
Andika langsung menarik tangan Kesya mengajaknya untuk keluar dari situasi yang benar-benar membuatnya jengkel.
" Dengar ya Serda! Aku sudah tidak ada urusan apapun denganmu lagi. Sebaiknya sekarang kau menyingkir dari hadapanku! Jangan menghalangi langkahku bersama dengan istriku untuk kembali ke mention kami!" ucap Andika karena sudah kehabisan kesabaran terhadap Serda yang sejak tadi terus saja mencari masalah dengan mereka berdua.
" Kenapa kamu jahat sekali Andika? Aku sudah menunggumu selama 15 tahun lamanya! Kenapa kau tidak memiliki itikad baik sama sekali kepadaku. Setidaknya kau harus minta maaf bukan kepadaku karena sudah memberikan janji palsu untuk melamarku!" ucap Serda dengan mata memerah karena emosi merasa tidak dianggap oleh Andika maupun Kesya.
" Minta maaf katamu? Memangnya aku melakukan salah apa? Masalah kau yang telah menungguku selama 15 tahun lamanya, itu adalah perkaramu karena kau bodoh mempercayai laki-laki asing yang baru kau kenal! Sekarang juga menyingkir dari hadapanku! Sebelum aku melapor polisi karena kau sudah membuat keributan dan melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan!" ancam Andika dengan mata memerah.
" Sabarlah, Sayang. Jangan menanggapi semua hal dengan emosi segala sesuatu bisa dibicarakan baik-baik!" ucap Kesya sambil menyentuh lengan Andika.
Andika menarik nafasnya dengan dalam. Sungguh saat ini hatinya benar-benar sangat kesal dan marah karena melihat Serda yang sepertinya masih tidak mau juga mendengarkan perkataannya.
" Kau mau melaporkan aku ke kantor polisi? Maka pasti kaulah yang akan masuk penjara karena kau sudah menipuku!" ucap Serda dengan mata berapi-api.
Mendengarkan perkataan Serda sontak Andika pun tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan lelucon wanita itu.
" Memangnya kau memiliki bukti kalau aku melakukan penipuan terhadapmu? Bahkan aku saja sudah lupa tentang janji yang kukatakan kepadamu 15 tahun yang lalu?!" ucap Andika sambil tertawa merasa lucu dengan kata-kata Serda.
" Sudahlah Ayo kita pulang saja tidak usah menanggapi hal ini terlalu serius!" ucap Kesya yang kemudian menarik tangan Andika untuk menjauh dari Serda yang tampak hendak menangis mendengarkan perkataannya.
Andika dan Kesya kemudian meninggalkan tempat itu yang sudah mulai ramai dilihat oleh para pengunjung yang lain.
" Sudahlah Pah! Tidak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja itu seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang ke dalam hidup kita. Besok kita kembali ke Dubai dan akan melupakan semua ini dan menganggapnya tidak pernah terjadi!" ucap Kesya berusaha untuk menghibur Andika Yang sepertinya merasa bete dan tidak senang karena kejadian tadi.
Kesya dan Andika pun kemudian langsung masuk ke dalam mobil mereka tidak memperdulikan Serda yang dari tadi terus berlari dan memanggil namanya.
" Aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin ada orang seperti dia sih di dunia ini? Orang yang masih menunggu janji 15 tahun lamanya. Allah, Allah! Itu benar-benar sangat tidak masuk akal!" tidak ada habisnya Andika terus menggerutu sepanjang perjalanan.
Kesya hanya bisa terdiam melihat Andika yang benar-benar merasa terganggu dengan insiden malam ini.
" Maafkan aku ya sayang yang tadi sudah memaksamu untuk pergi jalan-jalan keluar. Mungkin kalau tadi kita diam di rumah saja, tidak akan mengalami nasib buruk seperti ini! Aku Jadi menyesal sekarang!" ucap Kesya sambil meremas tangan Andika yang terasa dingin.
