
Setelah Ayana pergi meninggalkan perusahaan ayahnya. Agus pun kembali ke dalam ruangannya dan berbicara dengan asisten yang tadi bertemu dengan Ayana.
" Berikan padaku kartu nama perempuan itu!" ucap Agus kepada sang asisten.
Dengan Sigap dia pun langsung memberikan kartu nama tersebut kepada Agus.
" Pergilah!" perintah Agus kepadanya.
Walaupun di hatinya penuh dengan berbagai pertanyaan. Tetapi dia tidak berani bertanya kepada Agus. Karena dia tahu tabiat Tuan mudanya itu yang sangat tidak mudah untuk ditebak. Bahkan orang tuanya saja berani dia tentang. Apalagi dirinya yang hanya seorang asisten saja di perusahaan itu.
" Untung saja selama ini aku melayani ayahnya bukan anak bengal itu!" ucap sang asisten sambil meninggalkan ruangan Agus dengan tatapan kesal.
" Seenak hatinya memerintah orang dan Seenak hatinya saja mengusir orang lain. Dia benar-benar anak muda yang tidak tahu sopan santun terhadap orang tua!" ucap sang asisten sambil berdecih kesal kepada Agus.
Sementara itu Agus sedang menimbang kartun nama yang ada tangannya.
" Aku akan coba menghubunginya menggunakan nomor lain!" ucap Agus sambil tersenyum simpul membayangkan dirinya akan bermain-main dengan istrinya sendiri dengan menggunakan identitas sebagai pemilik perusahaan sang ayah.
" Sepertinya ini akan sangat menarik. Baiklah Ayana aku akan melihat seperti apa kualitas dirimu!" ucap Agus sambil tersenyum.
Agus kemudian mencari ponsel lain yang ada di dalam meja kerja milik ayahnya.
" Aku sudah tahu kalau Ayahku punya ponsel rahasia dan selalu dia simpan di sini!" Agus pun kemudian menghidupkan ponsel tersebut dan mulai menyalakan wi-fi di dalam ponsel pribadinya agar bisa menggunakan ponsel itu untuk bisa menghubungi Ayana.
Agus memeriksa foto profil yang ada di dalam aplikasi hijau ponsel itu dan dia tersenyum puas melihatnya.
" Ayahku walaupun sudah tua. Akan tetapi tetap saja gagah dan tampan. Aku rasa tidak apa-apa kalau aku menggunakan identitas Ayahku untuk menggodanya!" ucap Agus dengan senyum mengembang di bibirnya membayangkan hal menarik yang akan dia lakukan untuk menggoda Ayana.
Chat mode:
Agus: Assalamualaikum
Ayana: Siapa?
Agus: Tadi siang kau memberikan kartu namamu kepada asistenku.
Ayana: Anda CEO dari perusahaan Bagaskoro Sejahtera?"
Agus: Hmmm
Ayana: Apa itu artinya?
Agus: Ya
Ayana: Kapan kita bisa bertemu?
Agus: Kapan saja kau siap naik ke atas ranjangku.
Ayana mengurutkan keningnya ketika membaca chat terakhir dari Agus yang dia kira adalah sang ayah yang merupakan pemilik dari perusahaan Bagaskoro Sejahtera
Ayana: ????
Agus: Kau tidak mengerti?
Ayana: 🤷🤷🤷
Agus: 🤗🤗🤗
Ayana kemudian memutuskan untuk melakukan panggilan telepon video. Dia ingin memastikan bahwa orang yang saat ini sedang chatting dengannya adalah benar-benar pemilik perusahaan itu.
" Wah! Apa maksudnya nih, sejarang Ayana malahan meneleponku. Apa dia tidak percaya denganku?" Agus kemudian mengangkat telepon tersebut.
Akan tetapi Agus mengarahkan kamera belakangnya untuk menyorot nama perusahaan Bagaskoro group sehingga membuat ayahnya merasa yakin bahwa pemilik nomor telepon itu adalah owner dari perusahaan Itu.
Agus menatap wajah Ayana yang terpampang jelas di dalam kameranya dan dia membuat screenshot video panggilan tersebut. Untuk menjadi obat rindunya apabila kelak dirinya merindukan Ayana.
" Halo Tuan Bagaskoro? Apakah kita bisa bertemu secara langsung?" tanya Ayana.
