Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
147. Hidup Baru



Sekarang mari kita tengok kehidupan Laila dan Firman, setelah Firman resmi bercerai dengan Syafa.


"Alhamdulillah! Akhirnya satu masalah selesai semoga kehidupan kita kedepannya semakin lebih baik lagi!" ucap Firman siang itu.


Tampak Laila cemberut dia menatap suaminya dengan tidak senang.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Bukankah kau seharusnya bahagia? Karena aku sekarang sudah bercerai dengan Syafa dan hanya kamu yang akan menjadi istriku satu-satunya!" ucap Firman sambil memeluk Laila dan mencium keningnya.


"Tidak ada kebaikan dalam perceraian! Kau jangan terlalu bahagia Mas! Di atas air mata mantan istrimu!" ucap Laila kesal.


Laila kemudian meninggalkan Firman yang saat ini sedang bengong. Keheranan karena mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya, Laila. Yang kini sudah resmi menjadi istri sahnya secara hukum negara dan agama.


"Kamu tidak senang sayang? Dengan perceraianku bersama Syafa?" tanya Firman terus mengikuti Laila yang saat ini sedang berada di dapur. Laila kini sedang sibuk mempersiapkan makan siang untuk mereka.


"Kamu seakan menegaskan kepada dunia, bahwa aku ini adalah seorang pelakor! Yang telah sukses, dalam merebut suami orang lain! Beban ini akan aku tanggung terus Mas, sepanjang hidupku!" ucap Laila sambil menatap tajam kepada Firman.


Mata Laila kini berkaca-kaca, merasa sedih dengan status baru yang mungkin sekarang telah tersemat dalam namanya "PELAKOR!".


Firman kemudian memeluk tubuh Laila, dielusnya kepala istrinya yang kini terisak di dalam pelukannya.


"Katakan pada Mas, kalau ada yang berani mengatakan seperti itu padamu! Biar mas menuntutnya ke pengadilan!" ucap Firman berapi-api, sambil mengelus pipi Laila yang kini mulai berderai dengan air mata.


"Apakah kita sanggup menghentikan mulut semua orang Mas? Bagaimanapun itu memang sebuah kenyataan. Kalau aku memang telah merebut suami orang lain. Aku telah menghancurkan rumah tangga orang lain. Aku juga telah merebut ayah dari Rasya! Rasya sekarang pasti sangat membenciku Mas! Karena telah merebut ayahnya dari sisi ibunya!" isak Laila dengan terisak dalam pelukan Firman.


"Tidak usah mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain! Yang penting aku mencintaimu dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis karena mereka!" ucap Firman berusaha untuk menghibur hati Laila yang hatinya saat ini sedang sedih.


"Aku tidak sanggup Mas, ketika melihat pandangan orang-orang di sekitar kita. Mata mereka yang seakan merendahkanku. Aku tidak tahan Mas!" isak Laila kembali.


"Bagaimana kalau kita pindah dari kota ini? Kita tinggal di kota baru dan kita memulai hidup baru di sana? Apakah kau setuju?" tanya Firman sambil menatap kepada Laila yang masih terisak dalam pelukannya.


"Apakah kamu yakin Mas? Apakah kamu rela kehilangan semua yang ada di sini?" tanya Laila sambil menatap Firman dengan tajam.


"Aku rela kehilangan apapun untuk bisa bersama kamu, sayangku! Dan aku pasti bisa, untuk meninggalkan apapun. Asal aku bisa melihat senyum di bibirmu!" Firman sambil mengecup bibir Laila.


Begitu besarnya rasa cinta yang dimiliki oleh Firman untuk Laila, istrinya. Sehingga dia rela kehilangan apapun yang dia miliki hanya demi bisa bersama dengan Laila.


Firman bahkan rela menyerahkan hak warisnya terhadap harta kedua orang tuanya. Yang kini telah diserahkan kepada Rasya putranya 100%. Firman sama sekali tidak mendapatkan apapun dari harta milik kedua orang tuanya.


Sejak dulu Firman sudah hidup mandiri dan dia membangun perusahaannya sendiri, dengan tenaga dan juga kemampuan yang dia miliki tanpa bantuan kedua orang tuanya.


"Bagaimana dengan perusahaan Mas?" tanya Laila, yang seakan meragukan dengan keputusan Firman yang mengajaknya untuk pindah dari kota Jakarta.


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan tentang perusahaan, sayang! Mas akan menyerahkan pengelolaan perusahaan. Kepada manajemen profesional. Mas hanya akan mengawasinya dari jauh. Mas akan membangun perusahaan baru di kota tempat tinggal kita yang baru!" ucap Firman dengan penuh keyakinan.


"Ke mana kita akan pindah Mas?" Tanya Laila sambil menatap Firman dengan tajam.


