Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
258. Adrian dan kehidupan barunya



Setelah kedua orang tuanya meninggalkan Indonesia, Adrian sekarang lebih fokus kepada kegiatan mengaji dan juga belajarnya di sekolahan baru bersama dengan Fathu sahabatnya yang selalu berada di sampingnya setiap saat.


" Adrian Apa kau tidak mau menghubungi keluargamu sudah satu bulan kan kalian berpisah?" tanya Fathu ketika mereka berdua bertemu di kantin pondok pesantren.


" Ah tidak apa-apa kalau aku menghubungi mereka hanya akan membuatku jadi ingin pulang ke Dubai. Lagi pula sekarang kedua orang tuaku sedang ada di Prancis Untuk mengantarkan kakakku kuliah di sana," ucap Adrian sambil menghabiskan makanan yang tadi di pesan dari penjaga kantin.


Fathupun sama karena dia pun lapar setelah seharian belajar di kelas dan memeras otaknya untuk bisa mencerna pelajaran yang disampaikan oleh guru mereka.


" Kau benar-benar beruntung karena memiliki keluarga yang begitu kaya raya dan juga sangat mencintaimu," ucap Fathu sambil menyedot es jeruk yang ada di hadapannya.


" Ya ampun bukankah kau tahu bahwa setiap dari kita semua itu adalah beruntung dengan kehidupan kita masing-masing. Selama kita bersyukur semuanya adalah nikmat dari Allah!" ucap Adrian masih sibuk dengan makanannya.


Setelah mereka berdua selesai menghabiskan makanan mereka, mereka pun kemudian kembali ke asrama pondok.


" Bagaimana Adrian? Apakah kita akan pergi keluar hari ini? ya aku dengar dari teman-teman bahwa hari ini ada pasar malam di pasar terdekat dengan Pondok kita!" bisik Fathu di telinga Adrian.


" Ah kau selalu saja mengajakku untuk berbuat hal yang tidak benar aku jauh-jauh datang dari Dubai ke sini untuk belajar bukan untuk menjadi anak badung seperti itu!" tolak Adrian sambil meninggalkan Fathu yang masih tidak putus asa untuk mengajaknya keluar dari Pondok dan pergi ke pasar malam.


" Ayolah Adrian! Kau mintalah izin kepada Pak Kyai agar kita bisa melihat pasar malam sebentar saja! Toh Kita juga tidak setiap malam pergi ke sana bukan? Aku rasa tidak apa-apa lah kalau kita mencari hiburan sejenak!" ucap Fathu masih tidak juga menyerah untuk membujuk Adrian agar pergi bersamanya.


" Maafkan aku Fathu! Aku tidak mau untuk melakukannya. Kau saja minta izin sendiri kepada Pak Kyai dan ajaklah teman yang lain untuk pergi dengan kamu. Karena aku ingin menghafalkan hafalan yang kemarin diperintahkan oleh Pak Kyai untuk aku setorkan nanti subuh!" ucap Adrian yang langsung pergi meninggalkan Fathu dalam kekecewaan.


Fathu terus mengikuti Adrian dan berusaha untuk tetap membujuknya karena dia tahu bahwa hanya Adrianlah yang bisa membawanya pergi keluar dari pondok untuk melihat pasar malam yang sangat dia inginkan untuk dikunjungi.


Bukanlah menjadi rahasia umum kalau Kyai Ilham tidak pernah bisa mengatakan tidak kepada seorang Adrian Abimana.


semua santri satu pondok mengetahui bahwa Andrian sangat disayangi oleh Kyai Ilham. Bahkan semua permintaan yang selalu dituruti tanpa banyak syarat dan banyak protes dari Sang Kiai.


Semua santri menggadang-gadangkan Adrian sebagai calon menantu Kyai mereka yang sudah mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Kadang Adrian merasa jengkel dengan pikiran teman-temannya yang selalu menjodohkan dia dengan Syifa yang masih kecil umurnya.


" Ayolah Adrian kenapa kau sangat sulit sekali untuk di bujuk? Tolonglah aku Adrian, Aku benar-benar ingin pergi ke pasar malam ada sesuatu yang ingin kubeli!" ucap Fathu memohon kepada Adrian.


Adrian yang merasa bosan sejak tadi terus dikejar-kejar oleh Fathu akhirnya dia pun menyerah kepada sahabatnya itu.


