Assalamualaikum Ustadz Ku

Assalamualaikum Ustadz Ku
45. Awal Pertemuan



Ada yang kangen dengan Ilham?


Ayo kita tengok tokoh utama pria dalam novel ini.


Sore itu Ilham menemani Abahnya berceramah ke sebuah desa di Jawa Timur, menghadapi undangan walimah. Ilham paling tidak bisa membiarkan Abahnya yang sudah tua hanya berdua dengan supir keluarga nya.


"Abah, nanti gak usah lama-lama ceramah nya, ingat, kita harus kontrol kesehatan Abah di rumah sakit!" untuk kesekian kali Ilham mengingatkan Abahnya. Ilham tidak mau Abahnya lalai masalah kesehatan Beliau.


"Ilham, Abah sebenarnya bosan, harus rutin check up begitu. Abah hanya ingin menghabiskan sisa umur Abah bersama keluarga saja. Ingin cepat menimang cucu dan semoga Allah memberikan nasib baik kepada Abah untuk bisa bermain dan menjaga cucu Abah, seperti teman-teman Abah yang lain. Apa kamu tahu? Di antara semua teman Abah, hanya Abah yang hingga setua ini, masih belum punya menantu dan juga cucu!" Ilham bisa menangkap kesedihan dalam suara Abahnya.


"Ilham gak mau menikah dengan keterpaksaan, Abah! Sampai sekarang belum nemu sosok wanita yang mampu getarin hati Ilham. Kesya masih bertahta di hati Ilham hingga kini. Maafkan kelemahan anakmu, Abah!" Ilham jadi sedih.


Abahnya menarik nafas pelan. "Kalau masalah itu, Abah gak bisa menolong kamu. Ya sudah, masalah perasaan memang tidak bisa kita paksa!"


Abahnya Ilham akhirnya menyerah pada anaknya.


Saat mereka sampai di lokasi, sudah ramai oleh jama'ah yang akan menghadiri ceramah KH. Maulana, Abahnya Ilham.


Tuan rumah beserta panitia walimah sudah menyambut Abahnya Ilham dengan meriah.


Ilham meminta agar Abahnya di beri waktu 2 jam untuk istirahat dulu. Ilham khawatir dengan Abahnya yang merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh, hampir tiga jam di mobil.


Lokasi ceramah memang agak jauh dari pondok pesantren Abahnya. Tuan rumah lalu mengarahkan Ilham dan Kiai Maulana ke sebuah ruangan yang sudah disiapkan untuk istirahat Pak Kiai Maulana.


"Maaf, Pak Kiai, kalau tempatnya sederhana."


"Tidak apa-apa, yang penting Abah saya bisa istirahat dulu. Maklum, beliau sudah tua dan dalam kondisi kurang fit juga. Anda boleh melanjutkan acara di luar. Nanti 10 menit sebelum tampil, tolong jemput Abah kemari. Sekarang biarkan Abah saya istirahat dulu." pinta Ilham kepada tuan rumah.


"Baiklah, saya permisi. Selamat Istirahat!"


"Laila, kesini." panggil tuan rumah.


"Iya, ayah!" seorang wanita cantik bergamis menghampiri Ilham dan tuan rumah.


"Tolong kamu bersiap di sini. Penuhi apapun kebutuhan Pak Kiai dengan Gus, Ayah mau ke depan menyambut tamu dulu!" perintahnya pada Laila. Ilham melirik sekilas pada gadis tersebut.


"Maaf, Gus! Ini Putri saya, namanya Laila, dia nanti yang akan melayani kebutuhan Gus. Saya permisi dulu, mau menyambut tamu di depan." Bapak paruh baya itu pun berlalu dari hadapan Ilham.


"Assalamualaikum, ustadz ku! Perkenalan nama saya Laila Rohmawati. Saya anak bungsu Pak Wijaya Kusuma. Apabila membutuhkan sesuatu, Gus bisa mencari saya!" Ucap Laila sopan.


"Terima kasih, Abah saya sedang tidur di dalam, maklumlah, beliau ada kanker jadi harus sering istirahat. Saya sebenarnya sudah melarang beliau untuk datang, tapi Beliau ngotot saja!" ucap Ilham.


"Tidak apa-apa, Gus! Ayah saya itu penggemar Kiai Maulana, setiap ceramah beliau, pasti selalu menghadiri. Saya juga selalu mendampingi ayah saya kalau pergi ke pengajian!" ucap Laila.


