Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
138. Acara Syukuran



Kita tinggalkan sejenak, kehidupan Rasya dan Syafa yang saat ini sedang bersedih hatinya setelah resmi sidang perceraiannya dengan Firman.


Mari kita tengok kehidupan Kiai ilham dan dan istrinya Qonita, yang saat ini sedang berbahagia atas kehamilan istrinya yang sudah menginjak angka 4. Rencananya hari ini mereka akan melaksanakan syukuran untuk keselamatan jabang bayi yang ada di rahim istrinya, Qonita.


Kyai Ilham sangat bahagia sekali, karena mendapatkan karunia untuk memiliki seorang anak, dari hasil pernikahannya yang kedua kalinya, bersama dengan Qonita.


Qonita adalah seorang Hafizah yang berhati mulia dan seorang muslimah sejati. Ilham sangat mencintai Qonita dan Qonita telah berhasil merebut cinta dalam hati Ilham, sehingga Ilham bisa melupakan kisah cintanya yang kandas bersama Kesya.


Anaknya Kyai Ilham dan Qonita ini kelak akan menjadi sahabat dari anak Laila dan Firman mereka akan bekerja di sebuah Cafe di Jakarta miliknya Rasya.


Kisah mereka (Adrian, Rasya, Yuke, Syifa, Thomas dan Melati) bisa dinikmati di novel saya yang berjudul:


" Terpaksa Menikah Dengan Anak Kyai"



Sambil menunggu update-an di novel ini, kalian bisa mampir dan membaca novel tersebut dan pastinya tidak kalah seru dan mengharukan.


Authar memiliki 6 novel yang on going semua di noveltoon dan mengambil jumkat 60.000 kata perbulan. Jadi harus membagi waktu betul-betul, untuk bisa mengupdate semua novel karya author. Jadi mohon bersabar ya untuk update selanjutnya.


Reader tersayang, bisa membaca karya Author yang lain, yang pasti tidak kalah bagus dan mengharu biru.



Mari kita mulai bab ini. Happy reading for all


"Bagaimana dengan semua persiapan acara nanti malam, Aby?" tanya Qonita sambil mendekat kepada suaminya.


" Alhamdulillah semua persiapan sudah beres. Sayang, kau beristirahatlah! Jangan terlalu banyak bergerak! Hati-hatilah dengan kandunganmu!" pesan Kiai Ilham sambil membimbing istrinya untuk duduk di sofa.


Sejak Qonira hamil, Kyai Ilham memang sangat over protektif terhadap istrinya. Maklumlah, dia sudah sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam kehidupan dirinya bersama sang istri.


Umy nya bahkan kini sudah semakin tua, selalu menanyakan tentang cucunya. Anak yang ada di dalam kandungan Qonita, telah di tunggu oleh banyak orang di pondok pesantren itu.


"Aku tidak apa-apa, Aby. Sudahlah! Aku hanya melakukan kegiatan kecil saja, tidak akan membuatku lelah. Aby jangan terlalu memanjakanku, nanti aku jadi seorang istri yang pemalas!" ucap Qonita merajut kepada suaminya.


Tiba-tiba saja seorang santri tergopoh-gopoh meminta untuk menghadap Kiai Ilham di rumah pribadinya.


"Ada apa?" tanya Kiai Ilham pelan, menatap santrinya tersebut yang tampak nafasnya terengah-engah karena berlari.


"Pak Kyai, keluarga dari Indramayu sudah datang dan mereka sudah menunggu kehadiran Pak Kyai dan Bu nyai di aula pondok!" ucap salah satu santri di pondok itu melaporkan tentang kedatangan mertuanya Kyai Ilham yaitu keluarga Qonita.


"Alhamdulillah akhirnya mereka datang juga!" ucap Qonita dengan wajah yang berbinar.


"Hati-hatilah Jangan berlari kau harus ingat dengan kandunganmu!" ucap Kyai Ilham memperingati istrinya untuk tidak berlari.


Qonita hanya meringis saja kepada suaminya, karena perasaannya saat ini sangat senang sekali. Ketika mendapatkan kunjungan dari keluarga yang sudah sangat dia rindukan.


Kebetulan hari ini ada acara syukuran 4 bulanan Qonita. Oleh karena itu keluarga dari Indramayu yang datang berkunjung ke Jawa Timur.


Tampak Zahra dan Rasyid menggendong Putra ke tiga mereka yang masih berusia 2 tahun. Anak mereka yang pertama dan yang kedua, tidak ikut serta. Karena mereka harus mengikuti pendidikan di pondok pesantren yang ada di Banten. Untuk menjadi Hafiz dan Hafizah.


