Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
43. Merry mau di lamar?



Pov Alvian


"Dia kebiasaan kayak gitu!" protes Merry sama Alvian yang saat itu menatap Merry dengan terpesona. 'Merry memang ngangenin!' bathin Alvian yang terpesona dengan kecantikan Merry.


Sejak kecil aku dan Merry memang selalu berantem. Percis kaya kucing dan anjing. Tapi bagiku, sehari tak bertemu Merry seakan ada yang kurang. Tapi saat usiaku 14 tahun, Mamahku meninggal dan Papahku menikah lagi dengan gadis Dubai. Aku tidak suka hal itu, jadi aku meminta kepada Papahku untuk tinggal di Indonesia saja, menemani Kakekku yang sudah tua dan tinggal seorang diri di sana.


Awal tinggal di Indonesia, rasanya sangat berat. Tidak ada Merry di sana. Hari seakan hampa. Aku berjuang agar bisa segera bertemu Merry dengan belajar giat setiap harinya.


Tiga bulan yang lalu, Kakekku meninggal, Papah juga ada sebuah kasus besar yang harus dia tangani di Indonesia. Papah memintaku untuk datang ke Dubai. Menggantikan tugasnya di sini.


Rasanya hatiku tidak sabar ingin bertemu dengan Merry, musuh bebuyutanku dulu. Tapi dia ngangenin banget. Sudah lima belas tahun tidak bertemu, apakah Merry masih ingat kepadaku?


Saat Mamahnya Merry menelpon dan meminta surat perjanjian, aku sangat senang, akhirnya ada kesempatan bagiku untuk bertemu dengan kucing liarku kembali. Sudah tidak sabar rasanya.


Pertama bertemu dengan Merry, aku sangat terpesona. Merry yang dulu gendut dan manja, kini berubah menjadi gadis cantik yang menawan. Aku gak akan bicara body di sini, karena sudah pasti body dia mulus dan keren. Namanya anak konglomerat, pasti perawatan mahal, ga perlu kita bahas. Merry ternyata masih ingat sama aku, itu yang penting dan membuat aku sangat bahagia.


Saat itu, Elena hanya ingin berkenalan dengan ku, tapi Merry melarangnya dengan menggenggam tanganku, ada aliran listrik yang tiba-tiba, hatiku berdebar gak karuan. Aku bisa melihat ke tidak relaan Merry jika aku bersentuhan dengan wanita lain. Point itu yang membuat hatiku sangat bahagia. Sepertinya perasaan ku akan bersambut.


"Ih.. nyebelin! Ini orang malah bengong!" aku terkejut, lamunan ku seketika buyar. Saat Merry menggeplak tanganku.


"Ngelamun apa sih? Lagi ngelamun jorok, ya?" tanyanya nyolot sambil melotot kepadaku.


"Ih, fitnah banget! Dosa loh!" sahutku gak terima.


"Udah Mah, Pah! Nikahkan saja nih kucing ma anjing. Membantu menyelamatkan hari kita semua dari lihat berantemnya mereka." ucap Mas Andika sambil tersenyum jahil menggoda kami.


"Ih, ogah! Kami itu musuh bebuyutan! Masa di suruh nikah! Nanti yang ada berantem setiap hari!" jawab Merry ketus. Hatiku mencelos mendengar hal itu. Kalah sebelum bertanding.


"Justru karena kalian musuh bebuyutan sejak kecil, nanti kalau sudah menikah, bisa berantem setiap hari. Kan seru tuh!" ucap Mas Andika lagi.


"Mas, kok ngajarin ga betul sama mereka?" tanya seorang wanita cantik bercadar. Aku tebak, dia pasti istri Mas Andika.


"Kan berantemnya ganti sayang, berantemnya di kasur, biar lebih seru!" ucap Mas Andika sambil tersenyum ke arah kami.


Seketika wajah Merry memerah, merona menahan malu. Ih gemesin! Pengen ngarungin aja rasanya. Eh, maksudnya pengen ngelamar. Hehehe.


"Apa kabar, Mas Dika?" sapaku kemudian.


"Alhamdulillah kamu masih ingat sama aku?" tanyanya sambil tersenyum jahil.


"Iya, Mas, Alhamdulillah masih ingat." Jawabku.


"Sebelum menikah, aku tinggal di Indonesia, ada hampir 5 tahun, tapi ko ga pernah bertemu sama kamu, ya?" tanya Mas Dika.


"Indonesia itu luas, Mas! Mas Dika memang waktu di Indonesia tinggal di mana?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.


Mataku sambil memperhatikan interaksi Merry yang masih berebut dengan Papahnya, untuk bisa menggendong anaknya Mas Dika. Merry tambah cantik sekarang. Walaupun tidak berhijab, tapi pakaian dia sopan dan tidak mengundang syahwat sama sekali. Aku lega.


"Saya tinggal di Jakarta dan setahun tinggal di Kalimantan!" ucap Mas Dika.


