Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
76. Persiapan Pernikahan Ilham & Qonita



Setelah sampai, mereka langsung mengadakan pertemuan serius, mengenai rencana pernikahan antara Ilham dan Qonita. Apakah ada hal yang lebih konyol dari semua ini? Kesya tampak sangat sibuk, mengurusi pernikahan Ilham dan Qonita. Semua mata memperhatikan mereka berdua.


"Apa kamu yakin, akan mengurus Pernikahan Ilham?" tanya Rasyid, Kesya terdiam sejenak, lalu menatap Kakaknya, Kesya menjadi lebih mudah marah sekarang, tidak tahu kenapa. "Yakin, Mas!" jawab Kesya, lalu kembali sibuk, membungkus semua keperluan pernikahan Ilham.


Mereka semua sibuk, termasuk Adrian dan Fathu. Mereka sibuk menamani Kiai mereka yang sebentar lagi akan menjadi seorang pengantin. Adrian tak henti-hentinya menggoda Paman kesayangan dirinya.


"Om, nanti kalau sudah menikah, Om harus tetap sayang sama Adrian!" ucap Adrian menatap Om Ilhamnya.


"Saya juga, Pak Kiai!" Fathu juga tidak mau kalah.


Ilham menarik duo ganteng di pondok pesantren miliknya, duo tampan yang selalu menjadi buah bibir masyarakat kalau ada acara di pondok pesantren nya.


"Om, selamanya akan sayang dengan kalian! Om janji!"


"Nanti anak Om, biar kami yang asuh, kami akan jadi Kakak yang baik!" ucap Fathu semangat.


"Aku akan menikahi anak Om, kalau dia perempuan!" ucap Adrian dengan ceplas-ceplos. Ilham hanya tersenyum mendengar ucapannya Adrian yang masih berusia 7 tahun.


"Hati-hati, kalau berbicara! Nanti kalau di catat oleh malaikat, kamu tidak akan bisa berkutik dan mundur lagi!" ucap Ilham sambil tersenyum.


Pembicaraan malam ini akan menjadi kenyataan pada 25 tahun yang akan datang. Kisah mereka bisa reader baca di novel author yang berjudul "Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai" kisah cinta Adrian dan anaknya Ilham dan Qonita, yang baru saja di janjikan oleh Adrian. Kisah cinta seorang Fathu Al Ghazali, bersama istrinya.


Yuk balik lagi ke novel ini. Ilham kemudian mengantar mereka berdua ke kamar yang sudah di persiapkan oleh Kiai Hamid, saat Ilham menuju kamar tersebut, Ilham berpapasan dengan Qonita. Calon istrinya, yang di jodohkan oleh Adrian. Bocah nakal itu, benar-benar membuat Ilham tidak bisa berkutik.


"Adrian sudah mau tidur? Sini biar sama saya, Kiai!" Qonita berusaha menawarkan diri untuk mengajak Adrian dan Fathu, untuk kembali ke kamar mereka.


"Baiklah, Adrian dan Fathu! Ayo sana, kembali ke kamar kalian! Awas, jangan nakal sama ustazah Qonita!" Ilham memberikan peringatan keras.


"Yah, Om! Menikah aja belum, kami sudah di marahin Om, gara-gara Ustazah Qonita!" rengek Adrian manja.


"Eh, bukan itu maksudnya Om!" Ilham salah tingkah.


"Lalu?" tanya Fathu, ah, sejak bergaul dengan Adrian, Fathu jadi ketularan sifat jahilnya Adrian.


"Maksudnya Om, kalian gak boleh nakal! Cuma itu!" ucap Ilham mulai gugup, Adrian dan Fathu malah tertawa.


"Pak Kiai lucu kalau sedang salah tingkah!" tiba-tiba Fathu langsung tertawa terbahak-bahak. Ilham melotot melihat kelakuan Fathu yang tidak sopan itu. Melihat Kiainya menatap tajam, Fathu jadi bungkam.


"Maafkan Fathu, Om! Biasa itu, kelakuan anak nakal!" ucap Adrian dengan senyum liciknya. Fathu sekilas menatap Adrian dengan tatapan horornya. Adrian seketika berlari, sudah hafal dengan Fathu, yang sudah di pastikan, pasti akan menghajar dirinya.