"Aby, Umy!" Qonita memekik, sambil berlari penuh kebahagiaan, langsung memeluk orang-orang yang telah membesarkannya selama ini dengan cinta dan ketulusan.


Walaupun Qonita bukan anak kandung mereka, tetapi mereka telah memperlakukan Qonita sama seperti memperlakukan Zahra, Putri kandung mereka sendiri.


"Hati-hati Qonita! Jangan berlari. Apa kau tidak ingat kalau kau itu sedang hamil!" Uminya memperingati Zahra untuk berhati-hati.


"Ya, Umi ini karena Qonita sangat rindu sekali dengan Umi dan Abi!" ucap Qonita sambil tersenyum dan memeluk Umy angkatnya, yang sangat dia sayangi.


"Bagaimana kabarnya Pak Kyai, semoga semuanya baik-baik saja!" Sapa Kyai Ilham sambil mencium tangan Kyai Hamid dan istrinya. Yang telah menjadi mertuanya.


"Alhamdulillah kami semua baik-baik saja, kami bersyukur akhirnya kalian dikaruniai anak juga, semoga menjadi anak yang sholehah!" doa terbaik meluncur di mulut Kyai Hamid demi cucu yang ada di rahim Qonita saat ini.


"Pak Kyai dan Bu nyai, mari kita ke kediaman pribadi saya, agar kalian bisa beristirahat dengan nyaman di sana." mereka semuapun kemudian mengikuti Ilham dan Qonita ke kediaman pribadi mereka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari aula pondok.


"Bagaimana kabar Mas Rasyid? Kenapa anak-anak, tidak ikut semua?" tanya Kiai Ilham kepada kakak iparnya.


"Kabar Mas Rasyid baik, alhamdulillah! Anak-anak sekarang pada mondok semua di Banten, jadi hanya tinggal si kecil ini yang tinggal bersama kami, untuk menemani kesepian kami di rumah!" ucap Rasyid sambil mengelus putranya, yang kini sudah terlelap di pangkuannya.


"Mas Rasyid sebaiknya, Zaki ditidurkan saja di kamar, kasihan kalau seperti itu!" tiba-tiba Qonita sudah bergabung bersama mereka.


Saat Qonita akan menggendong Zaki Kyai Ilham melarangnya, "Jangan mengangkat yang berat-berat!" Qonita sampai menggeram frustasi karena sifat suaminya yang terlalu overprotektif kepadanya.


"Ya ampun, Aby! Zaki itu hanya anak kecil tidak berat sama sekali!" ucap Qonita protes.


"Udah biar Mas Rasyid saja yang menidurkan Zaki kau tunjukkan saja di mana kamarnya!" Rasyid akhirnya mengangkat tubuh Zaki yang sudah terlelap di pangkuannya.


" Qonita kau harus memaklumi Kalau suamimu sangat menjagamu itu karena dia sangat mencintaimu dan tidak ingin terjadi apa-apa denganmu kehamilan trimester pertama memang sangat rawan dan kamu harus berhati-hati!" Rasyid menasehati Qonita saat mereka berjalan menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuk kakaknya tersebut.


"Iya, Mas Rasyid! Qonita paham kok dan Qonita merasa sangat bersyukur sekali, karena suamiku, sangat memperhatikan keselamatanku dan juga kesehatanku, serta bayi yang ada di dalam kandunganku!" ucap Qonita sambil tersenyum.


"Alhamdulillah kalau Kyai Ilham sudah bisa membuka pintu hatinya untukmu. Mas Rasyid bahagia sekali. Sudah sangat lama, Kiai Ilham hidup dalam keterpurukannya karena berpisah dengan Kesya yang menikah dengan Andika!" tampak Rasyid mulai bersedih lagi kalau sudah mengingat kejadian itu.


"Lupakanlah semuanya, Mas! Semua itu adalah masa lalu, tidak usah di jadikan beban, nanti bisa menjadi penyakit untuk Mas Rasyid!" Qonita berusaha untuk memberikan nasehat kepada kakak iparnya.


" Iya Mas Rasyid tahu! Mas tidurkan dulu Zaki ke kamar ya?" kemudian Rasyid masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh Qonita dan menidurkan putranya di sana.


Setelah itu Rasyid kembali menemui Ilham dan mempersiapkan acara syukuran nanti malam.


Pada malam harinya, pengajian diadakan secara meriah. Para santri semuanya hadir untuk membacakan ayat-ayat suci Alquran dan mendoakan bayi yang ada di dalam kandungan istri dari Kyai mereka semua.