Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
134. Sungguh Terlalu



" Apakah itu benar Thomas yang dikatakan oleh Rasya bahwa kamu mengganggu?" tanya ibu guru kepada Thomas.


Thomas masak kesal dengan kelakuan Rasya yang melaporkan dirinya telah mengganggu konsentrasi belajarnya.


"Saya hanya menegur dia untuk jangan bersikap kasar terhadap Melati, Bu. Tetapi Rasya tidak terima!" ucap Thomas kepada gurunya berusaha untuk berkata jujur.


"Apakah itu betul Rasya, yang dikatakan oleh Thomas?" tanya ibu guru kepada Rasya.


Rasya hanya mengangguk saja, ketika dia mendengarkan pertanyaan gurunya tadi. Kemudian ibu guru itu pun menatap keduanya berusaha mencari kebenaran di mata kedua muridnya.


"Tampaknya Ibu sudah mengerti kronologis dari kejadian yang menjadi permasalahan di antara kalian!" ucap ibu guru sambil menatap keduanya.


"Thomas, tampaknya Rasya tidak suka kalau kamu mencampuri urusannya. Jadi lebih baik Kalau kamu tidak usah melakukan hal itu lagi. Dan Kamu Rasya, sebaiknya kamu harus menerima apabila temanmu memberikan saran maupun teguran kepadamu, selama itu adalah demi kebaikan!" ucap ibu guru sambil memandang kedua muridnya satu persatu.


"Sekarang Ibu mau kalian saling memaafkan dan jangan lagi berantem seperti tadi. Kalian ini masih kecil tidak boleh menyimpan dendam terhadap teman kalian sendiri!" ucap ibu guru memberikan nasehat kepada kedua muridnya.


Rasya dan Thomas saling menatap satu sama lain dengan terpaksa Mereka pun akhirnya saling berjabat tangan dan meminta maaf satu sama lain.


"Maafkan aku karena aku sudah lancang mengikuti urusan kamu. Aku janji nggak akan pernah ulangi lagi!" ucap Thomas sambil menyalami tangan Rasya.


Rasya tampak terdiam dan memandangi Thomas yang saat ini sedang menatap ke arahnya kemudian menatap sang ibu guru yang menunggu dirinya untuk membalas ucapan permohonan maaf dari Thomas.


Dengan suara gemetar dan rada-rada ketakutan akhirnya Rasya pun mengeluarkan suaranya, " Maafkan saya juga, saya yang tidak sopan terhadap kamu, karena sudah berkata kasar dan juga tidak menghargaimu sebagai seorang teman. Maafkan saya!" ucap Rasya dengan mata yang berkaca-kaca.


Thomas melihat semua itu dan merasakan Ketulusan dalam ucapan maaf yang disampaikan oleh Rasya.


"Aku memaafkanmu Semoga kita bisa menjadi teman yang baik dan bisa menjadi teman yang saling mendukung satu sama lain!" ucap Thomas menyampaikan harapannya kepada Rasya.


" Aku tidak membutuhkanmu sebagai teman cukup kau tidak mencampuri urusanku saja karena aku tidak suka dengan hal itu!" ucap rahasia sambil menatap tajam ke arah Thomas yang kini merasa bingung dengan nada suara Rasya yang mulai meninggi.


"Sudah! Kalian berdua sudah berdamai dan sudah saling memaafkan. Jangan berantem lagi Ibu guru paling tidak suka!" kecap bu guru mengakhiri perdebatan diantara kedua muridnya itu.


Thomas dan Rasya kemudian menundukkan kepala mereka dan akhirnya mereka pun diam dan fokus untuk mengikuti pelajaran hari itu.


Ketika jam istirahat berbunyi Rasya dan Thomas tampak akan berdiri bersama-sama akan berangkat menuju kantin sekolah.


" Ayo kita ke kantin bersama-sama pasti akan lebih menyenangkan kalau berdua daripada sendirian!" ucap Thomas berusaha untuk ramah kepada Rasya.


" Aku tidak suka keramaian. Aku pergi sendiri saja jangan ganggu aku!" Rasya kemudian meninggalkan Thomas sendurian dalam kebingungannya.


