Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
318. Teguran



Farhan langsung pergi mencari Amanda di kamar gadis itu. Setelah Manda pergi meninggalkan mansionnya dengan air mata yang berderai begitu deras.


Farhan membawa semua barang-barang yang tadi diserahkan oleh Manda kepadanya untuk dia perlihatkan kepada Amanda.


" Cucuku! Cepat ke sinilah! Kakek ingin bicara denganmu!" Farhan memanggil Amanda untuk mendekat ke arahnya yang sekarang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar Amanda.


Dengan langkah gontai. Amanda kemudian mendekati Farhan dan duduk di sebelahnya. Amanda terus menundukkan wajahnya yang terlihat begitu membengkak karena terus menangis sejak kepergian ibunya.


" Dengarkan kakek Amanda. Kakek akan menjelaskan semua ini hanya satu kali saja dan kau harus mendengarkannya dengan hatimu. Agar kau bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya yang tidak bisa kau lihat dengan mata mu!" ucap Farhan sambil menyerahkan benda-benda yang tadi diserahkan oleh Manda untuk putrinya yang sangat dia cintai.


Amanda tampak mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti kenapa kakeknya memberikan barang-barang berharga itu ke tangannya.


" Apa ini kek?" tanya Amanda dengan suara serak kemudian dia menatap wajah kakeknya yang terlihat begitu Sendu.


Farhan kemudian menceritakan semua kejadian yang tidak diketahui oleh Amanda. Ketika dulu dalam proses keluarga Abimana meminta kepada Manda untuk menyerahkan Amanda dalam pengasuhan mereka.


" Kami dulu memberikan semua harta ini adalah untuk menjamin kehidupanmu ketika kau berada di sisi ibumu waktu itu. Tetapi pada akhirnya kau lebih memilih untuk tinggal bersama dengan kami. Ketahuilah Amanda. Ibumu tidak pernah menggunakan barang yang kami berikan padanya. Dia bahkan tidak mengambil sepeser pun uang yang kakek berikan di dalam rekening ini. Kak bisa memeriksa semuanya sayang!" ucap Farhan sambil memberikan buku rekening yang berada di tangannya kepada Amanda.


Dengan tangan gemetar. Amanda kemudian memeriksa buku rekening yang diberikan oleh kakeknya itu.


Amanda memperhatikan setiap detailnya yang tercatat dalam buku rekening itu. Karena dia tidak mau kalau sampai nanti dia melewatkan sesuatu.


Amanda kemudian melihat kepada kakeknya.


" Kenapa semua ini ada di tangan kakek? Hm? Bukankah ini adalah milik mamaku?" tanya Amanda dengan begitu bingung sambil menatap lekat ke arah Farhan.


Farhan kemudian menjelaskan segalanya kepada Amanda. Bahwa ibunya yang tercinta, dia telah menyerahkan semua harta itu kepada putrinya.


" Dia tidak pernah menggunakan apapun yang kami berikan kepadanya saat kami dulu mengambil kamu dari dia. Tetapi ibumu, dia hanya menyimpannya saja. Ibumu persiapkan untuk diberikan kepadamu ketika kau sudah dewasa. Sekarang dia memberikannya kepadamu karena kau sudah cukup umur untuk bisa mengelola semua ini!" ucap Farhan sambil menggenggam telapak tangan Manda yang terasa begitu dingin.


Terlihat Amanda yang sekarang malahan menangis tersedu-sedu. Ketika mendengar semua penjelasan kakeknya perihal tentang ibunya dan semua bukti-bukti yang ada di tangannya sekarang. Bahwa ibunya tidak pernah menjual dia kepada keluarga Abimana untuk kekayaan yang melimpah.


" Teleponlah ibumu sayang. Minta maaf lah kepada ibumu. Kasihan sekali dia. Dia sangat mencintaimu Amanda. Ibumu, dia rela hidup menderita hanya untuk kebahagiaanmu. Ibumu melepaskanmu untuk tinggal bersama kami, semuanya adalah demi masa depanmu. Demi mempersiapkan kebahagiaanmu karena dia sadar bahwa dia tidak akan pernah mampu memberikan semua yang bisa kami berikan untukmu!" ucap Farhan sambil mengelus kepala Amanda yang sekarang mulai menangis tersedu di dalam pelukannya.


Amanda kemudian mengambil ponselnya dan berniat untuk memanggil sang ibu. Amanda ingin meminta maaf atas semua kata-kata jahat yang telah dialontarkan kepada ibunya.


Selama setengah jam panggilan teleponnya tidak ada yang mengangkat. Amanda hampir menyerah untuk bisa berbicara dengan ibunya.


Di saat Amanda bersiap untuk menutup teleponnya, tiba-tiba saja ada suara laki-laki yang menjawab panggilannya di sebrang sana. Amanda mengerutkan keningnya dia merasa tidak senang dengan fakta tersebut.


