
Dengan penuh amarah Ayana mendatangi kediaman Humairoh. Bibinya yang telah meninggalkan keluarga Sugandi demi memperjuangkan cintanya dengan sang suami, Rahmat!
"Ada apa Ayana, kau datang-datang ke sini malah dengan muka cemberut seperti itu apakah kau sedang mengalami masalah?" tanya Humairoh tampak keheranan kepada keponakannya sambil meletakkan kopi di atas meja untuk Ayana.
"Bibi pokoknya harus menolong Ayana untuk menyelamatkan perusahaan Sugandi. Ayana pokoknya nggak rela perusahaan itu hancur begitu saja. Tolonglah Bi Lakukan sesuatu!" Ayana terus memohon kepada Humairoh untuk membantu dia menyelamatkan perusahaan keluarga mereka.
"Kamu juga sih! Kenapa sih harus cari masalah sama Firman? Kenapa nggak bisa melupakan dia? Dia itu kan sudah punya istri dan anak. Apa kamu tidak bisa melepaskan masa lalumu yang menyakitkan itu? Lihatlah apa yang sekarang diterima seluruh keluarga kita menanggung semua kerugiannya!" ucap Humairoh dengan ada kesal memprotes semua yang dilakukan oleh Ayana selama ini.
"Ih Bibi apaan sih? Ayana datang ke sini tuh minta bantuan Bi! Bukan untuk diomelin seperti ini. Bibi bilang aja sama Ayana mau bantuin atau enggak? Kalau enggak Ayana mau pergi saja dari sini. Ayana akan mencari paman yang lain untuk membantu mengembalikan perusahaan Sugandi!" ucap Ayana dengan nada kesal kepada Humairoh.
"Ya ampun Ayana! Sejak dulu sifat kamu itu tidak pernah berubah. Selalu saja berapi-api semacam itu. Apa kau tahu? Sifat itu tidak baik untuk kau pelihara. Apalagi kamu diberikan kepercayaan oleh keluarga besar kita untuk memimpin perusahaan keluarga!" ucap Humairoh berusaha untuk menasehati Ayana agar bisa bersikap lebih sabar dan juga tidak arogan.
Tampak Ayana misuh-misuh tidak terima dikatakan seperti itu oleh Humairoh.
"Sudah kau tenang saja. Nanti Bibi akan bicara dengan Firman. Selama ini kan hubungan Bibi dengan Firman lumayan baik. Semoga saja dia masih mengingat hubungan itu dan mau membatalkan apa yang sudah dia rencanakan! Tapi Bibi minta kepadamu, untuk tidak mengganggu lagi Firman dan keluarganya. Lepaskanlah ambisi gila mu untuk bisa mendapatkan kembali Firman. Karena dia sudah punya istri dan juga punya anak dan Bibi lihat Firman sangat mencintai istrinya itu!" ucap Humairoh memberikan syarat kepada Ayana untuk dirinya mau membantu mengembalikan perusahaan sugendi yang saat ini berada diambang kehancuran.
"Apakah Bibi yakin bisa meyakinkan Firman untuk menggagalkan niatnya?" tanya Ayana tampak meragukan kemampuan bibinya untuk bisa bernegosiasi dengan Firman.
"Kamu tenang saja Ayana. Kalaupun Firman tidak bisa dibujuk nanti Bibi yang akan membeli perusahaan itu dan akan memberikannya kembali padamu!" ucap Humairoh dengan penuh keyakinan sehingga membuat Ayana tersenyum sumringah karena dia melihat ada setitik harapan.
"Tapi bibi mengharapkan kamu untuk memenuhi janji kepada bibimu ini, untuk tidak mengganggu Firman dan keluarganya lagi apa kau bisa?" tanya Humairoh sambil menatap tajam kepada ayahnya karena dia ingin melihat kejujuran dan ketulusan di mata keponakannya.
Tampak Ayana menundukkan kepalanya. Sangat lama sepertinya berat dia untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Ayana tidak rela melihat Firman hidup berbahagia dengan istrinya. Sementara Ayana di sini hidup menderita bahkan selalu ditolak untuk menikah oleh para pria yang dijodohkan oleh orang tua kita. Semua itu gara-gara Firman Bibi apa Bibi melupakannya?" ucap Ayana dengan berderai air mata sehingga membuat Humairah merasa Iba dengan keponakannya.
