
Zahra kemudian menemui ayahnya untuk membicarakan tentang perasaan suaminya yang saat ini sedang merasa tidak nyaman mendengarkan desas-desus dari sekitar mereka. Sehingga mengganggu sang suami.
"Abi, Tolonglah, kasihan Mas Rasyid!" ucap Zahra meminta tolong kepada ayahnya.
"Apakah benar kalau suamimu ingin mempunyai Pondok sendiri?" tanya Kiai Hamid kepada putrinya.
"Bener Abi, Mas Rasyid memang sudah memimpikannya sejak dulu. Dia terpaksa mengubur impian itu, karena merasa harus membantu Abi di sini!" ucap Zahra berusaha untuk menjelaskan situasi sang suami.
Kyai Hamid tampak berpikir keras, karena itu bukanlah hal yang ringan. Akan banyak konsekuensi yang harus dipersiapkan, ketika memutuskan untuk melepaskan Rasyid dari Pondok itu.
"Katakan pada suamimu, untuk menunggu kedatangan kakakmu dari Mesir. Sehingga akan ada yang menggantikan posisinya di pondok ini!" ucap Kyai Hamid dengan suara pelan. Merasa sedih, karena dia baru tahu kalau ternyata menantunya juga mempunyai cita-cita lain, selain membantu dirinya mengurus pondok pesantrennya saat ini.
"Zahra panggilkan suamimu sekarang untuk menghadap Abi! Aby ingin bicara dengannya!" Zahra kemudian mengundurkan diri dari hadapan ayahnya dan mencari sang suami.
"Mas diminta oleh Abi untuk menghadap!" ucap Zahra begitu menemukan sang suami yang sedang bermain dengan Zaki.
"Ada apa? Apakah Aby sakit?" tanya Rasyid dengan penuh kekhawatiran.
Zahra menggeleng dan tersenyum kepada suaminya.
"Tidak Mas, temui saja Abi. Dia hanya ingin berbincang denganmu!" Zahra kemudian mengambil Zaki dari pelukan suaminya.
Dengan penuh tanda tanya di dalam hatinya, Rasyid akhirnya menemui Kyai Hamid di ruangan pribadinya.
"Assalamualaikum Abi ini Rasyid!" ucap Rasyid sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam! Masuklah, Rasyid, tidak dikunci!" setelah mendapatkan izin dari mertuanya Rasyid pun kemudian masuk ke dalam ruangan yang begitu wangi semerbak.
"Zahra bilang Abi ingin bicara dengan saya?" Rasyid sambil duduk bersimpuh di hadapan mertuanya dengan penuh khidmad
"Maafkan Abi, yang tidak peka dengan perasaanmu selama ini!" Kyai Hamid mulai mengawali pembicaraan mereka.
"Maksud Abi apa?" tanya Rasyid dengan gugup. Perasaan Rasyid mulai tidak tenang.
"Zahra mengatakan sama Abi, katanya kamu mempunyai cita-cita ingin mempunyai Pondok sendiri, apakah itu benar?" punya mertuanya sambil menatap teduh ke mata Rasyid yang kini menundukkan wajahnya.
"Maafkan Rasyid Abi, kalau cita-cita ini menjadi beban untuk Aby!" ucap Rasyid dengan suara yang gemetar.
"Maafkan Rasyid Abi, kalau Rasyid sudah membuat Aby sedih." suara Rasyid pun sudah mulai gemetar karena menahan gemuruh di dadanya yang juga merasakan kesedihan yang sama dengan mertuanya.
"Kakaknya Zahra katanya akan kembali dari Mesir, tetapi Abi tidak yakin. Apakah dia mau melanjutkan Pondok ini atau tidak. Karena dia katanya bertekad untuk tinggal di sana bersama istri dan anak-anaknya. Bahkan mereka sudah mengganti kewarganegaraan mereka di sana!" suara ayahnya Zahra kini tersekat di tenggorokan.
"Kau tunggulah kakaknya Zahra kembali dari Mesir. Kalau kau memang menginginkan untuk meninggalkan Pondok ini. Akan Abi tanyakan kesanggupannya, apakah bisa menggantikan Abi, kalau Abi sudah tidak ada di dunia ini!" ucap Kiai Hamid sedih.
