Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
197. Pindahan Yang Gagal



Ayana langsung memeluk tubuh Agus begitu suaminya berada di atas ranjang.


" Ayolah kita pindah sekarang ke rumahku nanti kalau sudah siang jalanan akan semakin ramai!" ucap Agus berusaha melepaskan diri dari Ayana.


" Kenapa kita tidak tinggal di sini saja? Rumah ini juga sangat besar. Tidak akan sempit menambah walaupun menambah satu orang saja di sini!" ucap Ayana masih memejamkan matanya dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.


" Kan tidak ada perjanjian kalau kita akan tinggal di sini? Aku pun tidak ingin harus menundukkan kepalaku di hadapan ibumu!" ucap Agus berbisik di telinga Ayana.


" Ayolah hidup tuh jangan terlalu canggung seperti itu tidak apa-apa. Kalau kita tinggal di sini tuh anak Mamaku juga cuman aku! Mama pasti sangat senang kalau kita tinggal di sini!" ucap Ayana sambil membuka matanya dan menatap Agus yang saat ini sedang menatap dirinya.


" Apakah kau tidak percaya padaku bahwa aku bisa membahagiakanmu?" tanya Agus kepada Ayana yang membenamkan wajahnya di pelukan Agus.


" Aku hanya belum siap untuk meninggalkan mama!" ucap Ayana.


" Oh Ayolah sayang! Kau jangan bercanda denganku. Bukankah selama ini kau tinggal di apartemen dan meninggalkan mamamu sendirian di rumah ini?" tanya Agus sambil mencubit hidung Ayana yang membuatnya gemes sekali.


" Kalau kau tidak bangun. Maka aku akan memberikan hukuman!" ucap Agus pelan. Mengancam Ayana agar segera bangun dari tempat tidur dan bergegas pindah ke rumah yang sudah dia siapkan.


" Baru menikah satu hari. Apa kau tega menghukum istrimu ini yang tidak berdosa?" tanya Ayana dengan memasang puppy eyes.


" Ya ampun kalau kau seperti itu terus, benar-benar membuatku sangat gemas dan ingin mencubit kamu!" ucap Agus Sambil tertawa terkekeh melihat kelakuan Ayana yang sangat menggemaskan.


" Memangnya hukuman apa yang ingin kau berikan padaku? Hmmm?" tanya Ayana sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Agus yang begitu membuat dia tenang.


" Aku akan meminta haku sebagai suamimu!" berisik Agus di telinga Ayana sehingga membuat Ayana langsung merinding karenanya.


" Ya ampun kau yang bercanda!" ucap Ayana sambil tertawa terbahak seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


" Aku tidak akan bercanda dengan hal seperti ini!" ucap Agus serius.


" Apakah aku boleh meminta hakku sebagai suami kepadamu?" tanya Agus lagi.


Ayana menatap Agus dengan lekat. Dia merasa seluruh tubuhnya merinding ketika membayangkan apa yang diminta oleh suaminya kepada dirinya.


" Bukankah kau pernah bercerita kepadaku, kalau kau pernah melakukannya? Kenapa reaksimu saat ini. Kau nampak seperti baru pertama kali melakukannya?" tanya Agus heran dengan istrinya.


" Apakah kau berfikir? Aku adalah wanita murahan yang menjajakan tubuhku kepada setiap laki-laki yang kenal denganku? Hanya karena aku pernah melakukan sebuah kesalahan di usia mudaku?" tanya Ayana nampak tersinggung dengan pertanyaan Agus yang menohok hatinya.


" Aku tahu apa yang kau pikirkan tentang diriku. Ketika aku menceritakan masa laluku yang kelam. Kau pasti berpikir, kalau aku adalah wanita yang tidak bisa menjaga kehormatanku untukku persembahkan kepada suamiku?" tanya Ayana dengan suara yang gemetar dan mata yang mulai berkaca-kaca karena sedih dan marah.


Agus merasa bersalah ketika melihat Ayana yang mulai meneteskan air matanya. Hanya gara-gara pertanyaannya yang sudah menyakiti perasaan Ayana.