" Bukankah tadi aku sudah mengatakan padamu. Kita bisa bertemu kapan saja ketika kau sudah siap untuk naik ke atas ranjangku!" ucap Agus sambil memencet hidungnya agar suara aslinya tidak terdengar oleh Ayana sehingga Ayana tidak akan curiga dengannya.
" Apakah Anda serius dengan permintaan itu?" tanya ayah nah merasa heran Bagaimana mungkin Seorang pebisnis begitu hebat bisa meminta hal seperti itu kepadanya.
" Aku sudah lama mengagumimu. Jadi aku tidak akan melepaskan kesempatan ini untuk bisa bersama denganmu!" ucap Agus dengan suara serius.
" Aku menawarkan kegiatan amal kepada Anda. Bagaimana mungkin aku harus menyerahkan tubuhku untuk memuluskan hal itu?" tanya Amanda kepada Agus yang sedang menyamar sebagai ayahnya.
" Terserah padamu. Aku akan memberikan donasi yang sangat besar tentu saja aku tidak ingin rugi!" ucap Agus berusaha sangat keras untuk tidak tertawa dengan permainan yang sedang dia lakukan saat ini dengan istrinya.
" Berapa banyak donasi yang akan Anda berikan untuk para korban bencana itu?" tanya Ayana kepada Agus dengan serius.
" Berapa banyak yang kau butuhkan itulah yang akan kuberikan kepadamu. Asal kau bisa memuaskanku di ranjang!" ucap Agus dengan terkekeh merasa lucu dengan apa yang saat ini sedang dia lakukan bersama dengan Ayana.
" Baiklah katakan di mana kita akan bertemu aku akan menemuimu!" ucap Ayana pada akhirnya.
Agus menarik nafasnya dengan kecewa ketika Ayana menerima ajakan mesumnya dengan begitu mudah.
" Datanglah sekarang ke hotel Marion di kamar 309. Aku akan menunggumu di sana!" ucap Agus kemudian dia pun langsung menutup panggilan tersebut.
" Apakah begini caramu Ayanam untuk kau bisa memuluskan proyek-proyek yang kau tangani?" tanya Agus dengan rasa penuh kecewa di hatinya ternyata penilaian dirinya terhadap Ayana salah total.
Agus kemudian segera meninggalkan kantor itu untuk segera menemui Ayana di hotel yang tadi dia sebutkan kepada istrinya.
" Aku harus sampai duluan jangan sampai nanti aku tidak bisa mengatur apapun di sana!" ucap Agus sambil bergegas meninggalkan kantor dan langsung pergi ke hotel yang merupakan cabang dari perusahaan ayahnya.
Kamar yang dia sebutkan kepada Ayana adalah kamar yang khusus diberikan oleh pihak manajemen hotel untuk dirinya apabila dia ingin menginap di tempat itu.
" Mari Ayana kita lihat seberapa besar kualitas hidupmu!" ucap Agus dengan penuh kepercayaan diri.
Begitu sampai di dalam hotel. Agus langsung menemui pihak manajemen.
" Nanti akan datang seorang perempuan yang akan bertanya tentang kamar ini. Tolong katakan kalau itu adalah kamar milik Ayahku. Apa kau bisa melakukan itu?" tanya Agus sambil menatap kepada manajer yang saat ini sedang menghadapnya di dalam kamar itu.
" Baik Tuan akan saya lakukan!" ucap Manager tersebut menyanggupi keinginan Agus.
" Satu lagi kau harus memastikan kalau kamar ini dalam keadaan mati lampu pada saat perempuan itu masuk ke dalam kamar ini!" ucap Agus dengan suara baritonia sehingga membuat manajer itu tidak berani membantah keinginannya.
" Pergilah dan jalankan rencana yang sudah aku buat. Jangan sampai gagal kalau sampai gagal maka kalian akan aku pecat semuanya!" ucap Agus memberikan perintah kepada sang Manager yang langsung menganggukkan kepalanya.
Manajer itu tahu bahwa Agus adalah pewaris satu-satunya perusahaan Bagaskara Sejahtera sehingga dia tidak berani macam-macam kepada Agus.
" Kau cukup memastikan bahwa perempuan itu tidak tahu bahwa akulah yang dimaksud sebagai ayahku. Apa kau mengerti?" tanya Agus lagi untuk memastikan bahwa manajer itu tidak akan menghianatinya dan membocorkan rahasia besar tentang dirinya kepada Amanda.