"Terima kasih, saya permisi dulu!" Ilham akhirnya berpamitan kepada Laila.


"Laila akan duduk di kursi itu, kalau butuh apapun, panggil Laila saja!" Ilham hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar.


Abahnya tampak sangat lelah, di luar tamu undangan pernikahan sangat ramai. Bersiap dengan ceramah Abahnya. Ilham sendiri sangat lelah, setelah menempuh perjalanan jauh. Ada waktu 2 jam, lumayan untuk tidur sebentar.


Acara pengajian di jadwalnya setelah isya, Ilham datang selepas Maghrib. Jadi masih ada waktu 2 jam sampai ke waktu untuk pengajian.


Kiai Maulana memilih perawatan jalan dan pengobatan tradisional. Banyak mengaji dan berzikir. Abahnya selalu merasa tenang kalau sudah berzikir berjam-jam di masjid pondok.


Tiba-tiba ponsel Ilham berdering, Ilham melihat Uminya yang menelpon.


"Assalamualaikum, Umi. Ada apa?"


"Kalian sudah sampai?" tanya Umi Hasanah.


"Iya, Umi. Abah sedang tidur dulu, wajahnya pucat soalnya. Jadi tadi Ilham minta ruangan agar Abah bisa istirahat dulu." ujar Ilham.


"Jaga Abahmu, Umi khawatir sebenarnya dengan keadaan Abah. Jangan lupa obatnya untuk di minum. Ya sudah, kamu juga pergi untuk istirahat. Assalamualaikum!" setelah berpamitan dengan Uminya, Ilham memutuskan untuk tidur juga.


Tiga jam dalam perjalanan sungguh melelahkan bagi dirinya. Apalagi bagi Abahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan.


"Gus, maafkan saya kalau mengganggu. Ini saya sudah menyiapkan makanan unw Gus dan juga Pak Kiai Maulana. Nanti silahkan di santap. Saya akan ke depan dulu, menyiapkan pengajian yang sebentar lagi akan di mulai!" pamit Laila sopan.


"Iya, terimakasih sudah merepotkan." ucap Ilham.


"Tidak apa-apa Gus, kami paham dengan kondisi Pak Kiai. Kami malah jadi tidak enak, sudah merepotkan Pak Kiai untuk datang ke walimah Kakak saya. Ayah saya itu penggemar berat Kiai Maulana, Gus!" ucap Laila antusias.


"Terima kasih, kamu sibuklah, saya istirahat dulu!" Ilham lalu membaringkan tubuhnya di sofa dalam kamw tersebut. Badannya sangat lelah.


Tak lama kemudian, Ilham juga terlelap dalam tidur. Tanpa terasa waktu Isya pun tiba, Laila membangunkan Ilham yang tampak lelap.


tok


tok


tok


"Gus, mohon maaf. Ini waktu Isya sudah tiba." Laila berusaha membangun kan Ilham.


"Iya, sebentar!" sahut Kiai Maulana yang sudah bangun dari tidurnya. Sementara Ilham masih lelap. Tampaknya memang sangat kelelahan.


"Maaf atas kelancangan saya, Pak Kiai. Sudah mengganggu istirahat Pak Kiai!" ucap Laila.


"Tidak apa-apa, saya mau sholat isya dulu. Biarkan saja anak saya, tampaknya dia sangat kelelahan." Kiai Maulana melirik anak nya yang perlelap di sofa. Beliau jadi tidak tega mau membangunkan.


"Ayo Pak Kiai, saya tunjukkan Mushhola di rumah ini!" Rumah Laila sangat besar dan mewah. Orang tua Laila tergolong keluarga paling kaya di kampung tersebut. Seorang juragan teh. Bahkan memiliki pabrik Teh sendiri. Ayah Laila seorang pengusaha sukses di kampung Laila.


Setelah sholat isya, Kiai Maulana lalu pergi ke depan, bergabung dengan para jamaahnya yang sudah menunggu beliau.


Laila menengok sejenak ke dalam ruangan dimana Ilham masih terlelap.


"Wajahnya sangat tampan, sungguh beruntung wanita yang menjadi istrinya." ujar Laila tanpa sadar. Ilham yang sudah terbangun, mendengar ucapan Laila tersebut. Tiba-tiba hatinya merasa bergetar, berdebar kencang.


"Ada apa dengan hamba, ya Allah?" keluh Ilham.