Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
189. Usaha Ayana



Agus yang merasa sangat heran ketika dia melihat Ayana yang tiba-tiba saja selalu memperhatikannya. Agus benar-benar merasa gugup sekali.


'Ada apa dengan Ayana? Dia sangat aneh sekali. Kenapa tiba-tiba dia terus saja memperhatikanku?" batin Agus yang mengerti dengan apa yang dilakukan ayahnya saat ini terhadap dirinya.


"Bagaimana kalau kita makan siang saja Setelah itu kita pergi untuk menonton di bioskop!" tanya Ayana kepada Agus.


"Tunggu dulu! Jangan katakan kepadaku, kau sedang mengajakku kencan?" tanya Agus.


"Bukankah bibi sudah mengatur pernikahan kita? Sepertinya tidak ada masalah kalau kita berusaha untuk saling mengenal satu sama lain!" ucap Ayana menatap Agus.


"Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengenalmu. Dari melihat Penampilanmu saja, aku sudah tahu kau seperti apa!" ucap Agus dengan datar dan dingin sehingga membuat Ayana merasa ciut nyalinya.


"Aku tahu sejak pertama kali bertemu denganmu. Aku sudah memberikan kesan yang buruk untukmu. Kau tidak menyukaiku itu sungguh sangat wajar sekali. Akan tapi, apakah salah kalau aku berusaha untuk menerima pernikahan yang ditawarkan oleh bibi bersama kamu?" ucap Ayana.


"Bukankah tadi kita sudah sepakat? Bahwa pernikahan itu akan terjadi. Tetapi kita akan menjalani hidup kita masing-masing dan tidak akan pernah mencampuri urusan satu sama lain!" ucap Agus sambil melirik sekilas kepada Ayana yang kini menundukkan kepalanya.


"Terserah bagaimana pemikiranmu. Tpi yang jelas, aku masih ingin berusaha untuk menjalani pernikahan ini sebisa mungkin!" demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayana Agus benar-benar tidak mengerti.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan bukankah tadi satu jam yang lalu kau meminta untuk kita tidak usah saling peduli Lalu kenapa sekarang berubah pikiran lagi?" tanya Agus sambil menghentikan mobil yang dia kendarai saat ini agar mereka bisa berbicara lebih fokus dan dia bisa memahami apa keinginan Ayana sesungguhnya.


"Jangan Katakan padaku, kalau kau hanya sedang bermain trik denganku. Agar Bibimu benar-benar memberikan perusahaan Sugandi kepadamu?" ucap Agus tanpa tedeng aling-aling sehingga membuat Ayana membelalakkan matanya.


"Perusahaan Sugandi group memang pada dasarnya adalah milik keluargaku. Aku hanya mengambilnya saja dari Bibi yang membantu untuk membelinya ketika perusahaanku kena krisis gara-gara perbuatan Firman yang selalu mencari gara-gara denganku!" ucap Ayana dengan mata berapi-api sehingga membuat Agus mengerti apa yang saat ini sedang terjadi kepada mereka berdua.


"Kita akan menikah dengan kamu dan aku juga pasti akan memberikan perusahaan itu sebagai maharku.Lalu, kalau kau juga sangat menginginkan untuk perceraian. Maka aku akan mengabulkannya tanpa banyak syarat!" ucap Agus pelan.


Agus mengatakan itu seakan-akan tidak mempunyai beban sama sekali tentang pernikahannya bersama Ayana yang telah direncanakan oleh Humairoh, bibinya Ayana yang telah membantu Ayana untuk membeli kembali perusahaannya dikala perusahaan itu mengalami failed gara-gara diboikot oleh Firman ketika itu.


"Apakah kau begitu membenciku? Bahkan kita belum menikah saja, kau sudah berbicara tentang perceraian!" ucap Ayana dengan nada Sendu dia merasa bahwa Agus memang benar-benar membencinya.


"Sepertinya kau memiliki Amnesia bukankah tadi kamu yang menginginkan hal itu aku hanya mengikutimu saja?" ucap Agus melirik kepada Ayana.


"Tampaknya rumah tangga kita akan sangat sulit untuk menemukan titik temu." ucap Ayana seakan frustasi dengan sesuatu yang sekarang sedang dihadapi olehnya dan Agus.


"Baiklah kita berhenti di sini saja. Aku sudah sangat lelah dan ingin kembali ke rumahku. Terserah padamu kau akan pergi ke mana!" ucap Ayana kemudian dia pun keluar dari mobil miliknya yang sejak tadi diparkirkan oleh Agus di sebuah taman yang tidak jauh dari kontrakan Agus.