" Baiklah aku akan minta izin kepada pak Kyai. Tapi kau harus janji kalau kita hanya pergi sebentar saja, karena aku betul-betul harus menghafalkan hafalan ku untuk besok pagi!" WhatsApp Adrian akhirnya menyerah kepada Fathu yang sontak langsung memeluknya dengan begitu erat karena merasa senang keinginannya akhirnya terwujud.


" Kau tunggulah dulu di sini aku sowan dulu ke Pak Kyai untuk minta izinnya!" ucap Adrian yang kemudian langsung meninggalkan Fathu untuk pergi kepada Kyai Ilham yang berada di kediamannya.


Sementara itu di dalam kediaman utama yang ditempati oleh keluarga pengasuh pondok pesantren tersebut tampak Kyai Ilham yang sedang bermain dengan Syifa yang sangat cantik dan menggemaskan.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Pak Kiai," ucap Adrian ketika dia sudah berada di depan pintu kediaman utama Kyai Ilham.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, masuklah sini Adrian! Ada perlu apa sore-sore kau mengunjungi kami?" tanya Ilham kepada Adrian.


" Maafkan saya pak Kyai. Saya mau minta izin untuk pergi ke pasar malam ada sesuatu yang ingin saya beli bersama dengan Fathu," ucap Adrian sambil menundukkan kepalanya.


" Kau may membeli apa Memangnya?" tanya Kyai Ilham menatap tajam kepada Adrian yang tidak berani menatapnya.


" Maafkan saya Pak Kyai, tapi saya malu untuk mengatakannya," ucap Adrian sambil tetap menundukkan kepalanya dengan takjim tidak berani menatap langsung kepada Kyai Ilham yang sekarang berstatus sebagai gurunya.


" Baiklah kalau begitu kau pergilah. Tapi hati-hati ya, jangan pulang malam-malam. Ajaklah salah satu pembinamu agar menjaga kalian berdua karena pasar malam itu sangat ramai. Saya takut kalau kalian sampai hilang ataupun terjadi apa-apa kepada kalian di sana!" ucap Kyai Ilham sambil tersenyum kepada Adrian yang langsung berpamitan kepadanya.


" Ikut!" tiba-tiba saja Syifa langsung mengajar Adrian dan memegang kakinya dan merengek kepada Adrian untuk ikut bersamanya pergi ke pasar malam.


" Syifa ayo sini bersama dengan Abi!" perintah Kyai Ilham kepada putrinya tetapi tiba-tiba saja Syifa menangis kejer dan meminta untuk tetap ikut bersama Adrian.


Ibunya Syifa yang berada di dalam kamar kemudian mendatangi putrinya yang sedang menangis.


Kyai Ilham terus menetap kepada Adrian yang sejak tadi terus saja menatap lantai dan tidak mau menatap dirinya.


" Adrian bersikap biasalah sayang. Om malah tidak senang kalau melihatmu seperti menjaga jarak dengan Om!" tegur Kyai Ilham kepada Adrian yang akhirnya berani untuk menetap wajah teduh laki-laki yang dulu selalu dipanggil Om Ilham.


ya semenjak Adrian sudah mulai beranjak dewasa. Dia tidak berani lagi untuk memanggil Kyai Ilham dengan panggilan Om. Karena dia tahu, bahwa itu tidaklah dengan statusnya sebagai seorang santri di pondok pesantren tersebut. Sekarang Adrian sudah 13 tahun dan sudah mengerti tentang unggah-ungguh sebagai seorang santri terhadap Kiainya.


" Tidak apa-apa Pak Kyai. Saya hanya merasa nyaman dengan seperti ini. Karena saya sadar, bagaimanapun status saya di sini adalah sebagai santri dari Pak Kyai." ucap Adrian dengan tegas dan lugas.


Kyai Ilham menatap tajam kepada Adrian yang sekarang lebih tenang dan lebih serius dalam belajar tidak seperti ketika dia masih SD yang hanya bermain-main dan senang sekali mengganggunya dengan kejahilan dan keusilannya.


Adakalanya Ilham pun merasa rindu dengan Adrian di masa lalu yang tidak membentangkan jarak yang begitu lebar terhadap dirinya sebagai seorang guru dan muridnya.