Firman tampak menarik nafasnya dengan dalam. Diaa tampak sedang berpikir serius untuk menjawab pertanyaan istrinya tersebut.


Laila terdiam sejenak. Tampaknya Dia sedang berpikir dengan keras.


"Bagaimana kalau kita pindah ke Kalimantan saja? Kita akan membeli tanah di sana dan kau bisa membangun pabrik sawit, mungkin?" tanya Laila dengan wajah sumringah.


"Boleh juga idemu, sayang! Akan tetapi hidup di sana, pasti hidupnya akan sulit. Apakah kau sanggup untuk melalui itu semua?" tanya Firman mencoba mengetahui kesungguhan Laila dengan keinginannya tersebut.


"Memang akan sangat sulit untuk hidup di sana. Lalu kalau Mas sendiri, mempunyai pemikiran kita kan tinggal di mana?" Laila kembali sambil menatap Firman.


Firman kemudian bangkit dari duduknya dan dia pergi keluar rumah. Sepertinya Firman sedang mencari inspirasi dengan melihat pemandangan hijau di taman rumahnya yang begitu asri dan menyejukkan.


Laila mengikuti Firman yang saat ini duduk di teras rumah mereka berdua.


"Bagaimana kalau kita pindah ke Surabaya saja? Kita bisa tinggal di sana, sayang. Kebetulan di sana ada perusahaan Mas yang sedang merintis usaha baru. Juga, sudah ada rumah yang sudah siap huni di sana. Beberapa bulan yang lalu, Mas membangun perusahaan itu!" ucap Firman kemudian menatap Laila dengan wajah serius.


"Baiklah, Mas! Aku sih terserah keputusanmu seperti apa. Aku pasti akan mengikutinya!" ucap Laila kemudian memeluk Firman.


"Nantu, kalau kondisi di sini sudah kondusif. Kita bisa kembali lagi ke rumah ini dan kita pasti akan menemukan kebahagiaan hidup kita!" ucap Firman memberikan janjinya kepada Laila.


Laila hanya mengangguk saja. Laila menyetuju apapun yang dikatakan oleh suaminya, yang telah menjadi imam dalam rumah tangga mereka. Yang sekarang sudah mempunyai status yang jelas secara hukum negara maupun hukum agama.


Setelah mereka sepakat memilih Surabaya untuk tujuan mereka menempuh hidup baru. Mereka pun kemudian bersiap-siap untuk segera pindah ke Surabaya.


Firman menunjuk orang-orang kepercayaan yang dia anggap mampu untuk mengurus perusahaannya di Jakarta. Dia memindahkan semua komando perusahaan ke perusahaan baru yang akan dia tempati mulai sekarang.


Firman membuat perusahaan yang ada di Surabaya sebagai pusat dari semua kegiatan dari semua perusahaan yang dia miliki Dan semua komando berasal dari sana karena sekarang dia tinggal di Surabaya bersama Laila memulai hidup baru mereka berdua dengan bahagia.


Sekarang Laila hidupnya mulai merasakan senang dan kebahagian. Karena dia tidak perlu mendengarkan lagi kasak kusuk dari orang sekitarnya. Yang mengatakan bahwa dia adalah seorang pelakor yang sudah merebut Firman dari Syafa.


Laila menjalani masa kehamilannya dengan bahagia bersama Firman. Sehingga tanpa mereka sadari, waktu melesat begitu cepat, dan kini tiba waktunya, bahwa sekarang sudah waktunya untuk melahirkan bagi Laila.


Firman langsung membawa Laila ke rumah sakit. Untuk membantu Laila agar bisa melahirkan dengan selamat dan aman.


Kini Firman sedang menunggu di depan ruangan persalinan Laila. Yang tidak lama kemudian, terdengar suara bayi yang membuat Firman merasa sangat bahagia. Karena pada akhirnya dirinya dan Laila kini telah resmi menjadi orang tua dari bayi perempuan yang lahir dari orang yang dia cintai. Bayi itu di beri nama Yuke Ardiyansyah.


Sementara itu di Jawa Timur pun Qonita sedang berjuang untuk melahirkan bayi mereka. Bayi pertama Ilham dan Qonits yang juga lahir seorang perempuan yang diberi nama Asyifa Latief oleh ayahnya, Kiai Ilham. Yang sangat bahagia dengan kelahiran Putri pertamanya. Bersama Qonita, wanita yang dia cintai dengan sepenuh hati.


Wanita yang telah memberikan anak kepada dirinya, setelah bertahun-tahun dia menikah bersama Qonita.


Syifa dan Yuke ini kelak akan menjadi sahabat di Jakarta. Reader bisa membaca kisah mereka berdua di novel saya yang berjudul "Terpaksa Menikah Dengan Anak Kyai"


Di sana, Syifa dan Adrian sudah menikah dan Yuke sekarang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya bersama Thomas.