
Sudah satu minggu lamanya Rahmat berada dalam kondisi koma. Sehingga akhirnya dokter memutus bahwa Rahmat telah meninggal dunia karena telah mengalami Mati otak. Selain itu fungsi alat-alat vitalnya pun sudah berhenti ketika mereka memutuskan untuk mencopot mesin penunjang kehidupan yang menempel di tubuh Rahmat.
Tampak Humairoh yang matanya sembab karena menangis sejak tadi malam.
" Yang sabar ya Mah. Pasti Paman Rahmat pergi dengan tenang. Karena dia selama ini adalah orang yang baik. Kita sudah berusaha semampunya untuk bisa menyelamatkan beliau. Tetapi Allah lebih menyayanginya dengan mengambil dia dari sisi kita!" ucap Ayana berusaha menghibur ibunya yang terus menangis tersedu. Ketika melihat para suster yang sudah pasrah dengan kondisi suaminya.
Semua alat penunjang kehidupan Rahmat sudah dicopot oleh team dokter dan jenazahnya pun sudah siap untuk dibawa pulang ke Indonesia oleh Humairoh.
Dengan kekuatan mental yang sangat kuat. Humairoh melangkahkan kakinya dan kembali ke Indonesia bersama dengan Ayana dan Agus beserta Putra mereka.
Suasana berkabung benar-benar sangat kentara di kediaman Humairoh yang baru. Setelah identitasnya sebagai keluarga Sugandi terbuka di hadapan Rahmat.
Tampak dua remaja tanggung masuk ke kediaman itu dengan terheran.
" Kak, apa benar kalau ini adalah rumah kita?" tanya gadis yang berusia 15 tahun kepada kakaknya yang terlihat sangat tampan.
" Kakak juga tidak tahu Ini rumah siapa Dek. Hanya saja, bukankah tadi malam ketika Mama menelpon kita di pondok. Bukankah Mama menyuruh kita untuk datang kemari?" ucap laki-laki tampan itu kepada adiknya.
" Usman, Hana!" Humairoh yang melihat kedatangan Putra dan putrinya dia langsung memeluk keduanya sambil menangis tersedu.
" Ada apa ini mah? Kenapa Mama ada di sini? Oh ya, rumah siapa ini?" tanya Usman tampak kebingungan melihat rumah yang begitu mewah sekarang terpampang di hadapannya.
' Ya Tuhan begitu banyaknya dosaku keluarga ini. Bahkan Putra dan putriku bersama Mas Rahmat, mereka tidak mengetahui bahwa ibunya adalah seorang bisnis women yang sukses!' batin Humairoh sambil memeluk kedua anaknya dengan penuh haru.
" Temuilah Ayah kalian untuk terakhir kalinya, sebelum dia dimakamkan!" ucap Humairoh dengan suara yang tersekat di tenggorokan.
" Apa maksud perkataan mama? Baru sekitar seminggu lalu papa menelpon kami berdua, bahwa dia akan menjemput kami untuk tinggal bersama!" ucap Hana merasa terkejut mendengarkan perkataan ibunya.
" Bener Nak. Ayahmu sudah meninggal. Dia mengalami kecelakaan di Australia! Baru tadi malam jenazahnya sampai di Indonesia dan siang ini menurut rencana akan segera dimakamkan. Kami hanya menunggu kalian berdua untuk melihat jenazah Ayah kalian yang terakhir kalinya!" ucap Humairoh dengan Isak tangisnya yang membuat tangisan Hanna dan Usman pecah seketika.
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun! Ya Allah! Kenapa kau harus memisahkan kami di saat kami berniat untuk mulai hidup bersama?" ucap Usman lirik dengan air mata yang terus mengalir di kelopak matanya.
" Kak Mama pasti bohongin kita. Tidak mungkin kalau Ayah kita meninggal!" ucap Hana tetap tidak percaya kepada ibunya.
" Kalian lihatlah jenazah ayah kalian di ruangan itu. jenazahnya sudah siap untuk dimakamkan sekarang!" ucap Humairoh dengan air mata yang mengalir deras.