" Sudah Abi, cepat sana berangkat. Nanti keburu malam!" ucap Qonita.


" Sebentar lagi waktu maghrib, kita pergi ke pasar malamnya habis maghrib saja supaya tenang di jalan!" ucap Kyai Ilham memutuskan.


Bagaimanapun tugasnya sebagai seorang ayah adalah untuk menyenangkan hati putrinya yang saat ini masih tampak terisak karena menginginkan pergi ke pasar malam bersama dengan Andrian.


" Baiklah Pak Kyai. Nanti saya akan datang kembali ke sini, kalau kita sudah hendak berangkat ke sana," ucap adean yang kemudian mengundurkan diri dari hadapan Kyai Ilham.


Setelah Ardian pergi Kyai Ilham pun kemudian menyerahkan putrinya kepada Qonita yang langsung memandikannya.


Qonita yang sudah menikmati perannya sebagai seorang ibu dan juga seorang istri dari seorang kyai besar seperti Kyai Ilham yang sangat mencintainya dan juga Putri mereka berdua.


Sejak mereka memiliki anak sekarang Kyai Ilham sudah benar-benar melupakan sosok Kesya di dalam hatinya.


Dia sudah tidak pernah lagi melamun ataupun memikirkan Keisha yang sudah menjadi istri dari Andika Abimana yang telah memiliki dua orang Putra dari hasil pernikahan mereka berdua.


Setelah selesai melaksanakan salat Maghrib dan memberikan instruksi kepada ustad yang akan menggantikannya untuk mengajar Santri, Kya Ilham bersama Qonita kemudian meluncur menggunakan mobil pribadinya untuk pergi keluar bersama dengan Adrian, Fathu dan Syifa.


" Wah Adrian kau memang benar-benar sangat luar biasa. Aku hanya memintamu untuk minta izin pergi keluar tetapi kau berhasil membawa Pak Kyai dan juga Syifa untuk ikut bersama kita," bisik Fathu di telinga Adrian. Fathu merasa sangat senang sekali dengan persahabatannya bersama dengan Adrian.


" Diamlah! Apa kau tidak malu mengatakan hal seperti itu? Kalau bukan karena Syifa yang menangis dan meminta ikut pergi ke pasar malam, tidak mungkin beliau ikut dengan kita! Apa kau pikir Pak Kyai kita itu orang yang sangat tidak ada pekerjaan sehingga harus mengantarkan ku pergi ke pasar malam?" bisik Adrian merasa kesal kepada fathuh yang selalu saja berpikir bahwa dirinya ditempatkan sebagai orang spesial di hati Kyai Ilham.


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Adrian, Fathupun akhirnya menutup mulut dan tidak lagi mengatakan apapun sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Syifa tampak begitu bahagia melihat Pasar Malam yang begitu ramai dan juga penuh dengan aneka permainan.


" Aku ingin naik itu! Ayo temani aku Umi," rengek Syifa sambil terus menarik tangan ibunya untuk naik komedi putar yang sangat ramai dengan anak-anak yang sedang menikmati pasar malam tersebut.


" Adrian, Fathu kalian temanilah Syifah untuk naik komedi putar kami akan mengawasi kalian di sini!" perintah Kyai Ilham kepada mereka berdua yang dengan senang hati akhirnya mengikuti perintah itu.


Akhirnya mereka pun naik komedi putar dan membuat senang Shifa dengan aneka permainan yang ada di pasar malam.


" Adrian Aku ingin membeli sesuatu dulu. Ayo kau temanin aku!" bisik Fathu di telinga Adrian yang saat ini sedang sibuk bermain dengan Syifa di tempat pemandian bola.


Kyai Ilham dan Qonita tampak senang melihat Adrian yang bermain dengan Syifa dengan begitu asik seperti kakak adik yang sedang bermain bersama.


" Kau belilah sendiri! Mintalah izin sendiri kepada Pak Kyai kau kan punya mulut. Kenapa semuanya harus aku sih?" ucap Adrian merasa kesel kepada Fathu.


" Ayolah Adrian Aku tidak mempunyai nyali untuk bicara dengan pak Kyai!" ucap Fathu dengan wajah penuh permohonan.


Akhirnya dengan wajah kesal, Adrian pun lalu mendekati Kyai ilham yang tampak sedang mengawasi Syifa yang asyik bermain bola.