
"Mah! Kalaupun Syafa menerima pernikahannya Mas Firman dan Laila. Mas Firman tidak akan pernah bisa adil sama Shafa, Mah! Pernikahan itu cuma akan menjadi kubiran bagi Syafa! Akan lebih baik, kalau mas Firman menceraikan Syafa! Dari lada harus berada dalam pernikahan yang akan membunuh Syafa perlahan-lahan!" ucap Syafa dengan berderai air mata.
"Syafa! Dengarkan Aku! Aku pasti bisa bersikap adil sama kamu dan juga Laila. Untuk saat ini. Aku mohon agar kamu bisa mengerti! Mengerti keadaanku saat ini. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Laila. Dia sedang hamil anakku. Aku tidak akan membiarkan anakku lahir tanpa Ayah! Apa kau dengar itu?" Firman kini duduk bersimpuh di kaki Syafa. Memohon agar Syafa menarik kembali keinginan dirinya, untuk bercerai dengan dirinya.
"Bagaimanapun! Aku tidak ingin menceraikan kamu, Syafa! Ada Rasya di antara kita! Aku juga tidak akan membiarkan Rasya hidup tanpa seorang ayah. Aku hanya meminta sama kamu, untuk bisa menerima Laila dan anaknya. Aku mohon Syafa! Aku mohon! Kamu berikanlah kebaikan hatimu untuk mengerti apa yang saat ini aku rasakan!" pinta Firman dengan memeluk kaki Syafa.
"Kamu sakit, Mas! Kamu gila! Kau memintaku untuk mengerti perasaan kamu. Lalu, apakah kamu mengerti perasaan aku, Mas? Apakah kamu ngerti perasaan aku, hah? Saat kamu menghianati aku di belakangku. Apakah kamu ngerti, bagaimana perasaan aku? Saat kamu pergi jalan-jalan ke Maldives saat itu. Apakah kamu memikirkan juga, bagaimana perasaan aku, Mas? Kamu gak ngerti, Mas! Kamu tidak mengerti, bagaimana perasaan aku! Kamu hanya egois! Kamu hanya memikirkan kebahagiaan kamu sendiri. Kamu tidak melihat penderitaan Rasya, huh? Ketika melihat kamu bersama dengan perempuan itu?" Syafa kini berteriak histeris. Mengucapkan segala perasaannya selama ini. Sejak mengetahui bahwa Firman telah menikah kembali tanpa persetujuan dirinya.
"Firman! Papa akan membawa Laila malam ini juga ke Jawa Timur. Kau berrundinglah! Dengan keluargamu. Apa yang akan kalian lakukan. Apa keputusan kamu, sebagai seorang suami. Kami sekeluarga, akan menerima segala keputusanmu. Termasuk itu, kalau kamu memutuskan akan menceraikan Laila. Papa siap untuk menerima semuanya. Papa juga bersedia untuk mengurus anak kalian. Tenang saja! Anakmu tidak akan terlantar. Karena kami pun bukan orang miskin yang tidak akan sanggup memberikan anak maupun cucu kami makanan dan kehidupan layak!" ucap Ayahnya Laila dengan gagah.
"Pah! Tolong buka pintunya! Laila ingin keluar, Pah! Laila ingin pulang ke Jawa Timur bersama Papah dan Mamah! Pah, Papah! Tolong buka pintu kamar ini, Pah!" Laila terus berteriak menggedor-gedor pintu kamarnya yang berada di lantai 2. Akhirnya, ayahnya Laila pun naik ke lantai atas dan mendatangi kamar yang saat ini digunakan untuk mengurung Laila oleh Firman.
"Firman! Cepat kau berikan kuncinya! Papa akan membawa Laila hari ini juga ke Jawa Timur! Kau selesaikan semua urusanmu bersama dengan keluargamu!" ucapnya tegas tanpa bisa di bantah.
"Tdak, Pah! Firman tidak akan membiarkan Papa membawa istri dan anak Firman. Mereka adalah tanggung jawab Firman sebagai suaminya dan ayahnya. Papa tidak punya hak apapun terhadap mereka berdua!" ucap Firman tidak kaha tegas.
"Firman! Kamu benar-benar sudah gila!" ucap ayahnya.
Firman menatapnya mata sang ayah yang akhirnya menunduk karena ketakutan melihat Firman yang saat ini matanya menyala merah. Karena kemarahan yang besar ada di sana. 'Firman sudah kalap.' bathin ayahnya Firman.