Saat di kantin, Thomas melihat Melati yang tampak sedang memperhatikan Rasya, yang duduk di pojokan seorang diri seperti biasanya. Thomas tampak tak heran.


"Melati! Kenapa kau suka sekali memperhatikan Rasya? Dia itu, mahluk anti sosial! Dia tidak suka bergaul dengan siapapun. Sebaiknya Kau melupakan dia saja. Tidak usah dekat-dekat dengan dia, kalau tidak kau akan sakit hati!" Thomas mencoba untuk menasehati melati.


"Aku hanya merasa kasihan sama dia. Pasti masalah keluarganya yang sudah merubah dia seperti itu. Rasya yang dulu itu, memiliki pribadi yang hangat dan juga sangat ramah dan menyenangkan!" ucap Melati menatap ke arah Thomas.


"Memang sih, terkadang permasalahan keluarga itu bisa menjadi semacam cambuk untuk melakukan sesuatu yang tidak seperti biasanya dilakukan. Semacam perubahan sikap yang terjadi pada Rasya ini, dia pasti secara psikologis dan mental. Dia sangat menderita dengan perpisahan kedua orang tuanya!" ucap Thomas sambil menatap tajam ke arah Rasya.


Rasya yang merasa sedang diperhatikan oleh Thomas dan melati akhirnya memilih untuk meninggalkan kantin dan kembali ke kelas.


Karena jam istirahat sudah selesai akhirnya Thomas dan melati pun kembali ke kelas mereka. Memulai kembali pelajaran hari itu.


Setelah jam pelajaran selesai, tampak Melati hendak mendekati Rasya. Tetapi Thomas langsung menggamit tangannya dan menjauhkan Melati dari Rasya.


" Apa yang kau lakukan ini Thomas sangat tidak sopan sekali!" tegur Melati merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Thomas kepadanya.


" Aku kan sudah bilang sama kamu tidak usah mendekati lagi Rasya nanti kamu hanya merasakan sakit hati dari dia!" Thomas berusaha menasehati temannya itu.


" Kenapa sih kamu suka sekali mencampuri urusan orang lain? Kamu urus aja urusanmu sendiri. Aku tidak butuh kau urusi!" ucap melatih dengan marah kepada Thomas.


Melatih kemudian mencari keberadaan Rasya yang ternyata sudah pulang dengan sopir penjemputnya. Melati merasa sangat kecewa dan merasa kesal kepada Thomas yang tadi sudah membuat dia jadi kehilangan Rasya.


"Semua ini gara-gara Thomas Kalau tidak aku pasti sudah bicara dengan Rasya!" ucap Melati sangat kesal sekali.


" Ayo kita pulang! Sedang apa kau disini?" tiba-tiba Thomas sudah berada di samping melati. Melati memanyunkan bibirnya karena dia masih merasa jengkel dengan Thomas yang sudah mencampuri urusannya.


"Urus saja urusanmu gak usah ngurusiku!" siap Melati kemudian pergi meninggalkan Thomas yang masih bengong terlongong.


" Ya ampun punya dosa apa aku ini kenapa memiliki teman semuanya kayak gitu benar-benar menyebalkan!" ucap Thomas sambil pergi meninggalkan sekolahan dan kembali ke rumahnya.


Thomas adalah anak dari keluarga yang lumayan berada. Bisa dikatakan seorang konglomerat karena keluarganya memiliki beberapa usaha di dalam negeri maupun luar negeri jadi dia tidak bisa dikatakan sebagai orang miskin.


Oleh karena itu Thomas merasa sangat terganggu sekali dengan perilaku Rasya yang seakan merendahkan semua orang yang ada di sekolahannya Padahal dia sendiri walaupun seorang anak konglomerat tetap rendah hati dan berusaha menjadi teman mereka semua.


"Jangan sampai aku ikut-ikutan seperti mereka pada aneh semuanya. Sangat sulit untuk diajak bergaul!" ucap Thomas kepada dirinya sendiri.


Begitu sampai di rumah Thomas pun memilih untuk menyelesaikan tugas sekolah yang diberikan oleh ibu guru sebelum pulang tadi.