Hana dan Usman yang merasa asing dengan kediaman mewah itu mereka berjalan gontai dan mendekati keranda yang masih terbuka tutupnya.
" Mah sebaiknya Mama duduk saja di sana ya? Jangan berdiri terus, nanti Mama sakit!" ucap Ayana sambil memapah Humairoh yang tampak begitu lesu.
" Siapa perempuan cantik itu Kak? Kenapa dia memanggil mama kepada ibu kita?" tanya Hana kepada Usman.
" Kakak tidak tahu Dek. Kan kamu tahu sendiri kalau kakak sejak SD sudah tinggal di pondok. Mama juga kan jarang mengunjungi kita di pondok jadi kakak tidak tahu tentang kehidupan Mama yang sesungguhnya!" ucap Usman sambil menatap tajam kepada Ayana dan Humairoh yang tampak begitu dekat dan akrab di matanya.
" Apakah mama punya anak lain selain kita berdua Kak?" tanya Hana dan Usman yang merasa seakan asing dengan ibu kandungnya sendiri.
Humairo yang mereka kenal adalah ibu rumah tangga sederhana yang tidak kaya raya. Oleh karena itu mereka merasa asing ketika melihat Humairoh yang berpenampilan mewah dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Semua yang digunakan oleh Humairoh adalah barang-barang mewah yang tidak akan mungkin bisa dibeli oleh ibu kandung mereka yang mereka kenal.
" Apa mungkin dia bukan ibu kita Kak? Bukankah ibu kita itu adalah wanita sederhana? Wanita yang selama ini selalu berpenampilan sederhana. Kakak ihatlah! Perempuan itu begitu mewah penampilannya. Aku yakin kalau dia bukan ibu kita mungkin dia adalah kembarannya?" tanya Hana kepada kakaknya yang masih terus memperhatikan Humairoh yang tampak begitu lesu dalam lemas dipelukan Ayana.
" Dia adalah Ibu kandungmu! Dan wanita cantik yang saat ini sedang memeluknya adalah kakak kalian. Dia adalah istriku yang bernama Ayana Sugandi!" ucap Agus sambil tersenyum kepada Usman dan Hana yang tampak terkejut mendengarkan penuturannya.
" Dan siapa Kakak? Kenapa bisa mengetahui semua perihal Keluarga kami yang bahkan kami berdua tidak tahu sama sekali?" tanya Usman merasa terkejut dengan semua yang disampaikan oleh Agus kepada mereka.
" Bagaimana mungkin tiba-tiba kami memiliki seorang kakak dan memiliki seorang ibu yang kaya raya?" tanya Usman masih belum percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
Keluarga yang diketahui oleh Usman dan Hana adalah keluarga dengan kepala rumah tangga bernama Rahmat yang bekerja sebagai sopir dan Humairah yang bekerja sebagai rumah tangga biasa yang selalu hemat dalam setiap pengeluarannya.
Bahkan Usman masih sangat ingat ketika dirinya masih kecil dulu. Ibunya harus pontang-panting untuk meminjam uang hanya untuk membeli susu untuk adiknya.
Bahkan ketika dirinya masuk rumah sakit dia melihat betapa ibunya bekerja keras untuk bisa mendapatkan pinjaman uang untuk biaya rumah sakitnya.
Oleh karena itu Usman benar-benar sangat terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata ibunya adalah orang yang kaya raya.
" Kehidupan seperti apa yang disembunyikan oleh ibu kita Kak? Kenapa rasanya dia begitu mengerikan bagiku?" tanya Hana sambil menyembunyikan tubuhnya ketika melihat Humairoh hendak mendekatinya.
" Kalian beristirahatlah dulu, atau kalian ingin ikut ke pemakaman untuk memakamkan ayah kalian?" tanya Humairoh sambil berusaha untuk menggenggam tangan kedua anaknya.
Tetapi Usman dan Hana tampak menghindari Humairah dan menatap tajam kepada perempuan yang saat ini sedang bersedih hatinya karena ditinggalkan oleh suami yang dia cintai.
Sekarang Humairo harus menerima satu kenyataan lain yaitu penolakan Usman dan Hana terhadap dirinya. Ibu kandung mereka.