
Rahmat langsung pulang ke rumahnya begitu melihat Humairoh yang sudah berpamitan kepada Ayana dia tidak mau kalau Humairoh curiga ketika tidak mendapatkan dirinya di dalam rumah mereka.
"Aku harus segera pulang ke rumah. Jangan sampai rumah Humairohh menemukan kalau aku mengikutinya!" ucap Rahmat sambil berlari menuju basement agar jangan sampai istrinya mengetahui perbuatannya kali ini yang membuntuti sang istri.
Dengan nafas terengah-engah. Rahmat langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera tancap gas untuk segera sampai ke dalam rumah yang selama ini ditempati oleh dirinya dan juga Humairah.
"Ya Allah! Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini? Berapa lama lagi istriku akan membohongiku ya Allah? Kenapa dia harus melakukan seperti itu?" tanya Rahmat terus kepada dirinya sendiri. Karena dia sejujurnya merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh istrinya saat ini.
"Mulai besok aku harus mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Humairoh. Aku tidak mau lagi dibohongi olehnya dan diperlakukan seperti orang bodoh!" ucap Rahmat dengan penuh rasa marah di dalam hatinya. Dia merasa telah ditipu oleh sang istri yang selama ini syuting layaknya orang miskin.
Tetapi malam ini dia mengetahui kalau ternyata istrinya itu orang kaya. Istrinya punya mobil sport yang mahal. Dia juga punya keluarga yang mentereng. Dia juga ternyata dipanggil Bibi oleh majikannya sendiri.
Begitu sampai di rumah. Rahmat langsung lari ke dalam kamarnya dan berpura-pura tidur. Agar istrinya tidak curiga dengan dirinya yang telah mengikuti sang istri.
"Ya Allah kenapa ini rumah gelap sekali? Pergi ke mana suamiku? Apakah dia belum pulang jam segini? Tapi mobilnya terparkir di depan. Masa tidak ada orangnya? sayang! Kau di mana? Apa kau ada di rumah?" Humaira terus berteriak memanggil suaminya. Sampai akhirnya dia membuka pintu kamar tidurnya dan melihat kamar yang begitu gelap.
"Ya Allah rupanya suamiku jatuh tertidur? Pasti suamiku kelelahan setelah bekerja seharian. Sehingga dia tidak ingat untuk menyalakan lampu!" ucap Humairoh kepada dirinya sendiri. Kemudian Dia mendekati Rahmat dan mencium bibir sang suami yang saat itu sedang pura-pura tidur.
"Ya Allah semoga kau berikan keselamatan dan juga kesehatan kepada suami yang kucintai ini. Jangan pernah memberikan dia sakit hati maupun kesedihan. Cukuplah aku yang menerima semua itu. Ya Allah kau berikanlah segala kesehatan dan juga umur panjang untuk suamiku!" doa Humairoh di atas ubun-ubun suaminya kemudian dengan penuh cinta kasih Humairo mencium ubun-ubun suaminya.
Selama 10 menit Humairo tampak mencium ubun-ubun suaminya dengan penuh perasaan cinta. Sehingga membuat Rahmat menjadi terharu dan tanpa terasa Dia meneteskan air matanya. Karena terharu dengan cinta yang begitu besar dari sang istri untuk dirinya.
Rahmat kemudian mengulurkan tangannya dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Ya Allah Sayang! Matamu masih merem. Tapi kau bisa membawaku ke dalam pelukanmu seperti ini!" ucap Humairoh sambil tertawa.
Tetapi Humairoh terkejut ketika mendapatkan ada air mata suaminya yang menempel di pipinya.
"Sayang apakah Kau menangis kau menangis dalam tidur?" Humairo dengan panik ketika melihat suaminya merem tetapi air mata terus mengalir di matanya.
"Ya Allah! Apakah suamiku mimpi buruk ataukah kenapa? Kenapa dia menangis dalam tidur?" Humairoh sudah panik kemudian dia mengguncangkan tubuh suaminya berusaha untuk membangunkan Rahmat.
"Sayang bangun! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis dalam tidur? Apakah kau bermimpi buruk?" begitu banyak pertanyaan di dalam hati Humairoh tentang suaminya saat ini.
"Ada apa Mah? Kenapa saya lagi tidur kau bangunkan?" Rahmat seakan-akan dia benar-benar baru bangun tidur.
"Sayang kok tidur mimpi apa? Kenapa kau menangis dalam tidurmu?" tanya Humairoh kembali bertanya kepada suaminya.
"Menangis gimana? Saya cuman tidur saja tidak menangis kok!" ucap Rahmat mengelak dari pertanyaan istrinya.
Humairoh kemudian menunjukkan lengan bajunya yang tadi terkena air mata sang suami ketika dirinya dipeluk oleh Rahmat.
