Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
50. Godaan Lagi!



Selama seminggu Kesya dan keluarganya berada di Jawa Timur, membantu acara tahlilan alm. Kiai Maulana. Adrian semakin lengket saja dengan Ilham. Kalau orang yang tidak tahu, pasti mengira mereka ayah beranak. Andika bersama keluarga membiarkan saja, berharap kedekatan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Ilham yang masih sedih atas kepergian Alm Kiai Maulana.


"Mas, kamu sayang banget sama Adrian, ya?" tanya Laila suatu siang.


"Ya, kenapa? Apa kau keberatan?" tanya Ilham sambil menemani Adrian bermain.


Kesya dan Andika sedang pergi ke dokter untuk memeriksa kehamilan Kesya. Sudah seminggu Kesya merasa kehamilannya sangat aneh.


"Sayang, kita berdoa ya, semoga semuanya baik-baik saja." ucap Andika sambil mengelus perut istrinya yang semakin membesar.


"Mas, sakit sekali!" Kesya meringis menahan sakit, keningnya sampai berkeringat dingin.


"Pak, tolong dipercepat! Saya takut kenapa-kenapa dengan anak dan istri saya!" perintah Andika sudah was-was, bagaimana tidak?Semalaman Kesya tidak bisa tidur, bayi mereka diperut terus-menerus bergerak sehingga Kesya kesulitan tidur.


Semalaman Andika mengelus-elus punggung Kesya agar lebih tenang dan nyaman. Andika benda-benda seorang suami siap siaga. Kesya merasa sangat terharu karena hal itu.


"Mas, maafkan aku, ya? Karena aku, Mas jadi kurang istirahat!" Kesya masih meringis karena perutnya masih terasa sakit.


"Kamu bicara apa sih, sayang? Kamu sakit juga karena perbuatan aku. Aku yang bikin kamu hamil. Masa aku akan angkat tangan saja, melihat kamu begini? Pak apa masih lama rumah sakitnya?" tanya Andika sudah khawatir sekali.


"Mas, aku gak tahu kenapa, anak kita konstruksi terus selama beberapa hari ini. Aku takut kalau ada yang salah dengan anak kita, Hiks hiks!" saat mereka sampai ke rumah sakit, segera di tangani oleh dokter yang bertugas hati itu.


"Tunggu di luar dulu, ya Pak! Biar kami periksa Istrinya." ucap suster sambil menutup pintu.


"Ya Allah, semoga semua baik-baik saja." doa Andika karena dia sangat panik, tadi Kesya bahkan sampai pingsan. Andika lalu menelpon kedua orang tuanya. Untung Adrian bersama Ilham, jadi Andika tidak terlalu khawatir dengan Andrian. Andika tahu kalau Ilham menyayangi Andrian. Dirinya bisa fokus dengan sang istri.


"Bagaimana keadaan Kesya?" tanya Papahnya.


"Dika gak tahu, Pah! Baru masuk UGD! Tadi sebelum sampai ke rumah sakit, Kesya pingsan. Dika khawatir, Pah!" ucap Andika sambil memijit kepalanya yang pusing.


"Nak, kamu harus banyak berdoa. Semuanya pasti baik-baik saja." ujar Pak Farhan memberi kekuatan kepada Andika.


"Papah dan Mamah akan segera kesana. Apakah Kesya akan dirawat juga?" tanyanya.


"Dika gak tahu, Pah!" tiba-tiba seorang wanita menabrak Andika yang saat itu masih panik dan fokus menelpon ayahnya.


"Maaf, Mas! Saya gak sengaja!" ucap perempuan itu. Namun anehnya, perempuan itu bukannya pergi malah menunggu Andika selesai menelpon.


"Ya sudah, Pah! Dika tunggu, assalamualaikum!" ucap Andika mengakhiri panggilan tersebut.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Andika heran dengan perempuan yang tadi menabrak dirinya, bukannya pergi malah sibuk menatapnya.


"Kamu, Andika Abimana, bukan sih, ya?" tanya perempuan itu sangat antusias.


"Iya, saya Andika, apa kamu kenal dengan saya?" tanya Andika keheranan. Dia gak merasa kenal dengan perempuan itu.


"Ini aku, Manda! Masa kamu lupa?" ucap perempuan yang berpenampilan seksi tersebut.


"Manda? Siapa? Maaf, saya lupa!" ucap Andika.