" Kenapa kau diam sayang? Cepatlah bicara!" ucapan mengingatkan Amanda untuk berbicara dengan ibunya.


" Maafkan aku. Apakah aku bisa bicara dengan Manda pemilik ponsel ini?" tanya Amanda dengan suara yang begitu gemetar.


Mark yang mengangkat telepon dari Amanda kemudian dia melihat nama yang tertera di dalam ponsel tersebut.


" My princess?" Mark mengulang nama yang tertulis di dalam ponsel milik Manda.


" Apakah kau putri dari Manda?" tanya Mark mencoba untuk menebak status seorang Amanda bagi Manda yang sekarang sedang terbaring lesu di ranjang rumah sakit.


Tadi setelah menghabiskan satu mangkok bubur buatan Mark. Tiba-tiba saja Manda memuntahkan semua makanan tersebut dan akhirnya dia jatuh pingsan di dalam pangkuan Mark yang begitu panik dan khawatir dengan keadaan Manda.


" Benar! Aku adalah putrinya. Anda siapa ya? Kenapa ponsel Ibuku berada di tanganmu?" tanya Amanda penuh dengan rasa penasaran tentang sosok yang begitu lancang mengangkat telepon ibunya.


Mark kemudian mengaku pada Amanda bahwa dirinya adalah suami dari Manda. Walaupun dia merasa takut kalau sampai nanti Elena akan menangkap ataupun mengetahui statusnya itu.


Tetapi saat ini, hal itu tidak penting sama sekali. Karena dia harus menjelaskan status dirinya kepada putri Manda wanita yang selama ini sangat dia cintai.


" Jadi kau adalah suami Ibuku yang baru? Kenapa Ibuku selama ini tidak pernah bercerita tentangmu?" tanya Amanda seperti tidak percaya dengan keterangan dari Mark perihal statusnya di dalam kehidupan Manda.


Mark kemudian menjelaskan semua situasi yang sedang terjadi kepada Amanda. Bahwa saat ini Manda sedang berada di rumah sakit karena kekurangan gizi dan juga mag akut yang menyerangnya. Setelah dia selama tiga hari tiga malam tidak makan dan tidak minum sehingga akhir dari semuanya bagwa lambung Manda bermasalah.


Mendengarkan cerita Mark. Hati Amanda seketika mencelos. Setelah dia mengetahui bahwa ibunya bahkan sampai tidak makan dan tidak minum. Semenjak kepulangannya dari kediaman Abimana pada hari terakhir mereka bertemu.


Amanda kemudian menanyakan alamat rumah sakit di mana ibunya sedang dirawat sekarang kepada Mark.


Amanda kemudian memberikan alamat Rumah Sakit tersebut kepada Amanda. Setelah menutup teleponnya. Amanda kemudian mengajak Farhan untuk menjenguk ibunya yang saat ini sedang sakit dan terbaring lemah di rumah sakit.


" Ada apa Amanda? Kenapa dengan wajahmu yang begitu sedih? Hmmm? Apakah ada masalah dengan ibumu?" tanya Farhan sambil mengelus jemari Amanda dengan begitu lembut dan perhatian yang terpancar begitu jelas dari wajah tuanya.


Amanda seketika memeluk Farhan dengan begitu erat. Manda ingin sekali mengutarakan semua perasaan yang merasa bersalah kepada sang ibu yang sekarang sedang sakit gara-gara dirinya.


" Mama sedang sakit sekarang kek itu pasti gara-gara saya yang sudah mengatakan banyak hal buruk kepadanya! Hiks hiks!" Amanda terus merancau menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membuat sang ibu mengalami tekanan batin sehingga tidak memiliki selera makan selama berhari-hari dan sekarang berimbas kepada kesehatan sang ibu yang terus-menerus drop.


Farhan menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tahu tidak mudah untuk menerima kebencian dari putrinya jadi dia bisa mengerti kenapa sosok Manda sampai saat ini begitu penasaran untuk bisa hidup bersama dengan Amanda sepanjang hidupnya yang tersisa.


" Tenanglah Amanda. Ibumu sakit pasti karena merasa bersalah karena sudah membuatmu membenci dia sejak terakhir pertemuan kalian kemarin!" ucapan menjelaskan segalanya kepada Amanda agar cucunya tidak merasa sedih lagi.


Farhan kemudian bangkit dari duduknya dan menarik tangan Amanda untuk ikut dengannya sehingga mereka bisa bertemu dengan Amanda di rumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman Abimana.


" Ayo kita tengok ibumu. Ibumu Pasti akan sangat senang ketika melihatmu berada di sisinya kakek harap kehadiranmu bisa menjadi mood booster untuk Ibumu bisa kembali pulih seperti sedia kala!" ucap Farhan sambil terus tersenyum kepada Amanda.