
Masa berkabung ibunya Firman selama 40 hari telah selesai. Firman pun kembali melanjutkan gugatan perceraiannya untuk Syafa. Hari ini Firman kembali menemui pengacaranya, untuk kembali memproses tuntutannya.
"Penuhi semua tuntutan yang disampaikan oleh pihak Syafa. Aku hanya ingin gugatan ini segera selesai tidak ingin berlarut-larut!" ucap Firman memberikan perintah kepada pengacaranya.
"Bagaimana dengan perihal harta gono gini, maupun hak asuh anak Tuan? dengan tunjangan dan sebagainya. Apakah anda setuju semua dengan permintaan mereka?" tanya pengacaranya Firman kepadanya.
"Aku kan sudah bilang, penuhi saja semuanya. Aku tidak mau berlarut-larut berurusan dengan dia. Aku ingin semuanya cepat selesai!" ucap Firman tidak mau panjang lebar lagi.
Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan, akhirnya pengacara itu pun meninggalkan Firman seorang diri di kantornya. Selama menikah dengan Laila, Laila tidak pernah satu kali pun mendatangi kantor Firman tersebut.
"Aku akan menelpon Laila. Aku akan mintanya untuk datang ke sini dan membawakanku makan siang!" ucap Firman dengan wajah sumringahnya.
Firman merasakan bahagia, karena sebentar lagi dirinya bisa mengumumkan kepada publik. Bahwa dirinya adalah suami seorang Laila wanita yang sangat dia cintai.
"Halo sayang! Apakah kau bisa datang ke kantorku? Bawakan aku makan siang. Aku sangat merindukanmu. Nanti aku akan mengirimkan supir untuk menjemputmu!"
"Maafkan Aku Mas! Aku nggak bisa datang ke kantormu. Aku malu kalau nanti karyawanmu mengatakan bahwa aku ini seorang pelakor, yang merebutmu dari istrimu!" ucap Laila dengan nada sedih.
"Apa yang kau lakukan? Datanglah! Aku tidak peduli dengan kata-kata mereka semua. Yang aku butuhkan adalah kamu saat ini!" ucap Firman bersikeras untuk Laila datang ke kantornya sekarang juga.
"Maafkan aku sekali lagi, Mas! Kalau kau merasa bahwa aku seorang istri yang pembangkang. Karena tidak menurut denganmu. Tapi aku sungguh tidak bisa untuk datang ke sana. Maafkan aku sekali lagi!" ucap Laila kemudian menutup teleponnya.
Saat ini Firman benar-benar sangat marah, karena mendapatkan penolakan dari Laila. Dengan sangat cepat, firman langsung mengambil jasnya dan kemudian pulang ke rumahnya untuk menemui laila.
Begitu sampai di depan rumahnya, Firman langsung masuk ke dalam kamar mencari Laila. Yang sedang berbaring di kasurnya.
Tetapi Firman mengurungkan kemarahannya, karena melihat Laila yang terus memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
"Kamu kenapa sayang? Apakah kamu merasakan sakit? Katakan padaku apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Firman dengan penuh khawatir melihat Laila yang terus kesakitan di perutnya.
"Mas tolong antarkan aku ke rumah sakit. Perutku sekali sejak tadi siang!" keringat dingin sudah bercucuran di kening Laila, sehingga membuat Firman sangat khawatir dengan kondisinya saat ini.
Dengan segera, Firman langsung mengangkat tubuh Laila ke atas mobil dan membawanya ke rumah sakit. "Sabar sayang! Sebentar lagi kita akan ke rumah sakit bertahanlah!" ucap Firman berusaha menguatkan Laila dengan menggenggam tangannya.
"Sakir sekali, Mas! Aw.. perutku sangat sakit! Aku takut kenapa-napa dengan anakku!" ucap Laila terus memegangi perutnya.
Firman benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Laila saat ini. Begitu sampai ke rumah sakit, Firman langsung mengangkat tubuh Laila dan masuk ke UGD untuk segera ditangani oleh dokter.
Firman terus bolak-balik di depan pintu UGD, berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya.