Perasannya saat ini sedang kalut, tidak berminat sama sekali dengan perempuan seksi tersebut.


"Ya ampun, Dika! Aku dulu pernah jadi sekretaris kamu waktu di Kalimantan. Ingat tidak?" ucapnya lagi. Masih keukeuh ingin Dika mengingatnya.


"Dasar perempuan aneh, memang ada apa aku harus ingat dia? Istriku sedang butuh aku, apa aku sempat mengingat wanita gak penting ini?" Andika bermonolog sendiri.


"Kenapa kau menangis?" kaget Andika.


"Kamu jahat, aku selalu ingat tentang kamu, tapi kamu gak ingat aku! Hiks hiks!" perempuan yang mengaku bernama Manda tersebut menangis lagi.


"Ya Allah, godaan apa lagi ini?" rutuk Andika kesal.


"Maafkan, kalau aku salah!" Andika langsung berlari ketika melihat ruangan yang tadi dimasuki oleh istrinya terbuka.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dokter?"


"Mari ikuti saya ke ruangan!" Dokter lalu berjalan ke arah ruangan nya, Andika mengikuti. Tidak memperdulikan panggilan perempuan tadi.


"Begini, Pak Dika, ada masalah dengan kandungan Bu Kesya. Saya sangat berat mengatakan ini, tapi kondisi Bu Kesya sangat lemah. Akan sangat beresiko kalau kehamilan ini dilanjutkan." Andika seketika lemas.


"Jadi maksud dokter, kita harus gugurkan kandungan?" Andika sampai gemetar suaranya.


"Usia kandungan sudah cukup untuk kita adakan operasi. Selama Pak Andika setuju. Kami akan mengusahakan keselamatan ibu dan anak!" ucap Dokter berusaha menguatkan.


"Saya akan menunggu kedua orang tua saya dulu. Untuk diskusi. Bagaimana keadaan istri saya saat ini?" tanya Andika lagi.


"Masih kami observasi. Tapi sudah bisa ditengok kalau Anda mau!" Andika lalu berpamitan dan mencari ruangan istrinya.


Perempuan tadi masih di sana, menunggu Andika.


"Masa kamu masih gak ingat sama Aku?" tanyanya sambil mengejar Andika.


"Eh, dengar! Saya gak perduli siapa kamu! Menyingkir dari hadapanku!" Andika sudah hilang sabar sekali. "Apa maksud kamu sebenarnya, huh? Saya sedang pusing memikirkan anak dan istri saya, kau pikir penting untuk mengingat kamu, huh?" hardik Andika lagi. Matanya sudah merah karena menahan amarah dari tadi.


Saat itulah, kedua orangtuanya dan keluarga Kesya datang ke rumah sakit. Di sana ada juga Ilham dan Adrian berserta Laila, istrinya Ilham.


"Bagaimana keadaan Kesya?" tanya Mamahnya Kesya, mulai khawatir.


"Dokter bilang, harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan deds bayinya. Kondisi Kesya tidak memungkinkan untuk melanjutkan kehamilan ini!" ucap Andika frustasi.


"Siapa perempuan ini?" tanya Merry tidak suka.


"Mas gak tahu, dari tadi Mas usir, dia gak mau pergi!" ucap Andika sudah tidak perduli dengan wanita bernama Manda lagi.


"Mba, Mba siapa ya? Kok tadi saya lihat Mas saya sampai bentak-bentak Mba!?" tanya Merry dengan tatapan intimidasi.


"Saya Manda, saya dulu sekertaris Pak Dika saat di Kalimantan!" ucap Perempuan itu.


"Lalu, apakah pentingnya Kakak saya untuk mengingat Anda?" tanya Merry lagi, mulai geram.


"Tidak apa-apa, saya hanya sedih. Karena pak Dika melupakan saya!" ucap perempuan itu gak tahu malu sambil memulai drama air mata.


"Eh, Mba! Gak penting banget kehadiran kamu disini! Pergi sana! Saya gak perduli kamu presiden negara ini sekalipun! Pergi!" hardik Andika hilang kesabaran. Ilham melihat semuanya. Kemarahan Andika pada wanita seksi itu, sedikit banyak Ilham mampu menilai karakter Andika.


"Baiklah, saya pergi. Maafkan sudah ganggu waktu bapak!" wanita itu lalu pergi dari sana.


"Wanita yang aneh!" ucap Merry kesal juga.