Mobil mereka berdua sudah meninggalkan area di mana mereka berdua tadi bertemu dengan Serda.
" Besok kita harus segera kembali ke Dubai sayang. Jangan sampai perempuan gila itu mendatangi kita lagi di sini! Aku tidak mau berurusan dengan dia lagi dia benar-benar membuat stress dan pusing kepalaku!" ucap Andika yang berusaha untuk menenangkan dirinya Setelah mengalami kejadian yang begitu mengguncangkan dirinya.
Kesya berusaha untuk menghibur sang suami yang tampaknya benar-benar terganggu dengan kehadiran Serda.
" Coba nanti kita bicarakan dengan Papah untuk membicarakan masalah ini. Kita tanyakan saja pendapatnya bagaimana!" ucap Kesya berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan Serda yang tadi memintanya untuk bercerai dengan Andika agar Andika bisa menikahinya.
" Sudahlah sayang. Kita hadapi masalah ini berdoa. Tolong jangan melibatkan Papaku. Kasihan papa dia sudah terlalu banyak masalahnya. Saya rasa kita berdua sudah dewasa bisa menyelesaikan masalah kita sendiri!" ucap Andika pelan.
Andika memijit pelipisnya yang terasa begitu sakit memikirkan masalah yang seakan tidak pernah ada akhirnya silih berganti datang melingkupi ruang hidupnya.
" Setelah ini kita langsung tidur saja. Supaya besok pagi-pagi kita bisa segera berangkat ke Dubai. Sayang, Papa tidak mau lagi untuk berlama-lama berada di Prancis!" ucapan nikah sambil menatap tajam Kesya yang dari tadi hanya menatapnya dengan lekat.
" Katakan padaku Pah. Apakah Papa pernah mencintai Serda!? Soalnya aneh aja gitu, kok papa bisa-bisanya menjanjikan melamar dia tetapi malah melupakannya sampai 15 tahun lamanya?" tanya Kesya merasa penasaran.
" Entahlah sayang. Aku juga lupa tentang masalah itu. Apakah dulu aku pernah mencintai atau tidak. Tapi yang jelas aku sekarang tidak mencintainya karena aku hanya mencintaimu seorang! Aku tidak akan mentolernya kalau dia datang lagi dan memintaku untuk menceraikanmu. Sungguh sayang aku pasti akan menuntut dia ke pengadilan atas perbuatannya yang tidak menyenangkan dan mengganggu rumah tangga kita!" ucap Andika dengan serius.
Kesya hanya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan sang suami yang begitu yakin hendak menuntut Serda.
Begitu mereka sampai di Mansion, mereka duanya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga berganti pakaian.
Farhan juga sudah mulai masuk ke dalam kamarnya karena mengingat waktu yang memang sudah malam.
Sementara Amanda tampak sibuk dengan teleponnya. Entah sedang berbicara dengan siapa.
" Apakah kau belum tidur sayang? Ini sudah malam loh!" tegur Andika ketika dia melihat putrinya masih sibuk memainkan ponselnya dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.
" Sebentar dulu ya pah. Amanda sedang berbicara dengan Mama!" ucap Amanda sambil tersenyum kepada ayahnya yang tersenyum kecut kepadanya.
' Ya ampun! Kenapa semua wanita yang pernah hadir dalam hidupku rata-rata memberikan kepusingan tersendiri kepadaku? Tampaknya hanya Kesya yang selalu memberikan kedamaian untukku dan tidak pernah membuatku pusing kepala seperti ini!' batin Andika sambil meninggalkan Amanda yang sedang sibuk berbicara dengan ibu kandungnya di telepon.
Andika langsung masuk ke dalam kamarnya ketika dia melihat Kesya yang juga sedang sibuk berteleponan.
" Berbicara dengan siapa sayang? Kenapa serius sekali?" tanya Andika sambil mengerutkan keningnya ketika melihat istrinya yang sedang berteleponan.
