
Pov Kesya
Sebelum kembali ke Dubai, aku meminta kepada suamiku, untuk bertemu empat mata dengan Mas Ilham. Aku ingin meminta maaf kepadanya. Tapi suamiku keberatan dengan permintaan dariku. Dia merasa cemburu kalau aku bertemu dengan Mas Ilham hanya berdua saja.
Mas Andika mengijinkan kalau dia juga ikut denganku. Aku akhirnya mengalah karena rasanya tidak akan pernah menang kalau berdebat dengannya. Suamiku orangnya keras kepala.
"Baiklah, Mas! Ayo kita menemui Mas Ilham dan Bu Nyai. Aku tadi minta mereka datang ke rumah Mamahku." Mas Dika merasa tidak nyaman tinggal dengan Mamah, makanya dia membujuk aku untuk tinggal di apartemennya.
Kami segera ke rumah Mamahku. Disana Mas Ilham juga sudah datang bersama dengan Ibu Nyai. Mas Rasyid dan Kak Zahra juga ada disana. Belum kembali ke Indramayu. Mereka menunggu keberangkatanku ke Dubai.
"Assalamualaikum!" sapaku pada mereka semua. "Waalaikum salam!" jawab mereka serempak.
Aku menyalami semua yang hadir di ruang tamu.
"Kita langsung saja ya. Saya mengundang Mas Ilham dan Ibu Nyai, khususnya adalah meminta maaf atas kejadian beberapa tahun lalu, yang mengakibatkan batalnya pernikahan saya dengan Mas Ilham." Aku menjeda ucapanku demi menarik nafas dan melihat reaksi Mas Ilham.
"Maafkan saya dan juga Keluarga saya, Mas!" aku tidak bisa membendung rasa sedih di hatiku.
"Itu murni kesalahan saya. Kesya istri saya tidak tahu apa-apa." Mas Dika ikut nimbrung dalam pembicaraan kami.
"Jadi Kamu sadar, kalau kamu salah?" tanya Mas Ilham ketus. Ada rasa benci di matanya.
"Mas Ilham, kita tidak berjodoh. Lupakan saya Mas! Mulailah hidupmu yang baru. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, tanpa ijin Allah tidak akan terjadi. Direncanakan atau tidak, pernikahan saya dengan Mas Dika sudah terjadi, bahkan sekarang sudah ada anak di antara kami. Saya mohon kelegowoan Mas Ilham, atas masalah kita dahulu."
"Saya sudah memaafkan kamu, Kesya. Saya berdoa untuk kebahagiaan kamu. Alasan saya belum menikah sampai sekarang, karena memang belum ada yang sreg di hati saya. Bukan karena saya masih mengharapkan kamu sebagai istri saya. Kamu jangan khawatir Dika! Saya paham agama dan saya paham, bahwa Kesya bukan hak saya lagi. Jangan mencurigai hubungan saya dengan Kesya. Kami sama sekali tidak ada hubungan apapun. Sejak Kesya datang ke Indonesia sampai sekarang, saya tidak pernah berusaha menemui dia secara pribadi. Saya tidak pernah melakukan hal apapun yang mangarah ke indikasi merebut istri kamu!" ucap Mas Ilham.
"Saya minta maaf, kalau sudah menorehkan luka di hati kalian. Cinta saya teramat besar untuk Kesya. Sehingga dahulu saya berbuat nekat. Maafkan saya sekali lagi. Apabila suatu saat, kalian membutuhkan bantuan saya, saya pasti akan menolong kalian." ucap Mas Dika.
"Saya rasa kita tidak ada masalah apapun. Kami sudah memaafkan masalah lalu, biarlah itu menjadi pelajaran. Kami iklas dengan apa yang sudah terjadi." Ucap Bu Nyai, Uminya Mas Ilham.
"Besok kami akan kembali ke Dubai. Tidak tahu kapan akan kembali. Dengan tulus, saya memohon maaf sekali lagi!" aku cukup terharu dengan itikad baik suamiku yang meminta maaf secara langsung pada Mas Ilham dan keluarganya
"Semoga perjalanan kalian dilancarkan, selamat sampai tujuan. Nanti kami akan mengirim surat undangan ke alamat kalian kalau Anak saya akan menikah. Kalian tidak usah mengkhawatirkan putra saya." Bu Nyai sejak dulu memang selalu bijaksana. Aku berlari ke pelukannya dan menangis tersedu-sedu. Sedih rasanya akan segera meninggalkan Indonesia.
Setelah puas bercengkrama dengan keluarga dan berpamitan dengan semua orang, aku dan Mas Dika pulang ke apartemen kami. Besok pagi-pagi kami akan langsung terbang ke Dubai.