"Apa kau yakin kalau kau ingin pulang sendiri aku mau mengantarkanmu kalau kau memintanya!" ucap Agus menawarkan diri Untuk mengantarkan Ayana ke rumahnya.


Agus yang melihat Ayana begitu pucat wajahnya. Agus merasa sangat tidak tega membiarkan Gadis itu menyetir sendiri.


"Masuklah ke mobilmu. Jangan keras kepala! Aku tidak ingin kalau terjadi apa-apa denganmu dan orang tuamu juga Bibimu akan menyalahkanku!" ucap Agus tetap memaksa agar dirinya mengantarkan Ayana ke rumahnya.


Tetapi Ayana tetap bersikeras dan mengusir Agus untuk menyingkir dari hadapannya.


"Minggir sudah pulang sana ke rumahmu! Aku juga mau pulang ke rumahku!" ucap Ayana sambil mendorong tubuh Agus untuk menyingkir dari mobilnya.


Akan tetapi, ketika Ayana hendak masuk ke dalam mobilnya. Tiba-tiba saja tubuh Ayana ambruk di hadapan Agus sehingga membuat Agus terkejut dibuatnya.


"Ayana apa yang terjadi denganmu!?" Agus seketika langsung menangkap tubuh Ayana sehingga Ayana tidak jatuh di lantai Taman ketika mereka bertemu.


" Ya Tuhan Ada apa dengan gadis ini tiba-tiba saja dia jatuh di hadapanku sekarang Apa yang harus kulakukan terhadapnya?" Agus kemudian berusaha untuk mendudukkan Ayana di sebuah bangku taman yang tidak jauh dari keberadaan mereka saat ini.


"Tampaknya akan lebih bagus dan aman kalau aku membawa dia ke rumah sakit. Aku khawatir kalau Dia mempunyai penyakit atau mengalami situasi darurat!" Kemudian Agus pun dengan sigap langsung menggendong Ayana dan masuk ke dalam mobil untuk pergi ke rumah sakit.


"Aku harap kau baik-baik saja Ayana. Kalau kau kenapa-napa, Bibimu pasti akan marah padaku. Karena aku sudah berjanji untuk menjagamu!" ucap Agus sambil mengelus pipi Ayana yang begitu pucat Pasi.


"Entah apa yang sudah kau lalui seharian, sehingga membuatmu seperti ini!" tanya Agus sambil melirik sekilas kepada Ayana yang masih memejamkan matanya.


Begitu sampai di rumah sakit Agus langsung menggendong tubuh Ayana dan dibawa masuk ke dalam ICU untuk segera diperiksa oleh dokter.


Ketika Agus sedang mendaftarkan Ayana di bagian administrasi tiba-tiba saja seseorang memanggilnya.


"Tuan muda! Bagaimana tuan muda ada di rumah sakit? Siapa yang sakit Tuan?" tanya seorang pria yang berambut putih sambil tergopoh-gopoh menuju kepada Agus.


"Ada apa? Kenapa kau datang ke sini huh? Udah, pergi sana! Karena aku tidak mau melihatmu!" ucap Agus sambil mengusir laki-laki tua itu yang tanpa kecewa melihat Agus yang tampak tidak peduli kepadanya.


"Sial! Bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan pria tua itu? Ya Tuhan Ternyata dunia ini begini sempit?" ucap Agus sambil terus mengelus dadanya yang sesak. Karena dia sangat ketakutan dan gemetar. Apabila keberadaannya bisa ditercium oleh keluarga besarnya.


"Tapi kenapa Pak Tua itu ada di rumah sakit? Aku harus mencari informasi yang sesungguhnya tentang keberadaan fatwa itu di rumah sakit ini.Jangan sampai aku kehilangan sesuatu dan melewatkan info berharga dalam hidupku!" Agus dengan berhati-hati kemudian mendekati bagian informasi untuk menanyakan tentang sebuah nama yang saat ini ada di dalam pikirannya.


"Apakah Tuan Alfonso berada di rumah sakit ini?" tanya Agus sambil terus melirik ke sekitarnya karena dia takut apabila kepala pelayan yang bekerja di rumah ayahnya kembali bertemu dengannya.


"Tuan Alfonso Maxim dia memang dirawat di rumah sakit ini. Tadi malam dia di bawa oleh keluarganya karena terkena serangan jantung!" ucap suster yang bertugas memberikan informasi kepada Agus.