnya Arman merasakan kesedihan di hatinya. Ketika dia masuk ke apartemen dan dia melihat jenazah wanita yang selama puluhan tahun telah dia telantarkan dan tidak pernah dia ingat sama sekali.
"Shintia? Ya Tuhan! Kenapa kita berdua harus bertemu dalam situasi semacam ini?" ayahnya Arman langsung menubruk jenazah wanita yang sudah masuk puluhan tahun tidak pernah dia temui.
"Maafkan Aku!" kata-kata itu yang terus diucapkan oleh ayahnya Arman ketika dia melihat jenazah ibunya Arman yang sudah membujur kaku. Wajahnya yang cantik dan penuh penderitaan. Sungguh membuat hatinya merasa pilu seketika.
Air matanya berderai merasakan kesedihan yang amat luar biasa. Dadanya bergemuruh dan terasa sesak sehingga dia memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Tolong kau maafkan aku Shintia! Karena selama puluhan tahun, aku telah melantarkanmu dan anak kita. Maafkan aku Shintia!" ayahnya Arman terus menangis di samping jenazah istrinya yang selama puluhan tahun tidak pernah dia temui.
"Maafkan saya pak! Tapi bisakah anda jangan sampai air matanya menempel di jenazah? Kasihan nanti Pak!" ucap Ustad Fahri yang kini duduk di samping ayahnya Arman.
Ayahnya Arman menoleh sebentar kemudian dia mengangguk dan mundur dari sisi jenazah ibunya Arman.
"Tolong Ikuti saya, untuk melapalkan kata-kata ini di telinga istri Anda!" ucap Ustadz Fahri dengan serius.
"Baiklah, ustadz!" ucap ayahnya Arman pelan.
"Saya sebagai suamimu memaafkan segala kesalahan apa yang telah kau perbuat terhadapku maupun keluargaku. Pulanglah kau ke sisi Allah dengan lancar dan beristirahatlah dengan tenang di sana sampai hari pembalasan tiba!" ucap ustadz Fahri yang kemudian di ikuti oleh ayahnya Arman dengan suara bergetar.
"Terimakasih atas kedatangan anda. Ini sangat berarti untuk jenazah yang selama hidupnya telah menyakiti anda dan keluarga anda. Semoga beliau dilapangkan kuburannya dan dimudahkan jalannya menuju akhirat!" doa Ustad Fahri untuk ibunya Arman.
"Apa maksud anda Ustadz? Dalam pemikiran saya, Sayalah yang telah menyakiti dia. Karena saya sudah puluhan tahun telah menelantarkan dia dan juga anak saya!" ucap ayahnya Arman sambil menatap kepada Ustad Fahri dengan penuh tanda tanya.
"Sekarang mari kita fokus untuk memakamkan jenazah beliau. Untuk hal-hal yang lain akan dibicarakan di kemudian hari. Anda bisa bertanya sendiri kepada anak anda!" ucap ustaz Fahri.
Ustad Fahri kudian memimpin para petakziah untuk segera memakamkan ibunya Arman. Karena semakin lama di biarkan tidak baik untuk jenazah. Jenazah cepat dimakamkan itu jauh lebih baik.
Setelah semua proses selesai Arman langsung mendekati Ustad Fahri dan mengucapkan rasa terima kasihnya.
Hati Arman saat ini benar-benar pilu. Karena mulai hari ini, dia hidup hanya sebatang kara di dunia ini. Karena selama ini, dia hanya mempunyai ibunya saja di sampingnya.
"Nggak apa-apa Arman! Sesama manusia kita memang harus saling tolong menolong. Alhamdulillah saya mempunyai kemampuan ini. Sehingga bisa membantumu. Bukankah, dulu kau juga membantu saya tanpa pamrih?" ucap Ustad Fahri sambil tersenyum kepada Arman yang saat ini masih menundukkan kepalanya. Tampak bulir air mata menetes di kelopak mata Pak Arman.