Banyak sekali pekerjaan Mas Dika yang sudah menunggu. Kuliahku juga sudah menunggu. Selama dua Minggu kami tinggal di Indonesia, Alhamdulillah semua masalah yang mengganjal hati kami satu per satu bisa diselesaikan dengan baik. Selingkuhan suamiku juga sudah beres di amankan oleh mertuaku dan adik ipar ku.
Mas Ilham dan Bu Nyai kembali ke Jawa timur, Mas Rasyid dan Kak Zahra juga sudah kembali ke Indramayu. Mamahku juga sudah kembali ke rumah singgah yang dia kelola. Rumah Mamahku kembali kosong. Hanya satu Minggu sekali, Mamahku datang ke sana untuk membersihkan rumah keluarga kami.
Aku sudah kembali ke Dubai bersama suamiku. Sejak pertemuan dengan Mas Ilham pada hari itu, Mas Dika lebih banyak diam. Tidak tahu kenapa dia mendadak jadi murung begitu.
"Kamu kenapa sayang? Apa ada masalah?" tanyaku khawatir.
"Tidak apa-apa sayang, Mas hanya lelah saja." suamiku tampak melihat ke ponselnya lagi.
"Istirahatlah, Mas! Wajah kamu pucat, aku panggil dokter keluarga kita dulu!" suamiku menurut, dia naik ke ranjang dan meletakkan ponselnya di nakas samping ranjang kami.
Sepuluh menit kemudian, dokter datang. Setelah di periksa, suamiku ternyata anemia dan kelelahan. Dia di sarankan untuk bedrest total.
"Kamu istirahatlah, sayang! Aku ambil makanan kamu dulu ya, setelah itu Mas bisa minum obatnya. Jangan banyak pikirannya. Selalu positif thinking, Ok?" nasehatku. Suamiku hanya mengangguk dan menarik selimut sampai kepalanya. Aku ke dapur lalu membawa makan malam suamiku.
Saat ini mertuaku dan Merry sedang pergi ke Perancis. Menghadiri pesta pernikahan sepupu Mas Dika. Mereka akan seminggu di sana. Karena Merry ada rencana mau kuliah di sana. Jadi sekalian mengurus kuliah juga.
Keluarga Abimana memang mengutamakan pendidikan. Mereka selalu mendukung anggota keluarganya apabila ingin belajar. Jadi tidak heran mereka dulu juga tidak menentang sewaktu aku minta ijin untuk melanjutkan kuliahku.
Alhamdulillah, setahun lagi aku sudah bisa wisuda dan menjadi coas di rumah sakit keluarga Abimana. Keluarga mertuaku memang luar biasa. Memiliki banyak usaha dan properti.
"Sayang, aku nanti akan fokus dengan tugas kuliahku. Aku mau tinggal di apartemen yang dekat kampusku saja. Nanti aku bawa Adrian dan juga art untuk menemani aku di sana." aku lihat suamiku sudah menutup matanya.
Obat yang tadi dia minum mungkin sudah mulai bereaksi. Saat suamiku sudah pulas, aku langsung mengambil ponsel suamiku. Aku penasaran, dengan reaksi suamiku yang langsung down saat melihat ponsele tadi.
"Semoga ponselnya tidak di kunci!" aku mencoba membuka ponselnya, ternyata terkunci. Aku lalu mencoba sidik jari jempol suamiku. Berhasil terbuka. Aku langsung membuka aplikasi pesan berwarna hijau.
"Mas Dika, aku hamil Mas! Apa yang harus aku lakukan? Orang tua kamu melarang aku buat ketemu sama kamu lagi. Mereka mengancam akan memenjarakan aku selama 20 tahun kalau sampai nekat menemui kamu. Tapi akan berbeda kalau kamu yang menemui aku, Mas!" pesan dari Elena. Seketika tubuhku rasanya lemas sekali.
Aku mengingat kembali adegam mesum merek berdua. Tiba-tiba hatiku rasanya sangat sakit sekali. Kalau tidak ingat dengan Adrian, mungkin aku sudah lari dari rumah ini. Anakku butuh Papahnya. Aku gak bisa mengorbankan masa depan anakku demi anak wanita lain yang belum tentu anak suamiku.
Aku sudah menyelidiki Elena, dia wanita penganut free ***. Ada kemungkinan dia hamil dari laki-laki lain. Elena sehari bisa berhubungan dengan dua sampai tiga orang berbeda. Aku dulu pernah mempekerjakan seorang detektif swasta untuk mengawasi kehidupan Elena selain di kantor.
Selama berhubungan dengan Mas Dika, Elena juga berhubungan dengan mantan kekasihnya sewaktu dahulu kabur dari hidup Mas Dika. Aku punya semua bukti itu. Kalau Mas Dika berniat pergi ke Elena, aku bisa memberikan bukti tersebut untuk membuka matanya. Siapa Elena yang sebenarnya.