Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
158. Aqikah



Sesuai yang dijanjikan oleh ayahnya Laila, bahwa mereka akan datang pada saat akikahnya Yuke.


"Mamah senang akhirnya semua selesai dengan baik." ucap ibunya Laila yang merasa bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya.


Kakaknya Laila yang menikah duluan, hingga sekarang masih belum punya anak. Malah kabarnya sedang di gugat cerai oleh suaminya karena di anggap mandul. Kasihan sekali kakaknya Laila.


"Ya Mah, Alhamdulillah semuanya lancar dan baik. Mas Firman sekarang semakin semangat bekerja setelah kelahiran Yuke!" ucap Laila sambil melihat kepada Firman yang sedang sibuk melayani para tamu yang ingin berbincang dengan suaminya itu.


"Syukurlah! Ingat Laila, kamu harus selalu awasi suami kamu itu. Jangan sampai dia berselungkuh dari kamu. Sekali seorang laki-laki pernah selingkuh, maka dia masih akan kembali mengulangi lagi!" ucap ibunya mulai menancapkan kuku di dalam hati putrinya yang baik.


"Laila percaya dengan Mas Firman, Mah!" ucap Laila melirik Firman yang tampak sedang asyik berbincang dengan para koleganya di kantor.


Laila terdiam lama. Terus menatap suaminya yang begitu bahagia berbincang dengan seorang wanita. Laila tidak kenal wanita itu.


Laila kemudian mendekati Firman dan langsung mencium Firman di hadapan perempuan yang sejak tadi oleh Laila perhatian seperti sedang menarik perhatian suaminya.


"Sayang ayo kita ke kamar dulu. Aku ingin bicara sama kamu!" ucap Laila dengan suara manja merayu di telinga Firman.


"Baiklah Aya saya ikut istri saya dulu! Kau nikmatin acaranya ya." ucap Firman berpamit meninggalkan wanita yang bernama Ayana itu. Laila tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Firman meninggalkan perempuan genit itu.


Sementara itu, Ayana tampak kesal kepada Laila ketika melihat Firman yang berhasil di bawa oleh Laila.


"Kurang ajar juga itu, istrinya Firman. Berani sekali dia mengambil Firman dariku! Awas saja. Lain kali aku akan memberikan dia pelajaran!" ucap Ayana kesal lalu dia pergi dari acara itu karena lelah menunggu Firman yang sudah hampir dua jam pergi dengan Laila tapi gak kembali juga.


"Awas saja! Aku pasti akan berhasil mengambil Firman dari wanita itu!" ucap Ayana geram sekali.


"Kamu kenapa Aya? Sejak datang tadi selalu marah terus!" ucap Beni, pemilik club malam yang saat ini di datangi oleh Ayana.


"Eh, lu punya obat manjur ga, buat bikin cowok jadi klepek klepek sama gue!" ucap Ayana sudah mulai ngelantur bicaranya gara-gara dia sudah mulai mabuk.


"Tinggal lu bawa aja tuh laki ke atas ranjang Lu, pasti juga nanti ketagihan sama lu!" ucap Beni sambil tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Ayana ikut tertawa.


"Ah lu benar! Gue akan coba saran lu besok! Ya udah gue mau cabut dulu! Karena besok gue harus merendahkan diri gue buat bisa bawa dia ke atas ranjang gue! Hahah!" alkohol memang membuat orang jadi kehilangan akal sehat dan kewarasan membuat seseorang menjadi tidak tahu malu.


Seperti apa yang terjadi pada Ayana hari ini. Walaupun tubuhnya sudah di kerumunan oleh 3 orang laki-laki tetapi dia tampak enjoy saja seperti tidak terjadi apa-apa kepada dirinya. Niatnya pergi dari club malam juga dia urungkan karena ke tiga pria itu menahan tubuhnya untuk meninggalkan mereka.


"Ke hotel yuk cantik!" ucap salah seorang pria yang sejak tadi bermain dengan tubuhnya Ayana yang terbuka bagian atasnya.


"Ya sayang, ayo kita ke hotel saja. Kita nikmatin malam ini bersama kita bertiga. Lu pasti melayang ke langit ke tujuh sayang!" ucap pria satunya yang sedang mengelus paha Ayana yang terbuka.


