
Hari ini, sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh pengurus rumah tangga keluarga Abimana, di manstion utama akan di adakan sebuah pesta yang hanya dihadiri oleh kalangan orang terdekat mereka saja. Merry dan Alvian tidak turut serta. Karena Merry sibuk mengurus bayinya yang masih kecil di Pontianak.
Pesta tersebut termasuk sederhana bagi Abimana Group, tapi bagi Laila, pesta tersebut sangat mewah. Matanya tidak bisa berkedip saat melihat para undangan yang berasal dari para kalangan atas Dubai. Mereka adalah rekanan kerja Abimana Group. Andika sangat bahagia dengan kepulangan Adrian dan kunjungan keluarga istrinya setelah sekian lama mereka menetap di Dubai sejak pernikahan nya dengan Kesya.
"Para hadirin, kami sangat bahagia atas kepulangan putra kami yang lama tinggal di Indonesia, kami juga menyambut kedatangan keluarga kami dari Indonesia," ucap Andika dalam bahasa Arab. Laila tidak mengerti, dia hanya merasa takjub dengan suami Kesya tersebut.
"Apa kamu bisa bersikap biasa saja? Jangan bikin malu keluarga Abimana dengan kelakuan kamu!" Umynya Ilham sudah tidak tahan dengan Laila yang sejak tadi matanya menatap kagum kepada Andika, walaupun dia tahu, putranya tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh menantunya, tapi Bu Nyai merasa tidak enak dengan Kesya.
Dari tadi Kesya memperhatikan kelakuan Laila yang tampak mencari perhatian Suaminya. Kesya mendengar teguran Umynya Ilham terhadap sang menantu, Kesya hanya mengulas senyum, bagi Kesya, dirinya sudah biasa melihat para wanita yang terkagum-kagum melihat suaminya. Andika memang tampan dan gagah. Tidak heran kalau suaminya itu selalu menjadi pusat perhatian di manapun dia berada.
"Tidak apa-apa, Umy! Mas Dika sudah bisa dengan hal seperti itu! Dia tidak akan merasa terganggu!" ucap Kesya, saat kesya melihat Amanda yang bermain dengan Adrian. Kesya mendampingi mereka, khawatir ada masalah.
Kesya paham dengan tabiat Amanda yang penyendiri, tidak suka kalau di ganggu orang lain.
"Adrian, ayo ajak Kakaknya untuk bergabung bersama yang lain di sana!" Kesya lalu menggendong Cakra yang baru berusia satu tahun, masih belajar berjalan. Amanda sangat menyayangi Cakra, dia selalu bermain-main dengan Cakra. Amanda masih belum dekat dengan Adrian, karena memang baru bertemu beberapa hari belakangan ini.
"Kak Amanda, ayo kita ke sana, di sana banyak makanan enak, juga banyak teman-teman!" Adrian mencoba mendekati Amanda yang tiba-tiba berubah menjadi kakaknya. Adrian sebenarnya bingung, kenapa tiba-tiba dirinya mempunyai seorang kakak yang sebelumnya tidak pernah dia temui. Adrian ingat dulu pernah bertemu dengan Amanda saat mamahnya di rawat di Indonesia. Tapi tidak pernah menyangka bahwa gadis tersebut akan menjadi kakaknya sekarang.
"Mah, kenapa Kakak tiba-tiba menjadi seorang adik?" tanya Adrian ketika baru pertama bertemu dengan Amanda, Kesya awalnya bingung bagaimana menjelaskan hal tersebut kepada putranya, tapi kemudian mertuanya yang berinisiatif menjelaskan sehingga Adrian bisa paham dan mau menerima Amanda sebagai saudaranya. Adrian merasa senang sebenarnya, karena Amanda begitu sayang dengan adiknya, Cakra. Jadi Adrian juga akan sayang dengan Amanda, begitulah cara Adrian membalas kasih sayang Amanda untuk adiknya.
"Adrian, apakah kamu akan kembali ke Indonesia?" tanya Amanda ketika mereka berdua bersama.
"Kenapa?" tanya Adrian heran. Amanda menatap sendu wajah Adrian, "Aku rindu dengan Mamahku, aku ingin ikut dengan kamu, kalau nanti kamu mau kembali ke Indonesia!" ucap Amanda pelan, takut didengarkan oleh papahnya.
