
Kita tinggalkan sejenak permasalahan Ayana dan Agus. Mari kita lihat kehidupan Syafa dan Rasya saat ini. Karena kita terlalu lama meninggalkan mereka berdua.
Happy reading all
Terlihat Rasya sedang bermain bersama dengan Syafa ke taman bermain.
" Hallo!" sapa Arman ketika dia datang dengan mobilnya.
" Om Arman?" tanya Rasya kaget.
" Halo jagoan! Bagaimana kabarmu?" tanya Arman kepada Rasya.
" Baik Om!" jawab Raisa sambil tersenyum.
" Di mana Mamamu? Kenapa kau di sini sendirian?" tanya Arman.
" Mama sedang ke toilet Om. Memangnya ada apa?" tanya Rasya kepada Arman.
" Apa kau sudah liburan sekolahnya?" tanya Arman sambil duduk di sebelah Rasya yang sedang menikmati Ice krimnya.
" Sudah Om, dua minggu. Memangnya kenapa?" tanya Rasya.
" Kalau Om mau mengajakmu untuk kita refreshing ke puncak kamu mau tidak?" tanya Arman kepada Rasya.
" Dengan Mama juga atau kita berdua saja?" tanya Rasya.
Terlihat Syafa berjalan ke arah mereka berdua dengan senyum yang mengembang.
" Arman Sedang apa kau di sini?" tanya Syafa.
" Aku tadi cuman sekedar lewat saja dan melihat Rasya sedang duduk sendirian di sini. Jadi aku menemaninya. Apakah Kau keberatan?" tanya Arman melihat Syafa.
" Tidak! Tidak keberatan kok! Aku malah berterima kasih padamu karena kau mau menemani putraku. Dia pasti kesepian karena dari tadi sendirian saja di sini." ucap Syafa.
" Benar Om! Hampir saja tadi ada yang mengganggu saya. Mereka lari setelah melihat Om mendekat kepada saya!" ucap Rasya dengan wajah berbinar.
" Oh ya? Memangnya ada yang berani mengganggu jagoan kita?" tanya Arman.
" Ada Om! mereka adalah para preman di tempat ini dan jumlahnya 10 orang tapi setelah melihat kedatangan Om mereka meninggalkanku sendirian di sini!" ucap Rasya sambil menatap kepada Arman.
" Ya sudah ayo kita pergi mencari makan siang karena mama sudah sangat lapar!" ucap Syafa kepada mereka berdua.
" Ayo Om ikut dengan kami ke restoran!" ajak Rasya sambil menarik tangan Arman.
" Rasya jangan mengganggu Om Arman!" ucap siapa menunggu Rasya yang tanpa kecewa memdengar perkataannya.
" Tidak apa-apa Syafa. Aku punya banyak waktu luang kok. Ini kan hari Minggu jadi aku bisa menghabiskan waktuku bersama dengan kalian berdua!" ucap Arman sambil menatap kepada Syafa yang sudah menarik perhatiannya selama beberapa bulan belakangan.
" Baiklah terserah kau. Kalau kau mau ikut dengan kami!" ucap Syafa sambil menundukkan kepalanya. Bagaimanapun dia merasa malu ketika Arman terus menatapnya dengan penuh kekaguman.
Semenjak Syafa mengenal Arman siapa bertekad untuk memulai kembali kehidupannya dengan sehat dan mulai melupakan alkohol dan juga rokok.
Rasya sangat tahu tentang hal itu oleh karena itulah dia mendukung apabila Arman memang benar-benar tulus untuk mendekati ibunya dan memulai hubungan baru dengan ibunya yang sudah selalu lama hidup menderita gara-gara Firman sang ayah.
Arman tidak mengetahui kalau Rasya dan Syafa adalah mantan istri dan anak dari Firman. Masih saudaranya sendiri.
Mereka bertiga pun kemudian naik ke dalam mobil Syafa. Untuk pergi ke restoran yang terdekat dari lokasi mereka saat ini karena Arman meninggalkan Mobilnya di tempat itu.
" Wah senangnya akhirnya kita bisa pergi bertiga seperti ini rasanya seperti keluarga yang utuh!" ucap Rasya dengan mata berbinar dan penuh kebahagiaan.
Sementara Syafa yang duduk di bangku belakang hanya bisa melihat interaksi antara mereka berdua.
" Bagaimana dengan sekolahmu jagoanku? Apakah kau mendapatkan ranking pertama?" tanya Arman dengan Antusias.
" Tentu saja! Rasya adalah murid terbaik di sekolahan dan selalu memenangkan segala perlombaan maupun Olimpiade yang dipercayakan oleh pihak sekolah kepadaku!" ucap Rasya dengan penuh kebanggaan sambil menepuk dadanya.
" Wah Om tidak tahu! Kalau ternyata Om sedang duduk bersama dengan orang hebat calon orang hebat tentu saja di masa depan!" ucap Arman Sambil tertawa bahagia kepada Rasya.
