Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
120. Sekolah baru



"Ya, Mah! Adrian sekarang akan berusaha untuk melepaskan Om Ilham bersama istrinya!" ucap Adrian sendu.


"Sudah jangan bersedih lagi. Kan kamu hanya kehilangan Om Ilham sekarang seluruh keluargamu sudah kembali. Lupakanlah semuanya dan mulailah lembaran baru. Kami juga merindukanmu, Adrian!" ucap neneknya Adrian sembari menggenggam tangan cucunya.


"Oh ya, Pah mah! Kemarin waktu Adrian mau kembali ke sini, Om Ilham mengatakan sesuatu kepada Adrian!" ucap Adrian. Tetapi dia tampak ragu untuk mengatakannya.


"Mengatakan apa?" tanya Kesya penasaran.


"Om Ilham bilang, kalau nanti dedek bayi lahirnya perempuan maka dia akan dijodohkan dengan Adrian!" ucap Adrian ragu-ragu. Sontak yang dikatakan adzan tersebut mengundang tawa mereka semua.


"Wah Adrian berarti, kamu walaupun baru berumur 11 tahun, tetapi sudah punya calon istri?" tanya Amanda tampak kegirangan.


"Amanda jangan terus mengejek adikmu. Nanti Adekmu nangis lagi!" tegur Neneknya.


"Maaf, Nek! Tapi Adrian sungguh beruntung loh, mempunyai seorang calon istri, yang anak seorang Kyai dengan santri puluhan ribu orang. Wah sungguh hebat sekali!" ucap Amanda bahagia sekali.


"Kalau kakak mau, gantikan saja Andrian untuk menjadi menantunya Om Ilham!" ucap Adrian dengan serius.


"Bagaimana bisa?" tanya Amanda bingung.


"Tentu saja bisa! Kalau anak yang dilahirkan oleh tante Qonita seorang laki-laki. Tentu dia bisa menikah dengan Kak Amanda!" ucap Adrian sambil menjulurkan lidahnya.


"Sembarangan saja kau Adrian! Bagaimana mungkin aku menikah dengan anak kecil? Kau lihat usiaku sudah berapa? Sementara dia saja masih belum lahir!" cicit Amanda kesal dengan Adrian.


"Sudah kalian! Baru bertemu sebentar sudah pada berantem!" tegur Kesya tidak suka.


"Mah ka Amanda yang duluan mengejek Adrian!" rengek Adrian.


"Kalian berdua ini, kalau saling berjauhan, saling merindukan. Kalau dekat pasti pada berantem!" ucap Nenek menggelengkan Kepalanya.


" Ya sudah ayo kalian makan dulu!" ucap Kesya sambil mengelus keduanya.


" Amanda kan sudah remaja ya? Sama adiknya jangan ngajak berantem terus!" nasehat Andika ketika dia masuk ke ruang keluarga.


"Pah katanya Adrian akan dijodohkan dengan anaknya Kyai Ilham kalau nanti yang lahir adalah perempuan!" ucap Amanda.


"Benarkah itu Adrian?" tanya Andika. Adrian tampak cemberut.


"Betul, itu! Katanya Kiai Ilham sendiri yang mengatakannya kepada Adrian. Bagaimana menurutmu Andika?" tanya ibunya Andika.


"Ya kalau memang mereka berjodoh. Kenapa tidak? Biarkan saja toh itu juga masih lama." ucap Andika sambil duduk dihadapan Adrian.


Adrian tampak bermain dengan adiknya yang sudah sangat lama tidak dia temui. Kesehatan Cakra sudah semakin membaik setelah dirawat lebih dari satu bulan.


"Mah kenapa nafasnya Adek Cakra tampak terengah-engah ya?" tanya Adrian tampak heran melihat kondisi adiknya.


"Itu karena perbuatan pengasuhnya yang kurang ajar. Sudah melelapkan Cakra di air sabun di bathtub. Untung saja waktu itu kami segera bertindak dan menyelamatkan Cakra dari tangannya. Ternyata hal seperti itu tidak satu dua kali dia lakukan. Itulah yang membuat kesehatan Cakra, adikmu menjadi terganggu!" jawab Andika dengan geram.


"Kakak pasti akan bermain denganmu selalu. Cakra kau tidak akan kesepian lagi karena Kakak sekarang sudah ada di sini!" Adrian mengelus adiknya penuh dengan kasih sayang.


Amanda juga mendekat kepada Adrian dan juga mencium Cakra yang kini sudah mulai riang kembali.


"Adrian Istirahatlah. Kamu dari tadi main terus. Apa tidak capek? Kau bisa tidur dengan adikmu kalau merindukannya!" ucap neneknya. Adrian kemudian menggendong adiknya menuju kamarnya.