Setelah menunggu hampir 3 jam, akhirnya Laila keluar dari ruangan UGD. Laila tampak pingsan tidak sadarkan diri. Firman yang benar-benar merasa khawatir dengan kondisi sang istri saat ini. Terus mengikuti dokter yang membawa Layla ke ruang perawatan.
"Istri anda mengalami keracunan makanan, untung saja, istri Anda segera dibawa ke rumah sakit. Kalau tidak, anda bisa kehilangan bayi anda!" ucap dokter memberikan penjelasan kepada Firman mengenai kondisi Laila saat ini.
"Keracunan makanan? Apa maksud anda dokter?" Firman masih bingung dengan keterangan sang dokter.
"Istri anda memakan makanan yang mengandung racun dan itu sangat berbahaya untuk janinnya, kalau tidak cepat-cepat ditolong!" ucap sang dokter kepada firman.
"Dari mana istriku bisa mendapatkan makanan yang beracun?" tanya firman kepada dirinya sendiri.
Ketika sudah berada di ruang perawatan, Firman pun menemui Laila yang tampaknya masih belum sadar dari obat bius yang diberikan oleh dokter.
"Berapa lama istriku akan tertidur dokter?" tanya firman merasa khawatir.
"Sekitar 5 sampai 6 jam lagi, baru istri anda akan terbangun. Karena saya memang sengaja, memberikan obat tidur untuk istri Anda, agar dia bisa beristirahat!" ucap Dokter tersebut memberikan keterangan kepada Firman.
Setelah dokter itu pergi, Firman pun kemudian menghubungi mertuanya. Untuk menjaga Laila, karena dirinya sendiri akan mengurus sesuatu untuk mengobati rasa penasaran nya saat ini akan sesuatu kebenaran.
"Halo Mah! Saat ini Laila sedang dirawat di rumah sakit. Bisakah Papa dan Mama datang ke sini? Untuk menunggu Laila. Saya harus memeriksa sesuatu!" ucap fFrman kepada mertuanya.
"Baiklah Papa dan Mama akan segera ke sana. Kamu bisa melakukan pekerjaanmu. Jangan khawatir dengan Laila!" ucap Ibu mertuanya Firman.
Firman pun langsung menutup panggilan telepon tersebut, dan kemudian langsung Melarikan mobilnya ke rumah nya bersama Laila.
Tampak Firman mengotak-atik laptop yang ada di rumahnya, dan kemudian Firman memeriksa setiap CCTV yang dia pasang di kediamannya.
Firman mengerutkan keningnya, ketika melihat Syafa yang datang bertamu ke rumahnya dan membawa sebuah kue coklat dan diberikan kepada Laila.
"Aku membawa kue ini untukmu, dan aku tahu kalau wanita hamil, Pasti sangat suka dengan makanan manis-manis!" ucap Syafa sambil menyodorkan kue itu kepada Laila.
Laila yang merasa sangat bahagia mendapatkan kunjungan dari madunya pun, tanpa merasa curiga menerima kue itu. Laila kemudian memakannya sampai habis setengahnya. Setelah melihat Laila telah memakan kue yang di bawanya, Syafa pun kemudian pergi dari kediaman Firman dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Kemudian Firman pun mengecek CCTV yang berada di depan pintu gerbang rumahnya, di sana, menampakan Syafa yang sedang tertawa bahagia dan kemudian meninggalkan rumahnya.
Firman kemudian mengecek kembali Laila, yang berada di ruang tamu, yang tiba-tiba saja merasakan sakit perut dan kemudian langsung naik ke atas ke kamar mereka berdua.
"Ya Allah kenapa tiba-tiba perutku sangat sakit sekali? Ada apa denganku?" tanya Laila sambil menahan perutnya yang kesakitan.
Tidak lama kemudian, telepon berdering dan itu adalah panggilan dari Firman yang meminta Laila untuk datang ke kantor.
"Rupanya Syafa sudah berani bermain kotor seperti ini. Aku harus memeriksa kue itu ke Laboratirium dan memastikannya sendiri!" Firman kemudian pergi dari kamarnya.