"Saat ini hanya kamu yang ada di dalam pikiran Abi, untuk melanjutkan tonggak kepemimpinan di pondok ini, melanjutkan tonggak perjuangan dalam menyiarkan agama Allah di bumi ini!" ucap Kyai Hamid sambil berderai air mata.
Hati Rasyid saat ini benar-benar kalut tidak tahu harus berbuat apa lagi. "Tapi Abi saya merasa tidak senang, kalau dikatakan oleh orang-orang bahwa saya hanya hidup menumpang di keluarga Abi, seakan-akan saya menjadi benalu di keluarga ini!" Rasyid dengan suara yang gemetar menahan kesedihan di hatinya.
"Dengarkanlah aby, Nak! Sepanjang Abi menjadi mertuamu, Aby tidak pernah merasa bahwa kau menumpang kepada kami. Selama ini, kau bekerja dan mencari makan untuk keluargamu dengan tenaga mu sendiri. Abi maupun Umi tidak pernah membantu kalian. Bagaimana bisa dikatakan kalian menumpang kepada kami? Kamilah yang harus berterima kasih kepadamu, di antara waktumu, kau masih menyempatkan dirimu untuk menjaga dan mengelola Pondok ini!" suara Kiai Hamid semakin pelan, tampak kesedihan di hatinya.
"Jangan didengarkan apa yang dikatakan oleh mereka, yang penting kan kita yang tahu! Dalam berjuang di jalan Allah, memang akan kita temui banyak rintangan dan hambatan! Kita harus kuat menanggung itu semua!" ucap Kiai Hamid, berusaha untuk menasehati menantunya.
"Percayalah sama Abi dan Umi, kami tidak pernah menganggapmu sebagai benalu dalam keluarga kami. Kami sangat menyayangimu seperti anak kami sendiri dan tidak menganggapmu sebagai orang lain!" ucap Kiai Hamid menepuk bahu Rasyid yang kini menangis dalam sedih.
"Maafkan Rasyid, Abi kalau cita-cita Raayid, telah menggelapkan mata Rasyid, sehingga menjadi egois dan tidak memikirkan masalah secara menyeluruh!" ucap Rasyid sendu.
"Kalau kau memang menginginkan untuk memiliki Pondok sendiri, tidak apa-apa. Aby pasti akan membantu dan menolongmu. Kebetulan, di Banten ada tanah milik Aby pribadi, mungkin kau bisa memulai untuk membangun pembangunan Pondokmu di sana!" Rasyid langsung menangis seketika dan memeluk Ayah mertuanya.
"Tidak Abi, saya tidak menginginkan itu semua. Insya Allah saya bisa berjuang dengan tenaga saya sendiri untuk membangun pondok pesantren impian yang saya inginkan." Rasyid terdiam sejenak.
"Kebetulan tanah kedua orang tua saya tidak pernah disentuh dan juga terbengkalai di Banten. Saya berencana untuk membangun Pondok saya di sana, Aby!" ucap Rasyid menerangkan rencana hidupnya kepada Kyai Hamid.
Kiai Hamid tampak manggut-manggut, merasa bangga dengan menantunya yang selalu ingin berjuang dan tidak ingin menyusahkan siapapun.
"Baiklah kita tunggu kedatangan kakaknya Zahra dari Mesir dan kita lihat nanti. Apa yang akan kita putuskan nanti!" Kiai Hamud kemudian mempersilahkan Rasyid untuk kembali ke kediaman pribadinya.
Begitu sampai di rumah, Rasyid langsung memeluk tubuh istrinya dan menangis di sana.
" Abi begitu mencintaiku seperti anaknya sendiri. Tetapi entah kenapa, aku malah ingin meninggalkannya untuk impian pribadiku sendiri. Aku sungguh egois!" ucap Rasyid sambil terisak dalam tangisnya.
"Kamu bukan egois Mas. Sangat wajar untuk seseorang memiliki impiannya sendiri dan sangat wajar juga kalau Mas berusaha untuk mewujudkan itu. Mas jangan menyalahkan diri sendiri. Zahra yakin, Abi juga mengerti perasaan Mas saat ini!" ucap Zahra berusaha untuk memberikan semangat kepada suaminya yang saat ini sedang lemah hati dan pikiran, karena merasa sedih belum berhasil mewujudkan mimpinya selama ini.