" Baiklah aku akan pergi dari rumah ini. Terserah! Kalau kau ingin tinggal di sini! Tolong kau Maafkan aku atas keteledoranku yang tidak bisa menjaga lisanku sehingga menyakiti perasaanmu!" ucap Agus langsung bergegas meninggalkan Ayana yang masih menangis sesegukkan di atas ranjangnya.


" Apakah kau akan benar-benar pergi?" tanya Ayana dengan pelan. Ayana masih terisak dalam tangisnya dan menatap Agus dengan sendu.


" Perusahaan keluargamu sudah diberikan oleh Bibimu ke tanganmu. Saya rasa tidak apa-apa kalau kita berhenti di sini dan tidak usah memaksakan sesuatu yang tidak ingin kau lakukan! Saya pergi!" ucap Agus langsung meninggalkan Ayana begitu saja. Karena saat ini hatinya pun merasa tersinggung dengan Ayana yang tampak tidak menghargainya sebagai suami. Dengan menolak untuk pindah bersama dengannya ke rumah yang sudah dia persiapkan.


" Biarlah toh kami juga tidak saling mencintai aku akan membebaskannya untuk melakukan apapun yang dia inginkan!" ucap Agus kemudian dia meninggalkan kediaman Sugandi dan kembali ke penthouse miliknya.


Agus langsung bersiap-siap untuk pergi ke kantor menggantikan ayahnya yang masih berada di rumah sakit.


Setelah melihat penampilannya begitu sempurna Agus pun langsung berangkat ke kantor dan tidak memikirkan lagi masalah Ayana yang tidak menghargainya sebagai seorang suami.


" Ayana pasti berpikir kalau aku akan membawanya tinggal di kontrakan sempit itu sehingga dia menolak untuk pindah denganku!" ucap Agus bermonolog dengan dirinya sendiri ketika dia melakukan perjalanan ke kantor yang tidak terlalu jauh dari penthouse yang dia tempati saat ini.


" Biarkanlah kalau Ayana memang lebih menginginkan sebuah perceraian. Maka aku akan memberikannya. Mumpung belum ada ikatan cinta di antara kami berdua dan tidak ada anak yang mengikat kami!" Agus berusaha untuk berdamai dengan keadaan yang saat ini mengikat hidupnya dengan Ayana yang tiba-tiba saja menjadi istrinya.


" Hanya karena aku menolong seorang laki-laki yang tersesat. Sekarang aku ketiban rejeki dengan memiliki seorang istri yang tidak menghargaiku sebagai suaminya. Hanya karena dia mengira bahwa aku orang miskin yang tidak akan bisa memberikan dia kebahagiaan untuk dirinya." ucap Agus seperti menyesali apa yang sudah terjadi kepada dirinya bersama Ayana.


" Untung saja kami hanya menikah di Catatan Sipil dan belum melakukan resepsi pernikahan apapun. Jadi orang lain tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan kami dan ayahku pasti tidak akan mendengar perihal pernikahan konyol itu!" ucap Agus.


Begitu sampai di perusahaan milik keluarganya. Agus langsung disambut oleh anak buah dan para karyawan yang bekerja di perusahaan ayahnya.


Dahulu Agus pernah bekerja di perusahaan itu tetapi dia pergi karena menolak Perjodohan yang diatur oleh ayahnya dengan seorang wanita yang berasal dari kalangan konglomerat seperti ayahnya.


Wanita yang ditemui oleh Agus di rumah sakit tempat ayahnya sedang di rawat adalah calon tunangan yang digadang-gadang oleh ayahnya sebagai calon istrinya.


" Selamat datang tuan muda. Kami senang akhirnya anda kembali ke perusahaan!" ucap asisten ayahnya sambil membukukkan badannya di hadapan Agus yang hanya melewatinya sekilas.


Agus tidak terlalu senang untuk terlalu dekat dengan para karyawan di perusahaan ayahnya. Karena dia tidak ingin membangun image sebagai seorang pemimpin yang supel maupun bisa didekati oleh mereka dengan mudah.


Ketika orang menemui Agus di kantor. Pasti mereka akan tercengang dengan kepribadian yang berbeda dari Agus dalam kesehariannya yang mereka temui sebagai laki-laki yang friendly dan juga baik hati.