
Rasyid yang saat itu keluar di tengah malam karena haus, tanpa sengaja mendengar pembicaraan mertuanyq dengan Kiai Maulana di telpon, Rasyid sungguh sangat terpukul ketika mendengar kabar kecelakaan yang menimpa saudarinya dan calon iparnya.
Kiai Hamid menyesal kenapa Rasyid harus mendengarkan pembicaraan dirinya dengan Kiai Maulana. Seharusnya mereka tengah berbahagia sekarang, malah jadi sedih karena berita buruk mengenai sang adik.
Kalau mengikuti kemauan Rasyid, mau malam itu juga mendatangi rumah sakit tempat Ilham di rawat, hanya saja Zahra dan Kiai Hamid melarang, sangat berbahaya mengendarai mobil di tengah malah begitu, apalagi setelah turun hujan yang lebat, jalanan licin.
Rasyid sungguh tidak menyangka hal buruk akan terjadi pada adiknya yang dia tahu tidak mempunyai musuh, seumur hidup Kesya selalu berusaha menjadi pribadi yang baik dan tidak pernah menyinggung orang lain.
" Sudah Mas, jangan terlalu dipikirkan, ayo kita sholat Mas, minta pada Allah agar mereka selalu dilindungi di manapun mereka berada saat ini" Rasyid memeluk Zahra dengan erat, sambil tersedu-sedu. Dia saat ini merasa sangat lemah dan butuh kekuatan.
" Ayo Mas" Kesya membimbing Rasyid ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Mereka sholat sunah dua rakaat dan berdoa untuk keselamatan adiknya dan kesembuhan calon iparnya.
Setelah mereka sholat, Zahra mengajak Rasyid untuk segera tidur, mengingat besok akan mengadakan perjalanan panjang selain itu mereka juga sudah sangat lelah setelah seharian mengadakan pesta dan resepsi pernikahan mereka.
Baik Zahra maupun Rasyid tidak ada yang mengingat dengan malam pertama mereka sebagai suami istri. Semangat menggebu Rasyid tadi siang hilang menguap entah kemana, hatinya sudah lelah memikirkan nasib adiknya yang masih tidak jelas. Tadi Rasyid mendengar bahwa diketemukan jenazah di mobil Ilham namun wajahnya rusak dan polisi kesulitan mengidentifikasi jenazah tersebut. Pak Kiai hanya bisa mengidentifikasi dari pakaiannya, memang itu pakaian yang digunakan oleh Kesya saat pulang dari pernikahan Rasyid dan Zahra.
" Mas, ayo tidur dulu, istirahatlah, besok adalah hari yang berat bagi kita" Zahra memeluk suaminya dengan lembut, berusaha memberikan kekuatan dan dukungan.
Rasyid hanya bisa menurut pada istrinya, dia tidur diperlukan Zahra. Walaupun sulit akhirnya tergelap juga.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali keluarga Kiai Hamid berserta Rasyid dan Zahra, berangkat ke Jakarta, menuju rumah sakit tempat Ilham di rawat. Wajah Rasyid sangat kusut, karena semalam suntuk dia hanya menangis meratapi nasib sang adik yang sangat buruk.
Begitu sampai di rumah sakit, Rasyid mendapatkan mamahnya yang tergolek lemas di ruang perawatan begitu pula dengan Uminya Ilham. Mereka pingsan tadi malam ketika mendengar keadaan Ilham setelah operasi selesai. Ada kemungkinan Kematian otak. Hati orang tua mana yang tidak hancur mendengar hal seburuk itu?
Kiai Maulana sudah menelpon pihak WO bahwa pernikahan mereka akan diundur sementara waktu, menunggu keadaan kondusif, karena beliau masih belum tahu keadaan apa yang kini sedang terjadi, ada harapan dalam hatinya bahwa jenazah itu bukanlah Kesya, calon menantunya.
Pak Kiai sungguh tidak sanggup melihat reaksi Ilham kalau mendengarkan nasib Kesya.
Rasyid langsung memeluk ibunya yang masih belum sadarkan diri. Sedih sekali hatinya. Melihat keadaan Ilham yang sangat mengenaskan, kepalanya di perban, semalam, tengkorak kepala itu habis di buka karena terjadi pendarahan di sana. Rasyid sungguh tidak mampu membayangkan bagaimana sakitnya hal itu.