"Jangan lari, kau! Awas kamu ya! Berani-beraninya mengatakan aku anak nakal!" Fathu terus mengejar Adrian yang sudah masuk ke kamar mereka, lalu mengunci pintu dari dalam, sehingga Fathu tidak bisa masuk ke sana.


"Ustazah, Pak Kiai! Lihatlah kelakuan anak nakal ini! Dia mengunci pintu kamar ini!" Fathu yang biasanya tenang, entah kenapa sekarang menjadi kekanak-kanakan. Sungguh aneh sekali. Ilham mendekati mereka.


"Apa ada kunci cadangan?" tanya Adrian kepada Qonita.


"Tidak ada, Kiai! Kamar ini khusus untuk tamu. Jadi kami memang sengaja, tidak menyimpan cadangan nya!" jawab Qonita, sambil menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, Fathu! Ayo tidur bersama Pak Kiai saja malam ini!" Fathu tadinya merasa sungkan dan takut, tapi Ilham tersenyum kepadanya, "Tidak apa-apa, ayo tidur bersama Pak Kiai!" saat mereka sudah bersiap, tiba-tiba pintu kamar malah terbuka. Adrian keluar dengan Senyum usilnya.


"Aku juga mau, tidur bersama Om!" Adrian langsung meloncat ke pelukan Ilham. Ilham sampai hampir oleng, mendapatkan serangan tiba-tiba Adrian.


"Ayo, kita tidur!" Lalu Ilham masuk ke kamar tamu yang disediakan oleh Kiai Hamid, tidur bersama duo tampan tersebut. Qonita hanya memandang takjub dengan Ilham yang berinteraksi dengan dua santrinya begitu akrab dan sudah seperti dengan anaknya sendiri.


Qonita lalu kembali ke kamarnya, tadi dia baru kembali dari rumahnya Rashid. Menyerahkan anak mereka setelah tertidur di kamar Qonita.


"Semoga rencana pernikahan ku dengan Kiai Ilham. Berjalan dengan lancar dan sukses!" doa Qonita.


"Pasti sukses!" tiba-tiba saja seorang gadis masuk ke kamar Qonita. Qonita tampak terkejut. Dia adalah Salwa, seorang tenaga pengajar juga di sana.


"Maaf, Kak!" Qonita lalu beranjak dari tempatnya.


"Maaf untuk apa?" tanya Salwa tampak bingung.


"Untuk pernikahan saya dengan Kiai Ilham!" jawab Qonita terbata-bata. Qonita tahu, kalau Salwa juga menyukai Kiai Ilham sejak lama. Tapi tidak punya kesempatan sama sekali untuk mendekati Kiai Ilham yang terkenal cuek itu.


"Aku yang memimpikan Kiai Ilham. Sebagai suamiku, eh, malah kamu yang akan menikahi dia!" ucap Salwa dengan mata berkaca-kaca. Qonita jadi tidak enak perasaannya.


"Ini bukan permintaan saya, Kak! Maaf ya!" Qonita lalu duduk di samping Salwa yang kini mulai tersedu.


"Gak apa-apa, Qonita! Mungkin, Ku memang tidak berjodoh dengan Kiai Ilham!" Salwa lalu pergi dari kamar Qonita.


Qonita lalu menatap langit-langit kamarnya, merenung sejenak. Kehidupan dirinya sendiri, tanpa terasa, air mata mengalir di pipinya yang putih.


"Apakah, apakah aku akan bertemu dengan ayah dan ibu kandungku?" tanya Qonita kepada dirinya sendiri.


Sementara itu,Ilham, Fathu dan Adrian sudah mulai terlelap di kamarnya. Adrian tidur sambil memeluk Ilham. Sungguh, Adrian ini lebih dekat dengan Ilham, daripada dengan Andika, ayahnya sendiri. Untung saja, Andika tidak merasa cemburu dengan kedekatan mereka berdua.


"Untung saja, Adrian selalu bersama Mas Ilham, jadi kita bisa selalu bersama!" ucap Andika, ketika mereka berdua di kamar, Cakra sudah tidur dari bada isya tadi.


"Kau yang keenakan, anak lebih dekat dengan Mas Ilham!"


cicit Kesya memukul tangan suaminya. Andika hanya tersenyum saja mendengar ucapan istrinya.


"Sayang, aku tidak mau nanti di nilai posesif sama anak sendiri. Aku akan marah, kalau kamu yang lebih memilih dekat dengan Mas Ilham!" ucap Andika sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Kesya.