"Sabar dan tawakallah kepada Allah Arman! Bahwa sesungguhnya umur manusia itu adalah milik Allah. Sedalam apapun kita bersembunyi kalau Allah sudah menetapkan kematian kita pasti akan datang juga!" Ustad Fahri sambil menepuk bahu Arman yang saat ini sedang terisak dalam tangisnya.
"Terima kasih ustad karena anda sudah menolong saya!" ucap Arman sambil memberikan amplop bernilai 5 juta untuk Ustad Fahri yang telah menolong dia selama satu malam ini membebaskan ibunya dari penderitaannya yang selama puluhan tahun dirasakan oleh ibunya.
Tetapi Ustad Fahri menolak amplop itu. Dia tersenyum kepada Arman dan berkata, "Dulu saat kau menolongku pun tanpa pamrih, bukan? Lalu saat ini, ketika aku menolongmu. Apakah kau harus membayarku? Sudahlah Arman! Kita ini kan sahabat sudah lama, di antara kita tidak harus ada saling pamrih bukan?" ucap Ustad Fahri sambil tersenyum kepada Arman dan kemudian dia langsung berpamitan kepada sahabatnya itu yang saat ini masih bersedih hatinya.
"Terimakasih Ustad! Semoga Allah yang akan membalas kebaikan anda hari ini!" ucap Arman kemudian dia mengantarkan kepergian ustaz Fahri dari apartemennya.
Sementara itu, Ayahnya Arman saat ini masih terduduk lemas di apartemennya Arman. Setelah prosesi pemakaman ayahnya Arman memang kembali ke apartemennya Arman.
Ayahnya Arman merasa penasaran dengan kata-kata ustad Fahri yang mengatakan bahwa jenazah ibunya Arman mempunyai salah terhadapnya dan juga keluarganya.
"Tolong Arman, apa kau bisa menjelaskan pada ayah? Apa maksud dari perkataan Ustad Fahri tadi tentang ibumu?" tanya ayahnya Arman sambil menatap Arman dengan heran.
"Ibu menggunakan susuk dan juga ilmu pengasihan dan juga pelet untuk membuat ayah jatuh cinta kepadanya!" ucap Arman kemudian dia tertunduk lesu.
Hati Arman saat ini benar-benar diliputi oleh kesedihan yang luar biasa.
"Jadi, ibumu menggunakan hal seperti itu untuk mendekati Ayah? Pantas saja waktu itu, Ayah seakan gelap mata dan tiba-tiba tidak mengingat tentang keluarga Ayah sama sekali. Yang ayah pikirkan hanya tentang ibumu saat itu!" ucap ayahnya Arman sambil merenung dan mengingat kembali masa lalunya bersama Sintia.
"Lalu, kenapa Ibumu tiba-tiba saja meninggal? Bukankah selama ini dia baik-baik saja?" Arman menoleh kepada ayahnya kemudian dia menundukkan kembali wajahnya.
"Itu karena Ustad Fahri melepaskan susuk yang ada di tubuh ibuku. Dia jiga mengusir makhluk yang bersekutu dengannya ibuku. Selain itu, sudah sangat lama ibuku tidak memberikan tumbal untuk sekutunya itu. Oleh karena itu, oleh karena itu, mereka mengambil Ibuku sebagai gantinya dan memenjarakan dia di alam mereka! Untung saja Ustad Fahri berhasil menyelamatkan roh ibu sehingga bisa kembali ke jasadnya dan sekarang Ibu bisa beristirahat dengan tenang!" ucap Arman pelan dan bergetar.
Arman menjelaskan segala situasi dan kondisi yang saat ini sedang terjadi terhadap almarhum ibunya.
Wanita yang telah melahirkan dia dengan segala kepayahan. Wanita yang telah melakukan banyak kesalahan demi cintanya kepada ayahnya yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Ibunya yang sekarang sudah beristirahat dengan tenang di pembaringan yang terakhir. Menuju keharibaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Semoga ibunya Arman dimaafkan dan diampuni segala dosa-dosanya dan diterima segala amal kebaikannya selama hidup di dunia novelnya author, amien 🙏🏻🙏🏻🤲🤲🤲