"Saya tinggal di Pontianak selama 15 tahun, bersama Kakek saya. Tiga bulan lalu, beliau meninggal, papah minta aku balik ke sini, buat bantuin kerjaan dia. Jadi aku ada di sini sekarang!" ucapku sedih, mengingat Kakek yang sudah pergi.


"Kakek sudah meninggal?" tanya Pak Farhan, ayahnya Merry. Beliau ikut bergabung bersama kami sekarang.


Kehilangan Mamah di usia remaja, saat dimana butuh perhatian seorang Mamah. Sudah begitu, Papah menikah lagi. Hatiku hancur lebur saat itu. Jadi aku melampiaskan kekesalanku pada hal-hal negatif. Setiap hari berantem dan bikin Kakek sedih. Alhamdulillah aku perlahan membaik, sifat berontak dan begajulan sama sekali tidak mempengaruhi nilaiku di sekolah.


Aku memang anak yang pintar. Selalu rangking di kelas. Walaupun sifat negatifku adalah pemberonta. Tapi itu bukan sifat dasarku, aku lakukan itu hanya karena sedih dan kesal dengan Papahku, yang menikahi gadis Dubai. Padahal Mamah baru saja meninggal. Kesan yang aku tangkap, Papah tidak sedih dengan kepergiannya.


"Yang sabar, Alvian. Allah lebih sayang Kakek, sekarang tugasmu, mengelola perkebunan yang Kakek kamu Warisi, biar beliau tenang dan bahagia. Usaha kerasnya selama hidup kamu hargai." nasehat Pak Farhan. Aku hanya mengangguk setuju dengan beliau.


"Rencana kalau Papah sudah balik ke Dubai, saya akan balik ke Indonesia, ngurus perkebunan Kakek. Biar fokus di sana." jawabku. Aku terus menatap Merry, entah kenapa, hatiku sedikit pilu.


Baru bertemu Merry sudah berpisah lagi.


"Lamar Merry dulu, baru kembali ke Indonesia!" ucap Mas Dika serius.


"Mas Dika ini, dari tadi jodoh-jodohin Merry MA nih orang. Jangan-jangan dia udah punya calon di Indonesia, jangan bikin malu keluarga Abimana! Di kira aku gak laku!" Merry merajut, misuh misuh.


"Emang kamu gak laku-laku, buktinya sampe sekarang belum menikah. Dulu mau menikah saja, Orlando malah ketangkep tidur sama Elena!" ceplos Mas Andika. Auto Merry langsung nangis.


"Mas Dika jahat!" Merry langsung pergi keluar rumah sambil menangis.


"Mas, kamu bercanda nya keterlaluan banget!" istri Mas Dika menegur suaminya sambil berlari keluar mengejar Merry yang kini sedang menangis.


"Dika, Dika, bercanda itu jangan kelewat batas!" Pak Farhan juga pergi sambil menepuk bahu Mas Dika, beliau menggelengkan kepalanya, tanda kecewakan. Mamahnya Merry juga tampak kecewa. Mereka semua keluar mengejar Merry.


"Memang ada apa, Mas?" tanyaku kepo.


"Merry dua tahun lalu, pernah mau menikah, tapi pada malam sehari sebelum pernikahan mereka, Orlando ketangkep lagi ngamar sama mantan pacar saya. Elena. Karena kejadian itu, pernikahan Merry batal, hubungan saya dengan Elena juga putus. Elena menghilang begitu saja. Itu yang dulu bikin saja frustasi dan pergi ke Indonesia." ucap Mas Andika terdengar sedih juga.


Aku tidak menyangka kisah anak konglomerat keluarga Abimana begitu rumit. Tunggu! Elena? Apa mungkin perempuan yang waktu itu?


Aku sekarang paham, kenapa Merry waktu itu sangat benci dengan Elena. Seketika hatiku rasanya tercubit. Jadi, Merry waktu itu melakukan hal seperti itu hanya karena memang membenci Elena yang sudah merusak rencana pernikahan dirinya, bukan karena mencintai aku? Allahuakbar, aku ternyata salah paham dengan Merry.


Jangan lupa like, komentar dan kalau suka jadikan novel saya favorit ya, terima kasih.


Oh ya, jangan lupa baca novel saya yang lain



Apa kabar sayang


Thanks for always be here with me


Lurah Pondokku Calon Suamiku


Penghuni Sekolah lama.


Novel Penghuni sekolah lama, merupakan karya terbaru Author yang bergenre horor tentang korban pesugihan seorang pria kaya raya yang bahkan tega menjadikan anak dan cucunya sebagai tumbal demi harta dunia. Ayo ikuti kisah seru dan menegangkan Laura dan Salim.


Ada kisah cinta dua dunianya juga loh, Laura dan Salim yang terikat kontrak sehingga Salim selalu terikat dengan Laura yang seorang indigo.


Jangan lupa mampir ya, terima kasih.