" Mama sedang bicara dengan Adrian! Kenapa Papa merasa cemburu?" tanya Keisha sambil mengulas senyum kepada suaminya yang langsung mendekatinya.
" Papa juga ingin bicara dengan Adrian Sayang. Apakah dia baik-baik saja?" tanya Andika sambil menyelusup ke dalam pelukan sang istri yang selalu dia rindukan.
" Adrian apakah kau ingin bicara dengan ayahmu?" tanya Kesya kepada Putra mereka.
Adrian yang saat ini sedang menelpon ayahnya dengan menggunakan nomor telepon dari Kyai Ilham, Adrian tampak menatap kepada Kyainya yang saat ini sedang bersamanya.
" Tidak apa-apa kau gunakanlah telepon itu mungkin kedua orang tuamu merindukanmu!" ucap Kyai Ilham yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi mencari Syifa.
Setelah melihat Kyai Ilham meninggalkannya Adrian pun kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya dengan kedua orang tuanya.
" Ada apa jagoanku kau menelpon kami? Baru satu bulan kau sudah meminta pulang lagi?" tanya Andika dengan suara datar.
Adrian menarik nafasnya dalam-dalam kemudian dia pun menghembuskannya dengan kasar.
" Adrian menelpon kalian bukan karena ingin pulang tetapi karena rindu dengan kalian apakah tidak boleh menghubungi papa?" tanya Adrian dengan kesal kepada ayahnya.
Tampak Andika tertawa menanggapi perkataan putranya yang seperti kesal kepadanya.
" Tidak apa-apa sayang. Kalau kau ingin menghubungi kami. Kok bisa menghubungi kami kapan saja!" ucap Andika.
Setelah percakapan yang lumayan panjang antara ibu, anak dan ayahnya. Andika pun kemudian berpamitan kepada putranya yang kebetulan memang harus segera mengaji.
" Tampaknya Putra kita sudah senang berada di pondok pesantren. Lihatlah satu bulan baru dia menghubungi kita dulu waktu pertama kali dia berada di pondok pesantren hampir satu minggu sekali Dia selalu menelpon ke rumah kita!" ucap Kesya sambil tersenyum ketika membayangkan Adrian yang dulu sangat manja dan selalu merengek untuk pulang ke Dubai.
" Putra kita sudah besar mah. Wajar kalau dia sekarang sudah bisa berpikir secara dewasa. Papa berharap pada usianya 20 tahun nanti, dia sudah siap untuk memikul tanggung jawabnya sebagai pemimpin dari Abimana grup menggantikan tugasku." ucap Andika sambil tersenyum kepada istrinya.
Kesya yang mendengarkan keinginan suaminya hanya bisa mengaminkan dalam hati agar keinginan suaminya bisa terkabul.
" Ayo kita tidur sayang. Papa mau besok kita harus meninggalkan Dubai pagi-pagi sekali. Kenapa Pak tidak mau kalau sampai Serda menemukan mention ini dan kembali membuat kehebohan!" ucap Andika yang sudah bersiap untuk naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur pada malam hari itu.
Keesokan paginya mereka bertiga berpamitan kepada Amanda dan Farhan untuk kembali ke Dubai karena pekerjaan Andika yang sudah menantinya setelah ditinggalkan hampir satu minggu lamanya.
" Papa hati-hatilah di sini nanti Andika akan menyewakan satu orang suster untuk menjaga papa dan memastikan kesehatan papa!" ucap Andika berpesan kepada ayahnya.
" Sudahlah tidak usah khawatirkan Papa. Papa baik-baik saja. Sekarang yang penting kalian berhati-hatilah di jalan dan ingat kau harus berhati-hati ketika mengurus sebuah perusahaan. Karena ada banyak, ribuan bahkan ratusan ribu karyawan yang sedang menggantungkan hidupnya di atas bahumu! Ingat pesan Papa ini Andika!" pesan Farhan sebelum Andika dan Kesya serta Cakra meninggalkan Perancis dengan menggunakan jet pribadi milik Abimana grup.