"Bibi tahu penderitaanmu sangat besar gara-gara Firman. Tetapi cukuplah sudah semua itu. Jangan kau lagi menambah penderitaan yang akan semakin bertambah! Bibi tahu kalau Firman itu sangat mencintai istrinya. Dia bahkan rela melepaskan hak warisnya terhadap keluarga besarnya dan sekarang diberikan kepada anaknya dari istri pertamanya! Apa dari situ Kau tidak bisa melihat berapa besar Firman mencintai istrinya saat ini?" hanya Humairoh sambil menggenggam tangan Ayana mencoba untuk memberikan kekuatan kepada keponakannya yang sudah sangat lama menderita gara-gara Firman di masa lalu mereka.
"Apakah benar bi kalau Firman begitu mencintai istrinya sehingga rela melepaskan hak waris terhadap keluarga besarnya?" tanya Ayana seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bibinya tadi.
"Benar itu adalah sebuah kenyataan. Oleh karena itu sekarang Firman pindah ke Surabaya. Karena dia tidak ingin memberikan beban mental kepada istrinya yang selalu disebut sebagai pelakor oleh orang-orang sekitar rumah mereka!" ucap Humairoh menceritakan kisah hidup tentang Firman dan juga Laila yang sudah terkenal di kalangan para bisnisman Jakarta.
"Apa kau ingat waktu kejadian dirimu dan firman dulu? Itu adalah karena Firman yang frustasi dan merasa sakit hati ditinggalkan oleh Laila. Cinta Pertamanya. Firman sudah mencintai Laila sejak dulu dan kau tidak bisa bersaing dengan perempuan itu!" ucap Humairo membeberkan Semua fakta tentang Laila dan firman dihadapan Ayana yang kini semakin terisak.
"Berarti tidak ada harapan sama sekali untuk saya bisa mendapatkan kembali Firman untuk dia bisa bertanggung jawab dengan hidup saya yang sudah dihancurkan begitu saja 15 tahun yang lalu?" tanya Ayana dengan bersimbah air mata kepada bibinya.
"Percayalah Ayana! Ketika kau membebaskan dirimu dari dendam itu. Bibi yakin kau pasti akan bisa menemukan kebahagiaanmu dan bisa membuka hatimu untuk laki-laki lain. Lupakanlah Firman dan mulailah Lembaran baru hidupmu. Bibi janji kepadamu akan selalu membantumu untuk melewati semua proses itu!" janji Humairoh sambil mengusap Air Mata di pipi Ayana.
"Baiklah Bi, Ayana janji! Kalau Ayana akan berusaha untuk melepaskan Firman dari hidup Ayana. Tapi bibi harus janji, bibi harus memastikan bahwa perusahaan Sugandi harus kembali ke tangan Ayana. Ayana tidak mau menjadi orang berdosa yang sudah menghancurkan perusahaan keluarga kita!" ucap Ayana sambil meletakkan kepalanya di pelukan sang Bibi yang selama ini sangat menyayanginya.
Saat ini Pak Rahmat sedang tidak ada di kediamannya. Oleh karena itu Ayana dan Humairoh bisa bicara dengan bebas tanpa harus takut Rahmat akan mengetahui rahasia besar seorang Humairah yang ternyata adalah seorang bisnis women dengan kekayaan tak terhitung jumlahnya.
"Kapan bibi akan menceritakan tentang diri Bibi sendiri kepada suami bibi? Apakah tidak berisiko nantinya kalau tiba-tiba Paman Rahmat tahu tentang bibi dari orang lain?" tanya Ayana karena dia sangat Penasaran sekali dengan kelakuan bibinya yang hingga saat ini masih merahasiakan identitasnya sebagai keluarga Sugandi, seorang wanita konglomerat dan sukses!
"Suami bibi tidak pernah bertanya. Kenapa Bibi harus menjawab Betul tidak?" ucap Humairoh sambil tersenyum kepada Ayana.
"Bibi ini sangat aneh! Kenapa Bibi harus menyembunyikan identitas Bibi dari suami bibi sendiri puluhan tahun lamanya bahkan anak Bibi saja tidak tahu kalau ibunya adalah seorang konglomerat ternama di Surabaya Bibi sungguh aneh sekali!" tanya Ayana sambil menggelengkan kepalanya tidak paham dengan pemikiran sang Bibi yang menurutnya absurd.
"Tidak apa-apa Ayana! Bibi hanya menikmati saja kehidupan sederhana ini. Tanpa harus menggembar-gemborkan harta. Memangnya apa bagusnya hidup semacam itu? Enak juga hidup sederhana tidak pusing dengan apapun!" ucap Humairoh sambil tersenyum kepada Ayana yang kini memutar bola matanya dengan malas.
"Ya sudah Ayana pulang! Ingat dengan janji Bibi. Kalau Firman tidak mau menarik apa yang sudah dia putuskan. Bibi harus membeli perusahaan Ayana dan menjadi investor di sana!" ucap Ayana.