
Saat ini Zahra sedang berada di bandara dalam rangka menjemput kakaknya yang akan datang dari Mesir bersama seluruh keluarganya. Dengan ditemani oleh beberapa orang santri, Zahra kini sedang menunggu kedatangan kakaknya yang masih belum juga nampak kelihatan.
Berdasarkan pengumuman pihak bandara terjadi delay karena ada masalah. pesawat mengalami gangguan pada mesinnya sehingga mereka harus melakukan perbaikan dulu di bandara terdekat.
Sementara itu, Rasyid yang saat ini sedang berada di Rumah Sakit bersama dengan Uminya Zahra, tampak mulai panik karena sudah beberapa jam sejak Kyai Hamid masuk ke ruang UGD. Tetapi masih belum ada kabar sama sekali dari pihak dokter yang menangani beliau.
"Semoga Abi baik-baik saja jangan sampai terjadi hal yang buruk Kepada beliau!" doa Uminya Zahra untuk suaminya yang saat ini sedang berjuang untuk melewati masa kritisnya.
"Amin, amin, Umy! Abi adalah orang yang baik! Pasti akan diberikan jalan yang terbaik oleh Allah! Doa terbaik selalu kita hadiahkan untuk Abi!" ucap Rasyid dengan suara yang bergetar karena saat ini hatinya sangat sedih sekali dengan keadaan Kyai Hamid, ayah mertuanya.
Rasyid benar-benar menyesali ketidaktelitiannya saat itu. Kenapa ketika ada di rumah sakit tadi siang, dia tidak memperhatikan beliau dengan baik. Kalau tidak, hal ini mungkin tidak akan terjadi. Kesehatan beliau masih bisa ditanggulangi. Kalau waktu itu beliau langsung dirawat.
"Maafkan Rasyid, Umi! Yang tidak peka dengan kesehatan Abi. Kalau tadi siang kita langsung memaksa Abi untuk dirawat mungkin keadaan Abi tidak akan separah ini!" Rasyid dengan penuh penyesalan yang saat ini ada di dalam hatinya.
"Tidak Rasyid, ini bukan salahmu! Kesehatan Abi dari kemarin memang sudah drop. Hanya saja dia yang menyembunyikannya kepada kita. Karena takut kita khawatir!" Uminya Zahra dengan berderai air mata.
"Tadi siang, sebetulnya dokter sudah menyarankan sama Abi untuk dirawat. Tetapi Abi yang menolak. Karena katanya tidak ingin menghabiskan waktunya di rumah sakit!" ucap Umi lagi dengan sesegukan.
"Astagfirullah, Umi! Kenapa Umi tidak bilang sama Rasyid? Kalau Umi bilang, Rasyid pasti akan memaksa Abi untuk dirawat tadi siang. Sehingga keadaan Abi tidak seperti ini sekarang!" ucap Rasyid dengan nada penyesalan yang besar saat ini.
"Maafkan Umi, Rasyid! Tetapi Abi yang sudah mengatakan kepada Umi dan meminta Umy berjanji agar tidak menyampaikan perihal dokter yang menyuruh dia agar dirawat di rumah sakit kepada kamu!" ucap ibunya Zahra sambil menatap Rasyid yang saat ini mulai menangis.
"Sebenarnya Abi sudah tahu tentang penyakitnya sejak 1 bulan yang lalu. Tetapi Abi berusaha untuk menyembunyikannya kepada kita. Karena Abi tidak ingin kita sampai khawatir tentang kondisinya!" Uminya Zahra kepada Rasyid.
"Memangnya apa Sakitnya Abi, umi?" Rasyid dengan penuh rasa penasaran yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Kanker lambung dan itu sudah masuk stadium 4!" Umi kemudian menangis tersedu.
"Astaghfirullahaladzim, Ya Allah! Kenapa Abi harus menyembunyikan penyakit seserius itu?" tanya Rasyid dengan penuh rasa penasaran yang tidak ada habisnya. Kepada ayah mertuanya yang sampai menyembunyikan penyakit seserius itu kepada keluarganya.
"Jadi selama ini Abi tidak pernah mengobati penyakit itu?" tanya Rasyid.
"Aby, mengobatinya! Kau ingatkan? Setiap satu minggu sekali. Aby selalu mengatakan ingin ziarah ke Cirebon?" tanya umy kepada Rasyid.