"Firman, Nak! Bangun, sayang! Jangan seperti ini!" ibunya Firman kini memeluk Firman dengan penuh kesedihan.
"Syafa! Mama mohon! Kasihanilah putra Mama! Mama tidak ingin, apabila harus kembali melihat Firman terjatuh lagi seperti dahulu! Mama mohon, Syafa!" ucap Mamahnya Firman sambil memeluk putranya yang kini menangis dalam pelukannya.
Keadaan di ruang tamu itu, benar-benar kacau balau. Semua orang tampak tegang dan sedih. Rasya yang harus melihat adegan itu pun kini berderai air matanya. Melihat Neneknya, Ayahnya serta Ibunya. Yang kini tengah menangis semuanya. Rasya saat ini benar-benar bingung, bagaimana harus bersikap ketika melihat drama pernikahan kedua orang tuanya. Akhirnya Rasya memilih untuk pergi dari rumah itu. Karena sudah tidak sanggup lagi melihat penderitaan ibunya. Bahkan Neneknya kini telah mengkhianati mereka berdua. Ibu dan dirinya.
Rasya benar-benar kecewa terhadap Neneknya dan Ayahnya. Yang nampaknya tidak memperdulikan kesedihan ibunya. Tampaknya, rumah tangga Ayah dan Ibunya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Rasya seorang diri di pinggir jalan. Seperti orang yang tidak memiliki arah dan tujuan. Sungguh kasihan sekali! Anak sekecil itu, harus mengalami penderitaan yang begitu hebat. Karena perbuatan kedua orang tuanya. Yang sama-sama mementingkan ego masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Akhirnya, anaklah yang menjadi korban dari semua kekisruhan malam itu.
Sementara itu, di ruang tamu. Suasana makin panas ketika Syafa tiba-tiba saja mengambil pisau buah yang ada di hadapannya. Dan mengancam akan memotong nadinya. Apabila Firman tidak mau menceraikan dirinya.
"Mas! Aku mohon! Kalau kamu memang benar, tidak bisa meninggalkan Laila. Sebaiknya kamu menceraikan aku saja, Mas! Aku tidak akan bisa hidup dalam penderitaan semacam itu. Dengan berbagi suami dengan perempuan lain. Aku mohon, Mas! Bebaskanlah aku! Ceraikanlah aku! Kalau Mas tidak bisa meninggalkan Laila. Aku mohon, Mas! Atau, aku akan membunuh diriku dengan pisau ini! Dan akan mengakhiri semua penderitaan ini sampai di sini saja!" Isak Syafa sudah hilang akal.
Semua orang di sana sudah ketakutan. Melihat Syafa yang menggenggam pisau tersebut dengan tangan gemetar dan air mata yang berderai. Firman pun saat ini sudah mulai mendekati Syafa. Tetapi Syafa tidak ingin didekati. Syafa turus histeris dan meminta agar Firman menceraikannya.
"Ceraikan aku, Mas! Aku mohon!" tangis Syafa semakin menyayat hati. Ibunya Laila pun kini berderai air matanya. Dirinya sebagai seorang wanita, bisa memahami perasaan Syafa saat ini. "Firman. Kamu lepaskan Putri kami. Biarkan kami berdua untuk membawa putri kami kembali dan mengambilnya dari kamu. Toh, Laila juga sudah bersedia bukan? Untuk kamu tinggalkan. Firman! Dengarkan nasehat Mama! Jangan bersikap egois seperti ini. Ada sebuah nyawa yang menjadi taruhan di sini. Dan Mama juga tidak ingin, apabila Putri Mama. Menjadi penyebab dari kematian orang lain!" ucap ibunya Laila dengan air mata bercucuran. Hatinya sebagai seorang wanita, tidak sanggup melihat penderitaan di mata Syafa.
Toh, dirinya mengingat bahwa Laila memang menikah dengan Firman adalah karena keterpaksaan. Kalau bukan karena Firman yang menjebak Laila dengan foto mesum itu dan video-video mereka. Laila tidak akan mungkin mau menjadi istri dari Firman. Yang sudah memiliki seorang anak dan istri. Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan ibunya Laila menasehati Firman untuk mau melepaskan putrinya. Adapun masalah cucunya, yang ada dalam perut Laila, suaminya sudah memberikan jaminan akan mengurusi. Jadi dia merasa tenang saat ini.