Amanda sangat ingat, kalau Papahnya pernah bilang kalau dia tidak boleh bertemu dengan mamahnya lagi. Hal itu membuat Amanda merasa sedih, kadang Amanda suka menangis kalau sedang sendiri. Bermain dengan Cakra adalah caranya untuk melupakan kerinduannya kepada mamahnya. Mamahnya pernah berpesan kepadanya, bahwa dia harus sayang kepada Cakra, adiknya. Hal itulah yang membuat Amanda selalu menjaga Cakra sepulang sekolah.
"Ibuku, di Indonesia! Papah bilang, mamahku sekarang sudah punya suami, kau lihatlah!" Amanda menunjukkan foto pernikahan Manda dan seorang pria tampan, yang kelihatannya sangat mencintai mamahnya, terlihat dari gesture yang diperlihatkan dalam foto tersebut.
"Mamahku menikah dengan Security yang pernah menolong dia, saat mengalami ancaman dari pamanku, mereka saling jatuh cinta, dan akhirnya menikah. Selama ini Papah kita mengirim mata-mata untuk mengawasi Mamahku, agar aku bisa tahu keadaan Mamah di sana!" terang Amanda dengan sedih, Adrian merasa kasihan dengan nasib kakaknya, entah harus bagaimana menghiburnya. Adrian lalu bangkit, dan mengambil kue coklat karamel yang lezat, lalu memberikannya kepada Amanda.
"Makanlah ini, perasaan kakak akan lebih baik!" ucap Adrian dengan mengulas senyum manisnya.
"Adrian, apakah kamu pernah membenciku?" tiba-tiba saja Amanda bertanya hal yang aneh menurut Adrian, Adrian menggeleng.
"Aku senang punya seorang Kakak, apalagi secantik dan sebaik Kak Amanda!" ucap Adrian dengan polos. Amanda lalu memeluk Adrian dan menangis tiba-tiba.
Adrian mengelus punggung kakaknya, "Adrian, kamu harus janji sama aku, kalau kamu ke Indonesia, ajak aku juga bersama kamu. Aku ingin bertemu dengan mamahku. Walaupun cuma sebentar, itu tidak masalah!" ucap Amanda dengan sedih. Tanpa mereka ketahui, Andika dan Kesya mendengar percakapan mereka.
"Mas, apa kita sekalian mengirim Amanda ke pondok pesantren Mas Ilham bersama Adrian saja? Disana selain bisa belajar, Amanda juga bisa bertemu mamah yang dia rindukan!" saran Kesya.
"Sayang, mungkin kamu lupa, dengan perjanjian yang sudah di tandatangani oleh Manda. Kita mengadopsi Amanda dan memberikan banyak materi untuk Manda, dengan syarat bahwa Manda tidak boleh bertemu dengan Amanda, setidaknya sampai usia Amanda dewasa, dan sanggup menerima keadaan ini. Mas hanya takut, nanti Amanda jadi drop dan panik. Biarlah, Amanda menangis sekarang, yang penting mental dia terjaga. Manda saat ini sudah menikah dan menurut anak buah yang Mas kirim, katanya saat ini Manda sudah menikah dan sudah mau punya anak. Bagaimana kalau nanti suami barunya tidak bisa menerima keberadaan Manda? Itu akan berakibat fatal bagi rumah tangga mereka. Tidak sehat juga untuk mental Amanda!" Kesya mengangguk, tanpa paham maksud suaminya.
"Kesya paham, Mas! Hanya saja, rasanya kasihan melihat Amanda yang terus sedih karena rindu dengan Mamahnya!" Andika menarik Kesya dalam pelukannya. Mereka tampak sangat romantis.
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua, Ilham dan Laila. Sepasang suami istri itu, yang satu tampak sedih melihat kemesraan Andika dan Kesya, dan yang satu merasa iri dengan melihat tuan rumah yang begitu ketar membahana.
Walaupun Kesya menggunakan cadar, namun aura kecantikan dan keanggunannya tidak bisa di tutupi. Semua mata para pria memusatkan perhatian mereka kepada Nyonya muda Abimana.
Mertua Kesya tampak bahagia melihat keakraban antara Adrian dan Amanda, sebelumnya dia merasa ketakutan kalau Adrian tidak bisa menerima kehadiran kakak barunya.