"Saat itulah Abi datang ke rumah sakit dan menjalani kemoterapi. Abi memohon kepada Umi untuk menyembunyikan kondisi kesehatannya kepada kalian. Aby merasa khawatir kalian akan bersedih dan juga khawatir dengan kondisi Aby!" kini Umi sudah menangis semakin deras air matanya mengingat keadaan suaminya yang sedang melawan maut di dalam ruangan UGD.
Rasyid kemudian bangkit dari duduknya dia terus mondar-mandir di hadapan Ibu mertuanya yang saat ini sedang menangis.
Beberapa santri yang tadi mengikuti mereka ke rumah sakit pun, sekarang tampak mulai berderai air mata kesedihan. Karena mereka pun sedih mengetahui keadaan Kyai mereka yang ternyata sedang sakit parah.
"Kenapa Abi harus menyembunyikan penyakitnya dari kita, Umi? Kalau saja, kita tahu sejak awal, kita pasti bisa berusaha untuk menyembuhkannya!" sesal Rasyid.
"Rasyid! Abi sudah memberikan wasiatnya sama Umi! Kalau nanti umur Abi sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan kalau Ahmad tidak bersedia untuk melanjutkan tonggak kepemimpinan di pondok pesantren, Abi menginginkan agar kamu bersedia untuk melanjutkan perjuangannya!" ucap Umi dengan suara terbaru-bata.
Raayid sangat terkejut ketik mendengarkan apa yang disampaikan oleh ibu mertuanya. Yaitu mengenai wasiat Kyai Hamid yang menginginkan dirinya agar melanjutkan tonggak kepemimpinan di pondok pesantren yang sudah dirintis oleh mertuanya sejak beliau masih muda.
"Rasyid tidak akan mungkin sanggup untuk menerimanya, Umi. Rasyid takut kalau Rasyid tidak mampu untuk melanjutkan perjuangan Abi yang begitu luar biasa!" ucap Rasyid sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu harus percaya Rasyid! Bahwa Abi benar-benar mempercayaimu. Bukankah selama ini, Apabila Abi tidak ada di pondok, kau yang selalu menggantikan tugasnya?" tanya Umi sambil menatap Rasyid dengan lekat. Ada sebuah harapan yang besar di sana yang bisa dilihat oleh Rasyid saat ini.
"Rasyid tetap berdoa! Semoga kak Ahmad bersedia untuk melanjutkan tonggak kepemimpinan di pondok pesantren!" ucap Rasyid mantap.
"Rasyid! Kenapa kamu tidak bersedia untuk melanjutkannya?" tanya Umi tampak penasaran dan keheranan dengan keteguhan hati Rasyid untuk menolak tugas itu.
"Pondok pesantren itu adalah perjuangan Abi dan Umi sejak masih muda. Bagaimana mungkin? Rasyid yang tidak punya pengalaman dan tidak memiliki andil di dalamnya, sanggup untuk melanjutkan itu? Rasyid takut nanti malah mengecewakan kepercayaan Abi! Rasyid lebih memilih untuk membangun Pondok sendiri, daripada melanjutkan pondok pesantren yang sudah dibangun dengan susah payah oleh Abi!" ucap Rasyid nyaris tidak ada keraguan sama sekali dalam perkataannya saat ini.
Umynya Zahra menarik nafas dalam-dalam. Sejujurnya, ada rasa kekecewaan di hatinya. Ketika melihat Rasyid yang begitu kekeh menolak tugas yang sudah diembankan kepada Rasyid oleh suaminya. Yang saat ini sedang berjuang untuk melawan maut di dalam ruangan UGD.
"Bagaimana? Apakah sudah ada kabar dari Zahra mengenai kedatangan Ahmad?" tanya Umi kepada Rasyid.
Rasyid menggelengkan kepalanya.
"Terakhir Zahra menghubungi Rasyid, katanya pesawatnya mengalami delay. Karena ada masalah dengan pesawatnya. Sehingga mereka transit dulu di bandara yang terdekat dengan posisi mereka saat pesawat itu mengalami kerusakan!" ucap Rasyid yang mencoba menerangkan kondisi Ahmad beserta keluarganya saat ini.
"Kita doakan semoga mereka sampai ke Indonesia dengan selamat dan semoga mereka bisa bertemu dengan Abi!" kemudian Uminya Zahra pun menangis sesegukan. Karena beliau tengah memikirkan hal terburuk yang mungkin saja akan terjadi kepada suaminya saat ini.