"Lihatlah Sayang, Ini buktinya! Air matamu menempel di bajuku sayang. Kau mimpi apa? Cepat ceritakan padaku?" Humairoh terus mendesak kepada suaminya untuk bercerita.
Humairoh tampak terdiam begitu lama. Dia berusaha mencerna apa yang disampaikan oleh suaminya.
"Sayang kau betul-betul bermimpi seperti itu?" tanya Humairoh dengan suara bergetar.
"Entahlah sayang! Apakah itu mimpi ataukah kenyataan. Tapi tiba-tiba hati papa merasa sedih. Ketika memikirkan perempuan kaya itu yang harus hidup miskin bersamaku!" Rahmat kemudian dia memejamkan kembali matanya.
"Gadis kaya itu tidak pernah merasa hidup menderita bersamamu. Tetapi dia selalu merasa bahagia karena selalu menjadi wanita yang istimewa di hatimu! Gadis kaya itu! Rela hidup sederhana asal bisa selalu bersama denganmu!" ucap Humairoh dengan suara gemetar dia sudah ketakutan apakah mungkin suami sudah mengetahui tentang identitasnya yang sesungguhnya.
"Tidurlah sudah malam! Besok aku harus bekerja pagi-pagi. Karena non Ayana mengatakan akan pergi ke luar kota!" ucap Rahmat berdusta. Karena sebenarnya dia tidak akan bekerja. Tetapi mulai besok dia akan memulai penyelidikinya tentang Humairah. Dia sudah bertekad untuk mengetahui identitas Humairoh yang sesungguhnya.
"Kenapa aku mendengar dari suaramu, bahwa kamu sedang marah padaku sayang?" tanya Humairoh merasa tidak nyaman hatinya.
"Bagaimana mungkin aku bisa marah padamu Selama ini kau sudah mendampingiku hidup apa adanya. Apakah aku mempunyai nyali untuk marah padamu?" tanya Rahmat dengan pelan kemudian dia memerankan matanya dan benar-benar tidur.
Rahmat benar-benar mengacuhkan Humairoh dia tidak menyahut apapun yang dikatakan oleh istrinya. Karena dia harus memulai kembali untuk merajut kembali perasaan dan kepercayaannya terhadap istrinya.
'Entah mau berapa lama kau akan menipuku terus. Aku pasti akan membuka semua yang telah kau sembunyikan keladaku selama bertahun-tahun lamanya!' batin Rahmat.
"Ya Allah! Tampaknya suamiku marah padaku. Apakah aku sudah melakukan kesalahan padanya? Tidak biasanya dia seperti ini kepadaku!" ucap Humairoh terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
Akhirnya karena merasa lelah dengan pikiran-pikiran tentang suaminya. Humairo pun kemudian memutuskan untuk tidur.
Keesokan paginya Rahmat pagi-pagi sekali sudah meninggalkan kediaman mereka dan bersiap untuk mulai penyelidikannya tentang sang istri.
"Aku harus meninggalkan mobil non Ayana di apartemennya. Aku akan mencari mobil lain untuk membuntuti istriku!" dengan penuh kemantapan rahmat kemudian langsung pergi ke apartemen Ayana.
"Ada apa Pak Rahmat pagi-pagi begini sudah datang? Bukankah biasanya jam 08.00?" tanya Ayana sambil memicingkan matanya karena dia masih mengantuk.
"Maafkan saya non Ayana. Saya datang ke sini karena saya ingin meminta izin. Saya akan pergi ke luar kota. Saya mau liburan bersama teman-teman saya selama beberapa hari ke depan. Ini kunci mobilnya non. Saya permisi dulu!" ucap Rahmat kemudian langsung meninggalkan Ayana tanpa menunggu jawabannya.
"Aneh banget! Pagi-pagi buta datang ke sini, cuman mau nganterin kunci mobil doang?" ucap Ayana sambil mengambil kunci mobilnya dan kemudian dia kembali masuk ke dalam apartemennya dan kembali tidur.
Sementara itu Rahmat sudah bersiap untuk mulai mengikuti istrinya dengan menyewa sebuah mobil dari perusahaan rental agar tidak dicurigai oleh istrinya.
Rahmat sudah stand by di depan rumahnya sambil bersembunyi di mobil yang dia rental takut ketahuan oleh istrinya tentu saja.
Hampir 1 jam Rahmat menunggu Humairoh keluar dari rumahnya.
"Akhirnya keluar juga. Hari ini aku harus tahu siapa kau sebenarnya. Aku tidak mau selamanya ditipu olehmu!" ucap Rahmat bermonolog kepada dirinya sendiri dan bersiap untuk mengikuti Humairah.