Semua dapat bagian masing-masing. Ayana nampaknya tidak risih di perlakuan tidak sopan oleh mereka. Dia malah tampak seakan menikmati semua sentuhan pria itu di tubuhnya yang terbuka.


Itulah resikonya ketika seseorang membuka tubuhnya di hadapan umum. Sehingga mereka dianggap sebagai perempuan murah yang tubuhnya bisa disentuh oleh siapapun. Itu yang saat ini sedang terjadi pada Ayana.


Para pria itu menganggap bahwa Ayana itu milik publik. Sehingga mereka sama sekali tidak merasa malu ataupun canggung ketika menggerayangi tubuh Ayana di hadapan umum. Apalagi Ayana yang terlihat hanya diam saja dan tampak menikmati aksi mereka, Ayana tampak tidak bereaksi apapun terhadap ketiganya sehingga mereka semakin kurang ajar saja.


"Ayo sayang kita pergi ke hotel saja, aku sudah tidak tahan untuk bersama denganmu!" bisik laki-laki yang paling tampan di antara kw tiga pria itu.


Ayana melirik pria itu sejenak yang sekarang sedang bermain dia area pribadinya yang semakin basah karena sejak tadi di rangsang oleh mereka bertiga.


Siapa yang menyangka, tiba-tiba saja Ayana mengambil sebuah botol kosong dan langsung memukulkan itu ke kepala mereka bertiga lalu dia bangun dari kursinya dan meludahi mereka dengan kesal.


"Dasar sampah! Kalian pikir kalian siapa huh? Sehingga merasa layak bercinta bersama Ayana Sugandi? Dasar manusia tak berguna! Beni lu urus mereka! Jangan sampai mereka mampus di tempat lu! Gue nanti yang bayar semua biaya rumah sakit mereka!" Ayana yang mulai mabuk itu lalu pergi meninggalkan club yang kini hingar bingar gara-gara ulahnya yang telah memukul ke tiga pemuda tadi hingga pingsan dengan kepala berdarah gara-gara di pukul pakai botol oleh Ayana.


"Cepat Pak kita pulang Gue udah ngantuk!" perintah Ayana kepada sopirnya.


Begitulah Ayana setiap malam menghabiskan waktunya. Huru hara yang selalu dia buat di manapun dia berada.



visualisasi Ayana Sugandi


"Mau pulang ke apartemen atau ke kediaman utama Nona?" tanya supir pribadi Ayana.


"Ke apartemen saja Pak. Kalau kekediaman utama bisa-bisa saya habis dimarahin sama papa gara-gara mabuk kayak gini!" ucap Ayana kemudian dia membaringkan tubuhnya di mobilnya.


Ayana tampak tertidur dengan lelap di atas mobil ang sekarang sedang melaju ke apartemennya.


Pria yang berumur separuh baya itu, dia hanya menatap nona besarnya melalui spion. Dia sudah biasa melihat kelakuan Ayana seperti itu yang hampir setiap malam selalu mabuk. Mungkin kalau laki-laki yang tidak kuat imannya, maka akan melakukan hal tidak senonoh kepada Ayana yang selalu seperti itu setiap malam. Berpenampilan seksi dan juga selalu mabuk setiap pulang ke rumahnya.


"Mau berapa lama non Ayana hidup seperti ini. Kasihan Tuan besar kalau dia tahu putri kesayangannya seperti ini, pasti dia syock sekali! Bisa jantungan seketika Tuan besar!" supir tua itu sambil melirik Ayana yang masih terlelap di kursi belakang.


Berkali-kali dia menggelengkan kepalanya. Dia merasa heran dengan kelakuan Ayana, Yang sepertinya tidak pernah bosan mengulangi kejadian yang sama hampir setiap malam. Mabuk dan membuat onar di tempat Beni, sudah seperti langganan buat Ayana. Supir paruh baya itu masih mendesah frustasi memikirkan nasib Nona besarnya.


"Entah bagaimana suaminya akan bisa mentolerir kelakuan Nona yang seperti ini!" gumamnya lagi kemudian dia fokus menyetir.


Untuk segera bisa membawa Ayana ke apartemennya, sehingga dia bisa pulang dan menemui keluarganya yang sejak pagi ditinggalkan karena harus melayani Ayana kemanapun dia pergi.