" Terima kasih Om Karena Om sudah merasa bangga kepada Rasya padahal ayah kandung Rasya tidak pernah merasa bangga dengan segala prestasi yang kumiliki!" Ucap Rasya dengan sedih kemudian dia mengalihkan pandangannya untuk bisa menghindari tatapan Arman yang merasa aneh dengan apa yang dia katakan.
" Ayolah jagoan! Kau harus kuat menghadapi apapun suatu saat ayahmu pasti akan menyesal karena sudah mengantarkan anak hebat sepertimu!" ucap Arman sambil mengelus punggung Rasya untuk menghibur pemuda tampan itu.
" Terima kasih Om! Rasya berharap semoga papa dan juga istrinya bisa hidup bahagia di sana. Sehingga Mamaku bisa hidup bahagia pula di sini!" ucap Rasya mengulas senyum kepada Arman.
" Tentu saja mamamu dan kamu adalah orang yang baik kalian pasti akan menemukan kebahagiaan suatu saat nanti!" ucap Arman sambil melirik ke arah Safa yang saat ini berada di kursi belakang melalui kaca spion yang ada di hadapannya.
Mata mereka berdua beradu sehingga membuat Syafa merasa malu dan akhirnya memilih untuk melihat ke jendela.
" Rasya Apakah ibumu adalah tipe wanita yang pemalu?" tanya Arman kepada bocah Ttampan itu dan mempunyai sejuta pesona.
" Tidak Om ibuku adalah seorang wanita yang baik dan juga sangat energik!" Ucap Rasya penuh kebanggaan ketika dia menceritakan tentang ibunya.
" Rasya merasa sangat senang setelah Om masuk ke dalam kehidupan kami, sekarang ibuku sudah tidak pernah mabuk maupun merokok lagi. Kehidupannya sudah mulai stabil seperti sebelum Papa kami meninggalkan kami untuk istri mudanya!" Ucap Rasya dengan mata berkaca-kaca.
" Sudahlah jagoan kau jangan menangis lagi. Percayalah hari baik akan datang pada kalian berdua suatu saat nanti!" ucap Arman memberikan penghiburan terbaik kepada Rasya.
' Kasihan mereka berdua yang telah banyak menderita karena seorang laki-laki egois yang tidak memperdulikan perasaan mereka. Aku merasa bersyukur bertemu dengan mereka. Karena mereka telah membuat hidupku menjadi berwarna dan terasa lengkap dalam kesepian dan kesunyianku duduk di atas dunia ini!' batin Arman sambil tetap fokus menyetir.
" Ayo kita turun kita sudah sampai di restoran!" ucap Arman menepikan mobil yang dia kendarai kemudian membukakan pintu untuk Rasya dan Syafa.
" Terima kasih banyak Om!" ucap Rasya dengan penuh kebahagiaan.
Sejak Rasya mengenal Arman. Hidupnya serasa berbeda dan memiliki figur Ayah yang selama ini hilang dan tidak dia temukan dalam sosok Firman yang lebih memilih untuk hidup bersama Laila dan sekarang tinggal di Surabaya bersama keluarga barunya.
" Terima kasih banyak karena Om sudah hadir di antara kami berdoa dan menjadikan hidup kami lebih berwarna dan lebih berarti!" ucap Rasya sambil memeluk tubuh Arman dengan penuh keharuan.
" Ayo Rasya kita masuk ke dalam!" ucap syafah sambil menarik tangan putranya yang masih betah memeluk tubuh Arman yang begitu gagah dan tampan.
" Apakah Kau keberatan Kalau misalkan Rasya menyukaiku sebagai ayahnya?" tanya Arman kepada Syafa.
" Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?" tanya Syafa dengan gugup.
" Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja!" ucap Arman sambil tersenyum ke arah Rasya yang saat ini sedang memberi kode kepadanya.
" Ada apa?" tanya Arman kepada Rasya yang sejak tadi memberikan kode rahasia kepadanya.
" Om setiap malam Ibuku selalu melamun dan memimpikan Om sebagai pasangannya!" bisik Rasya di telinga Arman yang sontak membuat Arman merasa terkejut.
" Betulkah dari mana kau mengetahui hal seperti itu Rasya?" tanya Arman merasa heran.
" Tentu saja karena aku adalah orang yang paling mengenal ibuku di atas dunia ini!" ucap Rasya dengan jumawah.
" Ayolah Rasya katakan dari mana kau mengetahui itu biar om bisa bertindak untuk mewujudkan impian Ibumu itu!" ucap Arman berbisik di telinga bocah tampan yang mempesona bernama Rasya.
Walaupun Rasya baru berusia 12 tahun. Akan tetapi Dia adalah seorang sultan yang akan mewarisi harta kekayaan keluarga Ardiansyah yang diturunkan oleh kakek dan neneknya. Yang diberikan kepada Rasya dari tangan Firman yang sudah menolak perintah dari ayahnya untuk pergi meninggalkan Laila dan memilih Syafa dan Rasya.