Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
243. Akhirnya Andini tahu juga



Humairoh merasa senang ketika dia melihat Ayana sudah mulai sadarkan diri. Pradipta memenuhi janjinya untuk memberikan darahnya kepada Ayana, sehingga Ayana bisa kembali sadar.


" Mah, bagaimana dengan keadaan Mas Agus dan juga Axel?" tanya Ayana dengan suara yang masih lemas.


" Mereka baik-baik saja. Apakah kau tidak lihat? Mereka tepat di sampingmu!" ucap Humairoh sambil menggenggam tangan Ayana yang terasa dingin.


" Tetapi mereka masih dalam pengaruh obat bius. Setelah dioperasi. Masih butuh waktu untuk mereka bisa sadarkan diri!" ucap Pradipta sambil menatap kepada Ayana.


" Dia?" tanya Ayana menatap kepada Humairoh.


" Ayahmu yang telah menolongmu dengan memberikan darahnya kepadamu. Sehingga kau bisa menjalani operasi dengan selamat!" ucap Humairoh sambil menatap Ayana yang merasa bahagia karena akhirnya ayahnya mengetahui tentang keberadaannya di atas dunia ini.


" Terima kasih Karena papa sudah mau menolongku!" ucap Ayana sambil mengulas senyum kepada Pradipta.


" Maafkan Papa yang tidak mengenalimu. Saat kita pertama kali bertemu!" Ayana menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada Pradipta.


" Tetapi Papah langsung terpesona kepada Axel bukan?" tanya Ayana sambil tersenyum.


" Papa juga tidak mengerti. Kenapa bisa Papa rasanya sangat terpesona kepadanya? Entahlah, ketika melihat Axel, Papa rasanya seperti____sangat sulit untuk bisa jelaskan. Seakan melihat sesuatu yang terlewatkan." ucap Pradipta seakan kebingungan untuk menjelaskan perasaannya terhadap cucunya sendiri.


Ayana dan Humairoh saling menatap satu sama lain. " Pulanglah jangan sampai nanti keluargamu mencari. Terima kasih karena kau sudah mau menolong Ayana!" WhatsApp Humairoh sambil menatap kepada Pradipta yang seperti merasakan kerinduan yang panjang terhadapnya.


" Tidak apa-apa. Aku nanti bisa menelpon Andini bahwa aku sedang berada di luar kota. Aku harus mengetahui bagaimana keadaan Agus dan juga Axel. Aku tidak akan bisa tenang kalau tidak mengetahui keadaan mereka!" ucap Pradipta menolak untuk pergi dari rumah sakit.


" Kasihan istrimu kalau harus menunggumu. Pulanglah Dip! Di sini ada aku yang akan menjaga mereka semua. Insya Allah nanti aku akan mengabarkan kalau seandainya ada kabar terbaru tentang mereka!" ucap Humairoh berusaha untuk membujuk Pradipta agar kembali ke kediamannya Karena sejujurnya Humairah sangat takut kalau sampai Andini mengetahui tentang keberadaan keluarga kecilnya.


" Kenapa Papa harus menyembunyikan sebuah fakta yang begitu penting dari mama?" tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok Andini yang tanpa kecewa ketika dia menatap suaminya.


" Kenapa Mama bisa ada di sini?" tanya Pradipta merasa bingung ketika dia melihat Andini sekarang mendekat kepadanya dengan mata yang berkaca-kaca.


" Papa jawab saja kenapa Papa harus menyembunyikan fakta seperti ini?" tanya Andini mengulangi apa yang ingin dia ketahui.


" Ini bukan kesalahan Pradipta. Ayana mengalami kecelakaan fatal dan dia mengalami kehilangan darah hanya Pradipta yang bisa menolongnya. Oleh karena itu dengan terpaksa, aku menghubunginya. Dia pun baru tahu kalau Ayana adalah putrinya." ucap Humairoh sambil menatap Andini yang seperti membencinya.


" Mah! Jaga mulutmu. Humairoh mencariku hanya karena membutuhkan darah untuk Ayana. Bukan untuk meminta apapun dariku. Bagaimanapun Ayana masih putriku! Aku memiliki kewajiban moral untuk memastikan keselamatannya!" ucap Pradipta sambil mendekat kepada istrinya.


" Diam kamu Pah! Aku sedang berbicara dengan perempuan itu! Perempuan yang tidak tahu malu. Karena dia datang kembali ke hadapan kita dan mengaku punya anak dari kamu! Setelah kau mencampakkannya begitu saja! Cihh bener-bener perempuan yang tidak tahu malu!" Humairoh benar-benar kehilangan kesabarannya mendengarkan semua caci maki yang diucapkan oleh Andini kepadanya. " Dan kau bahkan tidak tahu malu dengan mengirimkan anak haram mu itu ke rumah kami dengan wajah yang tak berdosanya. Berusaha untuk memikat hati kami sekeluarga agar mau menerima kehadirannya!" ucap Andini sangat kesal meluapkan semua emosi yang ada di dalam hatinya saat ini.


