
Firman tersenyum melihat istrinya yang saat ini sedang tertidur dipelukannya. Rasa puas dan bahagia setelah tadi bercinta dengan sang istri yang selama seminggu lebih sibuk dengan anaknya.
Sejak baby sisternya mengundurkan diri, Laila memang lebih sibuk mengurus Yuke daripada mengurus Firman. Pantas kalau Firman kelapakan hingga seperti itu.
" Sayang kau istirahat saja dulu di sini ya? Dari kemarin kan kau sangat lelah karena mengurus Putri kita yang sakit. Nanti setelah aku selesai rapat aku akan kemari untuk menjemputmu!" ucap Firman sambil mencium bibir Laila yang hanya bisa pasrah karena terlalu lelah setelah melayani sang suami yang kelaparan dengan tubuhnya.
Firman kemudian pergi dari kamar hotel tersebut. Menuju tempat pertemuan yang akan dilakukan antara tim perusahaannya dan tim Arman yang sedang bersiap-siap untuk segera berangkat ke Amsterdam.
" Tadi Nyonya Humairoh sudah menelponku bahwa kita harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke Amsterdam. Masalah yang menjadi penghambat proyek ini untuk tetap survive sedang diselesaikan oleh Nyonya Humairoh dan timnya. Kita diminta untuk segera bersiap-siap mengeksekusi proyek itu!" ucap Arman yang datang bersama sekretarisnya yang sangat seksi dan menawan.
Sejak tadi mata Firman terus mengawasi sekretaris Arman yang terus berusaha untuk menggodanya dengan kerlingan mata genit.
Firman menarik nafasnya dalam-dalam dia merasa bersyukur bahwa tadi istrinya mengikuti apa yang dia minta.
' Kalau istriku tadi menolak. Aku pasti akan tergoda dengan wanita itu yang sepertinya menginginkan belaianku. Ah, istriku kau sekarang tahu bukan? Kalau kamu sudah menyelamatkan rumah tangga kita dengan mau mengikuti aku ke hotel. Kalau tidak aku pasti akan kesulitan untuk menolak tubuh seksi itu yang dia tawarkan gratis kepadaku!' bathin Firman sambil meraup wajahnya dengan kasar.
Melihat usahanya gagal untuk menggoda Firman, sekretaris itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arman yang tampak sedang membaca laporan-laporan yang disetorkan kepadanya dari tim lainnya.
' Nggak tahu kenapa Arman masih mempertahankan sekretaris seperti dia. Ya ampun! Bukan nya konsentrasi untuk bekerja, dia malah fokus ingin merayu bosnya yang sudah menikah. Sekretaris tidak ada guna!' bathin Firman mulai kesal.
Tetapi Firman pun tidak bisa bertindak gegabah mengingat proyek yang sedang mereka kerjakan adalah proyek rahasia dan tidak boleh sampai ada kegagalan maupun kebocoran informasi keluar.
Jadi Firman hanya bisa menahan kekesalan di hatinya ketika dia melihat kelakuan Amelia yang terus saja berusaha untuk menggoda mereka berdua.
Setelah selesai rapat dan mereka semua telah bersiap untuk meninggalkan restoran itu, tampak Firman mendekati Arman.
" Apakah Amelia nanti ikut kita Amsterdam?" bisik Firman kepada Arman yang sedang berjalan ke mobil nya.
" Tentu saja dia ikut dengan kita. Bukankah dia adalah sekretarisku? Dia memegang kunci kesuksesan dari proyek kita! Percayalah padaku. Walaupun dia seperti itu tetapi kemampuannya dalam bekerja tidak bisa diragukan lagi." ucap Arman sambil tersenyum kepada Firman yang langsung menuju ke mobilnya.
Dari kejauhan tampak Amelia yang menuju mobil Arman, "Apa saya bisa ikut Pak?" tanya wanita cantik itu kepada Arman yang sudah bersiap meninggalkan restoran itu.
Arman hanya mengangguk saja. Kemudian dia pun berpamitan kepada Firman yang terus memperhatikan interaksi antara bos dan sekretarisnya.
" Entah kenapa aku mencium gelagat aneh antara mereka berdua!" ujar Firman merasa tidak nyaman melihat kedekatan Amelia dan Arman yang dirasa ganjil di matanya.