Tubuh Rasyid sangat lemas, kalau tidak ada Zahra yang menopang badannya , dia pasti sudah jatuh. Zahra sama sekali tidak meninggalkan suaminya sendiri, dia berusaha menguatkan sang suami.
" Kamu harus kuat Mas, lakukan tugasmu dengan baik, ini sangat penting bagi adikmu" bujuk Zahra saat melihat Rashid menolak mengidentifikasi, hatinya sungguh sangat lemah, tidak kuasa menahan derita kehilangan adiknya.
" Temani aku masuk yah, aku sungguh tidak mampu menghadapi ini sendiri " Rasyid menatap Zahra dengan penuh permohonan.
" Iya mas, jangan kwatir, Zahra pasti akan selalu nemenin Mas, ayo mas, kamu harus kuat" Zahra memapah Rasyid dan masuk ke kamar Jenazah. Saat melihat pakaian yang digunakan jenazah itu, hati Zahra sudah was-was sekali , dia ingat, itu adalah pakaian yang dia berikan pada Kesya kemarin, karena pakaian Kesya yang basah kuyup karena kecebur ke kolam ikan saat mencoba menyelamatkan Ilham yang jatuh ke kolam ikan Aby nya.
" Silahkan di identifikasi, perhatian dengan baik, bahwa jenazah ini adalah saudari anda atau bukan" polisi membuka semua penutup di tubuh jenazah tersebut. Rashid tak mampu membendung air matanya saat melihat tubuh berbalut pakaian sang adik. Saat mata Rasyid tertuju pada telapak kaki jenazah itu, Rasyid Merasa ada yang janggal. Dia tidak melihat tanda lahir kebiruan di telapak kaki jenazah tersebut. Seberkas harapan muncul dalam hari Rasyid.
" Ini bukan jenazah adik saya pak polisi, adik saya memiliki tanda lahir di telapak kakinya berwarna kebiruan. lihatlah kaki ini putih dan tidak memiliki tanda seperti yang dimiliki oleh adik saya" Rasyid menarik nafas lega, karena dia yakin 100% bahwa itu bukanlah Kesya. masih ada kemungkinan Kesya masih hidup.
Tapi siapa yang sudah sangat tega dan jahat dengan mengatur hal yang mengerikan ini? Polisi berjanji akan menyelidiki kasus itu.
Jenazah itu langsung di makamkan di TPU, keluarga Kiai Hamid yang mengurus, tetapi di papan nisan tidak tertulis nama Kesya . Hanya papan kosong saja, tertulis tanggal wafat saja
Setelah tidur selama hampir empat hari, akhirnya Ilham sadar, Alhamdulillah ternyata hal yang ditakutkan tidak terjadi. Ilham sadar dan mengingat semua kejadian di hari naas tersebut. Ilham memberi keterangan, bahwa saat dirinya setengah sadar, sesaat sebelum mobilnya meluncur ke jurang, ada seseorang yang menarik dirinya dan Kesya ke luar dari mobil.
Karena saat itu pandangan Ilham Kabur, Ilham tidak bisa melihat siapa orang yang menarik dirinya keluar dari mobil. Selintas Ilham hanya mendengar suara gemerincing suatu benda beradu, tetapi tidak jelas dalam ingatan Ilham
Ilham sangat frustasi memikirkan kecelakaan itu, siapa gerangan yang sangat tega padanya, merencanakan hal yang sangat mengerikan. Dengan menaruh Jenazah lain di mobil Ilham yang masuk ke jurang, itu artinya bahwa orang yang merencanakan itu berharap mereka berpikir bahwa Kesya sudah meninggal. Sungguh rencana yang sangat mengerikan.
Kalau saat identifikasi Rasyid tidak teliti, sudah pasti sekarang semua keluarga mengira bahwa jenazah itu adalah Kesya.
Mamah Kesya akhirnya merasa lega, setidaknya ada harapan Kesya masih hidup, hanya tidak tahu keberadaan Kesya dimana.
Hallo teman-teman semua, terimakasih ya, sudah setia baca novel terbaruku. Jangan lupa buat mampir juga di novelku yang lainnya ya, Pernikahan tanpa cinta dan apa kabar sayang. Jangan lupa, like, komentar, favorit, vote dan juga hadiahnya. Biar author semakin semangat buat up date. Terima kasih sekali lag