" Kenapa Tante mengatakan semua hal yang begitu menyakitkan? Mamaku tidak pernah menyuruh aku untuk menemui kalian. Aku yang membujuk suamiku untuk membawa kami bertemu dengan ayahku. Karena aku sangat penasaran laki-laki seperti apakah yang telah tega menelantarkan wanita yang hamil keturunannya." ucap Ayana pelan dan berusaha menerangkan segalanya tanpa ada yang dia tutupi.


" Malam itu Agus menegurku karena sudah bersikap aneh di rumah kalian. Dia takut membuat kalian merasa Curiga dengan gelahat anehku. A khirnya aku memutuskan untuk kembali ke Australia dan meminta Agus untuk mengurus surat perceraian kami. Akan tetapi Agus yang tidak mau. Akhirnya dia lebih memilih untuk bunuh diri dengan melajukan kendaraan dengan kencang. Sehingga akhirnya mobil kamipun mengalami kecelakaan. Aku bahkan sampai sekarang belum mengetahui bagaimana keadaan Putraku dan juga suamiku." ucap Ayana dengan suara bergetar karena menahan rasa sedih di dalam hatinya.


" Kau sama saja dengan ibumu yang hanya pintar menggoda seorang laki-laki. Bagaimana mungkin orang seperti kamu bisa mengerti apa itu artinya cinta? Sungguh malang sekali keponakanku karena beristrikan wanita seperti kamu yang tidak bisa menghargai cinta!" ucap Andini dengan sinis menatap kepada Ayana.


" Kalau Tante di sini hanya untuk menghina kami. Apakah bisa Tante untuk meninggalkan ruanganku? Karena saat ini aku butuh waktu untuk beristirahat agar bisa segera pulih!" ucap Ayana merasa tidak tahan dengan semua perkataan buruk yang ditunjukkan oleh Andini kepadanya maupun kepada ibunya.


" Beraninya kau mengusirku! Aku akan pergi sesuka hatiku. Tidak perlu kau mengatur diriku!" ucap Andini sengit.


" Sudah Mah. Ayo kita pulang jangan membuat keributan di rumah sakit!" ucap Pradipta sambil menarik tangan Andini untuk keluar dari ruangan itu.


" Tidak bisa! Aku harus mengatur agar Agus berpisah dengan wanita itu. Aku tidak sudi kalau harus melihat mereka ketika aku sedang mengunjungi keponakanku!" ucap Andini menolak permintaan Pradipta agar keluar dari ruangan itu.


Pradipta mulai kehilangan akal untuk bisa mengatur istrinya sendiri.


" Baiklah. Ayo kita mengurusnya bersama Untuk memindahkan ruangan Agus ke VVIP!" setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pradipta Andini pun kemudian mengikuti suaminya walaupun dengan misuh-misuh dan mulut yang terus mengucapkan kata-kata yang tidak jelas.


" Mama tidak menyangka ya. Kalau papa di luar ternyata memiliki simpanan bahkan sampai mempunyai anak sebesar itu!" ucapan ini dengan emosi yang membuncah di dadanya.


" Ini bukan seperti yang ada di dalam kepala mama! Papa pun baru mengetahui tentang Ayana sebagai putriku. Kalau bukan karena Humairoh yang membutuhkan darahku untuk menyelamatkannya nyawa Ayana yang dalam bahaya. Mungkin selamanya dia tidak akan pernah mau membuka identitas Ayana sebagai putriku!" ucap Pradipta berusaha untuk menjelaskan segalanya kepada istrinya.


Andini tampak menembus kesal, ketika dia mendengarkan semua yang dikatakan oleh suaminya.


" Kau sekarang tambah mahir untuk berbohong. Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui tentang putrimu sendiri? Sungguh sangat aneh dan sangat absurd! Aku bodoh kalau sampai mempercayai semua omonganmu!" ucap Andini dengan kekesalan yang sangat luar biasa.


" Terserah kepada Mama kalau tidak mempercayai apa yang Papa katakan. Tapi yang jelas, aku sudah bicara jujur kepadamu. Bahwa aku baru mengetahui tentang Ayana hari ini. Ketika Humaira menghubungiku karena membutuhkan pertolongan transfusi darah untuk Ayana!" ucap Pradipta merasa kesal dengan istrinya yang sangat sulit untuk diberikan penjelasan olehnya.