Kalau secara normal seorang bos pasti akan marah ketika melihat seorang sekretaris yang begitu genit terhadapnya.
Firman hanya bisa menatap kepergian mereka berdua. Karena dia pun harus segera pergi ke hotel di mana Laila saat ini masih tidur di sana menunggunya untuk menjemput.
Sementara itu Arman dan Amelia tampak masuk ke hotel yang di sewa oleh Firman tadi pagi. Mereka masuk selayaknya pasangan.
" Kenapa kau sepertinya tidak mampu untuk merayu kakakku yang blagu itu?" tanya Arman kepada Amelia yang sedang bergelayut manja di lengan kekarnya.
Amelia tampak tertawa geli mendengarkan pertanyaan kekasih gelapnya ketiaka berada di luar jam kerja. Akan tetapi bos saat ada di kantornya.
" Aku hanya takut kalau kau nanti cemburu melihat kakakmu itu tertarik denganku! Bagaimana kalau Pak Firman nanti jatuh cinta kepadaku? Aku akan kesulitan melayani hasrat kalian berdua sayang," ucap Amelia yang langsung menyambut bibir Arman yang mendekat padanya.
Mereka berpagutan sampai ke kamar yang tadi di pesan oleh Arman. Mereka tidak tahu kalau sejak tadi Laila memperhatikan kelakuan mereka yang sangat menjijikkan di matanya. Laila terus menggelengkan kepalanya seperti tidak percaya bahwa adik iparnya ternyata memiliki affair dengan sekretarisnya.
" Kasihan sekali Syafa hidupnya harus selalu sedih dan dikhianati oleh suaminya. Dulu mas Firman dan sekarang Arman juga sama. Apakah tidak ada kebahagiaan di dalam hidupnya dengan menemukan seorang laki-laki yang setia?" tanya Laila merasa prihatin kepada Syafa sang mantan istri dari suaminya.
Sementara itu Arman dan Amelia yang berada di dalam kamar mulai melakukan hal yang sudah di tunggu Amelia sejak di restoran tadi. Sejujurnya Amelia merasa tersinggung melihat Firman yang menolaknya mentah-mentah tanpa berpikir panjang.
Oleh karena itu dia tidak menolak sama sekali ketika Arman mengajaknya pergi ke hotel untuk bercinta di siang hari. Mereka berdua bukan melakukannya satu dua kali. Kadang Arman menggunakan tubuh seksi Amelia untuk menggaet klien agar menggoldkan tender yang dia sodorkan kepada orang penting di perusahaan yang dia incar.
Jadi Arman sangat tergantung sekali kepada Amelia. Karena di tangannya semua rahasia perusahaannya bermuara. Oleh karena itu Arman tidak bisa berkutik dengan semua permintaan Amelia.
" Kapan Mas akan menceraikan Syafa? Aku gak rela melihat kamu bermesraan dengan dia!" ucap Amelia sambil merajuk di dekapan Arman yang kelelahan setelah percintaan di antara mereka tadi.
Arman benar-benar telah terperosok dalam hubungannya yang salah bersama Amelia yang sekarang mulai menuntut pernikahan kepadanya.
" Ayahku akan membunuhku kalau sampai aku bercerai dengan Syafa! Lagi pula perusahaan anaknya Syafa begitu besar. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan untuk bisa mengendalikan perusahaan itu dan menceraikan ibunya? Kau jangan gila Amelia!" ucap Arman sambil meninggalkan Amelia di atas ranjang.
Amelia mengikuti Arman sampai ke kamar mandi.
" Jadi Mas tidak akan pernah menceraikan Syafa?" tanyanya sambil mengikuti Arman.
" Terimalah statusmu sebagai selingkuhanku dan aku akan memberikan semua yang kau inginkan kecuali pernikahan!" ucap Arman sambil mencium bibir Amelia yang sedang mengerucut karena kesal.
" Aku adalah milikmu selama berada di luar rumah. Tetapi ketika aku berada di dalam rumahku. Aku adalah seorang suami dari Syafa dan ayah dari Rasya dan kau tidak boleh banyak menuntut terhadap hal itu!" ucap Arman menatap tajam kepada Amelia dan tidak mau dibantah oleh perempuan itu.