Adrian sangat menyayangi Cakra karena hanya dia adiknya satu-satunya. Begitu juga jangan Amanda. Amanda juga sangat menyayangi Adrian dan Cakra.


"Adrian Kakak pulang dulu ya? Besok kita bermain lagi setelah Kakak pulang dari sekolah. Ingat kamu beristirahatlah. Pasti kau sangat lelah setelah perjalanan yang sangat panjang." ucap Amanda berpamitan kepada Adrian dan Cakra.


Setelah Amanda dan kedua orangtuanya pulang, Andika dan Kesya masuk ke kamar Adrian dan mengucapkan selamat malam kepadanya.


"Selamat malam Adrian. Semoga kamu senang ya? Bertemu dengan kamarmu lagi. Tidur yang nyenyak biar besok bisa sekolah lagi." ucap Kesya sambil mencium kedua putranya dengan penuh kasih sayang.


"Selamat malam juga Pah mah semoga kalian pun tidur nyenyak!" ucap Adrian sambil memeluk keduanya.


Kesya dan Andika kini sudah masuk di kamar mereka. Setelah selama satu minggu lamanya berpisahan dengan kamar tersebut.


Sekarang Andika dan Kesya sudah pindah ke kamar yang baru. Kamar yang dulu ditempati oleh mereka kini sudah belum alih fungsi menjadi kamar tamu.


Andika bersikeras tidak ingin menempati kamar itu lagi. Karena dia tidak suka Maria pernah tidur di atas kasur mereka berdua.


"Pah! Bagaimana pendapat Papa tentang niat Kiai Ilham untuk menjodohkan Putra kita dengan putrinya. Kalau sudah lahir?" tanya Kesya dipelukan suaminya.


"Papa juga tidak tahu. Lagi pula kan Kyai Ilham tidak mengatakan kepada kita. Sewaktu kemarin kita menjemput Adrian. Mungkin itu hanya gurauan saja bersama dengan Adrian agar Adrian tidak merasa sedih berpisah dengannya!" ucap Andika.


"Tapi setahu Mama Kiai Ilham itu termasuk orang yang serius dan tidak pernah bercanda. Mungkin nanti kita perlu membicarakan hal ini. Karena bagaimanapun juga, pasti sudah dipikirkan oleh Kyai Ilham secara matang. Karena dia mengatakan hal ini langsung kepada Adrian!" ucap Kesya.


"Sudahlah sayang, nggak usah dipikirkan lagi. Ayo kita tidur rasanya lelah sekali. Setelah perjalanan yang sangat panjang itu. Papa sangat Rindu denganmu!" ucap Andika sambil mencium bibir istrinya.


Akhirnya mereka berdua pun melepaskan kerinduan mereka terhadap satu sama lainnya. Setelah satu minggu lamanya mereka berpuasa. Rasa lelah selama di perjalanan membuat mereka tidak ada mood untuk melakukan ibadah yang paling nikmat itu. Akhirnya sekarang mereka baru merasakan, kerinduan itu. Setelah merasa puas Mereka pun akhirnya tidur dengan nyenyak.


Keesokan harinya. Mereka pun langsung mengantarkan Adrian ke sekolah baru. Agar Adrian tidak ketinggalan terlalu banyak pelajaran. Mengingat sebentar lagi akan masuk ke ujian kelulusan.


"Semoga kamu senang ya? Di sekolah baru dan mendapatkan teman yang baru. Ingat jangan cari masalah dengan teman-temanmu ya? Cobalah untuk bergaul dengan mereka!" nasehat Kesya sambil mencium pipi Adrian.


"Ih Mama cium-cium Adrian! Malu tahu Adrian ini sudah besar. Nanti teman-teman pasti mengejek Adrian. Bilang kalau Adrian anak Mama!" ucap Adrian kesal.


"Adrian kan memang anaknya Mama. Emang apa yang salah kenapa Adrian tidak suka?" tanya Kesya tampak sedih hatinya.


"Bukan seperti itu maksud Adrian, Mah! Maksudnya nanti teman-teman mengira kalau Adrian itu adalah anak manja!" ucap Adrian.


"Ya sudah Mama pulang ya? Kamu baik-baik belajar. Nanti Mama jemput kalau sudah waktunya pulang!" ucap Kesya.


Andika hanya menunggu di mobil saja. Tidak mengantarkan Adrian ke dalam kelas. Karena dia sibuk membalas email-email dari para rekan kerjanya sambil menunggu Kesya selesai mengantarkan Adrian ke sekolah barunya.